Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Perjodohan


__ADS_3

Beruntungnya Melisa, memiliki sekertaris seperti Fredy. Tak hanya cekatan dan kompeten dalam bekerja, Fredy juga dengan mudahnya membantu Melisa mengerjakan skripsinya. Sekarang tinggal melakukan sidang skripsi. Sidang dilakukan secara online, dan tentu saja hal itu sangat memudahkan Melisa karena Fredy bisa membantunya dari belakang kamera.


Selesai sidang, Melisa berjalan di taman kota. Ia ingin menyegarkan otaknya sejenak setelah sidang skripsi. Dengan ditemani oleh Fredy tentu saja.


“Aku baru selesai sidang, bagaimana dengan Satria dan Mia ya? Ah, mereka kan orang-orang pintar. Pasti dengan mudah bisa mengerjakan semua ini tanpa bantuan siapapun,” ucap Melisa dalam hatinya. Jauh di lubuk hatinya, Melisa sangat merindukan Satria. Meski selama di kampus mereka bahkan tak pernah saling menyapa, namun setidaknya Melisa bisa melihat dari kejauhan sosok Satria yang selalu tersenyum ramah dengan siapapun di sekitarnya.


Saat tengah asik menikmati udara sore hari di taman kota, tiba-tiba ponsel Fredy berdering. Itu dari Gunawan. Fredy segera menjauh sebelumnya ia minta izin terlebih dahulu untuk mengangkat panggilan masuk itu.


Melisa tak bertanya pada Fredy siapa orang yang meneleponnya. Ia merasa tak peduli dengan kehidupan siapapun saat ini.


“Nona, sebaiknya kita pergi ke salon xxx. Karena malam ini nona ada pertemua dengan seseorang,” ucap Fredy sambil mendekati Melisa setelah selesai dengan teleponnya.


“Pertemuan? Malam ini? Dengan siapa?” Melisa bingung, karena seingat Melisa hari ini tidak ada jadwal bertemu siapapun.


“Dengan rekan bisnis pastinya,” Fredy mempersilahkan Melisa untuk berjalan menuju mobilnya yang mereka parkir tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.


Melisa tak bertanya lebih lanjut, ia hanya menuruti saja apa yang dikatakan Fredy. Melisa bagaikan robot yang bekerja untuk Gunawan. Ia menuruti saja semua yang diperintahkan Gunawan, tanpa bertanya, protes ataupun mengeluh.


Sampai di salon xxx, Melisa segera dipoles hingga menjelma menjadi gadis yang sangat cantik. Sebelumnya Melisa memang sudah cantik, namun setelah dipoles kecantikan Melisa bertambah berkali-kali lipat.


Seorang pegawai membawakan sebuah dress mini berwarna merah terang, dengan bagian atas yang sangat terbuka, dan bagian bawahnya yang mungkin hanya menutupi setengah pahanya saja. Dress itu lalu, diserahkan pada Melisa.


“Anda diminta memakai Dress ini nona,” ucap pegawai itu.


Melisa mengernyitkan dahinya. “Tidakkah ini terlalu seksi?”


“Dress ini diberikan langsung oleh rekan bisnis anda nona,” ucap Fredy.


“Sebenarnya siapa rekan bisnisku itu?” Gumam Melisa, namun ia tak menolak dan segera mengganti pakaiannya dengan dress yang katanya dibelikan oleh klien itu.


Benar dugaan Melisa, dress ini sangat seksi dan sangat ngepas di badan Melisa hingga bentuk tubuh langsing Melisa terlihat dengan jelas. Begitu juga dengan belahan dada Melisa yang sedikit terbuka. Dress itu benar-benar membuat aura seksi Melisa terpancar dengan jelas.


“Siapa sebenarnya si rekan bisnis ini? Pasti dia om-om mata keranjang yang sangat suka dengan wanita-wanita yang berpakaian seperti ini,” gerutu Melisa.


Meski terus-terusan protes, Melisa tetap memakainya meski sedikit tak nyaman karena dressnya terlalu minim.


Setelah berdandan sangat cantik dan juga seksi, Fredy membawa Melisa ke sebuah restoran mewah di tengah kota. Fredy ingin menunggu Melisa di dalam mobil saja, sehingga Melisa harus masuk ke restoran itu seorang diri. Ia agak sedikit risih dengan banyak pasang mata yang kini tengah memandangnya dengan tatapan aneh. Tentu saja itu karena dress seksi yang dipakainya.

__ADS_1


Seorang pelayan menghampiri Melisa, dan bertanya. “Nona Melisa?”


