Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Menyadarkan Melisa


__ADS_3

"Nona tidak apa-apa?" Fredy benar-benar terlihat sangat khawatir.


"Hiks... ayah mana?" Melisa menangis semakin jadi melihat wajah khawatir Fredy.


Fredy memang sudah ia anggap sebagai pengganti ayahnya, karena memang ia yang selalu mengantar dan menemani Melisa kemanapun ia pergi saat dulu ayahnya masih tinggal bersama dirinya.


Fredy juga lah orang yang sering menghubungi Melisa meski sekedar menanyakan kabar. Melisa tau Fredy melakukan itu karena disuruh oleh pak Gunawan. Meski begitu, bagi Melisa sosok Fredy sendiri sudah cukup untuk menggantikan keberadaan ayahnya yang sangat sibuk.


Melihat wajah Fredy yang kini mulai panik membuat Melisa tak bisa membendung air matanya. Rasanya ia ingin segera berlari ke arah pria itu, dan memeluknya.


"Tuan Bobi, nona Melisa kenapa?" Fredy akhirnya bertanya pada Bobi. Karena Melisa tak kunjung menjawab pertanyaannya.


Bobi menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami. Semua secara detail pada Fredy. Bobi terlihat benar-benar geram. Namun ia coba untuk menahan emosinya, berusaha setenang mungkin menceritakan pada Fredy.


Fredy yang mendengarnya pun terlihat geram. Namun ia juga berusaha menahan emosinya, mendengarkan secara keseluruhan cerita dari Bobi.


"Tapi kita gak bisa ke sana sekarang, besok masih ada rapat. Apa kalian berdua bisa datang ke sini?" Tanya Fredy.


"Gimana Mel? Mau ke sana?" Bobi menoleh pada Melisa.


Melisa hanya mengangguk.


"Ya sudah sekarang ini juga kita ke sana," jawab Bobi.


"Baiklah, aku akan menunggu kalian," Fredy menutup sambungan teleponnya. Tangannya mengepal dengan keras. "Akhirnya Nyonya, kau tunjukkan jati dirimu yang sebenarnya pada anakmu."


...***...


Melisa dan Bobi sudah sampai di bandara. Pesawat mereka baru akan lepas landas jam 7 pagi. Bobi mengajak Melisa untuk istirahat sejenak menunggu keberangkatan pesawat.


Melisa yang sudah mulai tenang kini duduk bersandar di sebuah sofa ruang tunggu VIP. Mereka akan menaiki pesawat kelas bisnis.


"Mau makan dulu Mel?" Tanya Bobi.


Melisa menggeleng. "Kak..."


"Iya?" Bobi dengan sigap duduk menghadap Melisa.


"Apa ini mimpi? Ini pasti mimpi kan?" Melisa berharap apa yang baru saja terjadi bukanlah hal yang nyata.


Bobi menghela nafas panjang, ia menggenggam tangan Melisa. "Kamu harus kuat Mel, ini bukan mimpi. Ini kenyataan."


"Jadi, mamah bener-bener ga pengen aku ada di dunia ini?" Mata Melisa kembali berkaca-kaca.

__ADS_1


Bobi tak tau harus menjawab apa? Ia menatap mata gadis itu lekat, ada rasa iba dari tatapan matanya.


"Apa ibu kak Bobi juga begitu? Aku lihat ibu Satria tidak begitu. Ah, aku mau tanya kak Amanda, apa ibunya juga begitu?" Melisa mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi Amanda namun dicegah oleh Bobi.


"Ibu Amanda ga begitu Mel, ibuku juga," Bobi menjawab dengan berat.


"Jadi... cuma ibuku yang begitu?" Melisa menatap Bobi mencari jawaban dari tatapan mata laki-laki itu.


Dengan terpaksa Bobi mengangguk. "Maaf Mel, aku tau ini pasti menyakitimu. Tapi kamu harus tau yang sebenarnya."


"Kakak tau dari mana?" Akhirnya pertanyaan yang akan membuat Bobi galau keluar dari mulut Melisa. Ia tak mungkin mengatakan mendengar semua itu dari obrolan Satria dan ayahnya.


Ia pasti merasa terpukul jika tau Satria sudah mengetahui tentang ibunya lebih dulu.


"Dari ayah?" Melisa berusaha menebak karena Bobi tak kunjung memberikan jawaban.


"Ayahmu sudah pasti tau bukan?" Bobi.


"Benar, ayah pasti sudah tau..." Melisa.


