Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Pesta Pernikahan


__ADS_3

Pukul tujuh pagi, Melisa sudah bangun dan didandani oleh seorang ahli rias pengantin. Rencananya acara akan dimulai pukul sembilan pagi.


Satria dengan setia menemani istrinya saat di rias. Entah mengapa ia memang suka melihat proses merias wajah, terlebih ini adalah acara pernikahannya.


Sehingga Melisa akan dirias dengan totalitas, membuat Satria penasaran setiap detail prosesnya.


"Kamu tunggu diluar saja sana," pinta Melisa.


"Tidak mau, aku mau lihat kamu dirias," Satria menolak.


"Setia banget ya kak suaminya," celetuk si perias wajah yang sebenarnya berjenis kelamin laki-laki itu.


"Hehe, iya dong. Aku kan takut istriku merasa kesepian jadi aku akan menemaninya di sini," timpal Satria.


"Ih, cocok deh... Udah ganteng, kaya, baik, setia, perhatian lagi sama istrinya, beruntung banget kakaknya ini," tambah si perias dengan gaya melambai nya.


"Bukan cuma dia yang beruntung, aku juga. Kamu gak liat wajah istriku ini aslinya sudah sangat cantik, dia juga jauh lebih kaya dariku. Kalau masalah setia, jangan ditanya. Istriku ini tak pernah berkencan dengan pria manapun selain aku," ucap Satria membanggakan Melisa.


"Oh ya? Duh kok ada sih pasangan sempurna kaya kalian begini. Tapi kakaknya pintar merayu ya?" Si perias malah tersipu saat Satria memuji Melisa.


"Dia cuma pintar merayu, tapi dia gak tau gimana caranya memperlakukan wanitanya," ketus Melisa.


"Maksudnya gimana kak?"


"Sampai sekarang saja kita masih belum tau mau bulan madu dimana?" Melisa masih menggerutu soal bulan madu mereka.


"Ah, itu sih gak penting kak. Yang pentingkan kalian sama-sama menikmati, ya kan kak?" Si perias mengedipkan sebelah matanya pada Satria.


"Bener banget, tempat itu gak jadi masalah. Yang penting kan kamu merasa puas," Satria merasa senang karena si perias membelanya.


"Tapi kan aku juga mau liburan setelah menikah," protes Melisa.


"Ya sudah, nanti kita pergi berlibur. Kamu saja yang pilih tempatnya ya istriku," rayu Satria.


"Kalau aku yang pilih nanti gak ada kejutan dong," Melisa masih saja protes.

__ADS_1


"Ya sudah, nanti aku yang atur. Kamu jangan marah-marah terus dong," Satria menampakkan wajah lucu di hadapan Melisa.


Membuat Melisa tersenyum melihat tingkah lucu Satria.


"Duh... Udah ah kalian bikin aku iri aja," protes si perias.


"Tahan ya kak, suami aku kan emang suka banget merayu," ucap Melisa.


"Iya... Iya... Dan kakaknya juga suka banget ngambek, jadi cocok deh kalian."


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, Melisa sudah selesai dirias dan ia juga sudah selesai memakai baju pengantinnya.


Satria pun juga sudah siap dengan jasnya. Ia menggandeng tangan Melisa berjalan menuju pelaminan.


Acara pesta pernikahan pun dimulai. Sudah ada beberapa tamu yang datang. Mereka adalah tetangga yang tinggal di sekitar rumah paman dan bibi.


Kebetulan, dulu sebelum Satria pindah ke kota B. Mereka tinggal di lingkungan yang sama.


Teman masa kecil Satria juga ikut datang, mereka senang melihat Satria sudah sukses kini.


"Terima kasih," jawab Satria.


Melisa kurang suka dengan ucapan teman Satria barusan.


"Kok dia ngomongnya gitu sih?" Bisik Melisa setelah temannya itu pergi.


"Maklum saja, dia itu putus sekolah karena banyak masalah yang dia buat ketika di sekolah dulu," bisik Satria.


