
Sementara Bobi menemani Amanda keliling mall, Satria membantu Melisa mengepak barang belanjaan yang akan langsung dikirim melalui paket ke rumah Satria.
"Mel, ini ga salah? Banyak banget, aku aja ga beli apa-apa," Satria.
"Menurut aku malah kurang, ada yang masih pengen aku beli lagi," Melisa.
"Buat keluargaku?" Satria.
"Iya," Melisa mengangguk.
"Ga perlu lah, ini udah terlalu banyak," Satria.
"Kamu ga suka?" Melisa.
"Bukan begitu, aku ga tau harus bilang apa sama orang tuaku?" Satria.
"Ya bilang aja emang akunya yang pengen beliin buat mereka. Aku kangen banget sama mereka Sat, aku pengen ketemu, boleh ga?" Melisa.
"Kamu mau ibumu tau?" Satria.
"Ya jangan bilang-bilang lah," Melisa.
Satria merenung, "Mel, jangan dulu y..."
"Kamu takut?" Melisa.
"Aku bukannya takut akan kehilangan beasiswa. Aku takut ibumu melakukan sesuatu yang tidak baik pada keluargaku," Satria.
"Menurutmu ibuku jahat?" Melisa.
"Hah? Bukan itu maksudku Mel, kamu tau kan ibumu..." Satria.
"Iya, aku tau," Melisa menghela nafas, wajahnya seketika murung.
"Maaf ya Mel, aku jadi bikin suasana hati kamu jelek," Satria.
"Bukan kamu, tapi ibuku," Melisa.
Satria menatap Melisa dengan sedih.
"Hah... sebenernya aku ga mau pulang," Melisa.
"Kenapa?" Satria.
"Kamu tau? Ngebayangin kita bakal jauh-jauhan lagi kaya dulu aja udah berasa berat banget, aku ga sanggup kayanya," Melisa.
"Sabar Mel, satu tahun lagi aja kok," Satria.
"Satu tahun itu lama," rengek Melisa.
"Engga, Melisa... Makanya, satu tahun itu kita fokus buat belajar. Jadi waktu ga akan berasa," Satria.
"Emang kamu bisa fokus?" Melisa.
"Aku akan berusaha fokus, aku pasti bisa," Satria.
"Enaknya jadi kamu. Terus kalau aku kangen kamu gimana?" Melisa.
"Kamu kan punya banyak foto aku," Satria.
"Foto doang ga cukup Sat, ga bisa pegang, ga bisa peluk," Melisa.
__ADS_1
Satria tertawa, ia mengacak-acak rambut Melisa.
"Peluk guling aja ya, anggap aja itu aku," Satria menggoda Melisa.
Melisa cemberut.
Di sisi lain, Amanda masih memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di dalam mall.
"Man," panggil Bobi.
Amanda menoleh.
"Dari segini banyak toko, elu keluar masuk, ga ada satupun yang bikin elu tertarik buat beli?" Bobi.
Amanda Menggeleng.
"Tumben," Bobi mendekat, ia memegang kening Amanda. "Elu sakit?"
Amanda meraih tangan Bobi, lalu ia letakkan di dadanya.
"Bukan itu yang sakit, tapi ini," Amanda menatap tajam ke arah Bobi.
Bobi hanya bisa diam mendengar ucapan Amanda. Jantungnya berdebar hebat, tubuhnya seketika membeku, matanya melotot melihat dimana letak posisi tangannya kini berada.
Amanda melepaskan tangan Bobi, ia kembali berjalan menuju eskalator. Bobi menghela nafas panjang, lalu segera menyusul Amanda.
Keluar dari mall, Amanda memilih duduk di tepi kolam yang berada di depan mall. Ia memperhatikan ikan-ikan yang berada di dalam kolam. Bobi ikut duduk di sebelahnya.
"Kak..." Suara Satria terdengar dari kejauhan.
"Kalian dari mana?" Bobi.
"Habis ngirim paket," Satria.
"Iya, belanjaan Melisa tadi langsung dipaketin biar ga repot bawanya," Satria.
"Oh," Bobi mengangguk.
"Kak Amanda masih mau belanja?" Satria.
"Engga," Amanda menggeleng.
"Ya udah yuk balik ke hotel. Kita siap-siap buat pulang," Satria.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan mall menuju hotel, merapihkan barang bawaan. Menatanya dan menaruhnya ke dalam mobil.
"Kita berangkat abis makan malam ya," Bobi.
Mereka semua mengangguk sepakat.
Setelah makan malam, mereka segera cek out dan memulai perjalanan pulang menuju kota A.
Bobi yang mengendarai mobil, di sampingnya ada Satria. Melisa dan Amanda duduk di kursi tengah.
Saat di kapal penyebrangan, mereka semua tidur di dalam kapal. Sejak perjalanan pulang dimulai, jarang sekali ada obrolan diantara mereka. Satria dan Bobi memang terlihat lelah, jadi enggan untuk bicara.
Sedangkan Melisa dan Amanda sibuk dengan pikirannya masing-masing. Melisa sibuk memikirkan dirinya yang akan kembali menjauhi Satria saat di sekolah.
