Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Meluruskan Kesalahpahaman


__ADS_3

Gunawan mengajak Melisa dan Dion untuk makan malam bersama di restoran lantai dasar di Grand hotel. Melisa dan Dion menuruti ajakan Gunawan.


Mereka bertiga sudah berada di dalam restoran. Gunawan memesan tiga set menu untuk makan malam.


"Makanlah dulu sebelum pulang," ucap Gunawan.


Melisa dan Dion mengangguk.


"Bagaimana kabar orang tuamu?" Gunawan bertanya pada Dion, ia baru sadar kalau Dion adalah putra dari rekan bisnisnya.


"Mereka baik om," jawab Dion ramah.


"Baguslah, aku sudah lama tak bertemu dengan ayahmu. Sampaikan salamku padanya ya," Gunawan.


"Baik om," Dion mengangguk.


Makanan tiba, mereka makan dengan hening. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang menyentuh piring dengan pelan.


"Jadi kau tak bertemu dengan ibumu?" Tanya Gunawan pada Melisa, saat ia sudah menghabisi makanan penutupnya.


Melisa mengangguk. "Ia yah, ku pikir mamah ada di sana. Makanya aku ga berani masuk."


"Kalian belum benar-benar berbaikan?"


Melisa menggeleng pelan.


"Maafkan ayah Mel, ayah egois tak mau menceraikan ibumu," Gunawan merasa bersalah pada Melisa


"Tidak apa yah, aku senang ayah tak perlu menjadi duda hanya karena kemauanku. Kapan ayah akan tinggal lagi di rumah? Aku kesepian," Melisa.


"Setelah kamu dan ibumu berbaikan. Untuk sementara tak apa kan ayah tinggal disini bersama ibumu?"


Dengan berat hati Melisa mengangguk, menyetujui keinginan ayahnya.


Mereka semua sudah selesai makan, Melisa dan Dion pamit untuk pulang ke rumah.


"Titip Melisa ya, antarkan dia baik-baik ke rumah," ucap Gunawan pada Dion.


"Siap om, tenang saja aku akan mengantar Melisa sampai rumah dengan selamat," Dion meyakinkan Gunawan agar tak perlu mengkhawatirkan Melisa selama Melisa bersama dengannya.


Gunawan tersenyum, ia lalu melepas kepergian Melisa bersama dengan Dion di lobi hotel.


Di perjalanan pulang.


"Kamu ga mau bilang ke ayahmu tentang ibumu dan Satria?" Tanya Dion.


"Kau ingin membuat ayahku marah pada Satria?" Melisa menatap kesal pada Dion.


"Bukan begitu, ku pikir ayahmu harus tau. Tapi ngomong-ngomong ibumu dan Satria pergi kemana? Apa benar Satria datang ke hotel itu untuk menemui ibumu?" Dion mulai membahas keanehan di hotel tadi.


"Tapi aku yakin Satria turun di lantai dua belas," Melisa.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan ibumu sudah menyewa kamar lain untuk menemui Satria?" Tebak Dion.


"Untuk apa?" Melisa tak mengerti.


"Ya bisa saja ibumu tau ayahmu akan datang, makanya dia menyewa kamar lain untuk bisa bertemu dengan Satria," jelas Dion.


Melisa tampak berpikir, bisa saja yang dikatakan Dion benar. Ia memang tak melihat jejak Satria ada di ruangan 1201 tadi. Tapi ia juga tak melihat Satria keluar dari kamar lain di lantai itu.


"Apa Satria pergi saat ia sudah masuk ke dalam kamar?" Batin Melisa.


"Kenapa kau tak coba menelpon Satria?" Usul Dion.


"Sejak kemarin ponsel Satria mati, aku belum sempat menanyakannya hari ini," jawab Melisa.


"Coba saja lagi kamu telepon, siapa tau sudah aktif," Dion memberi saran.


Melisa menuruti saran Dion, ia mencoba menghubungi nomor Satria. Dan benar saja, tersambung.


"Halo," tak butuh waktu lama untuk Satria mengangkat sambungan teleponnya.


"Satria, kamu dimana?" Tanya Melisa dengan khawatir.


"Aku di rumah," jawab Satria.


"Di rumah?" Ada kelegaan dari nada bicara Melisa.


"Mmm..."


"Mampir? Kamu habis dari mana?" Satria balik bertanya.


