Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Kehidupan Kampus


__ADS_3

Satria dan Mia berhasil lolos dalam tes masuk universitas. Dan kini keduanya sudah resmi menjadi mahasiswa di universitas ternama itu. Satria dan Mia masuk ke dalam jurusan yang sama, yaitu jurusan matematika. Sedangkan Melisa yang juga masuk di universitas itu masuk ke jurusan yang berbeda, yaitu manajemen bisnis.


Satria dan Mia tinggal di asrama yang memang sudah di sediakan oleh pihak kampus. Sedangkan Melisa tinggal di sebuah rumah yang dibelikan oleh Gunawan, lokasinya juga tak jauh dari kampus. Sesekali Melisa melihat Satria yang sering mengikuti kegiatan kampus, Satria juga kerap kali menjadi panitia pada acara-acara yang diadakan pihak kampus. Namun tak sekalipun Melisa berusaha menyapa Satria. Sedangkan Satria tak pernah sekalipun melihat Melisa.


Satria yang memang pandai bergaul, sudah menjadi jajaran orang-orang terkenal di kampus. Bahkan Satria juga sudah dikenal dikalangan dosen-dosen di sana. Di salah satu acara kampus, Melisa ingin sekali menghampiri Satria. Namun dalam sekejap, ia urungkan niatnya. Melisa melihat Satria dikerumuni banyak mahasiswi, mulai dari mahasiswi yang seangkatan dengannya hingga kakak tingkat. Satria memang populer.


“Satria memang semakin sulit dijangkau,” suara seseorang membuyarkan lamunan Melisa.


“Mia?”


“Hai, apa kabarmu?”


“Aku, baik-baik saja. Kamu gak ikutan sibuk kaya Satria?”


Mia menggeleng. “Aku tidak bisa seperti Satria, aku tak punya kemampuan berbaur dengan orang-orang. Keahlianku hanya belajar,” Mia tersenyum miris.


Melisa mengangguk. “Kita memang setipe, aku juga tak bisa bergaul dengan mudah di sini. Bahkan sampai saat ini aku tak ingat nama-nama teman sekelasku.”


“Itu sih memang kamu saja yang keterlaluan,” kedua gadis itu tertawa lepas. Sejak mereka masuk di kampus yang sama, Melisa dan Mia sudah jauh lebih akrab. Karena mereka sama-sama tak memiliki teman, jadi mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama saat tak ada jam kampus.


“Kamu masih menyukai Satria?”


Melisa mengangguk.


“Aku juga,” jawab Mia sambil menatap Satria dari kejauhan.


Melisa menoleh tak percaya. “Kamu menyukai Satria?”


Mia tersenyum. “Ayolah, apa kamu cemburu? Kamu tak lihat di sana, berapa banyak gadis yang sekarang tergila-gila padanya.”

__ADS_1


“Kamu benar menyukai Satria?”


Mia sekarang malah tertawa. “Mel, tentu saja saat ini siapa yang tidak menyukai Satria? Dia baik, tampan, cerdas, mudah bergaul. Aku hanya menyukainya sebatas itu.”


Melisa memicingkan matanya, ia menatap Mia dengan curiga.


“Ayolah Melisa, kamu ga seharusnya cemburu sama aku. Aku cukup tau diri, untuk merebut Satria darimu,” Mia tertawa melihat ekspresi Melisa.


“Kenapa?”


“Karena ibumu sudah sangat baik padaku,” Mia memeluk lengan Melisa dan menyandarkan kepalanya di bahu Melisa.


Melisa terdiam, sebenarnya ada sedikit rasa cemburu dalam hatinya. Mengapa ibunya sangat baik pada orang lain sementara pada anaknya sendiri Natasya masih saja berlaku sinis.


Sesuai janji, Natasya membiayai kehidupan Satria dan Mia selama kuliah di luar negeri. Meski keduanya sudah mendapat beasiswa penuh dari pihak kampus, namun tetap saja mereka juga butuh biaya untuk kebutuhan sehari-hari.


Suatu ketika Mia ingin sekali mencari kerja sambilan, ia merasa tak enak karena sudah banyak menyusahkan Natasya. Namun keinginannya itu seketika ditentang oleh Natasya, ia tak mau anak didiknya itu jadi tak punya waktu untuk belajar.


