
Melisa kembali duduk di samping Bobi. Ia diam seribu bahasa bahkan saat semuanya tertawa Melisa lebih memilih diam. Gadis itu meraih jari kelingking Bobi, lalu memainkannya.
Bobi melihat perubahan Melisa menyadari ada yang tak beres. Begitu juga dengan Satria, ia memandang Melisa dengan penuh kekhawatiran.
"Mau pulang?" Tanya Bobi.
Melisa tak menanggapi pertanyaan Bobi.
"Bu, aku boleh menginap di sini?" Melisa bertanya pada bu Lastri.
"Kamu mau menginap?" Bu Lastri.
"Iya, bolehkah?" Melisa menatap penuh harap pada bu Lastri.
Tatapan Melisa dibalas senyuman hangat oleh bu Lastri. "Boleh dong, nanti tidur sama ibu ya."
Melisa tersenyum lega. Gadis itu pindah duduk di samping bu Lastri. "Makasih ibu," Melisa bergelayut manja pada bu Lastri.
"Wah, anak gadis ibu manja ya ternyata," ucap Bobi meledek Melisa.
"Biarin," Melisa menjulurkan lidahnya pada Bobi.
"Aishhh..." Bobi menatap kesal melihat kelakuan Melisa yang manja pada bu Lastri. Meski begitu, Bobi merasa senang setidaknya Melisa bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang selama ini tak pernah ia dapatkan.
Meski ia sendiri juga jarang mendapat kasih sayang ibunya, tapi ibu Bobi jauh lebih baik dari ibu Melisa. Setidaknya ibu Bobi tetap memberikan fasilitas kartu kredit pada Bobi meski ia sudah di usir oleh ayahnya keluar rumah. Ibunya selalu membelanya saat sang ayah dengan tega memarahinya.
Ibu Bobi juga yang meminta ayah Bobi untuk bisa memasuki akademi kepolisian mengikuti jejak ayahnya tanpa harus mengikuti tes terlebih dahulu. Hal itu sudah cukup membuktikan kasih sayang seorang ibu bagi Bobi.
"Kalau kamu tidur sama ibu, nanti ayah tidur sama siapa?" Tanya Bobi.
Melisa melihat satu-satu para anak lelaki yang menatapnya menunggu jawaban.
"Kan bisa tidur sama Rian," jawab Melisa sambil menunjukkan jarinya ke arah Rian.
"Bolehlah, itung-itung ini perayaan hari pertama kak Melisa jadi anak ibu," ucap Rian.
"Asik, makasih ya Rian," Melisa tersenyum pada Rian.
"Iya kak sama-sama," Rian tersipu malu mendapat senyuman dari Melisa.
"Kita butuh satu kamar lagi berarti ini," ucap bu Lastri.
"Buat apa?" Tanya Satria.
__ADS_1
"Lah ini kan anak ibu tambah satu, perempuan lagi, masa mau tidur sama kalian anak laki-laki?" bu Lastri.
"Iya ya, kalau gitu kakak tidur di kamarku aja besok-besok. Nanti aku tidur bareng kak Satria dan kak Bobi di kamar kak Satria," usul Rian.
"Lah, emang kita mau tinggal di sini terus Mel?" Tanya Bobi pada Melisa.
"Emang kakak ga mau tinggal di sini terus? Kan enak ada yang masakin," jawab Melisa.
"Ga enak ah, ngerepotin ibu," Bobi menegur Melisa.
"Ga papa nak Bobi, namanya juga anak. Ya udah pasti ngerepotin orang tua. Lagian ibu juga seneng rumah ini jadi ramai," ucap bu Lastri.
"Tuh kan kak, lagian aku juga bakal bantuin ibu kok. Jadi kita tinggal di sini aja ya," rengek Melisa.
Bobi menghela nafas, "kalau memang mau kamu begitu, paling tidak kabari ayahmu."
"Iya, nanti aku bilang ke ayah," Melisa kembali memeluk lengan bu Lastri, ia merasa senang sekali. Berada di samping bu Lastri merasa dirinya ada yang melindungi.
Setelah pak Joni datang anggota keluarga pak Joni masuk ke dalam. Mereka membantu bu Lastri menyiapkan makan malam.
Di bandara kota A, pak Gunawan beserta sekertaris nya Fredy baru saja turun dari pesawat.
"Kita mau kemana dulu tuan?" Tanya Fredy.
"Kita temui Natasya dulu setelah itu kita pulang," jawab pak Gunawan.
