
Setelah selesai menyantap makanan mereka, akhirnya mereka pun pergi melanjutkan perjalanan. Rumah Gunawan hanya ada beberapa blok dari restoran cepat saji tempat mereka makan tadi.
Gunawan memang memilih untuk tinggal di tengah kota, di sebuah unit apartemen di lantai paling atas.
Apartemen itu sendiri memiliki sistem keamanan yang sangat canggih. Gunawan jadi merasa lebih nyaman karena banyaknya kru penjaga yang menjaga wilayah apartemen tempat tinggalnya.
Gunawan sengaja memilih tempat itu, karena ia masih takut jikalau Hendra kembali menculik Silvana darinya.
Begitu tiba di unit apartemen milik Gunawan, Widia mempersilahkan Melisa dan Satria untuk masuk.
"Masuklah kak," ucap Widia dengan ramah.
"Tanpa disuruh pun aku akan masuk sendiri, ini kan rumah ayahku juga," timpal Melisa.
"Hehe, iya... Aku sampai lupa, ayo kak Satria masuk," Widia akhirnya hanya mempersilahkan Satria untuk masuk ke dalam.
Sedangkan Melisa sudah nyelonong masuk sendiri ke dalam dan langsung mencari keberadaan ayahnya.
Melisa bertemu dengan Silvana yang tengah sibuk membuat kue.
"Halo tante, dimana ayahku?" Tanya Melisa. Sampai saat ini, Melisa masih memanggil Silvana dengan sebutan tante. Meski Gunawan sudah resmi menikahi Silvana.
"Ada di ruang kerjanya, masuk saja," jawab Silvana dengan ramah.
Selang beberapa saat setelah Melisa berjalan menuju ruang kerja Gunawan, muncullah sosok Widia bersamaan dengan Satria.
"Loh, Melisa bawa temannya?"
"Bukan teman bu, tapi calon suami," Widia meralat ucapan ibunya.
"Oh, kamu yang namanya Satria ya? Kita belum pernah berkenalan secara resmi. Perkenalkan, saya Silvana, istrinya Gunawan, ibu tirinya Melisa," Silvana dengan ramah memperkenalkan dirinya.
"Sore tante, saya Satria. Kekasihnya Melisa," Satria juga baru pertama kali ini berbicara dengan Silvana.
Seingatnya, dulu mereka pernah bertemu saat acara kelulusan Melisa dan Satria.
"Silahkan duduk dulu, kamu mau minum apa?" Silvana mempersilahkan Satria untuk duduk di ruang tengah.
"Iya tante terima kasih, saya minum air putih saja tante," jawab Satria dengan sungkan.
"Oh iya, kalian sudah makan belum? Tante lagi gak masak nih, jadi kalian pesen makanan saja ya!"
"Gak usah tante, kita tadi sudah makan sebelum datang ke sini."
"Tenang saja bu, tadi aku sudah berinisiatif mengajak mereka makan di luar. Aku tau ibu gak masak hari ini," ucap Widia.
"Oh ya? Syukurlah kalau sudah makan. Maaf ya, tante lagi sibuk bikin kue jadi tante ga sempet masak."
"Iya, gak apa-apa tante."
__ADS_1
Tak lama, Gunawan bersama Melisa muncul dari ruang kerja Gunawan.
Satria berdiri menyambut kedatangan Gunawan.
"Duduklah!" Pinta Gunawan.
"Apa kabar tuan Gunawan? Lama tak bertemu," sapa Satria memulai obrolan.
"Kau bisa lihat aku baik-baik saja. Tapi rasanya sekarang kau tak perlu lagi memanggilku tuan, ku dengar kau mewarisi yayasan milik Natasya dan juga perusahaannya Steve ya? Siapa sangka nasibmu ternyata baik juga."
"Saya hanya menjalankan tugas untuk membuat kedua perusahaan tetap berjalan sebagaimana mestinya tuan, masih banyak juga yang harus saya pelajari," Satria merendah.
"Tapi kamu tetap hebat, bisa membuat orang searogan Natasya mempercayaimu."
Satria hanya tersenyum tipis, ia ingat betul bagaimana kisah awal mula ia dekat dengan Natasya. Hingga kini ia dipercaya memegang jabatan sebagai pemilik Yayasan.
"Katakanlah, ada apa kau jauh-jauh datang ke sini?" Tanya Gunawan.
