
Satria menatap Melisa dengan lembut. Melisa yang gugup segera mendorong Satria agar menjauh darinya. Melisa hendak berbalik membuka pintu, namun Satria segera menahannya. Melisa menoleh ke arah Satria.
“Kamu bilang aku harus pulang sekarang,” Melisa masih malu menatap Satria.
Satria tersenyum, ia memegang kedua bahu Melisa.
“Mel, kamu harus tenang dulu sebelum keluar,” ucap Satria.
“Tenang?” Melisa menatap Satria tak mengerti.
“Mmm...” Satria mengangguk. “Ikutin aku, tarik nafas dalam-dalam. Lalu hembuskan perlahan,” Satria memberikan instruksi pada Melisa.
Melisa hanya menurut saja yang diinstruksikan oleh Satria. Melisa mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
“Iya, bagus. Coba sini aku liat,” Satria melihat wajah Melisa yang mulai tenang. “Tadi muka kamu merah banget, sekarang udah engga. Ingat ya, kalau ada yang tanya siapapun itu bilang aja aku ga jawab apapun pertanyaan dari kamu. Jangan percaya sama siapapun, aku lebih suka kamu kembali ke diri kamu yang dingin dulu.”
“Kenapa?”
“Nanti aku kasih tau kenapa, aku masih cari cara buat ngasih tau ke kamu. Pokoknya kamu harus hati-hati, jangan cerita ataupun curhat sama siapapun. Termasuk ayah kamu,” Satria menatap Melisa dengan serius.
“Ayahku kenapa?” Melisa semakin terlihat kebingungan.
Satria sebenarnya ingin menceritakan banyak hal pada Melisa, namun ia tau saat ini Melisa datang ke rumahnya tidak seorang diri. Seseorang pasti sedang menunggunya di luar sana.
“Pulanglah dulu, nanti kalau kamu mau ke sini jangan ajak siapapun. Datang naik angkutan umum aja, kamu bisa tanya jurusannya pada Mia. Mengerti?”
Melisa mengangguk paham.
Satria tersenyum, ia memeluk Melisa sebelum Melisa pergi dari rumahnya.
“Pulanglah!” Satria membuka pintu, ia kembali menunjukkan wajah dinginnya. Melihat itu, Melisa juga langsung memasang wajah sedih. Melisa keluar dari rumah Satria dengan menundukkan wajahnya.
“Bagaimana? Kenapa kamu sedih?” Tanya Dion saat Melisa sudah masuk ke dalam mobil.
“Satria tak mau memberitahuku apapun,” Melisa mendesah kasar.
“Sabar Mel, mungkin Satria belum siap cerita ke kamu,” Dion berusaha menenangkan Melisa.
Melisa mengangguk perlahan. Lalu ia meminta Dion untuk mengantarnya ke rumah. Sampai di rumah, Melisa tak lupa meminta Dion untuk datang menjemputnya besok pagi karena ia meninggalkan mobilnya di sekolah. Tentu dengan senang hati Dion menyanggupinya.
Saat berada di dalam rumah, wajah Melisa langsung memerah mengingat kejadian saat di rumah Natasya. Melisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia bahkan menjerit tanpa suara, saking bahagianya. Melisa tak menyangka, ia bisa seberani itu mencium Satria. Tadi itu adalah ciuman pertamanya, dan ciuman itu ia berikan pada orang yang disukainya.
Melisa melenggang masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan bahagia. Ia bahkan melempar tasnya ke sembarang arah. Melisa menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, hatinya terasa sangat lega. Belakangan ini Melisa memang selalu merasa gelisah karena perlakuan dingin dari Satria. Namun setelah mendengar sedikit penjelasan dari satria tadi, Melisa sepertinya bisa tidur nyenyak malam ini.
“Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu Satria?” Melisa kembali teringat dengan pesan Satria untuk tidak mempercayai siapapun. Bahkan ayahnya sendiri.
__ADS_1
“Apa benar ayahku yang telah membuat Satria menderita?”
Melisa mengambil ponselnya, ia mencari nomor ayahnya lalu segera menghubunginya.
“Halo... Ada apa Mel?” Sapa Gunawan dari seberang sana.
“Ayah, kau belum pulang?” Tanya Melisa.
“Belum sayang, ada apa?”
“Mmm... Ayah masih lama pulangnya?”
“Sebentar lagi kok, kenapa Mel?”
“Ayah... aku... aku mau sate yah, hehe. Ayah mau engga mampir beliin sate buat aku?”
“Oh, kamu mau sate? Tumben minta beliin sama ayah? Biasanya kamu order sendiri,” Gunawan merasa heran dengan putrinya.
