Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Bulan Madu


__ADS_3

Setelah tinggal di desa selama tiga hari. Satria mengajak Melisa untuk pergi berbulan madu.


Tentu saja hal itu membuat Melisa sangat senang. Sejak kemarin ia memang mendambakan untuk pergi berbulan madu setelah semua pesta selesai diselenggarakan.


Namun melihat gelagat Satria yang seperti tidak ingin kemana-mana, Melisa jadi merasa tidak memiliki harapan untuk bisa pergi berbulan madu. Terlebih karena kondisi tubuh Satria yang mungkin belum sembuh total.


Tapi kali ini, semua harapan yang sempat ia kubur dalam-dalam pun kini bisa muncul kembali.


Melisa merasa sangat senang tentunya, meski ia sendiri belum tau akan dibawa kemana oleh Satria. Satria masih merahasiakan tempat dimana mereka akan berbulan madu dari Melisa.


Setelah sarapan pagi, mereka pun pamit pada Steve. Mereka mungkin tidak bisa kembali ke desa dalam waktu dekat, karena setelah berbulan madu mereka akan langsung masuk kerja.


Sebelum pergi, tak lupa Satria dan Melisa juga menitipkan ayah mereka pada Arya. Mereka juga meminta Arya untuk tinggal saja di sana, dan menganggap rumah itu juga sebagai rumahnya.


Setelah berpamitan, Melisa dan Satria sudah memulai perjalan mereka menuju bandara.


"Suamiku, sebenarnya kita mau pergi kemana sih?"


"Kamu maunya kemana?"


"Ih, kok malah nanya balik sih?"


"Ya, siapa tau aja kamu ada tempat yang mau dikunjungi."


"Gak ada sih, aku ikut kamu aja deh."


"Ya udah, kalau gitu kamu ikut aja ya. Jangan banyak tanya," pesan Satria.


"Oke, siap!"


Melisa akhirnya menurut, sepanjang perjalanan ia hanya diam saja. Tak bertanya apapun.


"Sayang," panggil Satria.


"Mmm?"


"Kamu kalau capek tidur aja dulu. Nanti kalau sampai biar aku bangunin."


"Kamu tau aku ngantuk?"


"Tau dong, aku kan perhatian sama kamu," goda Satria.


Melisa tersenyum malu.


"Ya sudah, kalau gitu aku tidur dulu ya."


Melisa yang merasa jenuh dengan perjalanan keluar dari desa yang isinya hanya hamparan sawah, mulai merasa sangat mengantuk. Dia pun mulai memejamkan matanya.


Menjelang sore hari, mereka tiba di bandara internasional kota A.


"Kita di bandara?" Tanya Melisa yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Iya, ayo turun."

__ADS_1


"Tapi, kita kan gak bawa baju ganti."


Mereka memang pergi tanpa membawa barang apapun untuk perbekalan pergi jauh. Satria dan Melisa hanya membawa masing-masing satu tas kecil berisi ponsel, dompet, dan paspor.


"Gampang, nanti kita beli saja di sana."


Satria membukakan pintu keluar untuk Melisa, sambil menggandeng tangan Melisa mereka pun berjalan memasuki bandara.


Ternyata Satria sudah memesan tiket secaa online. Ia hanya tinggal menukarnya saja.


Pesawat yang akan mereka naiki akan berangkat satu jam lagi.


"Sayang, apa kamu lapar?"


"Iya, kita makan dulu ya," Melisa menarik tangan Satria menuju restoran yang berada di dalam bandara.


"Pilih menu yang ringan saja," usul Satria.


"Iya, lagi pula kita nanti bisa makan lagi di pesawat," Melisa menurut.


Setelah makan sepiring berdua, biar romantis. Mereka pun segera berjalan menuju pesawat yang akan mereka tumpangi.


Melisa melihat tiket yang sejak tadi dipegang oleh Satria. Ternyata mereka akan pergi ke negara tempat mereka berkuliah dulu.


"Kamu mau ke sana?"


"Iya," jawan Satria dengan santai.


"Bulan madu lah," lagi-lagi Satria menjawab dengan santai.


"Kok bulan madu di sana?"


