Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Saingan Terberat


__ADS_3

Setelah kepergian Steve, Satria mengecek wajah Natasya. Ia juga melihat sekujur tubuh Natasya yang penuh luka benturan. Baju yang dikenakan Natasya sudah sobek di sana sini. Satria berdiri mengambil selimut di dalam lemari, lalu melilitkannya di tubuh Natasya.


Satria lalu membopong Natasya menuju kamar depan. Melisa terus mengamati keduanya, ia juga membuntuti Satria yang membawa ibunya ke kamar depan.


Setelah membaringkan Natasya di atas ranjang. Satria keluar kamar, ia melihat Melisa berdiri tepat di hadapannya.


"Bantu ibumu mengganti pakaiannya," pinta Satria.


"Tidak mau!" Jawab Melisa ketus.


"Haruskah aku yang menggantinya?" Satria menatap tajam pada Melisa. Baru kali ini Melisa mendapat tatapan tajam seperti itu dari Satria.


"Baiklah, jika kau suka aku melihat tubuh polos ibumu," Satria hendak membalikkan badan kembali ke kamar. Namun Melisa segera mencegahnya.


"Biar aku saja!"


Satria menghela nafas panjang. Ia lalu membiarkan Melisa masuk ke kamar. Saat berjalan melalui Satria, Melisa berhenti sejenak.


"Apa kau tak pernah melihat tubuh polos ibuku?" Melisa menatap curiga.


"Haruskah?" Satria balik bertanya.


Melisa tak menjawab, ia mendorong tubuh Satria agar keluar dari kamar itu. Melisa lalu menutup pintu rapat-rapat. Setelah di dalam, Melisa menatap sinis pada ibunya yang terbaring di atas ranjang.


"Mana Satria?" Tanya Natasya.


Melisa tak menjawab ia berjalan menuju lemari pakaian yang ada di ruangan itu. Namun saat ia membuka lemari tersebut, betapa terkejutnya ia karena semua yang ada di sana adalah pakaian pria.


"Dimana bajumu?" Tanya Melisa ketus.


"Di kamar belakang," jawab Natasya santai.


"Lalu baju siapa ini?" Melisa menunjuk isi lemari yang penuh dengan baju pria.


"Baju Satria," jawab Natasya santai.


Melisa terlihat semakin marah, namun ia mencoba meredam emosinya.


"Apa Satria juga tidur di rumah ini?"


"Tidak pernah, meski aku selalu mengharapkannya," jawab Natasya.


"Kenapa mamah seperti ini? Apa mamah tidak malu, memiliki hubungan dengan laki-laki yang sebaya denganku?" Melisa menatap dingin ke arah Natasya.

__ADS_1


Natasya tak memperdulikan tatapan Melisa. Ia melepas pakaiannya yang sudah compang camping itu. Kini ia hanya menggunakan pakaian dalam. Lalu Natasya berdiri hendak berjalan menuju pintu kamar.


"Mamah mau kemana?" Dengan gerakan cepat Melisa menarik lengan Natasya.


"Aku mau mengambil bajuku di kamar belakang," jawab Natasya.


"Hanya dengan pakaian itu?" Melisa menatap ibunya tak percaya.


"Kenapa?"


"Mah, di depan ada Satria. Apa mamah tidak malu?"


"Malu? Kenapa harus malu? Aku masih memakai pakaian dalam," jawab Natasya enteng.


Melisa yang kesal meminta Natasya untuk tetap menunggu di kamar. Biar ia yang mengambil pakaian Natasya di kamar belakang.


Melihat Melisa sudah keluar kamar, Satria segera menghampiri Melisa.


"Kau sudah mengganti pakaian ibumu?" Tanya Satria.


"Baju ibuku ada di kamar belakang, kenapa kau membawanya ke kamar depan?" Tanya Melisa sinis.


"Aku tidak tau," jawab Satria. Ia mengikuti Melisa yang berjalan menuju kamar belakang.


"Satria," langkah Melisa terhenti saat mereka sudah berada di dalam kamar.


"Kenapa kau melakukan ini padaku? Benarkah kamu dan ibuku..." Melisa tak sanggup melanjutkan ucapannya. Matanya sudah mulai berkaca-kaca.


Melihat Melisa yang hampir menangis, Satria menjadi tak tega. Padahal ia sudah meyakinkan diri tak mau dekat dengan Melisa dulu untuk saat ini. Meski ada sedikit rasa cemburu saat melihat Melisa bersama Dion, namun ia menahannya. Satria bertekad akan mendatangi Melisa saat ia sudah selesai belajar di luar negeri nanti.Ia bertekad akan membuka diri pada Melisa jika ia sudah sukses nanti.


Namun melihat air mata yang jatuh di pipi Melisa, hati Satria sangat tersiksa. Ia tak sanggup melihat gadis yang dicintainya itu menangis.


Satria menarik Melisa dalam dekapannya.


