Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Belanja Oleh-oleh


__ADS_3

Bobi akhirnya menurunkan Amanda ketika mereka sampai di depan pintu kamar.


"Masuklah," pinta Bobi.


"Kuncinya mana?" Tanya Amanda.


"Loh, bukannya lu pegang?" Bobi.


Amanda menggeleng. "Kunci yang gue pegang ketinggalan di dalem. Makanya gue pergi ke pantai karena ga bisa masuk. Gue pikir kalian bakalan lama di sana."


Bobi menatap Amanda tak percaya, namun Bobi berusaha untuk tak memberi komentar. Khawatir Amanda akan marah lagi.


"Ya udah ke kamar gue aja dulu yuk," ajak Bobi.


"Ga ah, gue nunggu Melisa aja di sini," Amanda duduk di lantai.


"Jangan di sini Man, ga enak nanti kalau di liatin orang. Emang lu ga malu?" Bobi.


"Engga, gue kan cuma duduk, ngapain juga gue malu? Elu aja kali yang malu, udah sana!" Amanda mengusir Bobi.


Namun Bobi malah ikut duduk di hadapan Amanda.


"Gue minta maaf ya Man," Bobi.


"Minta maaf kenapa?" Amanda.


"Gue minta maaf, kalau kata-kata gue kemaren udah nyakitin elu," Bobi memegang tangan Amanda.


"Elu ga salah kok Bob, lagian itu kan emang kenyataan. Gue emang udah rusak," Amanda menatap mata Bobi.


Bobi menghela nafas, "elu juga ga salah Man, ini salah Hendry. Dia yang bikin elu jadi begini."


"Engga, gue juga salah. Mau aja dirayu sama dia. Harusnya waktu itu gue tinggalin aja dia, toh nyatanya sekarang juga gue ditinggalin sama dia," Amanda.


Bobi hanya menatap Amanda. Kini mereka berdua saling menatap.


"Loh, kok kak Amanda ga masuk?" Melisa dan Satria baru saja sampai.


"Iya, kunci gue ketinggalan di dalem," Amanda bangun dari duduknya diikuti Bobi.


"Oh, nih." Melisa menyerahkan kunci miliknya pada Amanda.


"Mau gendong-gendongan sampe kapan?" Bobi menatap sinis pada Melisa yang masih digendong oleh Satria.


"Sampe besok," Melisa menjulurkan lidahnya meledek Bobi.


"Gak kasian kamu, Satria juga capek tuh," omel Bobi.


"Emang kamu capek Sat?" Melisa.


"Engga, biar aku gendong sampe dalem kamar," Satria.


"Gak usah bohong lu Sat, nanti di kamar ngeluhnya sama gue lagi," Bobi.

__ADS_1


"Engga kak, bener. Masih kuat kok," Satria.


Satria membawa Melisa masuk ke dalam kamar. Sementara itu Bobi tetap berada di luar.


Setelah menurunkan Melisa, Satria pamit untuk kembali ke kamarnya.


"Kok ga masuk kak?" Satria menyadarkan Bobi yang sedang melamun.


"Hah?" Bobi.


"Ngelamunin apa sih? Yuk masuk ke kamar, pengen mandi nih udah gerah banget," Satria dan Bobi berjalan memasuki kamar mereka.


Hari ini, hari yang sangat melelahkan. Setelah mandi mereka pun tertidur lelap. Tapi tidak dengan Bobi. Meski tubuhnya sudah berada di atas kasur, namun pikirannya masih menerawang jauh.


"Sat," Bobi memanggil Satria.


"Mmm..." Satria.


"Udah tidur lu?" Bobi.


"Apa kak? Aku udah ngantuk banget ini," Satria.


"Gue harus gimana Sat? Jujur gue ga terima Amanda begitu, tapi gue ga bisa ninggalin dia." Bobi


Tak ada jawaban dari Satria.


"Sat... Satria," Bobi melihat Satria, "yah, dia tidur," Bobi.


...***...


"Ayo dong kak, katanya kemaren mau belanja oleh-oleh," Melisa mengguncang-guncang tubuh Amanda yang masih meringkuk di atas kasur.


"Elu aja ah, gue males," Amanda.


"Emang kakak ga penasaran di mall ada barang apa aja? Yuk kita belanja bareng," Melisa memaksa Amanda untuk ikut.


Sejak turun dari bukit kemarin, suasana hati Amanda menjadi semakin tidak baik. Ia semakin tak punya semangat hidup. Namun karena Melisa terus memaksa akhirnya Amanda menurut untuk ikut berburu oleh-oleh.


"Ini pertama kalinya aku belanja oleh-oleh," ucap Amanda dengan mata berbinar.


"Elu sering liburan tapi ga pernah belanja oleh-oleh?" Amanda.


"Engga, buat siapa juga oleh-olehnya?" Melisa.


Mereka pergi ke mall hanya berdua saja, nanti setelah selesai belanja mereka baru akan menghubungi Satria dan Bobi untuk meminta bantuan mereka membawa barang-barang yang sudah dibeli.


