Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Serangan Balik


__ADS_3

Di tempat berbeda, Bob menyuruh anak buahnya untuk menangkap Vino dan keluarganya. Bob yang kini menjabat sebagai kepala kepolisian tingkat Nasional pun bisa dengan mudahnya menemukan siapa orang yang selalu membantu keluarga Vino agar kebal dari hukum.


"Seret keluarga itu ke penjara, atau tidak kau yang akan ku pecat dari kepolisian!" Perintah Bob pada kepala polisi daerah tempat tinggal Satria.


"Satu hal lagi, aku ingin kau yang menangkap langsung keluarga itu!" Tambah Bob.


Dalam sekejap, keluarga Vino yang seringkali menghindari hukum dengan mudahnya. Akhirnya dapat ditangkap juga.


Bahkan kedua orang tua Vino tau bahwa anaknya itu sudah merencanakan untuk mencelakai Satria. Namun mereka diam saja.


Selain itu, keluarga Vino juga dikenal sebagai rentenir yang suka meminjamkan uang dengan memberikan bunga yang tinggi.


Semua orang yang meminjam namun tak sanggup membayarnya, harus menyerahkan keluarga mereka yang masih gadis untuk ditiduri oleh Vino. Jika tidak mau, mereka harus membayar harga berkali-kali lipat untuk menebus anak gadis mereka.


Melihat penangkapan keluarga Vino, tentu saja para warga merasa sangat senang dan lega. Pasalnya mereka seharusnya sudah melunasi hutang sesuai dengan yang dipinjam, namun dengan alasan membayar bunga keluarga Vino terus saja menagih mereka.


Tak ada satupun yang berani melawan karena keluarga Vino selalu membawa preman saat menagih hutang.


Melapor pada polisi pun percuma, mereka hanya dipanggil sesaat lalu dibebaskan.


Namun kini, berkat turun tangan dari Bob. Keluarga Vino sudah tak lagi bisa kebal dari hukum.


Tak hanya keluarga Vino, kini Vino dan anak buahnya pun juga sudah diamankan di kantor polisi.


Melisa membawa Satria ke rumah sakit, beserta ketiga adik Banu yang juga sempat mendapat pukulan karena tak mau menuruti kemauan Vino.


Melisa memegangi tangan Satria selama perjalanan ke rumah sakit.


"Kamu kenapa berani sekali menemui orang gila itu seorang diri?" Tanya Melisa.


"Entahlah Mel, ku pikir dia akan bisa ku ajak negosiasi sebelumnya. Namun ternyata Vino terlalu licik. Tapi untunglah aku sudah memberi tau kamu lebih dulu," jawab Satria seraya tersenyum pada Melisa.


"Om Bob sudah turun tangan, sekarang Vino sudah tak bisa lagi menghindari hukuman. Bahkan keluarganya pun terancam hukuman karena membiarkan anak mereka berbuat seenaknya. Bahkan mereka juga menjadi lintah darat yang merugikan warga sekitar."


"Syukurlah, ini semua berkat kamu Melisa," Satria tersenyum bangga.


"Jika kamu tidak berada dalam bahaya seperti tadi, aku juga enggan melakukan hal ini. Lagi pula keluarga besar kamu tidak ada yang berurusan dengan Vino."

__ADS_1


"Kamu benar, ini semua berkat ibumu yang mempercayakan aku memegang jabatan sebagai ketua Yayasan. Sehingga aku bisa membantu keluargaku yang kesulitan tanpa harus berhutang sana sini."


"Kamu memang paling bisa diandalkan," puji Melisa.


Keduanya tersenyum bahagia.


"Oh iya, apa di wajahku ada luka memar?" Tanya Satria sambil meraba-raba wajahnya.


"Coba ku lihat," Melisa memperhatikan dengan seksama wajah Satria.


"Tidak ada, memangnya kenapa?"


"Syukurlah, aku menjaganya dengan baik. Mel, kita kan masih harus mengadakan resepsi pernikahan di kota A besok lusa. Tak mungkin aku hadir dengan wajah yang memar penuh luka," ucap Satria.


Melisa hanya menggeleng-gelengkan kepala, ia tak percaya Satria masih saja memikirkan hal itu bahkan di saat seperti ini.


