
Satu tahun sudah Satria menempuh kuliahnya, dan sesuai perkataannya, Satria tak pernah pulang. Mereka hanya berkomunikasi melalu panggilan video.
Melisa juga saat ini sudah terbiasa menjalani rutinitas di perusahaan, meski tak mudah tapi ia sering kali mendapatkan arahan dari Gunawan dan Fredy meski dari jarak jauh.
Bianca, adik perempuan Bobi juga sekarang sudah ikut bergabung di perusahaan. Melisa merasa senang karena akhirnya keluarga om Bob ada yang turun tangan membantu berkembangnya perusahaan.
Sedangkan Bobi, masih betah menjadi polisi seperti ayahnya. Tak lama lagi, ia akan menikah dengan Amanda.
Amanda sendiri kini tengah sibuk membantu orang tuanya mengurus pembukaan hotel baru di beberapa daerah terpencil.
Undangan pernikahan Bobi dan Amanda sudah disebar, dan salah satunya sudah sampai ke tangan Natasya.
"Jadi nikah juga anak ini?" Ucap Natasya.
"Siapa?" Tanya Steve yang baru datang membawa secangkir teh untuk Natasya.
"Si Bobi, aku ingat betapa nakalnya dia dulu, sering keluar masuk ruang BP, dan berkali-kali mendapat teguran karena sering kali bermasalah. Jika dia bukan anaknya Bob, mungkin sudah ku keluarkan dari sekolah!"
"Kenapa tidak kau keluarkan saja?"
"Bisa-bisa si Gunawan ngamuk-ngamuk kalau tau keponakannya itu ku keluarkan," Natasya mengingat kembali masa-masa saat ia masih menjadi kepala yayasan dulu.
Sekarang Yayasan dipegang oleh Reni, untuk sementara Reni yang akan memimpin Yayasan sampai Satria lulus kuliah.
Sebelumnya Reni sempat berhenti kerja karena memiliki bayi, dan sempat tak ingin kembali bekerja karena ingin fokus menjadi ibu rumah tangga saja.
Namun Natasya merayunya untuk bekerja hanya sementara waktu, hingga Satria lulus sekolah. Dan untungnya Reni mau.
Kesehatan Natasya kian hari kian menurun, meski begitu Natasya tetap memilih untuk menikmati sisa-sisa waktu yang ia punya bersama dengan orang yang ia cintai.
Natasya dan Steve sudah pindah ke sebuah pemukiman di pedesaan. Suasana yang nyaman dan tentram serta jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Warga di sana juga sangat ramah, mereka sebagian besar berprofesi sebagai petani.
Natasya membeli rumah sederhana yang letaknya di ujung desa, ada seorang asisten rumah tangga yang mengurus kebutuhan Natasya seperti menyiapkan makan, mencuci pakaian, dan merapihkan rumah. Asisten rumah tangga itu juga merupakan warga desa setempat.
Steve juga memutuskan untuk istirahat dari pekerjaannya, ia ingin menemani Natasya sepanjang waktu. Mereka berdua menjadi pasangan yang harmonis.
"Nanti, jika aku pergi. Biarkan jasadku dimakamkan di desa ini," pinta Natasya.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Entahlah, tapi aku merasa sangat nyaman berada di desa ini. Dan ingin selamanya berada di sini."
Steve hanya tersenyum sambil menatap wajah Natasya yang kian hari kian pucat. Tubuh Natasya juga jauh lebih kurus dari sebelumnya.
"Apa ada kabar dari anak-anak kita?" Tanya Natasya.
"Seperti biasa, mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Kau merindukan mereka? Haruskah ku hubungi mereka?"
"Tidak perlu, mereka sedang sibuk mengapa kita menggangu?"
Natasya merebahkan kepalanya di pundak Steve.
"Steve..."
"Ya?"
"Aku merasa sangat bahagia sekali, terima kasih karena kau selalu ada untukku. Aku beruntung memilikimu," ucap Natasya dengan nada suara yang lemah.
"Aku juga merasa sangat beruntung memilikimu," Steve tersenyum lalu mengecup kening Natasya.
"Kau mau Satria melamar Melisa dengan cincin ini?"
Natasya menggeleng.
"Bukan untuk melamar, tapi jadikan ini sebagai cincin pernikahan mereka."