"Maafkan aku Mel, seharusnya aku mengatakan padamu dari awal. Tapi entah mengapa aku takut kau tak mau mendukungku. Aku dan ibumu benar-benar tak mempunyai hubungan istimewa, bagiku ini semua hanyalah bisnis. Ibumu berinvestasi padaku, agar aku bisa kuliah di luar negeri. Aku tau, ia membantuku karena ingin sekolahnya mendapat reputasi yang bagus hingga bisa membuat salah satu muridnya mendapat beasiswa di unversitas ternama, hanya karena itulah ibumu membantuku," Satria berusaha menjelaskan pada Melisa.


Melisa yang berada dalam pelukan Satria mendongakkan kepalanya.


"Jika memang begitu, kenapa hanya kau seorang? Kenapa tidak Mia? Bukankah Mia yang mendapatkan peringkat pertama?"


Satria terdiam. Melisa benar, harusnya Mia yang mendapat fasilitas istimewa ini. Bukan dirinya.


"Ibuku menyukaimu Satria," Melisa masih menatap mata Satria.

__ADS_1


"Tapi kami tak melakukan apa-apa di tempat ini. Ibumu hanya memantau aku belajar, hanya itu. Ibumu mengawasiku agar aku bisa belajar dengan baik, karena sainganku bukan hanya dari kota atau negara yang sama. Tapi dari seluruh dunia Mel. Banyak orang-orang cerdas dan jenius di sana yang akan menjadi sainganku nanti," Satria meyakinkan Melisa jika ia dan Natasya hanya hubungan sebatas murid dan pemilik yayasan.


Melisa melepaskan pelukan Satria.


"Aku tau Satria, aku percaya kamu. Tapi aku tak percaya ibuku," Melisa melangkahkan kaki mendekati lemari. Ia mengambil pakaian Natasya setelah memilih beberapa yang dirasa pantas untuk di pakai saat ada Satria di sini.


Melisa kembali ke kamar depan, sedangkan Satria masih berada di kamar belakang. Ia memandangi setiap sudut kamar yang sangat berantakan. Satria merapihkan kamar itu, membuang pecahan kaca dan menyusun kembali barang-barang yang berserakan di lantai.


Di kamar depan, Melisa sudah memberikan pakaian yang dibawanya kepada Natasya. Natasya baru saja merapihkan rambutnya. Luka di bibirnya juga sudah ia obati.


"Apa yang mamah mau dari Satria? Bukankah mamah tidak menyukainya karena dia dari keluarga tidak mampu? Kenapa sekarang mamah memperlakukan dia seperti ini? Apa yang mamah inginkan dari Satria?" Melisa menatap nanar pada ibunya.


"Ya, aku memang tak menyukainya karena dia dari kalangan rendah. Tapi dia sangat menggemaskan, dia begitu polos dan lugu. Tapi pendiriannya sangat kuat, ia tak mudah tergoda. Untuk itulah aku membantunya, aku akan membuat Satria memiliki derajat yang sama denganku," Natasya mendekati Melisa setelah selesai mengenakan pakaiannya.


Sebuah dress berwarna putih dengan lengan panjang, dan panjang dibawah lutut. Namun Melisa tak mengira pakaian yang dipakai ibunya itu terlalu ketat. Lekuk tubuh Natasya terpampang dengan sangat jelas.


"Kau mau merebut Satria dariku?" Melisa memandang ibunya dengan jijik.


"Kasar sekali bahasamu Mel. Aku bukan ingin merebutnya, aku hanya akan mengalihkan perhatiannya," Natasya berjalan menuju pintu kamar, meninggalkan Melisa yang masih berdiri mematung.


Natasya mencari keberadaan Satria, laki-laki itu masih belum selesai merapihkan kamar belakang. Natasya lalu mendekati Satria.


"Kau tak perlu membereskannya, biar nanti pelayan yang melakukannya," ucap Natasya.


Satria menoleh ke arah Natasya.


"Ini sudah hampir selesai nyonya," Satria memalingkan wajahnya melihat pakaian Natasya yang sangat ketat.


Selesai merapihkan kamar, Satria hendak pamit untuk pulang.


"Sebaiknya anda memeriksa tubuh anda ke rumah sakit," pinta Satria.


"Kau tak ingin mengobatiku? Ini sakit sekali," Natasya mencoba bersikap manja pada Satria. Melisa melihat itu dengan sangat jijjk dari ruang tengah.


"Maaf nyonya, ini sudah sangat larut. Ibu saya pasti khawatir karena saya belum pulang," Satria membungkukkan badannya. "Saya permisi nyonya."


Satria berlalu meninggalkan Natasya yang kini sudah berdiri di depan pintu kamar. Ia mengajak Melisa untuk pulang bersamanya.


"Ayo Mel, kamu mau pulang bareng aku?" Tanya Satria.


Melisa hanya mengangguk. Ia mengikuti langkah kaki Satria menuju pintu keluar rumah.


"Melisa..." Panggil Natasya saat mereka hampir keluar rumah.

__ADS_1


Natasya berjalan menghampiri Melisa, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Melisa.


"Aku tak peduli kau anakku, mulai hari ini kau adalah sainganku," bisik Natasya di telinga Melisa.


__ADS_2