Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Satu Malam Lagi


__ADS_3

Benar firasat Melisa untuk mengajak Satria makan bersamanya. Jika tidak, ia mungkin hanya akan menjadi penonton kemesraan antara Bobi dan Amanda.


Sepanjang acara makan malam, Bobi terus saja merayu dan menggoda Amanda. Meski sesekali Amanda tak memperdulikannya, namun Bobi tetap melancarkan aksinya, membuat Amanda berkali-kali tersipu malu karena rayuan Bobi.


"Liat tuh!" Melisa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan kakak sepupunya yang selalu bermanja-manja di depan Melisa.


Satria mengangguk paham. Ia lalu menggenggam tangan Melisa.


"Kamu bener udah gak sakit lagi?" Tanya Satria khawatir.


"Iya Sat, aku udah gak papa kok!" Melisa tersenyum mengetahui Satria masih memperdulikannya. "Emang kalau masih sakit, kamu mau gendong aku?"


"Iya, mau!" Satria mengangguk.


Melisa jadi tersipu malu, ia menatap Satria dengan malu-malu. Melisa menarik tangan Satria agar mendekat ke arahnya.


"Satria..."


"Mmm?" Satria menoleh ke arah Melisa.


"Kita pisah aja yuk dari mereka," bisik Melisa.


"Kenapa?"


"Aku bener-bener gak tahan, liat mereka," menatap jijik pada Bobi yang bergelayut manja pada Amanda.


"Kamu risih liat mereka berdua?"


"Bukan begitu," Melisa kembali berbisik di teling Satria. "Aku kan juga jadi mau!"


Satria terkekeh mendengar pengakuan Melisa.


"Ya udah, kan ada aku! Kamu bisa manja-manja sama aku," Satria membelai lembut pipi Melisa.


"Emang boleh?"


"Ya kalau kaya begitu aja sih aku gak apa-apa," Satria menatap lembut mata Melisa.


"Kalau lebih?"


"Lebihnya apa dulu?"


Melisa memberi kode dengan menyentuh bibirnya.


"Kalau itu masih oke," suara Satria sangat lembut di telinga Melisa. Membuat Melisa tersipu malu.


Ia akhirnya tak lagi memperdulikan kemesraan yang dipertontonkan Bobi dan Amanda. Melisa hanya ingin fokus pada Satria saat ini. Karena besok mereka akan berpisah, dan entah kapan akan mereka bisa kembali bersama.


"Eh, kita nonton yuk!" Ajak Bobi.


"Nonton? Nonton apa kak?" Tanya Satria.


"Ya apa kek, yuk kita ke bioskop!"


Mereka berempat akhirnya meluncur ke bioskop yang letaknya tak jauh dari tempat mereka makan.

__ADS_1


"Kak Bobi ngapain sih ngajak nonton segala? Mau ngapain di tempat-tempat gelap? Modus aja," gerutu Melisa.


"Ih, ya mau nonton lah. Kita kalau mau kaya gitu ngapain di bioskop? Kita bisa ngelakuinnya di hotel, ya gak sayang?" Bobi menatap Amanda dengan tatapan penuh cinta.


Amanda membalas dengan senyuman manis pada Bobi. Melisa melihat itu mendadak merasakan mual di perutnya.


"Wuek... Kalian ini bikin aku mual aja!"


"Mual? Kamu mau muntah?" Bobi menatap Melisa dengan khawatir.


"Iya!"


"Jangan-jangan kamu hamil Mel?" Bobi semakin panik.


Satria juga ikut menatap Melisa dengan khawatir.


"Ga bisa begitulah sayang, kan baru tadi malem mereka bikinnya. Masa udah langsung jadi aja?" Bantah Amanda.


"Iya kakak nih! Ada-ada aja. Aku mual karena liat kelakuan kalian berdua," jawab Melisa dengan ketus.


Bobi merasa lega, begitu juga dengan Satria.


"Kirain beneran, ya udah yuk masuk!" Bobi menggandeng tangan Amanda dan mengajaknya masuk ke dalam bioskop.


"Mel, kalau nanti kamu beneran merasa mual. Kasih tau aku ya!" Pinta Satria.


"Iya Sat, lagian kan kita baru satu kali ngelakuinnya. Masa iya udah langsung jadi aja?"


"Kita gak pernah tau Mel, pokoknya kamu harus janji buat ngasih tau aku. Enggak... Bulan depan aku yang akan ngecek kondisi kamu!"


"Tapi bulan depan kan aku udah gak di sini. Emang kamu mau pulang?"