"Bagaimana bisa kamu memikirkan hal itu?"


"Aku tak mau membuatmu malu Mel," ucap Satria.


"Oh ya?"


Melisa hanya bisa menghela nafas panjang.


Mereka pun tiba di rumah sakit, karena Satria tak mengalami luka yang serius, maka ia hanya mendapat obat pereda nyeri saja.


"Kalian akan berangkat ke kota A kapan?" Tanya paman saat Satria sudah selesai diobati.


"Besok siang paman," jawab Melisa.


"Kalian hanya pergi berdua atau ada yang mengantar?"


"Kami pergi bersama anak buah ayahku, ku rasa belum aman jika kami harus pergi berdua. Ayah bilang, bisa saja Vino menempatkan anak buahnya yang lain untuk mengikuti kita. Oleh karena itu, kami akan pergi bersama para pengawal."


"Syukurlah kalau begitu, paman merasa lega mendengarnya."


"Oh iya paman, ayahku bilang jika ada yang mengancam paman atau keluarga besar lainnya, paman jangan segan-segan lapor ke polisi. Jika dalam satu kali dua puluh empat jam tak ada tanggapan, paman bisa menghubungi om ku. Om Bob," jelas Melisa.

__ADS_1


"Baiklah, paman sangat berterima kasih padamu dan Melisa. Berkat bantuan mu, kami jadi bisa menangkap Vino. Maaf jika pesta pernikahan kalian di kota ini malah memberi kesan buruk," ucap paman sedikit menyesal karena kurangnya pengawasan.


"Tidak apa paman, biar hal ini menjadi cerita di kemudian hari."


Mereka pun kembali pulang ke rumah, sementara Ardi masih setia menemani Banu di kantor polis.


"Mereka mencabut laporan kebakaran itu, jadi saudara Banu bisa bebas sekarang," ucap salah seorang polisi yang berjaga.


"Benarkah? Terima kasih pak polisi," ucap Banu dengan haru.


"Ardi, sampaikan rasa terima kasihku pada Satria dan istrinya. Berkat mereka, aku tak hanya bebas dari kurungan penjara. Tapi juga mereka sudah menyelamatkan keluargaku," Banu berkata dengan sungguh-sungguh pada Ardi.


"Tentu saja, akan aku sampaikan. Kamu lain kali hati-hati, jangan lagi meminjam uang dari orang macam Vino dan keluarganya," nasihat Ardi.


Banu mengiyakan, ia juga memeluk Ardi dengan erat. Sebagai ungkapan rasa syukurnya karena masalah ini akhirnya bisa selesai juga.


Di rumah paman, di kamar pengantin. Satria dan Melisa sudah terbaring di atas tempat tidur.


"Mel, apa kamu sudah mengecek kondisi adik-adiknya Banu?" Tanya Satria tiba-tiba.


"Sudah suamiku, mereka baik-baik saja. Hanya ada sedikit luka memar di tubuh si adik yang paling tua, tapi sejauh ini mereka baik-baik saja."


"Syukurlah, ketika melihat mereka aku membayangkan perasaannya Banu. Ia pasti sangat khawatir pada adik-adiknya itu."


"Kamu memang sangat baik suamiku, teman-temanmu juga banyak sekali yang datang tadi. Mereka pasti bangga memiliki teman yang baik seperti kamu," Melisa semakin memuji Satria.


"Ah, kamu bisa aja... Aku juga masih punya banyak kekurangan," Satria berusaha merendah.


"Apa sih kekuranganmu? Gak ada tuh!"


"Ada sayang, nanti juga kamu pasti tau setelah lama kita tinggal bersama," ucap Satria.


Mendengar panggilan sayang dari mulut Satria tentu saja membuat Melisa tersipu malu. Ia masih belum terbiasa diperlakukan sangat-sangat istimewa begini.


Sebelumnya Satria juga baik, tapi tetap ada jarak yang memisahkan. Namun kini semuanya seolah mereka tak memiliki jarak sama sekali.


Melisa memeluk Satria, hingga mereka akhirnya tertidur lelap bersama.

__ADS_1


__ADS_2