
Setelah cincin terpasang di jari manis tangan Melisa, Dion kembali duduk di hadapan Melisa. Gunawan tersenyum bahagia melihat putrinya akhirnya bisa bersanding dengan pria yang menurutnya cocok untuk Melisa.
“Baiklah, kalau begitu ayah pergi dulu. Kalian nikmatilah waktu kalian berdua,” Gunawan beranjak bangun dari kursinya.
“Loh, ayah mau kemana?” Melisa nampak bingung melihat ayahnya akan pergi meninggalkannya berdua saja dengan Dion.
“Ayah masih ada urusan, kamu santai saja dulu di sini sama Dion. Kalian kan sudah lama tidak bertemu, pasti banyak hal yang ingin dibicarakan. Ayah pergi dulu ya!”
Gunawan sudah keluar dari ruangan, meninggalkan Melisa dan Dion dengan suasana yang sangat canggung. Keduanya terdiam, dan melanjutkan kegiatan makan malam mereka dalam diam. Melisa sebenarnya merasa biasa saja, justru ia merasa sedikit malas dan tak nyaman karena pakaiannya yang terlalu terbuka itu.
Semenjak mengenal Satria, Melisa tak suka lagi memakai pakaian yang terbuka. Padahal dulu sebelum mengenal Satria, Melisa hanya punya pakaian-pakaian yang terbilang seksi.
“Bagaimana kabar perusahaan Mel? Aku dengar sekarang kamu sudah menggantikan ayahmu memimpin Laksamana Grup,” akhirnya Dion membuka pembicaraan agar suasana tak lagi canggung baginya.
“Sejauh ini baik-baik saja, kamu sendiri juga sudah mulai bekerja di perusahaan ayahmu kan?”
Dion mengangguk, “tapi aku hanya bantu-bantu saja.”
“Baguslah, setidaknya kamu sudah mulai ikut ambil bagian dalam perusahaan ayahmu.”
“Tapi aku tak sehebat dirimu, yang sudah dipercaya memimpin perusahaan.”
“Aku tidak hebat, ayahku saja terlalu cepat mempercayakan perusahaannya padaku,” gerutu Melisa.
“Tidak, kamu pasti memang sehebat itu hingga ayahmu sudah mempercayakan kamu memimpin perusahaan,” puji Dion.
“Sudahlah, jangan bicarakan tentang perusahaan. Aku jenuh,” keluh Melisa.
“Baiklah. Tapi ngomong-ngomong, kamu cantik banget malam ini Mel,” Dion memandang Melisa dengan mata berbinar karena kagum.
“Jadi aku hanya cantik malam ini? Biasanya tidak?”
“Bukan begitu, kamu memang selalu cantik. Tapi malam ini kamu semakin cantik.”
“Kenapa kamu memilih baju seperti ini? Aku merasa sangat tidak nyaman,” Melisa menaikkan bajunya yang di bagian dada.
Dion melepaskan jasnya, ia lalu berjalan menghampiri Melisa. Dion meletakkan jasnya di bahu Melisa.
“Maaf, aku membelikanmu pakaian yang tidak nyaman. Pakailah jasku untuk menutupi pundakmu yang terbuka.” Dion lalu duduk di samping Melisa membuat Melisa menoleh ke arah Dion.
“Kamu yakin mau menikah denganku?” Melisa menatap Dion tanpa ekspresi.
“Tentu saja, memangnya kenapa?”
“Tapi aku masih menyukai Satria,” Melisa memperhatikan ekspresi wajah Dion.
__ADS_1
Tentu saja Dion merasa sedikit kecewa, ia pikir Melisa sudah tak lagi menyukai Satria. Karena menurut kabar yang ia dengar, Melisa dan Satria sudah tak lagi berhubungan.
“Bagaimana? Kau masih mau menikah denganku?”
Dion terdiam sejenak. “Lalu kenapa kau menerima tawaranku? Apa karena ayahmu?”
Melisa mengangguk.
Dion tersenyum, lalu ia menggenggam tangan Melisa.
“Tak mengapa, tapi tolong beri aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku.”
Dion menatap Melisa dengan tatapan yang serius. Dion sangat tau, tak mudah memang bagi Melisa melupakan Satria yang merupakan cinta pertamanya. Sama seperti Dion yang tak bisa dengan mudah melupakan Melisa selama beberapa tahun terakhir ini.
