
Di kota A, Gunawan bersama Fredy tengah sibuk mengurus beberapa dokumen untuk diserahkan kepada notaris. Dokumen yang berisi tentang pemindah jabatan di Laksamana Grup, Gunawan sudah mulai kewalahan mengurus perusahaan seorang diri. Sebentar lagi Melisa akan lulus kuliah, dan rencananya Gunawan akan langsung meminta Melisa untuk menggantikan posisinya di perusahaan.
“Ayah, kau yakin ingin menjadikan aku pemimpin perusahaan?” Melisa merasa masih belum bisa untuk membantu ayahnya memimpin perusahaan.
“Kenapa? Kau sudah banyak belajar tentang perusahaan ini. Kenapa kau masih ragu?”
“Kenapa kau sepertinya sangat terburu-buru ingin menyerahkan perusahaan ini padaku?” Gerutu Melisa.
“Mel, maaf jika ayah harus egois. Ayah tak mau para pemegang saham yang lain memilih orang lain untuk menjadi pengganti ayah,” Gunawan menggengam tangan Melisa.
“Kenapa?”
“Ayah mau mengundurkan diri,” ucap Gunawan.
“Mengundurkan diri?”
Gunawan mengangguk. “Benar Mel, maaf ayah harus mengundurkan diri. Tapi ayah tak mau orang lain yang menggantikan posisi ayah. Ayah hanya ingin kamu yang menggantikannya, karena hanya kamu satu-satunya orang yang ayah percaya.
“Tapi yah, aku kan tidak bisa apa-apa,” Melisa merasa bingung apa yang harus ia lakukan jika menjadi pemimpin Laksamana Grup nanti.
“Kamu tidak perlu khawatir, Fredy akan ada bersamamu,” Gunawan menenangkan Melisa.
“Tapi aku belum siap yah, lagi pula kenapa ayah tiba-tiba ingin mengundurkan diri?”
“Ayah menemukan sinyal keberadaan Silvana. Mel,” Gunawan menundukkan wajahnya.
“Tante Silvana? Kekasih ayah itu?”
Gunawan mengangguk perlahan.
“Ayah sudah menemukannya?”
“Belum, tapi seseorang memberi tahu padaku dimana keberadaan Silvana saat ini. Dan bagaimana kondisinya sekarang,” Gunawan terlihat sangat cemas.
“Dimana dia?”
“DI rumah Hendrawan,” jawab Gunawan.
“Hendrawan?” Gumam Melisa. “Saingan bisnis ayah?”
“Mmm... Jadi selama ini Hendra menculik dan mengurungnya. Dan yang lebih parah, Silvana bahkan melahirkan anak Hendra,” Gunawan meremas tangannya menahan kesal.
__ADS_1
Melisa terdiam, ia memang tak begitu kenal sosok dari saingan bisnis ayahnya itu. Yang Melisa tau, Hendrawan adalah ayah dari Hendry, mantan pacar Amanda yang sudah menghancurkan hidup Amanda.
“Kamu harus hati-hati dengannya Mel, ayah dengar Hendry anaknya sering terkena kasus. Pokoknya kamu jangan sampai berurusan dengan orang-orang seperti itu,” nasihat Gunawan.
“Iya yah,” Melisa mengangguk. “Tapi siapa orang yang sudah memberi informasi ini pada ayah?”
“Dia anak Silvana, hasil hubungan rahasianya dengan Hendra. Namanya Widia, usianya satu tahun di bawah kamu. Dia berhasil kabur dari rumah tempat Hendrawan menyekap Silvana. Selama ini ia hidup bersembunyi agar tidak dapat ditemui oleh Hendrawan. Tapi sekarang dia sudah aman, untuk sementara Widia ayah tempatkan dia di hotel,” jelas Gunawan.
“Di hotel? Apa itu tidak bahaya?”
“Itu dia, makanya ayah ingin bicara padamu karena ayah ingin meminta izinmu untuk membawa Widia ke rumah ini.”
“Kenapa harus minta izin padaku? Ini kan rumah ayah,” Melisa menatap heran pada ayahnya.
“Tapi tetap saja, ayah tak mau kamu kaget nantinya melihat ada orang yang tidak kamu kenal tinggal di rumah kita.”
“Jadi ayah rencananya akan membawa kembali juga tante Silvana?”
Gunawan mengangguk.
“Kalau begitu cepat lakukanlah, tak perlu sampai mengundurkan diri juga kan?”
“Tidak bisa Mel, ini terlalu bahaya. ayah butuh waktu yang tidak sebentar untuk menyusun rencana agar bisa membebaskan Silvana dari sana.” Gunawan sudah memasang wajah seriusnya.
“Tak bisakah kau mengejarkannya di sini?” Gunawan memasang wajah memelas.
