Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Terbayang-bayang


__ADS_3

Melisa benar-benar merasa khawatir melihat kondisi Satria saat ini.


"Kamu kenapa Sat?"


"Aku ga papa, aku baik-baik saja," Satria masih mengatur nafasnya yang tersengal. Tangannya masih terlihat gemetar.


"Kamu ga mau kasih tau aku, apa yang terjadi di dalam sana?"


Satria menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, kalau begitu biar aku yang bertanya langsung pada wanita itu," Melisa hendak berbalik dan menaiki anak tangga. Namun tangan Satria dengan sigap menahannya.


"Jangan Mel, udah aku bilang ibu kamu bahaya. Sekarang kita pulang aja yuk," bujuk Satria.


"Minggir Sat, biar aku tau seberapa bahaya wanita itu." Melisa masih berusaha meloloskan diri. Ia sangat penasaran, sebenarnya apa yang terjadi hingga membuat Satria seolah habis melihat sesuatu yang mengerikan saat keluar dari ruangan itu.


"Aku mohon Mel, ayo kita pulang saja," Satria sampai memohon pada Melisa agar tak meminta kembali ke kamar itu.


Satria tak mau Melisa melihat ibunya yang sedang bersama pria lain di dalam kamar hotel. Karena Satria sendiri tak yakin, siapa pria yang tengah tidur di atas ranjang dengan berbalutkan selimut di atasnya. Tak apa jika memang itu adalah tuan Gunawan, tapi jika bukan? Melisa pasti tak akan pernah mau berbaikan dengan ibunya.


Melisa akhirnya mengalah, ia mau di ajak turun bersama Satria. Perlahan menuruni anak tangga hingga ke lantai dasar. Keduanya terdiam, Melisa memperhatikan Satria yang berjalan di depannya nampak lesu seolah tenaganya baru saja di sedot habis.


"Jika saja aku tadi ikut masuk bersamamu, mungkin kamu tak akan seperti ini," batin Melisa. Ia menyesali perbuatannya karena sudah meninggalkan Satria. Padahal jika saja ia ikut masuk ke kamar itu bersama Satria, mungkin saja peristiwa yang tidak ia tau apapun itu, tidak akan terjadi.


Atau setidaknya, ia bisa tau apa yang akan dilakukan oleh ibunya pada Satria. Tidak, seharusnya ia mencegah Satria masuk ke ruangan itu. Seberapapun keras usaha Satria membujuknya bertemu dengan sang ibu, Melisa harusnya bisa merayu Satria agar tak menemui ibunya di tempat itu.


"Apa ibuku sudah melakukan hal tidak senonoh padamu?" Tanya Melisa.


Pertanyaan Melisa itu seketika membuat Satria menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik menoleh ke arah Melisa.


"Apa yang kamu pikirkan?" Satria balik bertanya.

__ADS_1


"Entahlah, karena kamu tak mau menjawabnya. Jadi aku memikirkan banyak kemungkinan yang terjadi di ruangan itu," jawab Melisa.


"Sudahlah, jangan memikirkan yang tidak-tidak. Ayo pulang, aku merasa sangat lelah sekali," Satria menggandeng tangan Melisa. Mempercepat langkahnya untuk segera keluar dari hotel itu.


Sampai di rumah Melisa, Satria segera pulang ke rumahnya. Ia menolak tawaran Melisa untuk mampir, terlebih saat ia tau Melisa hanya seorang diri di rumahnya. Jantung Satria masih belum siap jika Melisa melakukan hal yang sama dengan yang Natasya lakukan padanya tadi.


Padahal beberapa kali ia bersama Melisa, berduaan di rumahnya. Tak pernah mendapat perlakuan yang membuat jantungnya hampir copot. Melisa juga tau batasan sampai mana harus bertindak.


Namun karena kejadian yang baru saja dialaminya, membuat Satria sedikit trauma. Pikiran buruknya mengatakan jika ibunya begitu, anaknya juga pasti akan begitu. Itulah yang membuat Satria segera beranjak pergi meninggalkan rumah Melisa.


Melihat kepergian Satria yang terburu-buru. Melisa semakin merasa yakin, ibunya pasti melakukan sesuatu yang jahat pada Satria. Tapi ia masih belum bisa memikirkan perlakuan apa itu.