"Sayang, waktu kita kuliah dulu. Kalau liburan, aku sering diajak jalan-jalan keliling negara oleh temanku yang memang orang asli sana. Ternyata ada banyak tempat-tempat yang indah dan menarik di sana. Dan setiap kali aku ke sana, aku selalu berpikir suatu saat aku kan mengajakmu ke tempat-tempat ini."


"Dan kamu sekarang mau mengajakku ke sana?"


"Sudah sejak lama aku ingin mengajakmu ke sana, namun aku tak pernah punya kesempatan untuk mengajakmu."


"Kamu ke sana sama siapa?"


"Sama temen-temen sekelas."


"Cewe? Cowo?"


"Mmm... Kebanyakan sih sama cowo, kalau pun ada cewe nya juga ya gak cuma berdua."


"Pasti diantara mereka ada yang suka kamu."


"Entahlah," Satria tak peduli.


"Satria, dulu waktu kuliah. Apa ada perempuan yang kamu taksir?"


"Mmm... Taksir sir gak ada, paling cuma sekedar kagum aja."

__ADS_1


"Kagum gimana?"


"Ya misalkan, dia berbakat dalam bidang apa. Atau dia bisa menyelesaikan soal yang aku sendiri kesulitan mengerjakannya."


"Cuma itu?" Tanya Melisa ragu.


"Iya, kalau kamu, apa ada yang kamu taksir waku kuliah?"


"Mana ada? Aku kan gak bergaul dengan laki-laki. Sekalipun ada yang pernah mendekati aku, itu hanya sebatas tugas dari sekolah."


Satria mengangguk paham, ia ingat Melisa sejak dulu memang selalu bersikap dingin pada orang yang tidak ia kenal. Untuk itulah, sangat sulit baginya untuk bergaul.


Perjalanan yang cukup jauh mereka lalui. Hingga tiba di negara tujuan mereka, waktu menunjukkan pukul tujuh malam.


"Kita ke hotel dulu ya, abis itu baru cari makan," usul Satria.


"Iya, aku nurut kamu aja."


Mereka pun mencari hotel yang paling dekat dengan bandara. Rencananya, mereka akan menginap di sana hanya satu malam. Karena mereka akan melanjutkan perjalanan menuju tempat wisata lainnya.


Satria sengaja tak menyewa mobil, karena ia masih merasa tubuhnya belum terlalu fit untuk bisa mengemudi seorang diri. Terlebih rute yang ia rencanakan berjarak sangat jauh.


Sudah bisa terbayang bagaimana lelahnya menempuh perjalanan yang jauh itu.


Tiba di hotel, mereka berdua segera memesan sebuah kamar hotel. Setelah itu, mereka pun pergi ke mall di seberang hotel.


Satria dan Melisa pergi ke mall untuk membeli beberapa baju ganti dan juga satu koper besar untuk membawa semua pakaian mereka.


Tak hanya membeli pakaian, Satria dan Melisa juga membeli beberapa kebutuhan pribadi lainnya.


Setelah dirasa cukup, mereka pun segera mencari restoran yang ada di dalam mal yang masih buka. Karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan banyak dari beberapa restoran itu yang sudah tutup.


Akhirnya, mereka masuk ke satu-satunya restoran cepat saji yang masih buka. Dan sepertinya restoran itu memang buka dua puluh empat jam.


"Kamu mau pesan apa suamiku?"


"Apa saja, samakan saja menunya denganmu," jawab Satria.


Dia sudah merasa sangat lelah dan ingin segera tidur. Namun sebelum tidur, ia juga tetap harus mengisi perutnya terlebih dahulu.


Setelah kenyang, Melisa dan Satria kembali ke hotel tempat mereka menginap.


"Suamiku, kamu mau mandi dulu atau aku dulu yang mandi?"


"Kamu dulu saja, aku mau merebahkan tubuh sejenak."


Melisa pun akhirnya masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri lebih dulu. Setelah Melisa keluar dari kamar mandi, ternyata Satria sudah tertidur lelap.


Melisa menghampirinya.


"Kasian, suamiku pasti lelah," ucap Melisa seraya membelai lembut rambut Satria.


Melisa pun ikut terlelap di samping Satria, masih menggunakan baju handuk yang belum ia ganti.

__ADS_1


__ADS_2