Melisa hanya mengangguk sedikit, namun pelayan itu tetap bisa melihatnya. Setelah itu, pelayan membawa Melisa ke sebuah ruangan VIP. Saat pelayan sudah membuka pintunya, betapa terkejutnya Melisa karena yang berada di dalam sana adalah Dion dan juga ayahnya.


“Kau sudah datang Melisa? Duduklah,” pinta Gunawan.


Melisa terlihat sangat kesal. “Siapa yang memberiku dress ini?”


“Aku,” jawab Dion sambil malu-malu..


“Kau mau mati? Berani-beraninya memberikan aku dress seperti ini padaku. Apa yang kau pikirkan saat memilih dress ini?” Melisa melotot ke arah Dion.


“Aku hanya berpikir kau pasti sangat cantik memakai dress itu,” jawab Dion sok polos.


“Sudahlah Melisa, kamu duduk dulu. Ada yang mau ayah katakan padamu,” ucap Gunawan.


Melisa menuruti, ia segera duduk di samping ayahnya. Meski dirinya masih kesal, namun lebih nyaman ia duduk di dekat ayahnya. Karena dress mini itu akan menyingkap saat ia duduk nanti. Melisa takut Dion tak bisa fokus karena melihat pahanya yang mulus.


“Ada apa?”


“Selamat ya Mel, ini hadiah dariku. Hadiah untuk kelulusanmu,” Dion menyodorkan sebuah kotak hadiah yang ukurannya sangat kecil.


Melisa mengambil buket bunga yang diberikan Gunawan, dan dengan ragu-ragu mengambil kotak hadiah dari Dion.


“Bukalah,” pinta Dion.


Melisa menatap Dion dengan curiga, namun yang ditatap tanpa beban terus saja tersenyum lembut pada Melisa. Dion berusaha tenang, padahal jantungnya terus berdetak semakin kencang.


“Apa ini?” Melisa memicingkan matanya.


“Buka saja kalau ingin tau,” jawab Dion.


“Aku tak ingin tau,” Melisa meletakkan kembali kotak hadiah yang sempat diambilnya tadi.


“Bukalah Mel, itu hadiah pemberian Dion untukmu,” pinta ayah.


“Biar aku saja ya yang buka,” Dion mengambil kembali kotak yang tadi ia sodorkan pada Melisa.

__ADS_1


Kini Dion berjalan memutar dan berdiri di samping Melisa. Sambil menelan salivanya karena gugup, Dion lalu berlutut di samping Melisa. Dion membuka kotak kecil yang dipegangnya, dan memperlihatkannya pada Melisa.


“Maukah kau menikah denganku Melisa?” Dion menatap Melisa penuh harap.


Melisa melihat sebuah cincin berlian yang ada di dalam kotak kecil itu. Ia mengernyitkan dahinya, lalu menatap Dion dengan bingung.


“Kau mau aku menikah denganmu?” Tanya Melisa datar.


Karena sangat gugup, Dion hanya mengangguk perlahan.


“Kenapa?”


“Karena aku menyukaimu Melisa, aku menyukaimu sejak dulu,” jawab Dion.


“Kenapa kau menyukaiku?” Masih dengan nada suara yang datar Melisa bertanya pada Dion.


“Mmm... Karena kamu sangat cantik Melisa, kamu juga sangat menarik,” sambil memikirkan kata-kata yang pas Dion berusaha menjawab pertanyaan Melisa.


Melihat suasana yang canggung itu, Gunawan akhirnya ikut turun tangan.


“Melisa, dengar baik-baik.”


Melisa menoleh ke arah ayahnya.


“Ayah mau kamu menikah dengan Dion, ia pemuda yang baik, pintar, dan juga anak dari rekan bisnis ayah. Dan yang terpenting Dion sangat menyukaimu,” ucap Gunawan.


“Apa aku harus menerimanya? Apa aku tak boleh menolaknya?” Tanya Melisa pada Gunawan.


“Tak etis menolak lamaran seseorang Melisa,” nasihat Gunawan.


“Ya sudah kalau begitu aku bisa apa?” Melisa lalu menyodorkan tangan kirinya ke arah Dion.


Melihat tangan Melisa yang sudah ada dihadapannya, Dion tak mau buang-buang waktu. Ia segera memasangkan cincin berlian itu di jari manis tangan kiri Melisa.


“Terima kasih Melisa,” Dion merasa sangat senang.


Melisa memaksa bibirnya untuk tersenyum. Ia ingin sekali menolak lamaran dari Dion itu, karena Melisa masih sangat menyukai Satria. Namun mengingat bagaimana perlakuan ayahnya pada Satria, membuat Melisa harus mengubur dalam-dalam keinginannya itu.

__ADS_1


__ADS_2