
Melisa menunggu Satria di halaman sekolah, dengan ditemani Dion tentunya. Cukup lama gadis itu menunggu di sana, dan selama itu juga Dion setia berada di samping Melisa.
"Kamu ga mau pulang duluan?" Tanya Dion, merasa cukup lama menunggu Satria masih belum selesai dengan kelas tambahannya.
"Kamu pulang duluan aja sana," Melisa malah mengusir Dion.
"Enggak ah, aku mau nungguin kamu. Kalau aku pergi kasian kamu sendirian," Dion memberi alasan. Melisa tak menggubrisnya, matanya terus tertuju pada pintu masuk ke gedung sekolah.
Melisa bertekad menemui Satria untuk meluruskan kesalahpahaman diantara mereka. Sebelum semakin larut dan Satria malah akan membencinya.
Waktu terus berlalu, dan Dion terus saja mengajak Melisa bicara. Namun gadis itu tak begitu menanggapi Dion, ia terus fokus menunggu Satria muncul dari dalam gedung.
Hingga akhirnya yang ditunggu-tunggu pun keluar. Satria dan beberapa murid beasiswa lainnya sudah selesai dengan kelas tambahan mereka.
Melisa hendak berlari menghampiri Satria, kebetulan jarak dari tempatnya berdiri ke parkiran motor lumayan jauh. Namun belum sampai ia melangkahkan kaki, Melisa kembali diam tak bergerak.
Dion heran melihat Melisa yang diam saja. Ia melihat ke arah Satria dan ternyata laki-laki itu sedang asik mengobrol dengan Mia. Mereka berdua berjalan beriringan tanpa menyadari ada Melisa dan Dion yang melihat dari kejauhan.
Tak hanya asik bicara, keduanya bahkan kini sudah menaiki motor yang dikendarai Satria. Melisa masih diam mematung.
"Ayo Mel, kita kejar mereka!" Dion menarik tangan Melisa yang tak bergerak sedikitpun melihat Satria keluar dari gerbang sekolah sambil membonceng Mia.
Dion menarik Melisa hingga ke mobilnya, dan Dion pun segera menyalakan mesin mobil. Dengan cepat ia melajukan mobilnya menyusul ke arah Satria pergi.
Beruntung Satria tak membawa motornya dengan cepat, hingga dengan mudah Dion bisa menyusulnya.
"Kita ikuti mereka ya," ucap Dion.
Melisa hanya mengangguk, tatapan tajam tertuju pada kedua remaja yang masih asik mengobrol meski berada di atas motor.
Tak lama kemudian, Satria menepikan motornya. Mia turun dari motor itu dan menyerahkan helm yang dipakainya. Terlihat Mia mengucapkan terima kasih yang dibalas senyuman oleh Satria.
Mia berlalu meninggalkan Satria, yang kembali melanjutkan perjalanannya.
"Cuma nebeng kayanya Mel, ga usah cemburu," Dion berusaha menenangkan Melisa. Namun amarah gadis itu sepertinya belum reda, ia meminta Dion terus mengikuti Satria. Karena jalan yang ditempuh Satria bukanlah jalan menuju rumahnya.
__ADS_1
"Seharusnya dia balik arah setelah mengantar Mia, tapi kenapa dia lurus terus?" Melisa mulai curiga pada Satria. "Mau kemana kamu?"
Dion terus membuntuti kemana Satria pergi. Dion terkejut saat motor Satria memasuki kawasan Grand hotel, Melisa terus meminta Dion untuk mengikutinya.
Satria sudah memarkirkan motornya, ia kini berjalan menuju lobi hotel. Melisa dan Dion juga sudah turun dari mobil, diam-diam mengikuti Satria masuk ke dalam lobi.
Satria sudah menaiki lift, kebetulan saat itu lift yang dinaiki Satria sedang kosong. Jadi hanya Satria satu-satunya yang menaiki lift itu.
Melisa melangkah maju ke depan lift saat pintu lift sudah tertutup. Matanya menatap pada lantai yang akan dituju Satria. Dion masih setia di samping Melisa.
Jantung Melisa berdebar kencang, tangannya mengepal keras. Kenapa Satria bisa datang ke tempat ini? Bukankah seharusnya ia trauma pada tempat ini?
Dan kekhawatiran Melisa menjadi kenyataan, benar saja lift berhenti di lantai dua belas. Tanpa pikir panjang, Melisa menekan tombol lift. Ia menunggu pintu lift terbuka dengan gelisah.
