
Satria dan Melisa.
Dua sejoli ini sedang sangat sibuk saat ini. Tak hanya karena status mereka sebagai pemimpin perusahaan, melainkan juga karena keduanya tengah mempersiapkan acara pernikahan mereka yang akan di gelar empat kali dalam waktu tujuh hari.
Hari pertama adalah upacara pernikahan mereka, yang akan di selenggarakan di luar negeri tempat Gunawan berada.
Acara itu akan dihadiri oleh keluarga inti Melisa saja, dan beberapa rekan Gunawan yang juga berada di negara itu.
Beruntungnya Widia, adik tiri Melisa bersedia membantu mencarikan jasa penyelenggara pesta terbaik di negara itu. Sehingga Melisa dan Satria tak perlu repot-repot untuk bulak-balik ke luar negeri hanya untuk mengurus acara pernikahan mereka.
Hari kedua, Melisa dan Satria akan kembali ke negara mereka dan langsung menuju kota B untuk melangsungkan resepsi pernikahan di kota kelahiran Satria itu.
Satria sudah meminta bantuan kepada semua sepupu, paman, dan juga bibinya untuk bisa membantu mempersiapkan acara agar berjalan dengan baik.
Untuk acara di kota B, Satria tak menyewa jasa penyelenggara pesta. Semua ia serahkan kepada pihak keluarga besarnya yang memang sudah terbiasa mengurus pesta pernikahan mereka sendiri.
Tentu saja hal itu mempermudah urusan Satria, ia tak harus bulak-balik juga ke kota B untuk mengurus persiapan pesta pernikahan dihari ketiga.
Untuk pesta yang kedua ini, Satria akan mengundang seluruh keluarga besarnya. Teman-teman sekolahnya sejak SD, SMP, bahkan SMA. Meski ia sendiri tak sempat lulus dari SMA di kota B, karena harus pindah ke kota A.
Setelah acara nantinya selesai di kota B, yang rencananya akan digelar hingga malam hari. Mereka akan kembali ke kota A.
Hari kelima, pesta yang sangat meriah akan diadakan di sana. Karena di kota inilah ada banyak sekali Melisa dan Satria bertemu.
Mereka akan mengundang teman-teman satu angkatan mereka, para guru dan juga staf sekolah.
Terlebih karena Satria yang kini menjabat sebagai pemimpin Yayasan Puspa Tunggal. Tentu saja ia akan mengundang seluruh jajaran guru dan staf dari yayasan tersebut.
Satria juga mengundang karyawan dari agensi yang ia pimpin. Begitupun Melisa, ia juga akan mengundang seluruh karyawan Laksmana Grup.
Untuk acara kali ini, Melisa mempercayakan segala urusan pada Bobi dan Amanda. Sementara masalah tamu undangan yang jumlahnya sangat banyak nanti, Satria memberi kepercayaan pada Mia untuk mengurusnya.
Pesta di kota A juga akan diadakan hingga malam hari.
Dihari ke tujuh, untuk pesta penutupan. Satria dan Melisa memilih desa dimana Steve tinggal sebagai akhir dari acara mereka.
Tentu saja pesta itu hanya akan dihadiri Steve dan juga warga sekitar.
Satria dan Melisa memberikan mandat kepada Arya dan para pemuda pemudi desa untuk mempersiapkan pesta pernikahan mereka.
__ADS_1
Rencananya pesta akan diadakan secara sederhana di siang hari.
"Ini pasti sangat melelahkan," ucap Melisa.
"Setidaknya kita bisa mengundang semua orang, dan mereka bisa datang," balas Satria.
"Kamu benar," Melisa dan Satria kini berada di sebuah kafe.
Karena ini malam minggu, jadi kafe masih buka hingga tengah malam.
Waktu saat ini menunjukkan pukul sebelas malam, keduanya masih betah membahas acara pernikahan mereka.
"Aku tak menyangka pada akhirnya cita-citaku untuk menjadi istrimu bisa terwujud," Melisa tersenyum manis pada Satria.
"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya," goda Satria.
"Apa sih?" Melisa tersipu malu.
Satria malah tertawa melihat wajah Melisa yang merah merona.