Melisa terlihat bersemangat, ini memang pertama kalinya ia membeli sesuatu saat berlibur untuk orang lain. Ditangannya, ia sudah membawa banyak barang belanjaan.


Sementara itu, Amanda hanya mengikuti kemana Melisa pergi. Dirinya sendiri tak ada minat untuk membeli apapun.


"Mel, kayanya lu harus telepon Satria deh. Ini udah banyak banget, gue udah ga sanggup bawa," Amanda.


Melisa melihat tas-tas belanja yang dibawa Amanda dan dirinya.

__ADS_1


"Iya ya, udah banyak?" Melisa tersenyum, menampakkan gigi putihnya pada Amanda.


"Istirahat dulu yuk, capek," Amanda.


"Yuk..." Mereka memasuki sebuah kafe, dan memesan beberapa makanan dan minuman.


"Ini lu masih mau belanja lagi?" Amanda menatap Melisa tak percaya gadis itu sudah mengeluarkan hampir seratus juta untuk sekedar belanja oleh-oleh. Mungkin Amanda lupa, bahwa ia sendiri jika dalam kondisi mood yang bagus akan menghabiskan lebih banyak uang lagi untuk sekedar memuaskan hasrat belanjanya.


"Masih ada yang kurang ga ya kak? Segini aja cukup apa?" Melisa.


"Lu ga liat ini? Udah ada berapa puluh kantong? Masih bilang kurang?" Amanda menunjuk tas belanja yang tergeletak di lantai.


"Hehe, ternyata asik juga ya belanja. Aku baru tau," Melisa.


"Cih, kemana aja lu dari kemaren?" Amanda.


"Hehe, di rumah aja. Oh iya, kak Amanda kok ga beli apa-apa?" Melisa.


"Lagi ga selera gue," Amanda.


"Gara-gara nemenin aku belanja jadi ga bisa pilih-pilih buat diri sendiri ya kak? Maaf ya, abis ini biar kakak aja yang belanja, gantian aku yang nemenin," Melisa.


Amanda menatap Melisa yang sangat ceria hari itu. Ia masih ingat, beberapa waktu yang lalu gadis ceria yang ada di hadapannya ini adalah gadis yang sangat dingin. Gadis yang memiliki aura yang tak bersahabat, bahkan untuk sekedar mendekat pun rasanya sangat sulit.


Namun kini ia berubah 180°, aura yang terpancar seperti kebanyakan gadis muda yang ceria dan penuh antusias. Ia bersyukur bisa melihat perubahan Melisa, berharap keceriaan gadis itu akan bertahan selamanya.


Satria dan Bobi sudah sampai di cafe tempat Melisa dan Amanda beristirahat. Satria kaget melihat banyaknya tas belanja yang berjejer di lantai.


"Banyak banget, itu punya siapa aja?" Satria.


"Tuh, si Melisa kalap," Amanda menunjuk Melisa.


"Elu ga belanja?" Tanya Bobi pada Amanda.


"Gak, lagi ga selera," Amanda.


"Tadi kak Amanda cuma nemenin aku kak, sekarang kak Bobi yang anter kak Amanda belanja sana," pinta Melisa.


"Oh lu belum? Ya udah yuk gue temenin," ajak Bobi.


"Engga Mel, gue emang lagi ga pengen," Amanda.


"Ya kak Amanda ga pengen karena capek ngurusin belanjaan aku, jadi ga sempet liat-liat. Coba deh, nanti kalau kak Amanda udah liat pasti pengen beli," Melisa.


Akhirnya dengan langkah berat Amanda pergi, melihat-lihat kembali seisi mall. Bobi berjalan di belakangnya, ia hanya mengikuti kemanapun Amanda pergi.


Namun sudah banyak toko yang ia datangi, tak satupun barang dibeli. Amanda hanya melihat-lihat, lalu pergi. Tak ada ekspresi bahagia seperti yang biasa ia pancarkan saat berada di mall, kali ini ia terlihat murung.


Bobi tak berani menegurnya, ia hanya membututi Amanda, berjalan dari satu toko ke toko lain.


Mereka beberapa kali menaiki eskalator, keluar masuk toko. Namun tak ada satupun barang yang membuat Amanda tertarik untuk membelinya.


Hingga mereka sampai di lantai paling atas. Amanda merasa semua toko sudah dimasukinya. Ia akhirnya menyandarkan tangannya pada pagar balkon, memandang ke arah bawah. Melihat orang yang berlalu lalang di bawah sana.

__ADS_1


Bobi masih tak berani menegurnya, ia bahkan menjaga jarak saat ini. Bobi memperhatikan wajah murung Amanda, entah apa yang ada dipikiran gadis itu, Bobi hanya tak tau harus memulai percakapan dari mana?


Hubungan mereka menjadi canggung sejak kemarin. Bobi yang biasanya punya sejuta ide untuk menjahili Amanda, kini mendadak otaknya buntu. Ia tak tau harus mengatakan apa pada gadis murung yang biasanya terlihat ceria itu.


__ADS_2