Melisa menatap Dion yang kini seperti tengah memohon padanya. Melisa tau, Dion memang sangat serius padanya. Saat di kelas XII waktu itu juga Dion seringkali menemaninya, terlebih saat Satria sengaja menjauhinya. Hanya Dion satu-satunya orang yang setia menemani Melisa selama sisa-sisa waktunya di SMA.
Meski begitu, Melisa tetap tak bisa memiliki perasaan apapun pada Dion. Baginya, ada Dion ataupun tidak. Sama sekali tak mempengaruhi hatinya. Ia tak pernah merasakan rindu pada Dion sedikitpun, tak sama seperti perasaannya pada Satria.
“Baiklah, aku akan memberikanmu kesempatan. Tapi jika hingga nanti aku masih saja menyukai Satria, apa kamu akan tetap mau menikahiku?”
“Apa kamu mau menikah dengan orang yang tidak kamu cintai?” Dion balik bertanya.
“Jika aku menganggap ini adalah pernikahan bisnis, rasanya tak masalah. Apa kamu sendiri tak masalah jika wanita yang kamu nikahi masih menyimpan seseorang di dalam hatinya?”
Dion tak menjawab pertanyaan Melisa, ia hanya terdiam menatap Melisa yang juga tengah menatapnya. Hingga ponsel Melisa berdering, Melisa menarik tangannya yang masih ada dalam genggaman tangan Dion.
“Mia?” Melisa melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
“Mia?” Dion ikut melihat nama yang tertera pada ponsel Melisa.
Melisa langsung menerima panggilan itu di depan Dion.
“Halo Mia, apa kabar?” Sapa Melisa. Gadis itu nampak sangat bahagia mendapat panggilan telepon dari sahabatnya selama kuliah di luar negeri.
“Baik, Mel kamu sudah sidang skripsi?” Tanya Mia.
“Sudah tadi siang, kamu sendiri bagaimana?”
“Aku kan sudah sidang dua bulan yang lalu.”
“Harusnya aku tak usah bertanya padamu ya,” gerutu Melisa.
“Hahaha... kenapa begitu?”
“Karena jawabannya pasti sudah.”
__ADS_1
“Hehe... maaf Mel. Oh iya, kamu gak balik lagi ke kampus?”
“Aku gak tau, kenapa memangnya?”
“Kamu gak ikutan wisuda?”
“Oh iya, ikut dong. Itu kan momen yang paling aku tunggu-tunggu.”
“Jadi kapan kamu balik ke sini? Minggu depan loh kita wisudanya, aku mau minta anter cari baju buat acara wisuda nanti,” ucap Mia dengan penuh semangat.
“Mmm... mungkin lusa, aku masih harus mengurus beberapa hal di sini.”
“Ya sudah, jangan lama-lama ya. Kabari aku kalau kamu sudah sampai di sini!”
“Iya, baiklah.” Melisa lalu menutup sambungan teleponnya.
“Itu Mia yang itu?” Dion langsung bertanya ketika Melisa sudah kembali meletakkan ponselnya.
“Mmm...” Melisa hanya mengangguk.
“Kamu berteman dengannya sekarang?”
“Mmm... sejak kami pindah ke sana, dia satu-satunya sahabatku.”
“Aku tak menyangka kamu akhirnya bersahabat dengannya,” ucap Dion.
“Aku juga, tak menyangka akan memiliki sahabat sepertinya.”
Melisa mengingat saat awal-awal masa kuliahnya, ia memang tak mudah bergaul. Saat itu ia terpaksa mendekati Mia karena hanya ia satu-satunya orang yang Melisa kenal.
“Lusa aku akan kembali ke kampus karena minggu depan aku akan di wisuda,” ucap Melisa.
“Oh ya? Kalau begitu aku akan datang ke sana, tapi mungkin nanti satu hari sebelum hari wisudamu. Tak mengapa kan?” Tanya Dion.
“Tak masalah,” jawab Melisa. Dalam hatinya mengatakan jika Dion tak datang pun tak masalah.
“Aku sudah di wisuda bulan lalu, tapi sayang waktu itu kamu belum pulang. Jadi aku tak bisa mengajakmu hadir di acara wisudaku,” ucap Dion dengan ekspresi wajah yang kecewa.
“Kau tak memberi tahuku,” Melisa mengatakan dengan ekspresi yang datar.
“Memangnya kamu mau datang kalau aku mengundangmu?”
“Tentu,” Melisa mengangguk.
Dion tersenyum. “Terima kasih Mel, tapi tak mengapa biar aku saja nanti yang datang saat kamu wisuda.”
__ADS_1