Melisa segera masuk ke dalam lift setelah lift itu terbuka, diikuti oleh Dion tentunya. Meski sebenarnya bingung, Dion berusaha untuk tak bertanya. Ia melihat raut wajah Melisa yang merah padam karena menahan amarah.
Sampai di lantai dua belas, begitu pintu lift terbuka. Tentu saja Satria sudah tak ada di sana. Ia pasti sudah masuk ke kamar itu. Melisa dan Dion menunggu di depan pintu kamar 1201.
Di lantai tiga belas.
Satria mengikuti Natasya masuk ke dalam kamar 1301. Natasya sengaja menunggunya di depan kamar 1201. Saat Satria keluar dari pintu lift, Natasya menggiringnya menaiki tangga darurat menuju lantai tiga belas.
Satria sudah duduk di sofa.
"Bagaimana? Tempat ini jauh lebih baik kan?" Natasya sudah membuka jasnya. Wanita itu kini hanya mengenakan atasan dengan bahu yang terbuka dan rok juga rok yang sangat minim.
Satria mengangguk, ia terus saja menundukkan kepalanya.
"Aku sengaja memilih tempat yang berbeda, karena kau bilang tak mau masuk ke dalam kamar karena aku sudah membuatmu trauma," ucap Natasya dengan santainya. Ia kini sudah duduk di samping Satria.
Meski memang tempatnya berbeda, namun trauma itu masih ada. Bukan karena tempatnya, tapi karena Natasya. Karena ia satu ruangan dengan Natasya, hingga membuat tubuh Satria gemetar.
"Maaf, Nyonya... Apa saya bisa mengambil ponsel saya sekarang?" Dengan suara sedikit bergetar, Satria memberanikan diri melihat Natasya yang duduk dengan santai di sebelahnya.
"Oh Satria, kenapa kau seperti ini? Apa yang membuatmu begini?" Natasya semakin mendekatkan diri pada Satria, tangannya sudah memegang wajah Satria.
__ADS_1
Namun Satria seolah terhipnotis, tak bisa berkutik. Ia diam saja menatap mata Natasya yang menatapnya dengan tatapan lembut.
"Jika kau masih seperti ini, aku tak bisa membiarkanmu pergi begitu saja." Natasya melingkarkan lengannya di leher Satria.
Satria menelan saliva nya, jantungnya kian bergemuruh. Nafasnya tersengal.
"Apa Melisa tak pernah melakukan ini padamu?" Natasya masih menatap Satria dengan sangat lembut.
Satria menggelengkan kepalanya.
"Maaf nyonya, saya kesini hanya untuk mengambil ponsel saya. Kita tidak boleh seperti ini," Satria mencoba menurunkan tangan Natasya.
"Kenapa buru-buru sekali? Ayo coba ikuti instruksi dariku," Natasya sudah menurunkan tangannya dari leher Satria. "Tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan perlahan."
Satria benar-benar terhipnotis. Ia mengikuti apa yang diinstruksikan Natasya. Mengambil nafas dalam-dalam dan fuuuhhhh... Menghembuskannya perlahan.
Cukup lama mereka melakukan itu, terlihat Satria sudah jauh lebih tenang.
"Anak pintar," Natasya mengusap rambut Satria. "Kau sudah tak gugup lagi kan?"
Satria mengangguk.
"Kau tak perlu gugup jika bersamaku," Natasya mengambil tasnya yang berada di atas meja. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, lalu menyerahkan pada Satria.
Satria juga mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan hendak memberikannya pada Natasya.
"Sssttt... Tak usah, buat kau saja." Natasya menolak Satria mengembalikan ponsel miliknya.
"Tapi nyonya," Satria melihat ponsel miliknya yang diganti oleh Natasya dengan mode terbaru. "Nyonya bahkan sudah membelikan saya ponsel baru itu."
"Terima saja, oke. Anggap saja ini hadiah karena kau sudah berhasil membuat Gunawan kembali padaku," Natasya tersenyum hangat pada Satria.
"Lalu ini?" Satria menunjuk ponsel milik Natasya.
"Itu bawa saja, kau simpan baik-baik ya. Anggap saja itu ancaman karena kau belum berhasil melakukan misi yang lainnya," ucap Natasya.
__ADS_1
Satria tertunduk. "Baiklah nyonya, kalau begitu saya pulang dulu," Satria hendak pamit dan bangkit dari duduknya.
Natasya dengan cepat ikut berdiri dan memeluk Satria, tentu saja Satria terkejut dan dengan gerak reflek mendorong tubuh Natasya hingga jatuh ke lantai.