
Setelah Melisa mulai merasa tenang, Gunawan membopong putrinya kembali ke rumah Satria. Gunawan menidurkan Melisa di atas kasur, di kamar Satria. Kebiasaan Melisa memang selalu tertidur setelah menangis.
"Kami seharusnya pulang besok pagi. Tapi sejak pagi Melisa terus-terusan merengek ingin segera pulang, dia bahkan nekad ingin pulang sendiri," ucap Gunawan seraya menatap putrinya yang tengah tertidur lelap.
Satria diam berdiri di samping Gunawan.
"Mungkin memang sudah firasat Melisa, sejak kemarin ia terus-terusan menangis. Melisa bilang dua rindu pada ibumu," Gunawan membelai wajah cantik Melisa.
Satria masih terdiam, ia hanya memperhatikan bagaimana Gunawan memperlakukan Melisa dengan penuh kasih sayang.
"Aku tau, ini pasti berat bagi kamu Satria. Tapi cobalah untuk ikhlas merelakan kepergian keluargamu, jangan pernah sesali karena kamu tak ada saat mereka kecelakaan. Ini semua sudah menjadi takdir yang harus kamu lalui," ucap Gunawan pada Satria.
Gunawan memandangi wajah sendu Satria, lalu beralih kembali memandang putrinya yang sedang tertidur.
"Tuan, apa boleh saya tinggal di rumah ini sampai saya lulus sekolah?" Tanya Satria. Ia teringat rumah ini adalah rumah dinas yang diberikan oleh Laksmana grup untuk ayahnya.
"Tentu saja, tinggallah selama yang kau mau," jawab Gunawan.
"Terima kasih tuan, tapi saya hanya akan tinggal sampai saya lulus saja," Satria merasa lega karena ia masih diperbolehkan tinggal di rumah dinas ayahnya sampai enam bulan ke depan.
"Tapi kamu mau tinggal di sini sama siapa? Saudara-saudara kamu yang di luar mau menemani kamu di sini?" Tanya Gunawan. Ia sempat melihat ada beberapa saudara Satria yang kelihatannya seumuran dengan Satria.
"Mereka hanya akan ada di sini sampai akhir pekan nanti, karena mereka juga masih harus sekolah tuan. Setelah itu saya akan tinggal sendiri di rumah ini," jawab Satria.
Gunawan mengangguk.
"Kalau kamu merasa berat tinggal di rumah ini sendiri, datanglah ke rumahku. Di sana setidaknya jauh lebih baik, karena kamu tak perlu merasa sendiri."
Satria tersenyum mendengar tawaran Gunawan. "Terima kasih tuan, anda benar-benar orang yang baik."
"Tentu saja, kau harus ingat itu," Gunawan menepuk pundak Satria.
__ADS_1
"Satria, apa nona ini baik-baik saja?" Tanya bibi yang tiba-tiba masuk ke kamar Satria, disusul paman dan sepupu-sepupu Satria.
"Tidak apa, dia hanya kelelahan karena menangis. Nanti juga dia akan bangun," Gunawan yang menjawab pertanyaan bibi.
"Syukurlah," wajah bibi yang tadi panik sekarang sudah terlihat lega.
"Sebaiknya kita tunggu di luar kamar," pinta Gunawan kepada orang-orang yang baru saja masuk ke kamar Satria.
Mereka semua menurut dan segera keluar dari kamar Satria, begitu juga dengan Gunawan.
"Kamu di sini saja jaga Melisa," ucap Gunawan pada Satria.
Satria menurut, lalu Gunawan pergi keluar kamar Satria dan menutup pintunya. Di ruang tamu, Gunawan dan saudara Satria yang masih ada di rumah Satria berkumpul. Mereka saling memperkenalkan diri, lalu berbincang-bincang santai.
Sementara itu, Satria yang ditinggal di dalam kamar bersama Melisa seketika kakinya lemas terkulai. Satria jatuh terduduk di lantai, air matanya ikut tumpah seiring dengan tubuhnya yang jatuh ke lantai. Satria menangis tanpa bersuara, meski begitu tubuhnya bergetar hebat.