"Oh, pantas saja. Orang bermasalah toh," Melisa mengangguk-angguk paham.


"Sudah tidak usah bahas dia, kita sedang berpesta sekarang. Jangan sampai kamu jadi kesal hanya karena orang yang tidak kamu kenal," Satria merasa khawatir pada Melisa.


"Kamu benar," Melisa kembali tersenyum. Ia menyambut para tamu yang hadir dengan senyum manisnya.


Di tenda tempat prasmanan, Ardi yang usianya juga sama dengan Satria menyapa teman-teman mereka yang hadir di pesta pernikahan Satria.

__ADS_1


Ia juga bertemu dengan si teman yang bermasalah itu. Namanya Vino, semua orang di daerahnya sudah sangat tau siapa Vino.


Pria bermasalah dari keluarga bermasalah. Meski ia berasal dari keluarga yang kaya, namun ia sama sekali tak memiliki etika karena ia selalu dibela oleh orang tuanya sejak kecil.


"Hei Ardi, kamu kapan nyusul Satria?" Tanya Vino.


"Tunggu kabar baiknya saja ya," jawab Ardi.


"Ah, tapi mana ada perempuan yang mau sama kamu? Apalagi setelah melihat kesuksesan Satria. Semua gadis di kota ini pasti akan menjadikan Satria sebagai standar untuk dijadikan calon suami," ledek Vino.


"Kalau begitu, jika mau dapat yang sukses seperti Satria. Paling tidak si gadis harus punya perusahaan juga seperti Melisa, istri Satria," Ardi tak mau kalah.


"Hahaha, perempuan sih gak usah kaya. Miskin juga gak masalah. Justru wanita itu kalau kaya malah belagu, gak bisa di suruh-suruh. Kalau mau cari calon istri itu harus yang miskin, biar bisa diperbudak. Gak kaya Satria tuh, pasti lebih kaya istrinya kan? Nanti dia yang akan diperbudak oleh istrinya," ucap Vino dengan sombongnya.


"Mau kaya atau miskin, yang pasti kan Satria sudah membuktikan bahwa dirinya sudah laku. Lah kamu aja belum nikah, belum laku... Mau sok ceramah disni," protes salah seorang sahabat Satria dan Ardi. Ia nampak tak terima jika Satria dan Ardi diejek seperti itu.


"Hei, kau pikir aku tidak laku? Aku saja yang memasang standar tinggi buat mencari calon istri," Vino tidak terima. Ia mulai bangun dari duduknya.


"Tapi tadi kau bilang kalau cari perempuan itu yang miskin saja, kenapa sekarang kau malah pasang standar tinggi?" Ejek si sahabat.


"Perempuan miskin itu hanya untuk orang miskin seperti kalian. Karena kalian sama-sama miskin," teriak Vino.


Tentu saja suara keras Vino berhasil mencuri perhatian banyak orang. Termasuk Melisa dan Satria yang melihat kericuhan itu dari atas pelaminan.


Satria hendak berjalan mendekat, ingin mencari tau apa yang sedang terjadi. Namun dengan sigap Melisa mencegahnya.


"Gak usah ikut campur, itu kan anak bermasalah tadi. Perasaan aku gak enak kalau kamu datang ke sana," bisik Melisa.


Satria menurut, meski matanya terus tertuju pada Vino dan Ardi. Namun Satria tetap berada di atas pelaminan.


"Kamu kalau mau cari ribut disini mending pulang saja sana!" Usir Ardi.


"Kau mengusirku? Wah... Aku tak percaya ini! Hei dengar ya, aku Vino tak akan bisa tinggal diam. Kalian sudah memperlakukan aku seperti ini, maka jangan salahkan jika aku akan membalas perbuatan kalian," Vino berjalan pergi sambil mengacungkan jari telunjuknya.


"Terutama kamu Satria! Jangan sombong kamu, kamu pikir bisa menyamakan kekayaanmu denganku?" Vino ingin berjalan ke pelaminan namun dicegah oleh beberapa orang.

__ADS_1


__ADS_2