
Sampai di rumah, Satria memarkirkan motornya di samping rumah. Bu Lastri yang melihat putra pertamanya datang, segera menghampiri.
"Kamu ibu telpon ga diangkat-angkat," bu Lastri terlihat khawatir.
"Oh, maaf bu. Aku lagi di jalan, ada apa bu?" Tanya Satria.
"Melisa mana? Ga pulang bareng kamu?" Tanya bu Lastri.
"Melisa pulang ke rumahnya bu," jawab Satria.
"Oh, ya udah deh ga jadi," bu Lastri berlalu meninggalkan Satria yang kebingungan dengan tingkah ibunya itu.
Satria masuk ke dalam kamarnya, setelah berganti baju ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Hari ini ia lelah sekali, lelah hati dan pikiran lebih tepatnya.
Belum selesai ia memikirkan kecurigaannya pada Steve, ada lagi Melisa yang berusaha menyembunyikan sesuatu darinya, dan lagi Melisa yang mau saja diantar pulang oleh Dion, belum lagi bu Natasya yang terus saja merayunya.
Satria menghela nafas panjang, tubuhnya terasa lemas sekali. Ditambah semalam ia kurang tidur karena pikirannya. Perlahan ia memejamkan matanya, lalu tertidur pulas.
Satria terbangun karena kaget mendengar dering ponselnya yang sangat keras. Ia segera mengambilnya dari atas meja, dan mengecilkan volume nada deringnya. Ia melihat nama yang tertera di layar.
'Satria'
Satria mengernyitkan dahinya, ia mendapat telepon dari dirinya sendiri? Lalu ia teringat ponsel yang dipakainya kini bukanlah miliknya, melainkan milik Natasya.
Satria lalu menerima panggilan masuk tersebut.
"Halo," Satria.
"Lama sekali," suara Natasya terdengar di seberang sana.
"Maaf nyonya, saya tertidur tadi," Satria.
"Kau tertidur? Kau pasti lelah sekali, apa aku mengganggumu?" Natasya.
"Tidak nyonya," Satria.
"Benarkah aku tidak mengganggumu?" Natasya.
"Tidak nyonya," Satria.
"Baguslah," Natasya.
"Ada apa nyonya menelpon saya?" Satria.
"Aku merindukanmu," jawaban Natasya membuat Satria terdiam.
"Kenapa? Kau tak merindukanku?" Natasya.
"Maaf nyonya, ibu saya memanggil. Saya permisi," Satria segera mematikan ponselnya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Bagaimana bisa ibu dari temannya mengatakan hal itu padanya? Apakah ini hal yang wajar?
Sementara itu di seberang sana, seseorang yang baru saja diputus sambungan teleponnya terlihat tertawa geli.
__ADS_1
"Mengapa anda tertawa nyonya?" Tanya Reni, sekertaris Natasya.
"Kau tak perlu tau," jawab Natasya. Ia masih tersenyum menatap ponsel yang digenggamnya. Layar ponsel itu masih retak, ia belum memperbaikinya.
Entah bagaimana ide gila untuk menukar ponselnya dengan ponsel Satria timbul begitu saja. Natasya kembali membuka ponsel milik Satria, melihat-lihat isi galeri yang hanya ada beberapa foto Satria dan Melisa. Ada juga foto ibu dan ayahnya, juga foto adik Satria.
Tangan Natasya terhenti ketika layar menampilkan foto Satria seorang diri. Diambil dari kamera depan, Satria terlihat tampan di foto itu. Natasya tersenyum, ia mengirim foto Satria ke ponselnya yang ada di laci meja.
Natasya kembali mencari-cari foto Satria yang hanya seorang diri, meski tak banyak namun Natasya sudah berhasil mendapatkan foto-foto Satria.
Puas memainkan ponsel milik Satria, Natasya meletakkannya di dalam laci. Lalu ia mengeluarkan ponsel miliknya.
"Cetak foto-foto yang ku kirim ini," pinta Natasya pada Reni, setelah ia mengirimkan foto-foto Satria pada Reni.
"Baik nyonya," jawab Reni.
Reni memang sekertaris kebanggaan Natasya, ia selalu bekerja dengan penuh tanggung jawab. Selain cekatan, Reni juga tak pernah mempertanyakan apa yang diperintahkan padanya. Ia menuruti semua perintah Natasya tanpa ada rasa ingin tau kenapa ia harus melakukan itu.