Dan Amanda sibuk memikirkan nasib dirinya, entah apa yang harus ia lakukan ke depannya. Ia hanya ingat nasihat Satria kemarin malam, sebelum ia meninggalkan kamar hotel setelah menurunkan Melisa dari gendongannya.
"Kakak sebaiknya fokus pada diri kakak dulu, melakukan hal-hal yang kakak suka, atau membuat pencapaian baru untuk hidup kakak. Ga usah mikirin cowok dulu, bikin diri kakak bersinar aja dulu. Aku yakin suatu saat akan ada pria yang bisa menerima segala kekurangan kakak."
__ADS_1
Nasihat dari Satria itu terus terngiang dalam ingatannya.
"Hal aku suka? Pencapaian?" Gumam Amanda. Ia sendiri tak tau apa yang ia suka? Saat ini ia hanya bertekad untuk fokus pada kuliahnya dulu.
"Benar kata Satria, sekarang bukan saatnya aku mikirin cowok," batin Amanda.
Turun dari kapal mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka hanya akan mampir untuk makan dan beristirahat, selebihnya mereka akan terus memacu kendaraan agar segera sampai di kota A.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, sesekali terdengar obrolan ringan antara Bobi dan Satria. Melisa dan Amanda benar-benar diam seribu bahasa. Kedua gadis itu hanya akan menjawab bila ditanya, itupun hanya iya dan tidak.
"Itu pada kepada kenapa sih?" Tanya Bobi pada Satria saat mereka sedang memesan makanan di sebuah restoran di rest area di kota D.
"Kalau kak Amanda kayanya masih galau deh, kalau Melisa dia juga ikutan galau, ga mau pulang katanya," jawab Satria.
"Kenapa?" Bobi.
"Kakak tau kan kalau sudah pulang dan kembali ke sekolah kita ga bisa deketan lagi?" Satria.
"Iya ya, tapi kan tante Natasya ga ada di kota A, dia tinggal di kota C," bisik Bobi.
"Hah? di kota C? Makanya kemaren kita ga mampir ke sana?" Satria.
Bobi mengangguk, "Iya."
Satria juga ikut mengangguk paham.
"Menurut kakak, bu Natasya tau ga liburan kita ini?" Tanya Satria khawatir.
"Bisa aja sih tau, orang tuanya Manda kan temen deketnya tante Natasya," Bobi.
"Tapi kita selama di pulau Y dan waktu berangkat juga ga ketemu orang tuanya kak Amanda," Satria.
"Iya emang, moga-moga aja sih ga tau, kalaupun tau juga elu ga usah khawatir. Kan ada gue," Bobi.
Satria juga berharap demikian. Semoga bu Natasya tidak tau ia ada bersama Melisa saat liburan kali ini.
Mereka memulai kembali perjalanan, kali ini Melisa yang mengendarai mobil dari kota D menuju kota C. Hingga tiba di kota C, Amanda yang mengendarai hingga kota B.
Dan saat kembali menuju kota A, Bobi yang memegang kemudi. Saat itu jalan sudah mulai gelap. Kedua gadi di kursi tengah juga sudah mulai terlelap.
Satria meregangkan badannya.
"Sebentar lagi sampai, semangat kak," Satria menyemangati Bobi.
"Iya nih, pengen cepet ketemu kasur," Bobi sudah beberapa kali menguap.
"Iya, udah ngantuk banget," Satria memang tidak tidur sejak turun dari kapal, ia terus menemani teman-temannya yang mengemudi. Mengajaknya bicara meski tak mendapat respon terhadap terutama dari Melisa dan Amanda.
Ia merasa tak enak hati, karena dalam liburan ini ia benar-benar tak mengeluarkan uang sepeserpun. Bahkan ia juga tak bisa mengemudi.
Meski sebenarnya tak hanya Satria yang tak mengeluarkan uang, Bobi dan Amanda pun juga sama sekali tak pernah mengeluarkan uang. Semua Melisa yang tanggung.
Kini mereka akhirnya tiba di kota A. Bobi lebih dulu mengantar Satria. Melisa terlihat sedikit bahagia bisa bertemu ayah dan ibu Satria juga Rian adik Satria. Ia bisa melepaskan sedikit rasa rindunya pada keluarga Satria meski hanya sebentar.
Oleh-oleh yang dibelikan Melisa bahkan sudah sampai lebih dulu. Bu Lastri mengucap banyak terima kasih pada Melisa dan teman-temannya.
Setelah berpamitan, Bobi melajukan kendaraan menuju rumah Amanda. Mengembalikan kembali mobil ke tempatnya.
"Mel, kau aja yang bawa y. Aku udah ngantuk berat," pinta Bobi pada Melisa.
"Aku ga bisa bawa motor kak," jawab Melisa.
__ADS_1
Bobi menghela nafas, ia menampar pipinya sendiri agar rasa kantuknya hilang.
"Ayolah, semangat Bobi. Satu perjalanan lagi sampai di rumah," Bobi menjalankan motornya kembali menuju rumah Melisa.