
Satria dan Melisa kini sudah merasa lega karena mereka sudah bertemu dengan Gunawan dan meminta restu untuk pernikahan mereka.
"Lalu, kapan kalian akan melangsungkan acara pernikahan kalian?" Tanya Gunawan.
"Aku mau secepatnya yah, apa ayah punya tanggal khusus untuk hari pernikahan kami?" Tanya Melisa.
"Tidak ada, terserah kalian saja!"
"Ayah, kau pasti datang kan ke pesta pernikahan kami?" Tanya Melisa.
"Memangnya kalian mau menikah dimana? Kalau kalian menikah di sini aku pasti datang. Tapi kalau kalian menikah di sana, aku tak jamin akan datang," jawab Gunawan.
Jawaban itu tentu saja membuat Melisa menjadi sedih. Sebenarnya ia ingin sekali mengadakan acara pernikahan yang megah di satu tempat. Dan mengundang semua orang yang ia kenal.
Namun jika Gunawan ingin Melisa mengadakan pesta pernikahan di tempatnya, tentu ia tak bisa mengundang banyak orang. Karena mayoritas orang-orang yang Melisa kenal berada di kota A.
Belum lagi saudara-saudara Satria, pasti akan keberatan jika mereka mengadakan pesta pernikahan di negara lain.
"Mel, bagaimana kalau kita bagi-bagi saja acaranya. Kita buat pesta sederhana, namun pesta akan kita laksanakan di beberapa tempat," usul Satria saat ia dan Melisa hanya berdua saja.
"Jadi kita akan pesta selama beberapa hari begitu?" Tanya Melisa.
"Iya, hari pertama untuk upacara pernikahan biar di tempat ayahmu saja. Lalu hari kedua di kota kelahiran aku di kota B. Hari ketiga bisa kita adakan di desa. Dan terakhir di kota A."
"Tidak buruk juga, tapi apa nantinya kita tidak capek?"
"Ya acaranya tidak usah dilakukan empat hari berturut-turut. Kita bisa memberi jarak satu hari dari pesta yang satu ke pesta berikutnya"
Melisa nampak memikirkan ide dari Satria.
"Kamu benar, setidaknya kita bisa mengundang semua orang yang kita kenal dan mereka juga pasti akan datang jika tempatnya dekat," Melisa menyukai ide Satria.
"Kalau begitu, sekarang tinggal mencari tempat dan jasa penyelenggara pesta untuk di hari pertama. Mumpung kita masih di sini," usul Satria lagi.
"Kalau untuk di sini, biar aku aja yang urus," tiba-tiba Widia datang menghampiri mereka.
"Ide bagus, apa kamu tidak keberatan?" Tanya Melisa.
"Tidak, aku justru malah merasa sangat senang," ucap Widia.
"Syukurlah kalau Widia mau, untuk acara di sini kita tidak mengundang banyak orang. Hanya keluarga inti saja," ucap Satria.
__ADS_1
"Iya benar, tapi kalau ayah mau mengundang teman-temannya untuk acara di sini ya tidak masalah," Melisa menambahkan.
"Baiklah, aku akan mempersiapkan semuanya. Kak Melisa dan kak Satria tenang saja. Urus saja untuk acara yang di tempat lain," ucap Widia.
"Kok kamu tau kalau kita mau adain acara juga di tempat lain?" Tanya Satria.
"Tak usah ditanya, dia pasti menguping obrolan kita tadi," Melisa yang menjawab pertanyaan Satria.
"Aku tidak menguping, aku hanya kebetulan mendengarnya," Widia meralat ucapan Melisa.
"Sama saja," ucap Melisa dengan ketus.
"Hehe," Widia malah memasang wajah nyengir kuda di depan Melisa.
"Ya sudah, kalau begitu mohon bantuannya ya Widia," Satria meminta dengan sangat sopan.
"Iya kak. Oh iya, kalau kakak butuh istri kedua aku siap kok menjadi kandidatnya," Widia tanpa ragu-ragu mengajukan dirinya sendiri.
"Hei," Melisa sudah melotot dan ingin memangsa Widia saat itu juga.
"Ampun kak... Ampuuunnn..." Widia lari begitu melihat wajah Melisa yang merah karena marah.
