
"Satria..." Gunawan nampak ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu dari mulutnya.
Di samping Gunawan, Silvana menggenggam tangan suaminya itu seolah memberi kekuatan agar Gunawan bisa mengatakannya dengan mudah.
"Apa kau sedang sibuk?" Tanya Gunawan.
"Tidak yah, aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku," jawab Satria.
"Begini, ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu," ucap Gunawan ragu-ragu.
"Iya yah, ada apa?"
"Aku, ingin meminta maaf padamu. Atas peristiwa beberapa tahun yang lalu. Pada saat itu, aku sungguh tak bermaksud menghilangkan nyawa mereka," Gunawan berhenti sejenak.
Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Satria hanya diam mendengarkan apa yang akan dikatakan Gunawan padanya.
"Awalnya, aku hanya merasa kesal karena Melisa sangat dekat dengan keluargamu. Aku merasa kalian tidak pantas dekat dengan putriku yang berharga. Lalu aku menyuruh seseorang membuat mereka celaka dan meminta ganti rugi."
"Namun siapa sangka, ternyata kecelakaan itu malah berujung maut yang merenggut nyawa keluargamu. Namun, egoisnya aku saat itu aku tak mau mengakui kesalahanku. Aku merasa apa yang ku lakukan saat itu adalah benar, karena aku ingin melindungi Melisa dari orang-orang yang tak seharusnya berada di dekatnya."
"Bertahun-tahun aku berusaha mempercayai hal itu, meski aku sendiri merasakan dalam hati kecilku selalu dihantui rasa bersalah yang teramat sangat."
"Maafkan aku Satria, aku benar-benar sudah menjadi manusia yang egois. Namun sikap bijaksana mu, membuatku tersadar. Bahwa mempertahankan ego itu hanya akan menyiksa diri sendiri."
"Darimu aku belajar untuk mengikhlaskan hal-hal yang terjadi meski tidak sesuai dengan keinginan kita. Terima kasih Satria, kau telah mengajarkan aku bahwa membuat hati tenang itu jauh lebih baik dari pada mempertahankan ego yang hanya menyiksa diri kita sendiri."
Satria masih terdiam, sesaat ia ingat kejadian yang menimpa keluarganya. Kehilangan ayah, ibu, dan juga adiknya di waktu yang bersamaan. Ia ingat betul bagaimana rasanya harus menahan dirinya agar tetap waras dan tidak mengakibatkan hal yang lebih buruk lagi.
__ADS_1
Tak mendapat respon dari Satria, Gunawan menyadari bahwa hal ini pun nyatanya sulit bagi Satria. Pasti tak mudah memaafkan orang yang telah menyebabkan ia kehilangan keluarganya.
"Aku tau Satria, kamu pasti tak akan bisa memaafkan aku. Aku tak akan memaksa kau mau menerima maaf dariku, jika itu terasa sulit."
"Aku hanya ingin meminta satu hal padamu, jangan pernah sakiti Melisa. Sekalipun kamu akan mengingat kembali apa yang sudah ku lakukan pada keluargamu. Cukuplah balas kan dendam mu padaku, jangan pada Melisa," Gunawan mengatakan permintaan terakhirnya.
"Entahlah, apa aku ini sudah memaafkan anda atau belum," akhirnya Satria membuka suara juga.
"Tapi satu hal yang tak mau aku lakukan adalah, membiarkan hatiku dikuasai oleh emosi sesaat yang hanya akan merugikan diri sendiri. Aku tak ingin melakukan sesuatu yang pada akhirnya membuat diriku merasa menyesal," lanjut Satria.
Kata-kata Satria itu seolah menjadi tamparan keras bagi Gunawan. Ia yang usianya sudah jauh di atas Satria saja tidak bisa berpikir sejernih itu.
Seandainya saat itu ia tidak menuruti egonya, mungkin saat ini hubungannya dengan Satria dan Melisa akan baik-baik saja.
Namun apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Hal yang sudah terjadi tak mungkin bisa diulang kembali.