...***...
Keesokan harinya, Satria sengaja menyimpan ponselnya di dalam tas. Satria sudah merubah menjadi mode hening pada ponsel itu. Tak sekalipun ia mengeluarkan ponsel dalam tasnya itu saat berada di sekolah.
"Kamu ga tanya aku kemana kemarin?" Tanya Melisa pada Satria saat bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi.
"Buat apa?" Satria balik bertanya.
"Gak kepengen tau?" Melisa.
"Kamu marah ya aku pergi sama Dion kemaren?" Melisa mengikuti Satria.
"Enggak," Satria.
"Tapi kok seharian ini kamu diem aja? Eh, dari kemarin juga kamu diem aja. Kenapa?" Melisa masih mengikuti Satria.
"Ga papa," Satria berjalan semakin cepat meninggalkan Melisa.
"Kamu cemburu ya?" Melisa dengan suara agak keras karena Satria sudah semakin menjauh.
Satria tak memperdulikan panggilan Melisa. Ia terus saja berjalan menuruni anak tangga, dan pergi menuju belakang sekolah. Satria mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
Satria melirik ke kanan dan kiri sebelum mengeluarkan ponsel itu. Setelah dilihat tak ada siapapun di sana, Satria baru berani mengeluarkan ponselnya.
Ada banyak sekali panggilan masuk ke ponsel itu dan semua dari nomor miliknya. Selain itu juga ada beberapa pesan yang masuk, masih dari nomor miliknya.
Satria terlebih dulu membuka pesan yang masuk.
Ada banyak pesan dari Melisa, kau tak ingin membacanya?
Melisa menelponmu, haruskah ku angkat?
Ayo pilih mau ponsel yang mana?
__ADS_1
Kau tak mau menjawab panggilan dariku?
Biar aku yang pilih ponsel untukmu ya.
Satria, kau sedang apa?
Datanglah ke hotel sepulang sekolah, ponselmu sudah ku ganti.
Tak lama setelah membaca pesan-pesan itu, ponsel yang dipegangnya kembali mendapat panggilan masuk. Satria segera mengangkatnya.
"Akhirnya, kau angkat juga," suara Natasya terdengar sangat bahagia diseberang sana.
"Ada apa nyonya?" Satria.
"Kau tak membaca pesanku?" Natasya.
"Baru saja ku baca, maaf nyonya aku tak membuka ponsel selama di sekolah," Satria.
"Kau sudah pulang?" Natasya.
"Belum nyonya, saya masih di sekolah. Masih ada pelajaran tambahan yang harus saya ikuti," Satria.
"Baguslah, mau kau yang ke hotel atau aku yang datang ke sekolah?" Natasya seolah tak memberi celah untuk Satria kabur.
"Biar saya saja yang ke hotel nyonya," jawab Satria.
"Baiklah, aku tunggu," Natasya menutup sambungan telepon.
Satria menghela nafas panjang. Satria kembali berjalan menuju ruang guru, saat itu ada seorang guru yang menatapnya dengan tajam. Satria tak menyadarinya.
Melisa yang mencari-cari keberadaan Satria hingga ke parkiran sekolah tak juga menemukannya. Melisa kembali bertemu dengan Dion yang mengajaknya pulang bersama lagi.
Melisa celingukan melihat ke sekitaran halaman sekolah, ia masih belum menemukan sosok Satria yang ia cari.
"Kamu liat Satria?" Tanya Melisa pada Dion.
"Tadi aku liat dia jalan ke arah belakang sekolah," jawab Dion.
"Ke belakang sekolah? Ngapain?" Tanya Melisa.
"Entahlah," Dion menggelengkan kepalanya.
Melisa berlalu meninggalkan Dion, ia berjalan menuju belakang sekolah. Namun ia tak menemukan sosok Satria di sana.
"Kemana sih kamu Satria?"
"Mungkin dia ada kelas tambahan," Dion ternyata mengikuti Melisa sampai ke belakang sekolah.
Melisa baru teringat jika hari ini memang jadwal Satria mengikuti kelas tambahan.
"Tadi kamu bilang dia ke belakang sekolah?" Melisa terlihat kesal.
__ADS_1
Dion jadi serba salah, ia memang tadi melihat Satria berjalan ke arah belakang sekolah. Namun kini Satria sudah tak ada di sana.