"Aku, aku habis makan malam dengan ayahku," Melisa tak berbohong, ia hanya tak menyebutkan bersama Dion juga dalam kalimatnya.


"Oh, besok saja ya kita bicara di sekolah. Aku lelah sekali," ucap Satria.


"Baiklah, selamat istirahat," Melisa tersenyum lega mendengar suara Satria.


"Dia sudah di rumah, dan sepertinya Satria sudah tak marah padaku," Melisa tersenyum gembira.


"Kau tak tanya dia abis dari mana setelah pulang sekolah hari ini?" Dion.


"Besok saja akan kutanyakan, hari ini aku juga lelah. Ayo cepat, aku mau cepat-cepat tidur," Melisa meminta Dion mempercepat laju kendaraannya.


...***...


Keesokan harinya, Melisa sengaja datang pagi sekali. Ia sudah mengirim pesan pada Satria untuk datang lebih pagi. Melisa merasa sangat bersemangat, karena hari ini ia akan kembali memperbaiki hubungannya dengan Satria.


Melisa sudah sampai di dalam kelas, ia melihat Satria sudah duduk di kursinya.


"Kamu udah datang Sat?" Melisa berjalan menghampiri Satria.


"Iya barusan saja. Ada apa memintaku datang pagi-pagi?" Tanya Satria.

__ADS_1


"Aku kangen sama kamu, kamu kenapa sih kemaren-kemaren diem aja. Aku punya salah apa sama kamu?" Melisa.


"Kamu ga salah apa-apa Mel, cuma aku aja yang terlalu banyak berpikir," Satria.


"Berpikir apa?" Melisa.


"Entahlah," Satria menghela nafas.


"Sat, malam itu. Waktu kamu masuk ke kamar dan aku belum tidur, aku lagi ga kirim pesan sama siapapun. Aku cuma lagi liat foto-foto kita," Melisa mulai menjelaskan.


Satria mengangguk.


"Terus kemarin-kemarin Dion cuma anter aku ke rumah, udah. Kita ga pergi kemana-mana kok. Aku mau terima tawaran Dion karena aku liat kamu lagi marah sama aku."


"Iya Mel, aku ngerti kok. Maaf ya, gak seharusnya aku kaya begini. Kita kan cuma temenan, padahal aku yang membatasi diri. Tapi kenapa malah aku yang marah sekarang?"


"Kamu bener ga marah sama aku?" Melisa.


"Enggak Mel, bener aku gak marah kok," Satria tersenyum pada Melisa.


"Syukur deh, berarti sudah tidak ada kesalahpahaman diantara kita berdua ya?" Melisa.


Satria mengangguk.


"Oh iya satu lagi, aku sama om Steve bener-bener gak ada hubungan aneh-aneh kok. Bener deh, aku berani jamin." Melisa mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas.


"Iya Mel, aku tau," Satria.


Melisa tersenyum senang, tapi dalam hatinya masih ada sesuatu yang mengganjal. Namun Melisa tak berani bertanya pada Satria. Hubungan mereka baru saja membaik. Ia tak mau Satria kembali marah padanya karena rasa ingin taunya.


Melisa memilih untuk diam saat ini, ia akan menunggu hingga Satria bercerita padanya. Meski ia tau, kecil kemungkinan Satria akan mulai menceritakan apa yang sebenarnya ia lakukan di hotel sore itu?


Setau Melisa, Satria memang bukan tipe yang suka berbohong. Tapi dia juga bukan tipe yang mudah bercerita jika tidak ditanya.


"Sat,"


"Mmm?"


"Apa ada sesuatu yang mau kamu ceritain ke aku?" Akhirnya Melisa mencoba memancing Satria.


"Cerita apa?" Satria nampak bingung.


"Kemaren pulang sekolah kamu kemana?" Melisa bertanya dengan hati-hati.


"Aku ikut kelas tambahan," jawab Satria polos.


"Mmm..." Melisa mengangguk-angguk. "Aku dengar kamu kemarin pulang sama Mia?"


"Oh, iya... Dia... minta diantar pulang," jawaban Satria terlihat ragu-ragu.


Melisa kembali mengangguk. Ia cukupkan pertanyaannya sampai disitu, Melisa melihat seperti ada yang disembunyikan Satria darinya.

__ADS_1


__ADS_2