
Melisa merasa khawatir karena tak kunjung melihat kehadiran Satria. Mia adalah murid terakhir yang Melisa lihat keluar dari gedung sekolah. Melisa merasa sedikit menyesal kenapa ia tidak bertanya pada Mia kemana Satria saat ini.
Apa mungkin ia dipanggil karena akan dipindah kelas? Atau mungkin ia dipanggil karena diminta untuk menjauhi dirinya? Atau mungkin saat ini Satria sedang diancam oleh orang suruhan ibunya?
Belum selesai Melisa berpikir, sebuah mobil yang ia tau itu adalah mobil milik ibunya melintas dihadapannya. Tapi saat itu ia hanya melihat sekertarisnya yang keluar dari dalam mobil.
Kemana ibunya? Melisa semakin dibuat tak tenang dengan kehadiran Sekertaris ibunya.
Sebelum Melisa melangkahkan kaki untuk masuk kembali ke dalam gedung sekolah, menyusul sekertaris ibunya. Sosok Satria sudah keluar dari dalam gedung. Sontak Melisa berlari menghampiri Satria.
"Kenapa lama?" Tanya Melisa khawatir.
"Ada pengarahan tambahan," jawab Satria sengaja berbohong pada Melisa.
"Pengarahan apa? Yang lain sudah keluar dari tadi," Melisa melihat Satria dengan curiga.
Satria menghela nafas, ia berpikir apa yang harus ia katakan pada Melisa. Tak mungkin ia berkata jujur tentang pertemuannya dengan bu Natasya. Tapi di sisi lain ia memang tak bisa membohongi Melisa.
"Aku capek, yuk kita pulang," ajak Satria berusaha mengalihkan pembicaraan.
Melisa semakin curiga, ia berjalan mengikuti Satria ke arah parkiran motor.
"Apa kau diancam?" Tanya Melisa langsung pada intinya.
"Engga Mel, aku ga diancam," Satria berkata jujur.
"Lalu?" Melisa masih belum menyerah.
"Nanti saja," Satria menutup mulutnya rapat-rapat. Bukan ia tak mau memberitahu apa yang baru saja terjadi, tapi ia bingung bagaimana menjelaskannya pada Melisa.
Sepanjang jalan pulang, mereka berdua hanya diam. Yang satu sibuk berpikir cara menyampaikan, dan yang satunya sibuk berpikir tentang apa yang baru saja terjadi.
Sampai di rumah Melisa, mereka disambut oleh Bobi.
"Ayo mampir dulu Sat," pinta Bobi.
"Makasih kak, hari ini jadwal aku cuci baju," Satria menolak.
"Kalau gitu harusnya kamu bawa aku ke rumahmu saja," Melisa menggerutu.
"Ga papa, ga banyak juga kok," Satria menenangkan Melisa. "Ya udah, aku pulang dulu ya."
Setelah pamit, Satria beranjak pulang menuju rumahnya.
"Kalian berantem?" Tanya Bobi pada Melisa.
"Engga," Melisa menggelengkan kepala.
"Tapi kok, kaya ada yang aneh. Apa perasaan gue aja ya?" Gumam Bobi.
__ADS_1
Tentu saja gumaman Bobi itu terdengar di telinga Melisa.
"Bahkan kak Bobi juga merasakannya," batin Melisa.
Sampai di rumah, Satria segera memberi salam pada ibunya yang saat itu sedang dikerumuni banyak pelanggan.
Setelah menyapa beberapa tetangga yang sedang mengantri, Satria masuk ke dalam rumah. Di dalam kamar, Satria segera merebahkan diri di atas kasur.
Sebenarnya hari ini bukan jadwal mencuci, semua cucian sudah ia selesaikan kemarin. Satria terpaksa berbohong agar bisa segera pulang menghindari pertanyaan-pertanyaan dari Melisa.
Satria membuka ponselnya, ponsel yang baru ia lunasi beberapa hari yang lalu. Melisa sebenarnya menolak, tapi Satria memaksa dan mengancam akan mengembalikan ponsel Melisa jika Melisa tak mau menerima uangnya.
Satria mencari nama Bobi di daftar kontak. Ia lalu mengetik pesan pada Bobi.
'Kak, bisa ke rumah sebentar ga? Tapi jangan kasih tau Melisa.'
Pesan sudah terkirim.
Dan tak lama ponselnya berdering. Bobi menelpon.
"Ada apa Sat?" Terdengar suara Bobi di seberang sana.
"Kak, Melisa mana?" Tanya Satria.
"Tenang aja, dia lagi ada di kamarnya kok. Ada apa?" Bobi.