Melisa yang saat itu sudah membuka matanya, menjadi semakin sedih melihat Satria yang hanya bisa menangis dalam diam. Suara tangisnya memang tak terdengar, tapi gerakan tubuh Satria yang terus bergetar membuat Melisa tau, laki-laki itu kini sedang menangis histeris.
Air mata Melisa juga kembali jatuh, ia juga ikut menangis tanpa bersuara. Saat itu, ingin sekali rasanya Melisa memeluk Satria. Tapi Melisa seolah tak punya keberanian bahkan untuk sekedar mendekati saja Melisa tak sanggup.
Siapa sangka, permintaan terakhir bu Lastri merupakan suatu pertanda yang seharusnya Melisa sadari. Ada rasa sesal di hatinya, seharusnya ia merengek lebih keras lagi pada ayahnya sejak kemarin. Agar ia bisa segera pulang dan setidaknya bisa menemui bu Lastri meski harus menyusul ke kota B.
Malam semakin larut, kedua remaja itu masih terus larut dalam tangisan masing-masing. Satria duduk di lantai sambil memeluk lututnya. Ia duduk membelakangi Melisa.
Sementara Melisa sudah mulai reda tangisnya. Ia sudah duduk dan perlahan berjalan menghampiri Satria.
Melisa berjongkok di samping Satria, ia lalu memeluk laki-laki itu dengan sangat erat. Satria yang merasakan pelukan hangat dari Melisa, segera mengusap air matanya. Satria menyudahi tangisnya.
"Kamu harus kuat Satria," bisik Melisa.
Satria mengangguk, ia menoleh ke arah Melisa. Menghapus sisa-sisa air mata di pipi Melisa.
__ADS_1
"Kamu juga ya Mel," Satria mencoba mengembangkan senyumnya.
Lewat tatapan dan juga senyuman, keduanya saling menguatkan.
"Pulanglah, kau harus istirahat," pinta Satria.
"Tapi..." Melisa tak ingin meninggalkan Satria.
"Mel, aku baik-baik aja di sini. Ada sepupu-sepupuku juga yang nemenin aku di sini," Satria menenangkan Melisa.
"Kamu ga mau ditemenin aku?"
"Bukan begitu, aku ga enak sama ayahmu kalau kamu harus nginep di sini. Kamu pulang dulu ya, besok kamu boleh ke sini lagi."
Melisa mengangguk, ia menuruti permintaan Satria untuk pulang dulu malam ini.
Satria mengajak Melisa keluar kamarnya, di sana sudah ada Gunawan yang tengah berbincang dengan paman dan bibi Satria, juga sepupu-sepupu Satria yang masih setia menemani.
Melihat Melisa yang sudah bangun, Gunawan segera pamit undur diri pada keluarga Satria. Karena hari sudah sangat larut, Gunawan juga merasa sangat lelah karena memang belum lama ia mendarat Melisa sudah mengajaknya pergi ke rumah Satria.
Setelah pamit, Melisa dan Gunawan segera pulang ke rumah mereka.
"Itu tadi pacar kamu Sat?" Tanya Arya.
"Bukan, aku ga punya pacar."
"Masa sih? Tapi kayanya dia sedih banget, kaya merasa kehilangan gitu," timpa sepupu Satria yang lainnya.
"Iya, dia memang dekat dengan ibu. Dulu dia sering main ke sini, tapi semenjak kelas XII kami sama-sama sibuk jadi dia ga sempet main lagi ke sini," ucap Satria berbohong.
Padahal dirinyalah penyebab Melisa tak lagi bertemu ibunya.
__ADS_1
Di perjalanan pulang, Melisa hanya terdiam menatap lampu-lampu jalan yang mereka lalui. Gunawan sesekali melirik putrinya, ia tau Melisa masih sangat sedih. Kehilangan sosok yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri.
"Kau boleh sedih sekarang, tapi jangan lama-lama. Kehidupanmu tetap berlanjut, orang yang ditinggalkan harus tetap bertahan hidup," nasihat Gunawan pada Melisa.