Meski begitu, Mia tetap saja merasa tak enak hati. Sebisa mungkin ia menghemat pengeluaran selama menjadi mahasiswa di luar negeri. Tempat yang sangat jauh dari keluarganya, ia berusaha untuk menjadi mahasiswa yang baik. Mia tak mau mengecewakan keluarganya, apalagi Natasya yang sudah sangat baik hati hingga bisa membuatnya kuliah di luar negeri tanpa khawatir akan apapun.


“Jika lulus nanti, kamu hanya cukup mengabdikan dirimu untuk yayasan!” Perintah Natasya. Meski seringkali sikap Natasya padanya sedikit lebih tegas dibandingkan pada sikap Natasya pada Satria, Namun Mia tak pernah mempermasalahkannya. Karena ia merasa sangat bersyukur, karena sudah diberi kesempatan yang sangat langka ini.


Sementara itu, Natasya yang berniat ingin terus membiayai kuliah Satria sampai S3 meminta Satria untuk bisa menjadi penggantinya sebagai direktur Yayasan Puspa Tunggal. Semenjak orang tua Natasya meninggal, Natasya jadi semakin punya kuasa penuh atas yayasan. Meski awalnya ia ingin mewarisi yayasan itu pada Melisa, namun melihat sikap Melisa yang masih saja acuh padanya. Natasya jadi merubah pikirannya. Natasya merasa Satria jauh lebih, lagi pula Melisa sudah pasti nantinya akan mewarisi Laksmana Grup.


“Tapi nyonya, saya rasa ilmu saya belum cukup jika harus menjadi seorang direktur. Apa tidak bisa saya menjadi dosen saja?” Tanya Satria pada Natasya.


“Sudah berkali-kali aku bilang padamu, panggil aku Natasya saja. Kenapa kau susah sekali dan selalu memanggilku nyonya dan nyonya,” ketus Natasya.


Satria tersenyum mendengar ucapan Natasya, semakin hari sikap Natasya pada Satria memang semakin berani bersikap manja padanya. Meski begitu, Satria sudah menganggap Natasya seperti ibunya sendiri.

__ADS_1


“Maaf, aku sudah terbiasa memanggil anda dengan sebutan nyonya. Padahal saya rasa akan lebih baik jika saya memanggil anda ibu,” ucap Satria.


“Terserah kau sajalah, asal jangan panggil aku nyonya.”


Saat mereka masih asik berbincang, tiba-tiba seorang pria datang mendekati mereka.


“Kau sudah datang?” Natasya tampak sangat senang melihat kedatangan pria itu.


Pria itu tersenyum ramah sambil mencium tangan Natasya.


“Kau sudah siap?” Tanya pria itu.


“Tentu saja, ayo! Kita tinggalkan saja Satria yang masih betah menjomblo,” sindir Natasya.


“Bukankah kau sedang menjalin hubungan dengan Mia? Semua orang heboh dengan hubungan kalian, bahkan ada yang berkata bahwa kalian akan segera menikah?”


“Tidak om, itu semua hanya gosip belaka. Saat ini saya hanya fokus untuk belajar dan membangun relasi,” jawab Satria.


“Baguslah, kalau begitu. Kamu memang hebat, tak salah Natasya mempercayakanmu untuk memegang yayasan Puspa Tunggal nantinya. Ya sudah, kami tinggal dulu ya,” pria itu pamit pada Satria seraya menggandeng mesra tangan Natasya.


“Iya, hati-hati di jalan. Jaga ibuku baik-baik om Steve,” Satria tersenyum melihat keduanya pergi.


Satria baru tahu beberapa hari yang lalu, bahwa Natasya sudah kembali menjalin hubungan dengan Steve. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi, Satria tak mau mencari tau. Yang pasti, sejak kembalinya hubungan Natasya dan Steve. Satria merasa Natasya jadi semakin sering tersenyum, wanita itu bahkan sudah tak pernah lagi menggodanya.


“Kalian memang sepertinya ditakdirkan bersama.”


...***...


Hai para pembaca...

__ADS_1


Terima kasih buat para pembaca yang masih setia membaca sampai episode ini, aku merasa sangat terharu karena karyaku masih ada yang membaca T_T. Semoga kalian sehat dan bahagia selalu ^_^


Salam sayang dari Author untuk semua pembaca^__^


__ADS_2