"Kak, ke rumah ya. Biar aku cerita di rumah aja," pinta Satria.
"Jangan bilang-bilang Melisa," Satria mengingatkan.
"Oke siap," jawab Bobi.
Setelah mematikan ponselnya, Bobi bergegas keluar rumah tanpa berpamitan dengan Melisa. Bobi hanya mengirim pesan singkat yang mengatakan ia keluar sebentar karena ada sesuatu yang harus diurus.
Sampai di rumah Satria, Bobi segera masuk ke dalam rumah setelah sebelumnya memberi salam pada bu Lastri dan beberapa tetangga yang membeli dagangan bu Lastri.
"Ada apa?" Bobi menghampiri Satria yang masih merebahkan diri di atas kasur.
"Kak..." Satria menceritakan kejadian yang baru saja dia alami tadi di sekolah. Mulai dari kejanggalannya yang mendapat kelas yang sama dengan Melisa. Hingga pembicaraannya dengan bu Natasya.
Selama mendengarkan cerita Satria Bobi hanya mengangguk dan sesekali menyeringai. Ia tak percaya jika tantenya itu sedang dalam masa penyesalan kini. Yang ada dipikiran Bobi adalah tantenya memiliki rencana tersembunyi dengan memanfaatkan kedekatan Satria dengan Melisa.
"Kesimpulan gue nih, tante Natasya tuh ga mau pisah karena cuma pengen hartanya om Gun aja. Lu tau kan sekaya apa itu ayahnya Melisa?" Bobi mengungkapkan pendapatnya pada Satria.
"Bisa jadi sih kak, tapi bukan itu yang mau aku bahas," Satria.
"Trus apa?" Bobi.
"Kalau masalah itu, kan bukan ranah aku untuk membahasnya. Aku cuma mau Melisa bisa memperbaiki hubungan dengan ibunya," ungkap Satria.
__ADS_1
Bobi menggelengkan kepalanya, "mustahil, Melisa sudah terlanjur kecewa."
"Apa Melisa tak mungkin memaafkan ibunya?" Satria.
Bobi menghela nafas, "lu pikir gampang memaafkan orang yang udah membuang lu waktu kecil? Kita tau, wanita itu tak pernah terlihat tulus pada Melisa. Ia hanya datang jika ada maunya, semua demi kepentingannya."
Bobi benar-benar merasa emosi saat ini.
"Apa kakak juga segitu bencinya?" Satria.
"Tentu saja, gue udah lihat bagaimana Melisa menderita sejak kecil. Saat semua temannya pergi wisata dengan ayah atau ibunya, Melisa hanya datang bersama Fredy. Om Gun saja yang sibuknya luar biasa bisa menyempatkan waktunya untuk berlibur dengan Melisa, tapi tante Natasya?"
"Sudahlah Sat, menyerah saja. Relakan saja beasiswamu. Bukankah di sekolah lain kau juga bisa dapat beasiswa?" Bobi.
"Ini bukan masalah beasiswaku kak, aku melakukan ini karena tak ingin Melisa bermusuhan dengan ibunya," Satria.
Bobi mengangguk, "kalau begitu kenapa lu gak ngomong langsung aja sama Melisa? Kenapa lu malah membahas ini sama gue?"
"Aku mau minta saran kakak dulu, karena jujur aku juga bingung harus mulau bahas dari mana?" Satria.
"Tadi dia tau ga lu abis ketemu ibunya?" Bobi.
"Engga kak," Satria.
"Ya udah mulai dari situ aja," Bobi.
"Dari mana?" Satria.
Bobi menepuk pundak Satria, "Sat, ga usah bingung. Lu tinggal ceritain aja sama kaya tadi lu cerita ke gue."
Satria memikirkan perkataan Bobi.
"Semudah itu?" Satria.
"Iya, kenapa lu bingung?" Bobi.
"Aku takut Melisa akan marah jika menyinggung soal ibunya," Satria.
"Dia mungkin marah, tapi dia kan marah ke ibunya. Bukan ke elu," Bobi.
"Benar," gumam Satria.
"Ya udah, saran gue lu cepet kasih tau Melisa. Jangan sampe dia tau lu ketemu ibunya dari orang lain," Bobi memberi saran pada Satria.
Satria mengangguk, ia berniat akan memberi tahu Melisa malam ini juga.
"Apa aku bisa ikut kakak ke rumah?" Satria.
"Mau sekarang? Ya udah ayo, tapi ganti baju dulu dong. Bau, belum mandi kan lu?" Bobi memencet hidungnya.
__ADS_1
Satria hanya tersenyum, "tunggu ya kak, aku mandi dulu."