Sampai di rumahnya, Satria disambut keluarganya yang tengah asik menonton televisi di ruang keluarga.


"Kamu baru pulang nak?" Tanya pak Joni.


"Iya yah, aku mau mandi dulu ya," Satria beranjak masuk ke kamarnya. Meletakkan tas dan segera pergi ke kamar mandi. Ia ingin menyegarkan otaknya yang terus saja memikirkan perlakuan Natasya di dalam hotel tadi.


Satria menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia ingin menghapus bayangan Natasya yang hanya memakai sehelai handuk itu, yang terus saja berkelebat di pikirannya.


Satria mengguyur kepalanya berkali-kali, namun bayangan Natasya tak kunjung hilang dari pikirannya.


"Aku harus apa?" Bisik Satria. Ia kembali mengguyur kepalanya dengan air dingin. Mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


Bu Lastri melihat ada yang tak beres dengan anaknya, pasti ada sesuatu yang terjadi pada putra sulungnya itu. Saat Satria sudah selesai mandi, bu Lastri menghampiri Satria yang sudah berada di kamarnya.


Tok tok tok...


Sebelum masuk bu Lastri mengetuk pintu kamar Satria terlebih dahulu. Satria membukakan pintu, bu Lastri memandang wajah putranya itu. Wajah Satria yang kini sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.


"Kamu mau makan nak?" Tanya bu Lastri.

__ADS_1


Satria menggeleng, "tidak bu, terima kasih. Aku masih kenyang."


"Apa ada sesuatu yang terjadi? Kenapa kau pulang terlambat?"


"Tidak ada bu, aku tadi hanya mengantar Melisa pulang," jawab Satria.


"Melisa? Dia ikut kelas tambahan juga?"


"Engga bu, tadi dia cuma mampir ke sekolah."


Bu Lastri mengangguk paham. "Baiklah, istirahatlah kau pasti lelah."


Satria melemparkan senyum hangat pada ibunya, lalu kembali menutup pintu. Ia menghela nafas panjang saat pintu sudah tertutup rapat.


Satria merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya menerawang jauh ke atas langit-langit kamarnya. Setelah mandi cukup lama tadi, Satria merasa tubuhnya melemah. Matanya mulai diserang kantuk. Dan akhirnya ia pun tertidur.


Dalam tidurnya, Satria kembali melihat Natasya. Namun kali ini wanita itu hanya mengenakan sehelai kain tipis yang sangat transparan. Tubuhnya yang ditutupi kain itu benar-benar nyaris terlihat oleh matanya.


Satria memalingkan wajahnya. Ia menyadari tempatnya berdiri kini adalah di dalam kamar hotel dimana ia bertemu dengan Natasya tadi.


Satria melihat pintu keluar yang terbuka lebar. Ia berlari keluar kamar, lalu ia bergegas turun ke lantai dasar dengan menggunakan tangga darurat. Ia berlari secepat mungkin karena merasa Natasya terus saja mengikutinya.


Lelah berlari, Satria berhenti sejenak. Ia mencoba mengatur nafasnya. Ketika nafasnya mulai teratur, seseorang sudah berdiri di belakangnya. Tanpa bisa menghindar, kini tubuhnya sudah berada dalam pelukan Natasya yang masih mengenakan sehelai kain tipis.


Jemari Natasya menari-nari di sekujur tubuh Satria. Tubuh itu kembali membeku. Satria hanya bisa memejamkan matanya. Tangannya mengepal keras. Hingga seseorang menarik tubuhnya, dan Satria terjatuh.


"Hah... hah... hah..." Satria membuka matanya, ia baru saja terbangun dari tidurnya. Jiwanya seolah baru saja terlempar masuk ke dalam tubuhnya. Nafasnya tersengal-sengal seperti habis berlari maraton. Satria kembali berusaha mengatur nafasnya.


Satria bergidik ngeri, "bahkan anda sampai masuk ke dalam mimpiku nyonya."


Satria melihat jam menunjukkan pukul dua belas malam. Ia memilih untuk bangun dan duduk di kursi belajarnya. Membuka buku pelajaran. Dan mengerjakan beberapa soal latihan.

__ADS_1


Malam ini, Satria memilih untuk belajar saja. Ia tak mau kembali memimpikan hal yang sama jika ia tertidur lagi.


__ADS_2