"Saya rasa, tuan sudah tau maksud kedatangan saya ke sini."
"Apa itu? Ingin menuntut balas dendam padaku?"
Deg...
Ucapan Gunawan membuat semua orang yang berada di sana dia membisu.
"Dendam yang mana ya tuan?" Satria berlagak polos.
"Jadi, tuan mengakui itu semua perbuatan tuan?" Satria berusaha untuk tetap tenang.
"Tentu saja, tapi aku tak berniat untuk membunuh mereka. Aku hanya sekedar ingin membuat mereka celaka saja, aku tak tau kalau..."
"Mereka memang hanya kecelakaan saja tuan, itulah yang mau saya percaya sampai kapanpun."
"Kenapa?"
"Karena, saya tak ingin menyimpan dendam dengan siapapun "
"Bukan karena aku adalah ayahnya Melisa?"
Satria menggeleng.
"Sekalipun anda bukan ayah kandung Melisa, saya akan tetap beranggapan seperti itu tuan."
Gunawan menyeringai.
"Jadi kau sudah memaafkan aku?"
Satria terdiam.
__ADS_1
"Belum?"
"Maaf tuan, kedatangan saya ke sini adalah untuk memohon restu pada anda karena saya ingin menikahi Melisa," Satria dengan cepat mengalihkan pembicaraan.
"Kau masih menyukainya terlepas dari apapun yang sudah ku lakukan padamu?"
"Itu, dua hal yang berbeda tuan. Jika tuan merasa saat itu adalah tindakan yang benar, maka silahkan tuan mempercayai itu. Alam punya caranya sendiri untuk membalas segala kebaikan dan keburukan."
"Jadi, kau tetap akan meminang Melisa?"
Satria mengangguk.
"Kenapa?"
"Karena saya sangat menyayangi Melisa tuan," jawan Satria dengan tegas.
"Jika aku tak merestui kalian, bagaimana?"
"Saya akan menunggu hingga anda merestui hubungan kami," jawab Satria yakin.
"Sampai kapan?"
"Sampai Melisa merasa dia punya pilihan lain yang jauh lebih baik dari saya," kali ini Satria menjawab dengan pelan.
"Kau yakin, ingin menikahi Melisa bukan karena ingin balas dendam padaku?"
"Jika memang saya ingin memakai Melisa sebagai alat balas dendam pada anda, saya mungkin sudah meninggalkannya sejak lama," Satria menjawab sambil menatap Melisa.
Melisa tau pasti maksud dari perkataan Satria, karena hanya mereka berdua yang tau apa saja yang sudah pernah mereka lakukan dulu. Jika memang Satria ingin balas dendam melalui Melisa, Satria tak akan peduli meski sudah mengambil keperawanan Melisa dan meninggalkan gadis itu begitu saja.
"Kenapa?" Gunawan yang memang tak tau apa yang pernah terjadi tentu saja merasa bingung dengan jawaban Satria.
"Satu-satunya alasan saya masih bertahan bersama dengan Melisa adalah karena saya sangat menyayangi Melisa tuan," hanya itu yang bisa Satria katakan sebagai jawaban.
Ia tak mungkin membeberkan kejadian beberapa tahun silam. Kejadian yang selalu ia jaga agar tak terulang lagi hingga hari ini.
Gunawan mengangguk paham, entah apa yang ia pahami. Yang jelas, Gunawan bisa melihat ketulusan dalam hati Satria.
"Lalu, kapan kalian akan menikah?"
"Secepatnya yah," Melisa menyerobot memberikan jawaban pada Gunawan.
"Semangat sekali kamu?"
"Tentu saja, aku sudah lama menantikan saat-saat ini," Melisa tersenyum bahagia karena sepertinya acara lamaran itu berjalan dengan lancar.
"Kamu jangan senang dulu, bisa saja pria yang kau cintai ini sedang merencanakan sesuatu yang buruk padamu untuk sekedar membalaskan dendamnya padaku," Gunawan masih belum percaya jika Satria memang tulus menyukai Melisa.
"Ayah, kau tak boleh bicara seperti itu."
__ADS_1
"Kita lihat saja, jika suatu saat kamu menyakiti Melisa hanya karena ingin membalas dendam padaku, maka aku tak akan tinggal diam," ancam Gunawan.
"Silahkan tuan mengawasi kami, saya akan tunjukkan pada anda bahwa saya tulus mencintai Melisa," ucap Satria dengan yakin.