Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Ancaman Natasya


__ADS_3

Melisa sangat menikmati sekali gado-gado buatan bu Lastri.


"Enak bu, aku jadi pengen makan masakan ibu setiap hari," ucap Melisa.


Bu Lastri membelai rambut Melisa. "Tentu saja kamu boleh makan masakan ibu setiap hari. Nanti ibu bikinin yang enak-enak buat kamu."


"Semua masakan ibu enak kak, mau goreng tempe doang juga enak," celetuk Rian.


"Pasti enak dong, kan ibu bikinnya dengan penuh cinta," bu Lastri membanggakan diri.


Melisa dan Bobi tersenyum getir, keduanya memang tak pernah merasakan masakan buatan ibu mereka masing-masing.


"Berarti aku boleh dong ke sini setiap hari?" Tanya Melisa.


"Ya boleh dong, kapan ibu pernah melarang kamu ke sini?" Bu Lastri


"Hehe, iya ga pernah sih," Melisa.


"Ibu cuma larang kamu buat pacaran sama Satria. Kalau mau main ke sini, makan di sini ibu sih boleh-boleh aja," bu Lastri.


"Ibu ga suka ya sama aku?" Melisa.


"Bukan begitu nak Melisa, ibu suka banget sama nak Melisa. Nak Melisa ini meskipun cantik dan kaya tapi tidak sombong," bu Lastri.


"Ah, itu mah ada maunya bu. Kemaren juga dia beliin segitu banyak kan buat sogokan, biar ibu merestui hubungannya sama Satria," Bobi.


"Ya ibu sih ga keberatan di sogok, tapi maaf ya nak Melisa bukannya ibu ga kasih restu cuma belum aja. Kalian kan masih sekolah, ya belajar saja dulu yang benar. Nanti kalau sudah sama-sama dewasa, sudah siap menikah. Ibu pasti kasih restu," jelas bu Lastri.


Melisa menatap bu Lastri dengan senyum manisnya.


"Sambil nunggu waktu itu terjadi, boleh ga aku anggap ibu seperti ibuku sendiri?" Tanya Melisa penuh harap.


Bu Lastri memeluk Melisa dengan penuh kasih sayang, "ga usah kamu minta, ibu sudah anggap kamu seperti anak ibu sendiri. Lagian kan ibu ga punya anak perempuan."


Melisa tersenyum di pelukan bu Lastri, hampir saja air matanya jatuh karena terlalu bahagia. Namun ia segera menahannya, "ini momen bahagia, aku tak boleh menangis," batin Melisa.


Bobi yang melihat adegan itu tersenyum bahagia. "Akhirnya kamu menemukan sosok ibu bagimu Mel, meski ia bukan ibu kandungmu," batin Bobi.


"Wah, ibu anaknya tambah satu lagi nih," Satria yang baru saja selesai mencuci menghampiri mereka di ruang makan.


"Iya kak, sekarang kakak aku ada tiga," Rian.


"Tiga?" Melisa bingung.

__ADS_1


"Iya, kak Satria, kak Melisa, dan kak Bobi," jawab Rian.


"Maaf ya Mel, aku udah jadi anak bu Lastri duluan," Bobi mengejek Melisa.


Melisa yang bingung segera menatap bu Lastri memastikan kebenaran ucapan Bobi dan Rian.


"Iya, nak Bobi juga sudah jadi anak ibu lebih dulu," ucap bu Lastri pada Melisa seolah paham gadis itu tengah bertanya akan kebenaran omongan Bobi dan Rian.


"Karena kamu sudah jadi anaknya ibu, sekarang kamu bantu aku jemur pakaian ya Mel," pinta Satria.


Bobi dan Rian mengangguk, "semua orang di rumah ini sudah punya tugasnya masing-masing," ucap Bobi.


"Tugas kakak apa?" Tanya Melisa.


"Aku cuci piring selesai makan," jawab Bobi.


Melisa mengangguk paham, "oke, ayo kita jemur pakaian," Melisa hendak bangun dari duduknya namun segera ditahan oleh bu Lastri.


"Habiskan dulu makananmu, nanti baru bantu Satria," ucap bu Lastri.