"Baiklah, dan karena sekarang mereka belum menikah jadi sebaiknya kamu pakai dulu ya," Steve kembali memasukkan cincin di jari tangan Natasya.
Tubuh Natasya terasa lemah, dan ia merasa sangat mengantuk.
"Steve, aku sangat mengantuk. Bisakah kau membawaku ke kamar?"
"Tentu saja," perlahan Steve membopong tubuh Natasya ke dalam kamar. Steve lalu membaringkan Natasya di tempat tidurnya.
"Tidurlah, aku menemanimu di sini," ucap Steve.
__ADS_1
Natasya tersenyum, ia lalu memejamkan matanya dan tak lama ia pun tertidur pulas.
Karena cuaca di desa yang sejuk, tentu saja membuat Steve juga tergoda untuk ikut tidur bersama Natasya.
Steve naik ke tempat tidur dan berbaring di samping Natasya sambil terus menatap wajah Natasya yang selalu cantik baginya meski sedang sakit saat ini. Tak lupa Steve menyelimuti Natasya dan ia pun ikut terlelap.
Malam hari, Steve tak sengaja terbangun. Ia melihat Natasya yang masih tertidur pulas. Steve hanya tersenyum, ia menaikkan selimut Natasya hingga ke bagian dadanya.
"Kenapa wajahmu pucat sekali?" Batin Steve.
Meski memang wajah Natasya sering kali terlihat pucat, namun kali ini lebih pucat dari biasanya. Steve mengamati tubuh Natasya yang terdiam, ia memang seperti sedang tertidur lelap. Namun Steve tak menemukan gerakan nafas di dadanya.
Steve memegang tangan Natasya yang sudah sangat dingin itu, ia mencari denyut nadi di tangan Natasya namun tak ia temukan.
Steve yang panik merebahkan kepalanya di dada Natasya, mencari denyut jantungnya dan ia juga tak bisa merasakannya.
"Natasya..." Steve memanggil nama itu dengan lembut, lalu membawa tubuh Natasya dalam pelukannya.
Dalam diam dan heningnya malam, Steve menangisi kepergian Natasya seorang diri. Ia tak menyangka Natasya akan pergi secepat ini. Kepergiannya juga tak ia ketahui.
Setelah beberapa saat, Steve kembali merebahkan tubuh Natasya di atas ranjang. Kini ia membawa selimut hingga menutupi seluruh wajah Natasya. Steve mengusap air matanya, ia harus tegar. Natasya tak akan suka jika melihatnya menangis.
Cukup lama Steve berusaha menguatkan diri, ia lalu mengambil ponselnya dan mengetik pesan yang akan ia kirimkan pada Satria dan Melisa. Hanya sebuah pesan singkat yang bisa ia kirimkan, ia tak sanggup jika harus mendengar suara anak-anak angkatnya.
Selamat jalan Natasya, istriku tercinta.
Setelah mengirim pesan itu, Steve lalu keluar kamarnya untuk menemui asisten rumah tangganya. Ia meminta tolong untuk memanggil beberapa warga untuk memakamkan jenazah Natasya esok hari.
Asisten rumah tangga yang mendengar kabar kematian Natasya pun segera pergi menuju rumah kepala desa. Tak butuh waktu lama kepala desa datang bersama beberapa warga yang akan membantu mengurus jenazah Natasya.
Selama tinggal di desa itu, Natasya dan Steve dikenal sebagai orang yang dermawan. Mereka sering kali membagikan beberapa hadiah berupa uang atau sembako untuk warga di sana.
Natasya bahkan sering memberikan makanan untuk beberapa warga yang kelaparan. Tak hanya itu, Natasya juga sering kali mengajak anak-anak di desa untuk bermain di halaman rumahnya.
Suara tawa anak-anak itu setidaknya bisa membuat senyum di wajah Natasya mengembang. Setelah puas bermain dengan anak-anak, biasanya mereka akan makan bersama dan anak-anak tak pernah dibiarkan pulang dengan tangan kosong.
Oleh sebab itu, kepergian Natasya tentu menjadi pukulan berat bagi warga setempat terutama mereka yang sering dibantu oleh Natasya.
__ADS_1
Steve tak menyangka, kepergian Natasya ditangisi oleh banyak orang. Mengingat bagaimana sombong dan arogannya dulu seorang Natasya. Namun siapa sangka Natasya bisa berubah dan sekarang menjadi orang yang paling dicintai di desa ini.