Sekarang yang bisa Gunawan lakukan hanyalah meminta maaf pada Satria. Ia bahkan siap menanggung segala konsekuensi jika memang Satria menuntutnya.
"Kamu benar Satria, bahkan sekarang saat melihat hidup mu jauh lebih baik itu membuatku semakin tersiksa. Sekarang yang bisa ku lakukan hanyalah merelakan. Melisa sejak awal sudah sangat menyukaimu, dan hingga kini rasa sukanya tak pernah berubah."
Gunawan mengakui kekuatan cinta mereka berdua, meski mereka harus berpisah beberapa kali karena keegoisannya. Justru rasa cinta Melisa dan Satria tumbuh semakin besar dan berhasil meluluhkan hati Gunawan yang keras bagaikan batu.
"Ku rasa, sudah cukup aku menyiksa batin anda. Saat ini aku hanya bisa mengatakan bahwa aku sudah memaafkan anda. Aku melakukan ini agar hati anda merasa jauh lebih tenang. Meski anda tau kan, tak akan mudah bagiku melakukan ini?"
"Iya Satria, aku sangat tau. Terima kasih Satria, terima kasih," Gunawan kini sudah jauh merasa lebih lega dari sebelumnya.
Silvana yang sejak tadi setia duduk di sampingnya pun ikut menangis bahagia. Melihat beban hati yang selama ini dipendam oleh Gunawan berangsur-angsur bisa lepas.
__ADS_1
Bahkan Satria pun sudah merasa hatinya jauh lebih lapang dari sebelumnya. Ia tak perlu lagi merasa canggung atau bahkan sekedar pura-pura baik di depan Gunawan.
Hatinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Hati yang lapang dan penuh dengan maaf memang sulit di dapat. Namun jika kita sudah berhasil mendapatkannya, maka rasa bahagia yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata pun akan kita rasakan.
Satria tersenyum dengan lebar kini, bahkan ia saat ini sudah seratus persen mengikhlaskan kepergian keluarganya.
"Ayah, ibu, Rian, apa kalian senang karena aku sudah benar-benar memaafkan orang yang membuat kalian seperti ini?" Gumam Satria.
Ia bahkan teringat oleh Natasya dan Mia. Orang-orang yang selalu setia bersamanya disaat ia merasa terpuruk dan hampir saja membuatnya menjadi seorang kriminal.
Satria lalu menghubungi Mia dengan ponselnya.
"Halo?" Sapa Mia. Tak butuh waktu lama untuk menghubungi gadis itu.
"Mia, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sangat padamu. Jika waktu itu kau tak ada, mungkin aku sudah menjadi seorang kriminal saat ini," ucap Satria.
Tentu saja ucapan Satria yang tiba-tiba membahas tentang masa lalu Satria itu membuat Mia bingung.
"Ada apa Satria?"
"Hari ini, akhirnya aku bisa menuntaskan keinginanmu dan ibu Natasya untuk merelakan kejadian itu seratus persen rela."
"Oh ya? Syukurlah, nyonya pasti akan senang mendengarnya. Apa yang membuatmu akhirnya bisa merelakan semua itu?"
"Tadi ayah Melisa menghubungiku dan meminta maaf atas kejadian waktu itu. Entah mengapa, meski awalnya aku merasa kesal. Namun lambat laun rasa kesal itu seakan menguap dan tak ada lagi."
"Syukurlah kalau begitu. Selamat ya Satria, aku turut bahagia mendengarnya."
__ADS_1
"Terima kasih Mia, terima kasih. Tanpamu aku mungkin tak akan ada di titik ini, aku harap semua kebaikanmu akan berbalas suatu saat nanti. Meski mungkin bukan aku yang membalasnya."
Mia hanya tersenyum mendengar ucapan Satria. Ia cukup tau diri untuk tak meminta sesuatu sebagai imbalan. Karena bagaimana pun, berkat Satria ia juga bisa merasakan mendapatkan beasiswa ke luar negeri.