
“Satria,” Melisa memanggil nama Satria. Satria hanya terdiam mematung, saking terpesonanya dengan penampilan Melisa yang sangat cantik.
“Satria...” Melisa melambaikan tangannya di depan wajah Satria. Membuat Satria gelagapan karena ketahuan melamun saat melihat Melisa ada dihadapannya.
“Eh, Mel...” Satria berusaha untuk tidak bersikap canggung.
“Kamu sudah datang dari tadi ya? Maaf ya, aku kelamaan dandannya.”
“Ah, engga kok. Kamu mau datang ke pesta perpisahan juga?” Tanya Satria dengan polosnya.
“Iya,” jawab Melisa singkat.
Satria mengangguk-angguk perlahan.
“Yuk, kita berangkat!” Ajak Melisa.
Satria merasa sedikit bingung, ia datang ke tempat itu ingin menjemput Mia. Namun mengapa Melisa yang keluar?
“Mel, aku datang untuk menjemput Mia,” ucap Satria.
“Mia? Mia tidak bisa datang katanya, jadi dia menyuruhku menggantikannya menjadi pasanganmu di pesta perpisahan malam ini,” ucap Melisa.
Satria mengernyitkan dahinya, Melisa tersenyum melihat kebingungan Satria. Ia lalu menarik tangan Satria untuk bergegas berjalan menuju tempat pesta yang terletak di taman belakang kampus. Tempat yang tidak terlalu jauh dari asrama para mahasiswa berada.
“Jalan pelan-pelan saja Mel,” pinta Satria.
Melisa menoleh, ia menghentikan langkah kakinya.
“Kalian kenapa tidak bilang padaku?” Tanya Satria dengan malu-malu.
“Sengaja, kami mau memberikan kejutan untukmu!”
“Aku pikir kamu sudah kembali bersama Dion dan ayahmu.”
Melisa menceritakan bagaimana dirinya bisa berada di sini saat ini. Sebelumnya, Melisa memang berniat untuk mengurus beberapa hal sebelum pulang ke negaranya. Ia juga berniat ingin menceritakan banyak hal pada Bobi dan Amanda mengenai hubungannya dengan Satria.
Namun siapa sangka, keputusannya untuk menunda kepulangan ternyata adalah suatu keputusan yang tepat. Tiba-tiba Mia menghubunginya dan memintanya untuk menggantikan dirinya sebagai pasangan Satria di pesta perpisahan.
Tentu saja dengan senang hati Melisa menerima tawaran itu. Meski sebenarnya hatinya sedikit sedih karena ternyata bukan dirinya yang diajak Satria ke pesta, melainkan Mia. Tapi mengingat status dirinya yang sudah bertunangan dengan Dion, meski belum resmi, Melisa memaklumi tindakan Satria yang lebih memilih mengajak Mia dibanding dirinya.
“Kamu pasti kecewa padaku kan Satria?” Tanya Melisa.
__ADS_1
Satria hanya tersenyum lembut. Ia tak mau menjawab pertanyaan itu.
“Ya kan?”
“Aku tau, ini semua bukan kemauan kamu. Lagi pula aku bukan siapa-siapa, ayahmu memilih Dion karena Dion pasti sesuai dengan kriteria ayahmu!”
“Tapi aku maunya kamu Satria,” gerutu Melisa.
“Aku juga!” Satria lalu menggenggam kedua tangan Melisa.
“Mel, sejujurnya aku tak rela, aku marah dan kecewa mendengar berita pertunangan kamu dengan Dion. Namun mengingat aku yang bukan siapa-siapa ini, aku bisa apa Mel?”
Melisa memeluk Satria dengan eratnya, rasanya ia tak rela harus benar-benar berpisah dan merelakan cinta pertamanya itu.
“Sabar Mel, kalian kan masih bertunangan, belum menikah. Aku akan berusaha semampuku untuk mensejajarkan diriku denganmu, agar ayahmu juga bisa menerimaku,” ucap Satria dengan sungguh-sungguh.
“Jadi aku masih harus bersabar saat ini?” Tanya Melisa.
“Mmm... Bersabarlah sebentar lagi, dan percayakan padaku. Kelak aku akan datang padamu untuk meminang kamu," jawab Satria dengan percaya diri.
Melisa melepas pelukannya, ia tau Satria masih menyukainya.