"Sudahlah Mel, dia hanya becanda," Satria berusaha meredam emosi Melisa.
"Gak usah didengerin. Aku nikah pertama aja belum, masa udah mau nikah yang kedua," goda Satria.
"Sepertinya kamu senang sekali karena ada yang mengajukan diri menjadi istri keduamu," sindir Melisa.
"Aku bukan senang karena itu, aku senang karena dia sudah benar-benar merasa seperti adik kandungmu hingga dia bisa-bisanya menjahili kamu," ucap Satria menjelaskan.
"Adik apanya?" Melisa masih menggerutu.
"Sudahlah Mel, kamu tak perlu marah," lagi-lagi Satria berusaha menenangkan hati Melisa.
"Mana bisa aku tak marah, dia ingin merebut kamu dariku," gerutu Melisa.
"Tidak mungkin, sampai kapan pun dia tak akan bisa menggodaku. Hanya kamu satu-satunya yang akan menjadi milikku," Satria merayu Melisa.
"Apa itu? Kamu belajar gombal dari mana? Pasti dari kak Bobi ya?" Tebak Melisa.
"Hehe, tapi kamu suka kan?"
__ADS_1
"Apaan sih?" Meski tak mengakui, namun Melisa bisa terlihat jelas ia tersipu malu karena godaan Satria.
Keesokan harinya, Satria dan Melisa sudah kembali pulang. Masih ada tugas perusahaan yang harus mereka kerjakan dan tak bisa ditinggalkan.
Seperti biasa, di sela-sela kerja mereka menyempatkan diri untuk saling memberi kabar satu sama lain.
Sementara itu, Gunawan yang tengah termenung di ruang kerjanya. Dikejutkan dengan kedatangan Silvana ke dalam ruangannya. Silvana datang membawa secangkir teh hangat dan juga sepiring kue yang masih hangat.
"Kenapa melamun?" Tanya Silvana seraya memijat pundak Gunawan.
"Aku tak menyangka hari ini akan tiba, hari dimana aku akan melepaskan putri semata wayang ku," ucap Gunawan.
"Kali ini kamu benar-benar akan merestui hubungan mereka kan?"
Gunawan terdiam.
"Tidak ada alasan lagi untukmu menolak Satria. Dia pria yang baik, cerdas, setia, romantis, dan sekarang dia juga memiliki segalanya. Bukankah dia sangat sempurna untuk Melisa?"
"Kamu benar, hanya saja entah mengapa ada yang masih mengganjal di hati ini," ucap Gunawan seakan masih ada sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan.
"Itu adalah rasa bersalah mu, cobalah untuk berdamai dengan dirimu sendiri. Hati kecilmu tau bahwa kamu bersalah saat itu, makanya dia seperti masih memiliki bebannya sendiri," nasihat Silvana.
"Lalu, apa aku harus meminta maaf pada Satria?"
"Cobalah, yang ku lihat dia pria yang baik. Dia pasti mau memaafkan mu," jawab Silvana dengan yakin.
Gunawan menghela nafas panjang.
"Baiklah, aku melakukan ini karena permintaan darimu."
"Jangan begitu, lakukanlah untuk dirimu sendiri. Kamu lihat bagaimana Satria yang tanpa rasa canggung atau pun marah saat bertemu denganmu? Aku benar-benar iri dengannya, ia memiliki hati yang sangat lapang hingga bisa memaafkan kesalahan orang lain."
Gunawan termenung. Ia merasa mungkin ada baiknya ia mengikuti apa yang telah Satria lakukan. Itu semua hanya agar hatinya merasa tenang.
Gunawan mengambil ponselnya dan menghubungi Satria. Setelah beberapa saat nada dering, akhirnya Satria mengangkat panggilan itu.
"Halo, iya tuan?" Suara Satria terdengar di seberang sana.
"Jangan panggil aku tuan, panggil aku ayah saja," pinta Gunawan.
"Ah, iya ayah?"
__ADS_1
"Satria..." Gunawan nampak ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu dari mulutnya.
Di samping Gunawan, Silvana menggenggam tangan suaminya itu seolah memberi kekuatan agar Gunawan bisa mengatakannya dengan mudah.