Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Kecurigaan Dion


__ADS_3

Meski hari ini sangat mendung dan sesekali hujan gerimis jatuh membasahi bumi, itu tak mengurungkan niat Melisa untuk bisa bertemu dengan Steve. Pasalnya, memang sudah sejak lama mereka tidak saling bertemu.


Dion sudah datang ke rumah Melisa, untuk menjemput Melisa bertemu dengan Steve. Dion merasa ada kemajuan dalam hubungannya dengan Melisa, bahkan dirinya diminta mengantar bertemu seseorang saat akhir pekan ini.


Dion sebenarnya tak tau siapa Steve, karena Melisa hanya mengatakan Steve adalah saudara jauhnya dari pihak ibu. Dion tak terlalu peduli dengan itu, ia hanya merasa senang karena Melisa mengajaknya pergi di akhir pekan ini.


"Aku beneran nih ga apa-apa nganterin kamu?" Dion.


"Ga papa, kamu ga mau anter aku?" Melisa.


"Mau banget dong. Tapi tumben kok gak sama Satria?" Dion.


"Dia sibuk belajar, katanya kemaren ada orang yang kasih brosur tentang beasiswa di kampus luar negeri. Terus dia mau coba ambil, jadi makin-makin deh belajarnya," Melisa menghela nafas.


"Siapa yang kasih?" Dion.


"Aku gak tau, orang di jalan aja kali," Melisa juga tak tau siapa yang memberi brosur itu pada Satria.


"Terus kamu udah tau alasan kenap Satria masuk ke rumah itu?" Dion.


Melisa menggelengkan kepalanya, "belum. Aku takut Satria marah kalau aku tanyain itu sekarang."


"Jadi kamu masih belum dapat jawaban dari rasa penasaran kamu tentang rumah itu?" Dion.


"Udah ah, aku gak mau mikirin soal itu dulu." Melisa mengalihkan pembicaraan. "Hari ini om Steve mau ajak ke kita ke wahana permainan indoor. Kamu udah pernah ke sana?"


"Yang dimana nih? Di mall yang baru itu?" Tanya Dion.


"Iya mungkin, aku juga ga tau," jawab Melisa.


"Kalau yang baru aku belum pernah," Dion.


"Kalau yang lama?" Melisa.


"Belum juga, hahahaha..." Dion bercanda garing.

__ADS_1


Melisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia sama sekali tak tertawa mendengar candaan Dion.


Saat mereka dalam perjalanan, Steve memberikan lokasi dimana ia berada saat ini melalui pesan singkat. Dion yang sudah paham lokasi itu, segera melajukan kendaraannya menuju tempat yang dimaksud.


Sesampainya di lokasi, Melisa memanggil Steve yang sudah menunggu mereka di depan lobi.


"Om," panggil Melisa.


"Hai, kau sudah datang?" Sapa Steve.


"Om, ini kenalin temen aku Dion," Melisa memperkenalkan Dion pada Steve.


Steve nampak kaget karena Melisa datang bersama teman. "Oh, hai," Steve berusaha bersikap ramah pada Dion.


"Om gak tau kalau kamu mau datang sama teman," Steve masih berusaha bersikap ramah meski terlihat canggung.


"Iya om, tadinya aku mau datang sama Satria. Tapi Satria lagi belajar, ga bisa diganggu. Jadi ya udah aku aja Dion aja deh, ga papa kan om?" Melisa.


Steve mengangguk, "kenapa kamu ga dateng sendiri? Kamu jadi ganggu waktu liburan temen kamu kan?"


"Pasti kamu yang merasa ke ganggu kan om?" Batin Dion.


"Oh gitu, oke deh kalau gitu ayo kita masuk," dengan terpaksa Steve akhirnya menerima Melisa yang datang bersama temannya.


Setelah membeli tiga tiket masuk yang dibayari oleh Steve, mereka mulai memasuki wahana permainan. Awalnya Dion ingin membayar tiketnya sendiri, namun Melisa menolak Dion untuk membayar. Melisa merasa dirinya yang mengajak Dion, jadi harusnya ia yang membayar tiket masuk Dion. Tapi Steve mengatakan ia akan membayar ketiga tiket itu, barulah Melisa dan Dion terdiam tak lagi mendebatkan masalah pembayaran tiket.