"Jangan salahkan dia, ia tak mungkin memberitahukan hal ini padamu. Ayahmu sangat menyayangimu, ia tau jika kau tau tentang hal ini. Maka kau akan seperti ini, makanya ayahmu lebih memilih diam," nasihat Bobi.


Melisa mengangguk.


"Mel, aku tau karena aku memang tau. Ibu mana yang tega meninggalkan anaknya seorang diri saat ia sedang tumbuh menjadi remaja yang sangat membutuhkan sosok ibu? Lebih memilih selingkuhannya dari kamu. Ibu mana yang lebih suka anaknya tinggal sendiri dan tak punya teman dari pada bergaul dengan orang-orang di luar sana?"


"Dari sini bukannya jelas? Ibumu hanya memanfaatkan dirimu. Ia tak tulus menerima kehadiranmu di dunia ini." Bobi mencoba memilihkan jawaban untuk pertanyaan Melisa. Agar Melisa mengerti bahwa dari kacamata orang ketiga, sikap ibunya itu sudah menunjukkan ketidaksukaannya pada Melisa tanpa harus mengetahui langsung apa yang sebenarnya terjadi.


Melisa masih terlihat sangat bingung, ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. "Mamah memanfaatkan aku?"


"Mel, dengerin aku baik-baik. Dari yang aku tangkap dalam obrolan kalian tadi, wanita itu punya tujuan sendiri kenapa ia melahirkan kamu. Kamu tau apa?"


Melisa menggelengkan kepalanya.


"Dia butuh anak agar dapat kepercayaan dari orang tuanya mengurus yayasan Puspa Tunggal." Bobi.


"Kenapa begitu?" Tanya Melisa tak mengerti.


"Karena dengan memiliki anak, itu artinya pernikahan mereka serius. Dan dengan adanya kamu, ibumu memiliki hak waris terbesar," Bobi mencoba menjelaskan pada Melisa.


"Kalau aku tak ada?" Melisa.


"Kemungkinan akan jatuh ke tangan orang lain," jawab Bobi asal.

__ADS_1


Melisa kembali menggelengkan kepala, gadis itu benar-benar tak paham bagaimana mungkin keadaan bisa menjadi seperti ini.


Yang ia tau, kedua orang tuanya sibuk sehingga tak ada waktu untuk mengunjunginya.


Yang ia tau, kedua orang tuanya tak saling mencintai sehingga mereka memutuskan untuk pergi bersama orang yang mereka cintai.


Dan semua itu tak masalah bagi Melisa. Karena ia selalu meyakinkan dirinya bahwa kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ia tak pernah sekalipun berpikir, kebaikan yang ia terima selama ini dari orang tuanya hanyalah sebuah kamuflase untuk kepentingan mereka.


"Mel," Bobi menyadarkan Melisa dari lamunannya.


"Jadi mamah bener-bener ga sayang sama aku?" Melisa dengan lemah bertanya pada Bobi.


Bobi mengangguk.


Melisa menghapus air matanya. Ia manarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan dirinya.


"Jadi begitu?" Melisa menoleh ke arah Bobi dan menatap tajam pada Bobi.


Bobi yang melihat perubahan ekspresi Melisa perlahan menjauhkan diri.


"Baiklah, ayo kita pulang," ajak Melisa.


"Pulang?" Tanya Bobi tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Iya, ayo kita lihat. Sampai mana wanita itu akan memanfaatkan aku," Melisa melangkah pergi meninggalkan Bobi.


Bobi segera menyusul Melisa keluar dari ruang tunggu.


"Mel, kamu baik-baik aja?" Tanya Bobi khawatir.


Melisa tak menjawab, dari tatapan matanya terlihat sekali ada rasa sakit bercampur marah di sana.


"Mel..." Bobi menghentikan langkah kaki Melisa.


Melisa masih menatap tajam mata Bobi, membuat nyali Bobi menciut seketika. Namun ia berusaha memberanikan diri memegang tangan Melisa.


"Kamu ga papa Mel?" Bobi.


"Mmm... Sekarang aku sadar kak, apa arti diriku bagi mamah," Melisa kembali mengusap sisa-sisa air mata diwajahnya. "Aku tak perlu menangisi ini, aku tak perlu takut menyakiti orang yang tak pernah menyayangiku," ucap Melisa tegas.


"Iya, tapi... tiketnya..." Melisa tak menggubris ucapan Bobi. Ia melanjutkan langkah kakinya keluar dari bandara.


Bobi menoleh ke arah loket pembelian tiket, "sampai jumpa dua ratus juta," Bobi melambaikan tangannya sambil berjalan menyusul Melisa.

__ADS_1


__ADS_2