
Melisa terbangun saat Satria mengatakan bahwa mereka sudah sampai, Melisa melihat ke sekeliling dan benar saja mereka sudah sampai di desa tempat tinggal Natasya dan Steve.
"Kau benar, ikuti saja jalan itu hingga ujung. Nanti kau akan menemukan sebuah rumah besar. Di sanalah mereka tinggal," ucap Melisa.
"Kau tau yang membuatku heran apa Mel?"
"Apa? Karena mereka memilih tinggal di tempat seperti ini?"
"Bukan, desa ini memang terpencil, tapi jalanan nya sangat rapi dan beraspal. Bahkan tidak ada lubang sama sekali sejak area persawahan lalu masuk ke hutan. Jalannya memang kecil tapi mulus," ungkap Satria.
"Tentu saja, ayah Steve yang sudah memberi dana untuk mengaspal jalanan sepanjang jalan desa sampai ke rumahnya. Dulu jalanan di sini sangat rusak," Melisa ingat bagaimana pertama kali ia datang ke tempat ini saat ingin melihat lokasi rumah yang dibeli oleh Natasya dan Steve.
"Tapi desa ini sangat mengerikan di malam hari," Satria melihat ke arah sekitarnya.
"Iya, aku juga baru pertama kali melihat suasana malam di desa ini. Tapi kau tau? Saat siang hari tempatnya sangat indah."
Satria hanya mengangguk saat Melisa mengatakan itu, ia tau tak mungkin kedua orang tua angkatnya itu mau membeli rumah di sana jika pemandangannya biasa saja.
Mereka terbiasa tinggal di kota, dan tempat ini sangat jauh dari kota. Pasti ada hal yang membuat mereka memutuskan untuk memilih tinggal di desa itu.
Beberapa menit kemudian, Satria melihat sebuah rumah besar di ujung jalan. Kini ia bisa tau, jalan yang bagus itu ternyata memang menuju ke rumah besar itu.
Di sana sudah terlihat banyak sekali orang yang berdatangan, mungkin warga sekitar. Satria memarkirkan mobilnya di halaman yang cukup luas.
Datangnya Satria dan Melisa tentu menjadi perhatian semua warga di sana. Karena di desa itu tak ada yg memiliki kendaraan selain Natasya dan Steve.
Mereka tentu saja bingung, siapa yang datang ke desa mereka pada dini hari seperti ini?
Melisa belum mau turun dari mobil, ia sedang berusaha menguatkan dirinya sebelum melihat jenazah ibunya.
"Ayo kita turun Mel," ajak Satria.
"Tunggu sebentar lagi," Melisa menundukkan kepalanya, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.
__ADS_1
"Ayo," Melisa sudah siap untuk turun.
Satria turun terlebih dahulu, ia sempat menyapa warga sekitar yang terus melihat ke arah mobil. Lalu Satria berjalan memutar, membuka pintu tempat Melisa duduk.
Satria membantu Melisa turun dengan memegang tangan gadis itu. Untungnya Melisa sudah lebih kuat saat ini.
Beberapa warga yang melihat Melisa langsung paham siapa tamu yang datang. Beberapa yang mengenal Melisa segera menghampiri Melisa dan memberikan ucapan bela sungkawa mereka.
"Kami turut berduka cita ya nak Melisa, yang sabar ya nak," ucap salah seorang nenek tua yang usianya mungkin kisaran tujuh puluh tahunan.
"Iya nek," Melisa menanggapi dengan ramah.
Beberapa ibu-ibu silih berganti memeluk Melisa seolah ingin memberi kekuatan pada gadis itu. Namun bukannya semakin kuat, Melisa malah semakin tak berdaya.
Di dalam mobil tadi, ia sudah berusaha untuk nampak tegar dan tak ingin menangis. Namun ucapan duka dari para ibu-ibu membuat pertahanannya runtuh.
Tangis Melisa akhirnya pecah, di dekapan seorang ibu yang berbadan gemuk. Melisa menangis di pelukan si ibu. Sementara ibu yang berbadan gemuk itu terus mengusap-usap punggung Melisa.