“Mmm... lagi pengen aja di beliin sama ayah, ayah ga mau?”
“Ya gak mungkin lah, Ya udah nanti ayah beliin ya. Kamu mau apa lagi?”
“Udah yah itu aja, makasih ya yah,” Melisa menutup sambungan teleponnya sebelum Gunawan menjawab.
Melisa terdiam, ia terus memandangi ponselnya. Tertera nomor ayahnya di sana.
Tapi bagaimana jika yang dikatakan Stella dan gerombolannya kemarin adalah benar? Bagaimana jika memang benar ayahnya lah yang memerintahkan anak buahnya untuk mengusir Satria dari rumah dinas ayahnya dan juga meminta ganti rugi atas rusaknya kendaraan milik kantor akibat kecelakaan? Bagaimana jika memang benar ayahnya memiliki dendam pada Satria karena sudah membuat ibunya berpaling?
Saat pikiran Melisa sedang sibuk memikirkan ayahnya, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel yang berasal dari tasnya. Melisa mendadak bingung, bagaimana mungkin ada bunyi ponsel di dalam tasnya sementara ia sendiri sedang memegang ponsel miliknya.
Melisa berjalan menuju tas yang ia lempar ke sembarang arah tadi, ia membuka isi tasnya dan menemukan sebuah ponsel yang ia sendiri tak tau itu ponsel milik siapa? Namun di layar ponsel yang tengah berdering itu tertulis nama Satria. Melisa segera mengangkatnya.
“Halo?”
“Melisa?” Suara Satria terdengar dari sebrang sana.
“Satria?”
“Mmm...”
“Ini ponsel siapa? Kok bisa ada di dalam tas aku?” Tanya Melisa.
“Itu ponsel ibumu, aku menaruhnya tadi sebelum kau keluar dari rumah,” jawab Satria.
“Kapan?” Melisa berusaha mengingat kejadian sebelum ia keluar dari rumah.
__ADS_1
“Gak penting kapannya, yang penting sekarang kamu pegang ponsel itu jangan sampai ketahuan siapa-siapa. Ganti nada deringnya ke mode hening, aku akan menghubungimu lewat nomor ini,” Satria memberi penjelasan singkat pada Melisa.
“Ah...oke,” Melisa mengangguk paham.
“Kamu belum tidur?”
“Belum, aku lagi tunggu ayahku katanya mau beliin aku sate,” jawab Melisa polos.
“Kamu belum makan?”
“Belum.”
“Jangan lupa makan ya, kamu ga boleh sakit lagi. Maaf waktu kamu sakit aku ga bisa jenguk,” terdengar nada penyesalan dari suara Satria.
“Ga papa, aku ngerti kok. Tapi kenapa kamu juga belum tidur? Masih belajar?”
“Aku gak bisa tidur,” jawab Satria.
“Kenapa?”
“Mana mungkin aku bisa tidur setelah mendapat ciuman pertamaku tadi sore?”
Melisa tersipu malu mendengar jawaban Satria. Melisa memegang bibirnya mengingat peristiwa tadi sore.
“Kamu sudah mencuri ciuman pertamaku, kamu harus bertanggung jawab.”
“Bertanggung jawab? Bukannya kamu juga menikmati tadi?” Melisa kesal karena ucapan Satria.
“Mmm... mana mungkin aku tidak menikmati ciuman dari orang yang aku suka?”
Perkataan Satria tentu saja mampu membuat wajah Melisa merona, beruntung saat itu tak ada orang yang melihat bagaimana merahnya wajah Melisa.
“Terus kenapa minta tanggung jawab?” Dengan wajah tersipu malu Melisa bertanya.
“Karena kamu sudah mengambil ciuman pertamaku, kamu tidak boleh mencium siapapun kecuali aku. Paham?”
Melisa berteriak tanpa suara, ia gemas sendiri mendengar Satria berkata seperti itu. Senyum di wajahnya terus saja mengembang.
“Paham tidak?” Satria mengulang pertanyaannya karena tak kunjung mendapat jawaban dari Melisa.
“Mmm...”
“Kok gitu jawabnya? Ga mau?”
“Iya Satria,” Melisa tak sanggup berkata-kata lagi. Jantungnya sudah berdegup sangat kencang saat ini. Ia terus menutup mulutnya dengan tangannya khawatir ia akan keceplosan berteriak kencang saat itu juga.
__ADS_1
“Baiklah, aku mau lanjut belajar dulu. Selamat malam,” Satria mengakhiri obrolannya.
“Selamat malam,” balas Melisa masih dengan senyum mengembang.