Satria berpikir sejenak, ia lalu menatap lekat mata gadis yang sangat dicintainya itu.
"Kenapa? Kamu mau berpacaran denganku sementara kamu sudah bertunangan dengan Dion?"
Melisa mengangguk perlahan, ia tersenyum malu karena Satria bisa menebak dengan tepat apa yang Melisa mau.
"Aku bukannya tak mau Mel, tapi status kamu sekarang sudah menjadi tunangan seseorang. Aku tak mungkin menjadi perusak hubungan kalian," jelas Satria.
"Tapi aku gak suka sama Dion, Sat," rengek Melisa.
"Kalau kamu gak suka, kenapa kamu terima lamaran dia?"
"Karna percuma saja aku menolak, ayahku bilang aku akan tetap dijodohkan dengan Dion," jawab Melisa lesu.
"Ya sudah kalau begitu kamu terima saja dia, Dion orang yang baik. Dan lagi dia sangat menyukaimu. Aku yakin, dia tidak akan menyakitimu."
Melisa menghela nafas, ia berjalan perlahan meninggalkan Satria. Satria mengikuti Melisa di belakangnya. Mereka berdua berjalan menuju taman belakang kampus, tempat pesta diadakan.
"Satria, setidaknya malam ini beri aku kesempatan untuk menjadi kekasihmu," pinta Melisa dengan wajah memohon penuh harap.
__ADS_1
Satria tersenyum, ia lalu menggenggam erat gadis yang sangat ia cintai itu.
"Ayo Mel, kita gabung dulu sama mereka," Satria lalu mengajak Melisa bergabung bersama teman-teman Satria.
Mereka saling mengenalkan pasangan masing-masing. Satria mengenalkan Melisa pada seluruh temannya, sebagai kekasihnya.
Ya, Satria menuruti keinginan Melisa untuk menjadikannya kekasih malam ini.
Beberapa pasang mata memandang mereka dengan tatapan sinis. Terlihat jelas aura ketidaksukaan mereka pada Melisa. Tapi melihat betapa cantiknya Melisa malam itu, membuat gadis-gadis yang menatap sinis itu tak berani mendekat.
Mereka hanya bergosip dengan pedasnya di belakang, mengatakan bahwa gadis yang dibawa Satria itu pasti bukan gadis yang sehebat ataupun sepintar Satria.
Ada juga yang mengatakan bahwa Satria sengaja membawa gadis itu agar tidak ada lagi gadis yang nanti mendekatinya.
Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa Melisa membayar mahal untuk bisa menjadi pasangan Satria di pesta malam ini.
Tak satu pun dari mereka mau mengakui bahwa Melisa memang sangat cantik, jadi wajar saja Satria memilihnya sebagai pasangan di pesta malam ini. Mereka hanya sanggup mengatakannya dalam hati saja.
Untungnya musik saat itu diputar dengan volume suara yang sangat keras, sehingga tak satupun komentar pedas itu terdengar ke telinga Melisa ataupun Satria.
Lain halnya dengan para pria, mereka yang melihat kedatangan Satria bersama Melisa, segera memberondong Satria dengan banyak sekali pertanyaan.
Para pria itu terpesona dengan kecantikan Melisa, bahkan beberapa diantara mereka tak percaya bahwa Melisa juga berkuliah di kampus yang sama dengan mereka.
Melisa hanya tersenyum malu mendapat pujian dari teman-teman Satria, Satria juga tak malu untuk terus menggandeng tangan Melisa selama teman-teman Satria menginterogasinya.
Satria juga dengan perhatiannya membawakan makanan dan minuman untuk Melisa, sementara Melisa tetap duduk di kursi yang tersedia sambil ditemani beberapa teman Satria.
"Kalian udah lama saling kenal?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Kami kenal sejak SMA," jawab Melisa.
"Wah, sudah lama ya? Tapi Satria gak pernah cerita kalau dia punya pacar secantik kamu," celetuk yang lainnya.
"Selama kuliah kami memang tak pernah saling berkomunikasi, karena kami harus fokus belajar."
"Aaa..." sahut para pria itu dengan kompak.
"Jadi kemarin-kemarin kalian rehat dulu, dan sekarang lanjut lagi setelah lulus?"
Melisa hanya menjawab pertanyaan itu dengan senyuman.
__ADS_1