Steve yang mendengar suara tangis di luar rumahnya, tentu segera keluar karena ingin tau siapa yang datang? Tadi ia sempat mendengar suara mobil, namun ia tak menyangka mobil yang datang itu adalah milik Melisa.
Melisa datang bersama Satria.
"Kalian?" Steve datang menghampiri kedua anaknya itu.
"Ayah..." Melisa berlari dan memeluk Steve dengan sangat erat.
Satria mengikuti di belakang Melisa. Sesekali air mata Satria menetes di pelupuk matanya. Ia memang sudah siap dengan situasi ini, ia tau suatu saat pasti hal ini akan terjadi mengingat kondisi Natasya yang semakin hari semakin memburuk dan lagi Natasya menolak berbagai macam pengobatan.
"Jangan menangis Mel, mamahmu akan sangat sedih nanti. Setidaknya mamah sudah tidak merasakan sakit lagi," ucap Steve dengan lembut.
Melisa menghapus air matanya, ia mengangguk menuruti perkataan Steve.
Steve lalu mengajak Melisa dan Satria masuk ke dalam. Jenazah Natasya masih terbaring kaku di atas ranjangnya.
__ADS_1
Melisa dan Satria menghampiri.
"Bagaimana mah, sudah tidak sakit? Maafkan aku mah, aku telat menjengukmu," Melisa tertunduk. Ia berusaha menahan tangisnya.
Selama ini Natasya tak pernah mengkonsumsi obat lagi, termasuk obat nyerinya. Saat sakitnya kambuh, Steve hanya bisa menemani Natasya sambil menggenggam tangannya erat.
Satria tau hal itu, karena Steve sering mengatakannya lewat pesan singkat.
Melihat ibu angkatnya itu sudah tertidur dengan senyum di wajahnya tentu membuat Satria juga ikut tersenyum.
"Benar, setidaknya kau sudah tak merasakan sakit lagi bu," gumam Satria.
Saat matahari sudah terbit, beberapa warga sudah menyiapkan tempat untuk mengubur jenazah Natasya. Semua orang ikut mengantar kepergian Natasya.
Melisa dan Satria tak menyangka akan ada banyak warga yang datang, bahkan warga dari beberapa kampung tetangga juga ikut datang setelah mendengar kabar duka kepergian Natasya.
Di saat ini, Melisa dan Satria baru mengetahui bahwa Natasya dan Steve yang dikenal oleh warga sebagai orang yang dermawan.
Suami istri yang datang dari kota itu memang selalu baik dan ramah pada warga, mereka tak segan membantu warga yang tengah kesulitan.
Padahal baru satu tahun mereka tinggal di sana, tapi semua warga sudah mengenal dengan baik orang kota yang pindah ke desa mereka itu. Suami istri yang tak pernah sombong meski terlihat jelas dari rumah mereka perbedaannya dengan rumah di sekitar mereka.
Hingga saat pemakaman Natasya pun, banyak sekali orang yang datang. Ingin mengucapkan salam perpisahan dengan Natasya sekaligus ucapan terima kasih karena sejak datangnya mereka, banyak warga yang merasa dibantu saat mereka kesulitan.
Selesai pemakaman, semua orang kembali ke rumah masing-masing. Beberapa ikut kembali ke rumah Steve untuk membantunya menyiapkan hidangan untuk tamu yang datang dari kota.
Beberapa kerabat dan rekan kerja yang semalam diberi tau kabar duka kepergian Natasya ada yang sudah datang tepat sebelum jenazah Natasya disemayamkan.
"Apa ayah akan tetap tinggal di desa ini?" Tanya Satria.
"Mungkin, entahlah. Untuk saat ini aku memilih untuk tetap di sini, namun entah ke depannya."
Satria mengangguk mendengar jawaban Steve. Ia tau, orang yang paling kehilangan tentu adalah Steve. Pria yang tetap tampan meski sudah tak muda lagi itu tak pernah menunjukkan kesedihannya.
__ADS_1