Tak lama kemudian, Bobi dan Amanda muncul di dalam kafe.
"Kalian sudah lama menunggu?" Tanya Amanda.
"Maaf, tadi kami menunggu anak kami hingga tertidur dulu. Maklum saja, kalau dia lihat kita pergi pasti pingin ikut juga," lanjut Amanda.
"Tak apa, kenapa tidak diajak saja kak? Padahal kami rindu pada Cassie, sudah lama tak bertemu," ucap Satria.
"Aduh, kalau diajak kita gak akan bisa fokus ngobrol nanti. Cassie itu lagi aktif-aktifnya, dia bener-bener ga bisa diem," tambah Bobi.
"Kak Bobi dan kak Amanda pasti kewalahan ya mengasuh Cassie?" Tanya Melisa.
"Aku sih engga, Manda aja nih yang ngeluh terus," jawab Bobi.
"Iyalah, kamu kan jarang pulang. Kalau pulang cuma minta jatah terus pergi lagi," gerutu Amanda.
"Ya mau bagaimana lagi? Itu kan karena sekarang aku sedang dinas di luar kota. Kamu sendiri juga gak mau aku ajak pindah ke sana," keluh Bobi.
Bobi dan Amanda saling berseteru, membuat Satria dan Melisa jadi tak enak hati karena mengajak mereka berdua bertemu malam ini.
__ADS_1
"Kak, kalau kalian sibuk, nanti untuk persiapan pernikahan biar Mia saja yang urus," ucap Satria.
"Eh, jangan. Kita gak apa-apa kok, Bobi kan emang gitu dia suka ngeselin aja tiba-tiba," ucap Amanda.
"Yang bener kak, kita jadi ngerasa gak enak nih kalau pernikahan kita malah bikin kalian bertengkar," sambung Melisa.
"Gak usah merasa tidak enak, Amanda tuh emang obsesi kepengen banget nyiapin pesta buat kalian berdua. Lagian kalian kaya gak pernah liat kita berantem aja," ucap Bobi.
Memang Amanda dan Bobi sering kali terlibat pertengkaran. Meski keduanya sudah menikah dan dikaruniai seorang putri kecil yang cantik dan lucu. Namun keduanya tak pernah luput untuk saling cekcok ini dan itu.
Walau pertengkaran seringkali hadir menghiasi kehidupan rumah tangga Amanda dan Bobi, namun keduanya tak pernah ada niatan untuk berpisah.
Ketika bertengkar dan saling menjauhkan diri, tak lama mereka pasti akan saling merindukan satu sama lain.
Bobi, meskipun jauh dari Amanda. Ia tak pernah sekalipun berpikir untuk menduakan Amanda.
Begitu pun Amanda, tak pernah ada sekalipun niat dalam hatinya untuk berpisah dari Bobi.
Dan benar saja, semenit kemudian Bobi dan Amanda sudah kembali mesra. Mereka terlihat saling menyuapi makanan ringan yang tersedia di meja.
"Mereka tuh emang aneh, sebentar berantem sebentar akur," bisik Melisa di telinga Satria.
"Kalau kita?" Tanya Satria.
"Kalau kita ya gak perlu lah ada berantem-berantem segala. Gak berantem aja aku udah sering kangen sama kamu, apalagi kalau berantem?"
"Kenapa memang kalau berantem?"
"Aku gak akan kuat menahan rindu. Kalau berantem kan kita pasti saling diem, dan aku gak akan bisa," jawab Melisa.
Satria tersenyum, ia mengacak-acak rambut Melisa dengan penuh kasih sayang.
"Iiihhh... Satria, kan jadi berantakan rambut aku," keluh Melisa.
"Loh kenapa? Kamu cantik kok walau rambutnya berantakan juga. Semakin cantik malahan," goda Satria.
"Apa sih?"Lagi-lagi Melisa jadi tersipu malu.
"Satria emang jago merayu ya?" Amanda berkomentar melihat kemesraan Satria dan Melisa.
__ADS_1
"Iya kak, dia rajanya," jawab Melisa.
Mereka pun terkekeh mendengar jawaban Melisa. Entah belajar dari mana Satria bisa pandai merayu seperti itu?