Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Yang Tak Gunawan Tau


__ADS_3

Di dalam mobil, Gunawan menghubungi seseorang yang ia percaya untuk memata-matai Melisa saat Melisa kuliah di luar negeri.


"Selamat siang tuan," jawab seseorang di seberang sana.


"Hei, apa kamu melewatkan sesuatu saat memata-matai Melisa?" Tanya Gunawan dengan nada penuh emosi.


"Melewatkan apa tuan?"


"Apa kau yakin tak meninggalkan Melisa barang sedetik pun?"


"Saya yakin tuan, kami secara bergantian mengintai di depan rumah nona. Kami yakin tak melewatkan sesuatu hal pun."


"Ya sudah, aku percaya kalian," Gunawan memutus sambungan telepon.


"Kurang ajar dia, berani-beraninya memfitnah anakku yang bukan-bukan. Jika dia berani menunjukkan wajahnya sekali lagi di hadapanku, akan ku habisi dia."


Gunawan dengan amarah yang memuncak segera melajukan kendaraannya dengan cepat. Ia butuh sesuatu untuk melampiaskan amarahnya saat ini.


Silvana.


Ya Silvana satu-satunya yang bisa meredakan emosinya yang tengah menggebu-gebu saat ini.


Di lain tempat, di sebuah desa terpencil masih di kota yang sama.


Segerombolan pria sedang menikmati sebuah pesta, mereka minum-minum dengan beberapa wanita cantik dan juga seksi. Suara gemuruh musik membuat suasana pesta semakin meriah.


Salah seorang yang sepertinya bos mereka datang mendekat, pria itu lalu mematikan musik agar semua orang tertuju padanya.


Dan benar saja, semua orang menoleh ke arahnya.


"Kenapa dimatikan bos?"


"Hey, selama kalian menjaga nona Melisa, apa kalian yakin tidak pernah meninggalkannya barang sedetik pun?"


"Tentu saja tidak!" Jawab anak buahnya kompak.


Namun diantara para laki-laki itu, ada seseorang yang tampak ragu. Dan si bos menyadari hal itu. Si bos lalu menghampiri si pria yang ragu tadi, lalu mencengkram kerah bajunya.


"Apa kau melewatkan sesuatu?" Tanyanya dengan mata merah menyala.


"Eh... itu... Mmm..."


"Cepat katakan!" Bentaknya.


"Sebenarnya, di malam sebelum nona pulang aku sempat pergi meninggalkan rumah nona," takut-takut pria itu menceritakan apa yang ia alami malam itu.


"Lalu tiba-tiba perutku terasa sakit, aku sebelumnya memastikan bahwa nona sore itu ada di rumah dan sedang berkemas. Aku pikir ia tak kan pergi kemana-mana."


"Lalu? Kau tinggalkan tempatmu berjaga?"


"Iya bos, maafkan saya!" Ucapnya dengan suara lantang.


"Cih, lalu apa yang terjadi?"


"Aku pergi, namun hanya sekitar satu jam saja. Dan kembali saat hari sudah gelap. Namun lampu di kamar nona mati, saya pikir nona pasti sudah tertidur. Saya tak meninggalkan tempat sampai waktu tugas saya selesai."

__ADS_1


"Hanya itu? Apa tidak ada yang aneh?"


"Sebenarnya, saat mengetahui nona sudah tertidur. Saya pun ikut tertidur, saat itu saya merasa sangat mengantuk. Dan saat saya bangun di pagi hari, di rumah nona sudah ada tuan Bobi dan nona Amanda."


"Hanya mereka berdua?"


"Tidak tuan, ada Satria juga. Saat itu saya pikir tuan Bobi yang mengajaknya," jawab si pria dengan wajah tertunduk.


Bugh...


Satu bogem mentah melayang ke wajah pria itu.


"Bodoh! Jadi kau tak tau apapun yang terjadi semalaman?"


"Tapi saya yakin, nona sudah tertidur," jawab si pria dengan yakin.


"Bodoh, dari mana kau tau dia tidur? Bisa saja dia tidak ada di rumah malam itu!"


Si pria yang semula yakin kini mulai merasa ragu.


"Dengar, jika sampai ada satu hal yang terlewatkan akibat kecerobohan mu itu, habislah kita semua!" Ancam si bos pada pria itu.