"Oh iya, jadi beneran kamu pulang?"


"Iya dong Mel, bisa-bisa aku dicekik om Steve kalau sampai gak datang ke acara mereka berdua," Satria memegang lehernya membayangkan bagaimana Steve akan marah nanti jika ia tak datang ke pesta pernikahan orang tua angkatnya itu.


Melisa tersenyum mengetahui Satria juga akan pulang kembali ke kota A. Setau Melisa, semenjak Satria kuliah hingga saat ini, ia tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di negaranya. Melisa bahkan berpikir, Satria mungkin sudah ganti kewarganegaraan karena memang tak pernah pulang sama sekali.


Melisa dan Satria kini sudah berada di dalam bioskop.


"Kok kursi kita yang di pojok gini sih?" Protes Melisa.


"Gak tau, kan kak Bobi yang pesen," jawab Satria.


"Terus kemana itu dua sejoli yang lagi sama-sama dimabuk asmara itu?" Melisa celingukan mencari sosok Bobi dan Amanda.


"Itu mereka di ujung sebelah sana," tunjuk Satria.


"Hhh... Maksudnya apa coba?"


"Udahlah Mel, kita duduk aja yuk. Filmnya udah mau diputer kayanya," pinta Satria.


Melisa menurut, ia akhirnya ikut duduk juga di samping Satria.


"Padahal kalau nonton di bioskop tuh enak di tengah-tengah," Melisa masih menggerutu.

__ADS_1


"Gak apa Mel, di sini juga kan masih kelihatan," Satria berusaha menenangkan Melisa.


"Ya terserahlah, untung ada kamu di sini," Melisa melingkarkan tangannya di lengan Satria dan merebahkan kepalanya di pundak Satria.


"Kamu beneran mau pulang besok Mel?"


"He eh, harusnya sih hari ini. Tapi karena tadi aku masih sakit jadi aku undur besok, kenapa?"


"Kalau begitu aku bakal kangen lagi sama kamu," jawab Satria.


"Kamu kalau kangen kan tinggal telepon aku. Oh iya, kamu kan dapet beasiswa untuk lanjut kuliah. Itu mau kamu ambil?"


"Iya dong, sayang banget kalau gak diambil."


"Kamu hebat Satria, aku bener-bener bangga sama kamu," puji Melisa.


"Aku gak sehebat itu Mel, buktinya aku gak bisa jagain kamu," Satria tertunduk menyesal. Mengingat dirinya yang sudah menodai Melisa.


"Kamu emang gak mau ngelakuin itu sama aku?"


"Bukan gak mau, tapi kan gak seharusnya sekarang," Satria meralat ucapan Melisa.


"Aku gak papa Satria, lagian ini kan kemauan aku. Kamu gak perlu nyesel, aku malah jadi ikutan nyesel. Aku merasa kamu gak mau ngelakuin itu sama aku," Melisa menundukkan wajahnya. Melepaskan tangannya yang melingkar di lengan Satria.


"Aku gak nyesel Mel, aku juga seneng kok. Aku cuma khawatir kamu bisa aja hamil," Satria menggenggam tangan Melisa.


"Emang kenapa kalau aku hamil?"


"Nanti kamu bakal sakit terus selama sembilan bulan, aku gak tega liatnya."


Melisa tersipu, ia kembali melingkarkan tangannya di lengan Satria.


"Makasih Satria," ucap Melisa.


"Makasih buat?"


"Makasih karena semalam kamu udah nurutin keinginan aku, terus kamu juga masih mau jadi kekasih aku satu malam lagi," Melisa menatap Satria dengan senyum manisnya.


Satria yang tak tahan dengan wajah manis Melisa, mencium bibir Melisa sesaat.


"Kok sebentar?"


"Takut keterusan kalau lama-lama," bisik Satria.


"Aku gak papa kalau kamu mau terusin," goda Melisa.


"Kamu udah janji Mel," Satria berusaha mengalihkan perhatian dengan terus menatap layar di hadapannya.


"Janji apa?"


Satria tak mau menjawab, ia berusaha fokus pada film yang kini tengah diputar.


"Satria..." bisik Melisa tepat di telinga Satria.


Satria masih fokus menonton film.

__ADS_1


"Aku sayang kamu," Melisa kembali berbisik.


Satria akhirnya menoleh, dan dengan sigap Melisa memegang pipi Satria agar tetap menghadap dirinya. Melisa mencium bibir Satria dengan penuh nafsu.


__ADS_2