Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Pertemuan di Rumah Sakit


__ADS_3

Natasya masih setia menunggu di samping Satria, air matanya tak henti-hentinya mengalir di pipinya.


"Satria, bangunlah..." ucap Natasya lirih.


Di bagian lain unit gawat darurat di rumah sakit yang sama, seorang pria tengah membopong putrinya dengan panik menuju sebuah ranjang kosong yang letaknya tak jauh dari ranjang tempat Satria berada kini.


"Dokter... tolong anak saya dok," ucap Gunawan dengan panik.


Beberapa perawat segera menghampiri.


"Kenapa ini pak?" Tanya seorang perawat.


"Dia tidak sadarkan diri sus, demamnya juga tinggi," jawab Gunawan.


"Baiklah, bapak silahkan tunggu di depan. Biar kami periksa terlebih dahulu," pinta perawat itu dengan ramah.


Gunawan menurut, ia menunggu di depan ruang IGD.


Di bilik yang tak jauh dari tempat Melisa di periksa, seorang perawat memanggil Natasya untuk bertemu dengan dokter jaga.


"Bagaimana dok? Sudah keluar hasilnya?" Tanya Natasya sambil menghapus air matanya.


"Anak ibu baik-baik saja, semua hasil tes darahnya bagus. Sepertinya ia hanya kelelahan dan hanya membutuhkan istirahat yang cukup," jawab dokter jaga dengan ramah.


"Tapi kenapa dia belum sadar juga?"


"Sekarang anak ibu sedang tertidur, tapi dia baik-baik saja. Apa beberapa hari terakhir ini anak ibu kurang tidur atau bahkan malah tidak tidur sama sekali?" Dokter jaga balik bertanya pada Natasya.


"Dia bukan anak saya dok," Natasya tersenyum kecut, saat ia dikira sebagai ibunya Satria.


"Oh maaf, saya pikir ibunya. Pantas saja saya merasa aneh, masih muda tapi sudah punya anak setingkat SMA. Apa ini adik anda?" Tanya dokter itu.


Natasya terdiam. "Itu tidak penting dok, jadi bagaimana Satria? Apa dia harus dirawat inap?"


"Saya rasa tidak perlu. Setelah sadar, bisa segera dibawa pulang," jawab dokter jaga tersebut dengan ramah.


"Baik dokter, terima kasih," Natasya segera meninggalkan meja dokter, kembali menuju tempat tidur Satria.


Selang beberapa menit setelah Natasya menutup tirai yang mengelilingi ranjang Satria, Gunawan kembali masuk ke dalam UGD.


"Bagaimana anak saya dokter?" Gunawan sudah duduk di hadapan dokter jaga.


"Sebentar ya pak, saya periksa hasil labnya dulu." Dokter jaga itu melihat satu lembar kertas yang berisi hasil tes darah. "Hasilnya bagus, sepertinya anak bapak hanya kelelahan saja. Nanti setelah sadar, sudah boleh pulang."


"Syukurlah, terima kasih dokter," Gunawan terlihat lega mengetahui Melisa baik-baik saja. Setelah berpamitan dengan dokter, Gunawan kembali menghampiri Melisa.

__ADS_1


"Syukurlah sayang, kamu tidak apa-apa," Gunawan menggenggam tangan Melisa.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Satria perlahan membuka matanya.


"Satria, kau sudah sadar?" Natasya merasa sangat lega. Ia bergegas menemui dokter dan mengatakan bahwa Satria sudah sadar.


Dokter yang mendengarnya segera menghampiri Satria. Satria diperiksa kembali oleh dokter, dan beruntung demamnya sudah mereda.


"Jadi sudah boleh pulang dokter?" Tanya Natasya.


Dokter itu mengangguk. "Iya bu, nanti akan saya berikan sedikit obat jika nanti Satria demam lagi di rumah dan saya juga memberikan vitamin agar tubuhnya bisa lebih kuat."


"Terima kasih dokter," Natasya tersenyum lega. Ia menatap Satria yang masih bingung kenapa dirinya bisa ada di rumah sakit.


"Nyonya, kenapa saya ada di sini?"


"Kamu tadi pingsan di depan rumah Satria, syukurlah demam kamu sudah mereda. Aku akan mengurus administrasi terlebih dahulu, setelah ini baru kita pulang," ucap Natasya.


Satria mengangguk. Ia memang ingat tadi hendak membuka pintu masuk, namun setelah itu ia tak ingat apapun lagi.