"Oh iya, aku lupa. Terlalu semangat sih," Melisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Membuat semua orang di ruangan itu tertawa dengan tingkahnya.


...***...


Natasya menyeringai. "Jadi tadi kamu sengaja tak membukakan pintu?"


Lalu masuk lagi sebuah pesan dari nomor yang sama. Kali ini pesannya berisi foto rumah pak Joni. Di dalam foto terlihat motor Bobi terparkir di depan rumah dan ada bu Lastri yang sedang membuat gado-gado.


Natasya mengernyitkan dahinya.


"Sedang apa dia di sini?" Gumam Natasya.


Ia mengamati dengan seksama rumah itu, Natasya lalu tersenyum sini. Ia mengirim kembali foto itu ke nomor Melisa. Di sana ia menuliskan 'haruskah aku melakukan sesuatu pada keluarga ini?'


Natasya meletakkan ponselnya. Ia kembali menikmati hidangan yang ada di atas meja.


Melisa yang sedang membantu Satria menjemur pakaian tak tau ada pesan masuk dari ibunya. Ia meninggalkan ponselnya di atas meja makan.


Bobi yang masih duduk di ruang makan bersama Rian menyadari ponsel Melisa bergetar, menandakan adanya pesan yang masuk.


Bobi meraih ponsel itu dan membukanya, ia mengernyitkan dahi lalu membalas pesan itu.


Haruskah aku mengirim tangkapan layar percakapan ini lalu ku kirim pada polisi?

__ADS_1


Bobi menyeringai, "kau mengancam tante? Kau pikir aku tak bisa melakukan hal yang sama?" Batin Bobi.


"Siapa kak?" Tanya Rian yang memperhatikan gerak gerik Bobi.


"Oh, ini... biasa orang mau pinjem uang," jawab Bobi asal sambil meletakkan kembali ponsel Melisa


"Oh, tapi itu kan ponsel kak Melisa, kok kakak yang bales?" Tanya Rian heran.


"Aku juga kenal orang ini makanya aku aja yang bales," lagi-lagi Bobi menjawab asal.


Rian mengangguk, "trus dikasih pinjam?"


"Enggaklah, enak aja... udah terlalu sering pinjam tapi ga pernah dibalikin," Bobi memperlihatkan wajah kesalnya membuat Rian percaya pada Bobi.


Natasya yang mendapat pesan balasan dari Melisa mencengkram sendok makan dengan keras.


"Sudah berani kau ya?"


...***...


Sore hari dikediaman keluarga pak Joni, ada bu Lastri, Satria, Bobi, Rian dan Melisa. Mereka semua duduk di teras rumah bercengkrama sambil menunggu kedatangan pak Joni yang pulang kerja.


Tiba-tiba ponsel Melisa berdering. Wajah Melisa seketika diam melihat siapa yang menelponnya dari layar ponsel.


Melisa meminta ijin untuk mengangkat telepon itu, ia lalu berjalan menjauh.


Melisa menerima panggilan masuk itu, lalu ia arahkan ponsel ke telinganya.


"Melisa... Bahagia sekali kau di sana... Sadar Melisa, tempatmu bukan di sana," ucap suara di seberang sana.


"Mau apa kau meneleponku?" Tanya Melisa geram.


Natasya tertawa terbahak-bahak. "Apa aku mengganggumu?"


"Tentu saja," jawab Melisa sinis.


"Ah, begitu... Sepertinya memang kau sudah tak takut padaku. Apa sebaiknya aku cabut saja beasiswa kekasihmu itu? Atau ku pecat saja ayahnya?" Ancam Natasya.


"Cabut saja, Satria bisa mendapatkan beasiswa di sekolah lain," jawab Melisa tak takut.


Natasya kembali tertawa. "Baiklah, apa dia akan baik-baik saja setelah beasiswanya dicabut?"


Melisa memutuskan panggilan telepon. Tangannya mengepal keras. Ia melihat Satria dan keluarganya yang kini sedang bersenda gurau meladeni lawakan Bobi dan mereka terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


"Maafkan aku Satria, aku tak ingin kau terikat dengan ibuku," batin Melisa.


__ADS_2