“Hahhh...” Melisa menghela nafas. Sebenarnya ia merasa sangat berat kembali ke kota A, karena ia tak bisa bertemu dengan Satria lagi. Tapi melihat ayahnya yang sudah memohon seperti ini, Melisa jadi tak bisa menolaknya.
“Baiklah, aku akan bicara dengan dosen pembimbingku. Jadi apa yang harus aku lakukan?”
“Fredy akan mengatur semua jadwalmu mulai besok. Kamu juga tak perlu khawatir, Fredy nanti yang akan membantumu membuat skripsi.”
Melisa hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
“Ya sudah, aku harap ayah bisa segera bertemu dengan tante Silvana. Setelah kalian bertemu nanti, segera nikahi tante Silvana. Aku tak mau melihat ayah terus-terusan seorang diri sampai tua nanti,” ucap Melisa.
“Tentu saja, tapi apa kau tak masalah jika harus punya ibu dan adik tiri?”
“Ayah, aku sudah dewasa. Apa yang perlu kau takutkan jika aku mempunyai ibu dan adik tiri? Jika memang kami tak bisa akur aku tak masalah, bahkan sampai detik ini pun aku belum pernah akur dengan ibuku.”
Gunawan memeluk Melisa dengan erat, ia sangat tau betapa Melisa sangat menderita akibat ulah ibunya sendiri.
__ADS_1
“Tapi ayah, izinkan aku bertanya satu hal padamu.”
“Katakan saja, apa itu?” Gunawan melepas pelukannya.
“Pertanyaan ini sudah ku simpan sejak lama, aku harap ayah mengatakan yang sejujurnya. Tak perlu ada yang ditutupi, aku tak akan marah padamu apapun jawaban yang ayah berikan nanti.”
Gunawan menatap Melisa bingung, namun sepertinya ia tau ke arah mana pembicaraan Melisa saat ini.
“Katakanlah!”
“Mengapa waktu itu ayah melakukan itu pada Satria?”
Benar saja dugaan Gunawan, Melisa pasti sudah lama ingin bertanya padanya tentang masalah ini. Gunawan mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, ia bersiap menceritakan sesuatu yang mungkin nantinya akan melukai hati Melisa.
“Jadi kamu sudah tau, ayah yang melakukan semua itu pada Satria?” Gunawan memulainya dengan sebuah pertanyaan.
Melisa hanya mengangguk.
“Kenapa kau diam saja selama ini?”
“Karena aku takut, aku takut ayah akan melakukan hal yang lebih kejam pada Satria jika aku sampai bertindak gegabah saat itu,” Melisa menatap sendu wajah Gunawan.
Gunawan tersenyum tanpa dosa. Ia memang sudah tak menyukai Satria bahkan sebelum mereka bertemu, lebih tepatnya saat seorang yang memata-matai Melisa di sekolah menceritakan bagaimana perubahan sikap Melisa saat ini. Perubahan karena Melisa mengenal seorang laki-laki.
Tentu saja hal itu membuat Gunawan sangat marah, ia segera menghubungi Natasya dan meminta Natasya untuk menjauhkan Melisa dari laki-laki yang Gunawan rasa sangat tak pantas untuk Melisa. Natasya yang sebenarnya tak begitu peduli pada Melisa, menurut saja apa yang diperintahkan Gunawan.
“Tapi kenapa di depan Satria, ayah bersikap sangat baik?” Melisa sangat kecewa pada Gunawan.
“Entahlah, melihatmu sangat menyukai Satria membuat ayah takut. Takut kau akan marah pada ayah jika ayah menolaknya.”
Melisa mendesah kasar.
“Maafkan ayah Mel,” ucap Gunawan namun terdengar tidak tulus.
Melisa menyeringai. “Tapi ayah sudah menghilangkan nyawa keluarga Satria,” mata Melisa sudah mulai berkaca-kaca mengningat peristiwa saat itu.
“Ayah tak bermaksud menghilangkan nyawanya Mel, awalnya ayah hanya ingin membuatnya kecelakaan ringan dan mengganti rugi...”
“Lalu kenapa ayah menambahkan penderitaan Satria?” Melisa memotong ucapan ayahnya.
Gunawan terdiam. Ia tau, saat itu ia memang sudah sangat keterlaluan. Gunawan sendiri merasa seperti hilang kendali. Mengetahui Melisa yang sangat akrab dengan keluarga Satria membuat dirinya sangat marah, hingga akhirnya ia menyuruh anak buahnya untuk mencelakai keluarga Satria.
__ADS_1
Namun Gunawan tak menyangka bahwa kecelakaan saat itu akan merenggut nyawa mereka. Namun rencana sudah terlanjur dibuat, dan harus dijalankan. Itu memang prinsip hidupnya.