Satria beranjak turun dari ranjang pasien. Ia sudah merasa jauh lebih baik. Satria membuka tirai yang menghalangi ranjang tempatnya tertidur tadi. Terlihat jam di dinding ruang IGD sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Hah? Sudah jam sepuluh?" Satria yang terkejut melihat waktu yang ternyata sudah sangat malam itu memutuskan untuk segera pergi meninggalkan rumah sakit.


"Satria?"


"Tuan? Kenapa tuan ada di sini?" Tanya Satria.


"Melisa tak sadarkan diri tadi," Gunawan menatap Melisa yang masih terbaring lemah di atas ranjang.


"Melisa..." Satria berjalan menghampiri Melisa. Ia melihat Melisa dengan sangat khawatir. Satria memegang kening Melisa, gadis itu masih demam tapi sudah tak setinggi tadi.


"Kau sendiri sedang apa di sini?" Tanya Gunawan.


"Saya juga sedang kurang sehat tuan," jawab Satria.


"Kamu sakit?" Gunawan melihat plester yang melekat di tangan Satria. "Habis di infus juga?"


Satria mengangguk.


"Kenapa kalian berdua kompak sekali bisa sakit di waktu yang bersamaan. Lalu bagaimana kondisimu?"


"Saya sudah baik-baik saja sekarang tuan," jawab Satria. Ia memandangi Melisa yang masih tertidur lelap.


Saat keduanya sedang memandangi Melisa yang masih memejamkan mata, Natasya melewati dua pria itu. Dan ia pun menghentikan langkah kakinya.

__ADS_1


"Satria sedang apa kau di sini?" Tegur Natasya. Ia kemudian melihat keberadaan Gunawan di sana.


"Nat?" Gunawan heran melihat istrinya ada di IGD. "Kau datang? Apa Fredy yang memberi tau kamu?"


"Fredy? Tidak," jawab Natasya.


"Lalu bagaimana bisa kamu..."


"Aku menemani Satria, dia pingsan di rumahku tadi."


"Di rumahmu? Jadi murid yang kau bilang ada dalam bimbinganmu itu Satria?" Gunawan menatap istrinya tak mengerti.


"Iya," Natasya mengangguk.


Satria sebenarnya merasa tak enak hati pada tuan Gunawan karena ia tau bagaimana Natasya memperlakukannya selama ini. Tapi ia juga tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Gunawan, itu hanya akan menghancurkan hubungan Gunawan dan Natasya.


"Maaf tuan, nyonya. Saya permisi dulu, ini sudah terlalu malam. Saya takut orang tua saya khawatir karena saya tak pulang-pulang," ucap Satria hendak pamit pada pasangan suami istri itu.


"Kau jangan pulang sendiri, biar aku antar," ucap Natasya.


"Kau mau mengantarnya?" Gunawan menatap kesal pada istrinya. "Kau mau meninggalkan anakmu yang sedang sakit?"


"Kenapa? Apa tak boleh? Lagi pula Melisa lebih suka tak melihatku saat bangun nanti."


"Tidak perlu nyonya, saya bisa pulang sendiri. Terima kasih sudah membawa saya ke rumah sakit," Satria membungkuk kepada Natasya dan juga Gunawan, setelah itu ia pergi meninggalkan keduanya.


"Tunggu Satria..." Natasya hendak beranjak pergi menyusul Satria, namun dengan cepat Gunawan menarik tangannya menahan Natasya agar tidak pergi.


"Kenapa kau malah menyusulnya? Jelaskan padaku Nat, bukankah kau tak menyukai Satria karena dia murid beasiswa? Lalu bagaimana bisa dia yang kau pilih untuk mendapatkan bimbinganmu untuk kuliah di luar negeri?"


Natasya menghela nafas, ia menatap Gunawan dengan jengah.


"Lepaskan aku Gunawan, Satria habis pingsan tadi. Tas, ponsel, dan motornya masih ada di rumahku. Bagaimana dia bisa pulang?"


Gunawan mengernyitkan dahinya, ia masih mencerna situasinya. Tangannya masih menggenggam tangan Natasya dengan erat.


"Lepaskan Gunawan!!!" Natasya kini sudah menatap sinis pada Gunawan.


Akhirnya Gunawan pun melepaskan cengkraman tangannya.


"Kau menyukainya? Menyukai bocah SMA?" Gunawan menatap tak percaya.


Melihat ekspresi Natasya yang khawatir karena Satria akan pulang sendiri membuatnya mengambil kesimpulan yang tak masuk akal.


Natasya tak menjawab, ia menyeringai lalu pergi meninggalkan Gunawan yang masih tak percaya dirinya dikhianati oleh Natasya.

__ADS_1


__ADS_2