"Sudahlah bos, lagi pula nona Melisa baik-baik saja kan?" Ucap salah seorang anak buahnya


"Benar bos, sudahlah ayo kita lanjutkan pestanya. Pesta hasil dari memata-matai nona Melisa selama empat tahu ini," ucap yang lainnya.


Mereka lalu kembali menyalakan musik dan melanjutkan pesta dengan meriah. Tanpa tau apa yang terjadi malam itu pada Melisa dan Satria.


...***...


Sore hari, sesuai janji. Satria datang ke kantor Melisa untuk menjemputnya pulang kerja.


"Kamu sudah pulang?" Tanya Satria.


"Mmm..." Melisa mengangguk.


"Ya sudah, ayo kita pulang!"


"Nanti dulu, temani aku belanja baju di mall. Aku kan tidak punya baju ganti di sana. Ini saja aku pakai baju ibuku."


"Ya sudah, ayo!"


Melisa tersenyum, ia lalu menaiki motor gede itu dan memakai helm di kepalanya.


"Sudah siap?" Tanya Satria.


"Siap! Ayo kita berangkat!" Seru Melisa.


Satria perlahan melajukan motornya.


Fredy yang melihat adegan itu hanya bisa menghela nafas.


"Nona, anda sepertinya sudah bosan hidup. Kenapa anda pergi bersama dengan orang yang tuan benci?" Gumam Fredy.


Tiba di mall, setelah memarkirkan motornya, Satria dan Melisa masuk ke dalam mall dengan bergandengan tangan.

__ADS_1


Melisa memilah-milah baju yang akan ia beli, sementara Satria hanya setia menemaninya di belakang Melisa.


"Menurutmu bagaimana? Yang ini bagus?" Tanya Melisa sambil mencoba sebuah pakaian di depan Satria.


"Cocok," jawab Satria singkat.


"Kalau yang ini?" Melisa mengambil yang lainnya.


"Cocok," jawan Satria lagi.


Melisa mengambil beberapa baju dan memperlihatkan pada Satria.


"Yang mana yang paling cocok denganku?"


Satria berpikir sejenak.


"Semuanya cocok," jawab Satria.


"Kenapa kamu hanya mengatakan cocok dan cocok saja? Kamu tak suka menemani aku belanja?" Gerutu Melisa.


"Aku suka, hanya saja bagiku, kamu itu sangat cantik. Jadi pakai baju apapun pasti cocok," goda Satria.


"Sejak kapan kamu pandai merayu?" Melisa tersipu malu mendengar rayuan Satria.


"Sejak saat ini," Satria melempar senyum manisnya pada Melisa. Membuat hati Melisa semakin berbunga-bunga.


"Lalu, apa aku juga cocok pakai baju ini?" Melisa menunjukkan sebuah baju tidur yang sangat minim dan transparan ke hadapan Satria.


"Cocok," wajah Satria mulai memerah.


"Benarkah? Apa kau membayangkan aku memakainya?"


"Tidak, aku kan sudah bilang, baju apapun akan cocok denganmu," Satria mengalihkan pandangannya.


"Benarkah? Tidakkah kamu ingin melihat aku memakai baju ini?" Goda Melisa.


"Apa kamu mau membelinya?" Satria seketika panik.


"Kenapa? Tidak boleh?"


"Mel, di rumahkan sekarang ada om Steve. Kamu yakin mau memakai pakaian seperti ini di depannya?" Satria masih panik saat tau Melisa mau membeli pakaian minim bahan itu.


"Aku kan bisa pakai saat di kamar saja, dan saat keluar aku bisa pakai ini untuk menutupinya," Melisa menunjukkan baju penutup yang seperti kimono itu pada Satria.


"Tapi kan tetap saja," Satria masih menolak Melisa membeli pakaian itu.


"Pokoknya aku akan tetap membelinya," Melisa tersenyum melihat Satria yang gelagapan karena ia tetap bersikukuh untuk membeli pakaian itu.


"Buat apa Mel?"


"Buat ditunjukkan ke kamu dong!"


"Apa yang mau kamu tunjukkan?"


"Menurutmu?"

__ADS_1


"Aku kan sudah pernah lihat semuanya," wajah Satria semakin memerah. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini.


"Siapa tau kau mau melihatnya lagi," Melisa tersenyum melihat wajah merah Satria. Ia berjalan menuju kasir dan membayar semua baju yang sudah ia borong itu.


__ADS_2