Setelah mendapat jawaban kemana mereka akan bertemu, Fredy segera melajukan mobilnya menuju tempat yang di maksud.
Mereka akan bertemu di Grand Hotel yang ada di kota A. Sekertaris Reni bilang pak Gunawan harus menemuinya seorang diri di kamar nomor 1401. Pak Gunawan menyetujuinya.
Sesampainya di hotel, Fredy membukakan pintu mobil.
"Saya akan menunggu di parkiran bawah tanah tuan," ucap Fredy.
"Baiklah, aku harap ini tidak lama," pak Gunawan menepuk bahu Fredy lalu berjalan masuk ke dalam hotel.
Sampai di depan pintu kamar 1401, Gunawan mengetuk pintu. Tak lama pintu itu terbuka, Natasya menyambutnya dengan pakaian tidur yang sangat tipis. Bahkan bagian dalam tubuhnya terlihat dengan jelas.
Gunawan diam mematung menatap Natasya yang berdiri dengan gaya menggoda.
"Kenapa kau diam saja? Masuklah," Natasya menarik masuk tangan Gunawan.
Pria tampan itu melihat sekeliling kamar hotel. Ia tak menemukan keberadaan Steve di sana.
__ADS_1
"Kau sedang menunggu seseorang?" Gunawan melihat ranjang hotel yang bertabur bunga, bahkan di sudut kamar terpasang lilin aroma terapi.
"Tentu saja, aku sedang menunggumu," Natasya duduk disebuah kursi di samping jendela. Ia menuangkan sebotol anggur ke dalam dua gelas yang berada di atas meja.
"Duduklah," pinta Natasya menunjuk kursi di sebelah meja dimana dua gelas anggur dan beberapa camilan sudah tersusun rapih di sana.
Gunawan duduk sesuai perintah Natasya. Ia mencoba memalingkan wajahnya dari tubuh Natasya yang menggoda.
"Ku pikir ada Steve di sini," Gunawan membuka pembicaraan.
"Tidak, dia sudah pulang ke rumah kami lebih dulu," jawab Natasya.
"Lalu mengapa kau memakai pakaian seperti itu?" Gunawan masih memalingkan wajahnya.
"Aku memang terbiasa tidur dengan pakaian seperti ini, apa kau tak tau?" Tanya Natasya.
Gunawan terlihat berpikir, ia berusaha mengingat kebiasaan Natasya saat tidur. Namun sia-sia, nyatanya mereka memang selalu tidur di kamar yang terpisah.
"Ah, aku lupa. Selama hampir 23 tahun pernikahan kita, kita hanya pernah tidur bersama satu kali." Natasya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Gunawan menghembuskan nafas berat.
"Ada apa? Apa akan ada acara peresmian atau pesta? Aku tak biasa bertemu denganmu di luar urusan bisnis," ucap Natasya dengan sinis.
"Apa yang kau lakukan pada Melisa?" Tanya Gunawan.
"Hah, jadi kedatanganmu kali ini karena anak itu? Tidak bisakah kita bicarakan melalui telepon saja?" Natasya mengambil segelas anggur di atas meja lalu memutar perlahan gelas itu.
"Ini juga tentang kita," Gunawan akhirnya menatap Natasya.
"Kita? Bolehkah aku menebaknya?" Natasya terlihat tertarik dengan pembahasan 'kita' ini.
Gunawan tak bergeming. Ia masih menatap Natasya tanpa ekspresi.
"Kau ingin kita membuat anak lagi?" Tebak Natasya.
Gunawan mengernyitkan dahinya.
"Kau benar, sepertinya kita harus membuat satu lagi. Karena Melisa sekarang sudah menjadi pembangkang. Kau lihat? Sekarang dia bahkan mencintai orang yang bukan levelnya." Natasya meneguk anggur secara perlahan. Lalu menatap Gunawan dengan tatapan menggoda.
Gunawan menatap wanita yang berstatus istrinya itu masih tanpa ekspresi.
Melihat Gunawan yang tak bergeming. Natasya berdiri dan berjalan perlahan menuju Gunawan. Wanita itu ingin merayu pria tampan yang tengah duduk dengan mata yang terus mengikuti gerakannya.
__ADS_1
Sampai di hadapan Gunawan, Natasya memegang bahu kekar Gunawan. Membelainya dengan lembut.
Gunawan masih menatap Natasya. "Ayo kita bercerai," ucapan Gunawan sontak menghentikan aksi Natasya.