Satu persatu semua wahana di arena permainan itu mereka naiki. Mulai dari yang biasa saja hingga yang ekstrim. Hingga hari menjelang siang, perut mereka sudah dilanda rasa lapar. Steve mengajak mereka makan siang di sebuah restoran cepat saji.


Melisa dan Dion hanya menurut. Karena keduanya belum pernah datang ke tempat itu.


"Kamu bilang tadi Satria lagi belajar, emang kalian mau ujian?" Tanya Steve saat mereka sedang asik menikmati santap siang mereka.


"Iya om, sebentar lagi emang kita mau ujian tengah semester," jawab Melisa.


"Oh gitu, terus kalian kok ga belajar?" Steve.

__ADS_1


"Kita gak masalah om kalau dapet nilai jelek, lagian ini kan cuma ujian tengah semester. Kalau Satria itu nanti akan berpengaruh ke beasiswanya," kali ini Dion yang menjawab.


Steve mengangguk, ia memang tau Satria bukan dari kalangan orang-orang mampu seperti Melisa dan Dion.


"Oh iya, bagaimana kabar orang tuamu Mel? Apa mereka benar-benar tak jadi bercerai?" Steve.


"Sepertinya begitu om, sekarang malah ayahku ikutan tinggal di hotel sama mamah. Om tau kan hubungan aku dan mamah ga baik, makanya ayah ga berani ajak mamah buat pulang ke rumah," Melisa.


"Mereka tinggal di hotel?" Steve merasa heran. Beberapa waktu yang lalu, Natasya memintanya untuk pergi dari rumah Natasya karena Gunawan akan tinggal di sana.


Steve menuruti permintaan Natasya, jika pada Gunawan ia tak pernah berani untuk bersaing. Karena Gunawan adalah orang yang berkuasa, dan lagi memang Gunawan adalah suami Natasya. Jika memang Natasya ingin kembali pada Gunawan, ia dengan sukarela akan pergi. Namun jika ada laki-laki lain, Steve tentu saja tak bisa terima.


"Iya om, terakhir kali aku telepon sama ayah. Mereka masih tinggal di hotel," jawab Melisa.


"Kapan itu?" Steve.


"Kemarin," Melisa.


Steve nampak berpikir. Jika Gunawan masih tinggal di hotel, lalu mengapa Natasya memintanya untuk pindah dari rumah itu? Apa Natasya ingin merenovasi rumah itu? Atau ada orang lain yang ingin Natasya masukan ke rumah itu?


"Kenapa om? Om pasti kesal ya karena mereka ga jadi bercerai? Aku juga," Melisa terlihat sangat kesal.


"Bukan begitu Mel, aku justru senang kalau ibu dan ayahmu kembali bersatu," Steve tak mau mengatakan apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya pada Melisa.


"Om beneran gak papa?" Melisa terlihat ragu.


"Iya beneran, om ga papa kok," Steve meyakinkan Melisa.


Dion memperhatikan gerak gerik Steve. Pria itu nampak memikirkan sesuatu dengan wajah sedikit kesal. Namun Melisa tak melihat itu, gadis itu sedang asik menikmati makan siangnya.


Selesai dengan makan siang, mereka juga mencicipi beberapa jajanan yang terdapat di sekitar wahana. Melisa terlihat begitu riang.


Steve tersenyum melihat keceriaan Melisa. Namun dibalik senyuman Steve seolah ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya.


Dion melihat ekspresi wajah Steve, sebenarnya ia sudah merasa kehadirannya tidak diinginkan di sana. Namun Dion bersikap seolah tak tau apa-apa. Dion memiliki firasat buruk pada pria di hadapannya itu.

__ADS_1


Steve terlihat memperlakukan Melisa secara berlebihan. Dari sudut pandang Dion yang baru mengenal Steve, pria itu nampak memiliki suatu niat tersembunyi di balik kebaikan yang ia berikan.


__ADS_2