Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Rahasia Gunawan


__ADS_3

Saat ini, malam pukul 11. Melisa masih setia menemani ayahnya yang bekerja di ruang makan. Bersama dengan Fredy tentunya.


Sedangkan Bobi sudah terlelap dan asik dengan mimpinya.


Melisa melihat wajah ayahnya yang sudah nampak mulai menua. Meski begitu, wajah itu tetap terlihat tampan.


"Ayah..." panggil Melisa.


"Mmm?" Gunawan tak menoleh masih fokus dengan pekerjaannya.


"Setelah kalian resmi bercerai nanti, apa ayah akan menikah lagi?" Melisa.


Pertanyaan itu membuat Gunawan menghentikan pekerjaannya.


"Entahlah," jawab Gunawan sambil menghela nafas panjang.


"Apa kekasih ayah baik-baik saja?" Melisa sebenarnya penasaran dengan sosok wanita yang selama ini menjadi kekasih dari ayahnya itu.


Melisa pernah dua kali bertemu dengan Steve, kekasih ibunya. Tapi ia tak pernah sekalipun bertemu dengan kekasih sang ayah. Bahkan namanya saja Melisa tak tau.


Gunawan tak menjawab pertanyaan putrinya, ia hanya tersenyum kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu Fredy melirik sekilas pada dua orang ayah dan anak itu, lalu kembali bekerja.


"Ayah, apa ayah tak apa dengan perceraian ini?" Tanya Melisa akhirnya ia penasaran dengan perasaan ayahnya.


"Tentu saja," jawab Gunawan singkat.


"Apa ayah pernah mencintai wanita itu?" Melisa.


"Entahlah, kami bahkan tak punya waktu untuk saling mengenal satu sama lain," Gunawan.


Melisa hanya mengangguk.


Gunawan membelai rambut putrinya itu, "kau jangan membenci ibumu. Bagaimana pun dia sudah bertaruh nyawa melahirkan kamu."


Melisa hanya diam tak menjawab. Tak hanya sang ayah yang berkata demikian, bu Lastri dan pak Joni juga pernah menasihati hal yang sama.


Sebelumnya, perasaan benci Melisa terhadap ibunya hanya sebatas karena ia tak menjadi prioritas. Ia berpikir ibunya lebih memilih pekerjaan dibanding dirinya. Tapi kini ia tau bahwa dia bukan hanya tak jadi prioritas. Bahkan dirinya tak pernah diinginkan kehadirannya oleh sang ibu.

__ADS_1


Melihat putrinya yang tak kunjung menjawab, Gunawan kembali bertanya. "Apa kau juga membenci ayah?"


Melisa menggeleng.


"Yakin?" Tanya Gunawan.


"Sedikit," jawab Melisa sambil tersenyum.


Gunawan mengangguk, "maafkan ayah, yang tak pernah punya waktu untukmu."


Melisa menggeleng cepat. "Ayah selalu meluangkan waktu untuk mengajakku berlibur. Bagiku itu sudah cukup, meluangkan waktu ditengah-tengah jadwal ayah yang padat. Pasti tidak mudah."


Gunawan tersenyum mendengar jawaban putrinya.


"Dulu aku selalu bertanya, kenapa mamah tak pernah bisa melakukan hal yang sama padaku? Apa mamah lebih sibuk darimu? Tapi kini aku tau," mata Melisa mulai berlinang. Tapi ia menahan dengan sekuat tenaga, meyakinkan dirinya bahwa ia tak boleh menangisi wanita itu lagi.


"Maafkan ibumu," Gunawan memeluk putrinya. "Maafkan ayah juga."


Melisa diam mematung. Ia melirik Fredy yang kini menatap dirinya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


Melisa tersenyum pada ayahnya setelah Gunawan melepas pelukannya.


Gunawan tersenyum getir mendengar permintaan putrinya itu.


"Entahlah... Apa ayah bisa menikah lagi atau tidak?"


"Kenapa? Apa wanita yang ayah cintai sudah pergi meninggalkan ayah?" Melisa penasaran.


Gunawan mengacak-acak rambut putrinya. Pria itu tak menjawab, lebih tepatnya ia tak tau harus menjawab apa.


"Ayah harus melanjutkan ini, sedikit lagi," Gunawan kembali fokus pada pekerjaannya.


Melisa hanya menatap ayahnya yang kembali sibuk bekerja. Mencari jawaban dari diamnya sang ayah. Dalam hati Melisa berpikir apa mungkin permintaannya untuk menceraikan ibunya itu salah? Apa selama ini ayahnya mencintai ibunya? Tapi bukankah ayahnya juga memiliki seorang kekasih? Ah, tidak. Ia bahkan tak pernah mendengar ayahnya membicarakan kekasihnya.


Melisa melirik Fredy yang juga sudah kembali fokus pada laptopnya.


"Apa aku harus bertanya padanya?" Batin Melisa saat ia menatap Fredy.

__ADS_1


Gunawan tampak sudah sangat lelah, ia menutup laptopnya. Meregangkan badannya yang kaku karena terlalu lama duduk.


"Ayah lelah, ayah mau tidur dulu y," Gunawan mengusap lembut rambut Melisa. Lalu meninggalkan Melisa bersama sekertarisnya di ruang makan.


Melisa melihat kepergian Gunawan hingga pria itu hilang saat menaiki anak tangga.


Melisa kembali menoleh pada Fredy. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya.


"Apa kau kenal siapa kekasih ayah?" Tanya Melisa memecah keheningan.


Fredy yang hampir selesai dengan pekerjaannya menoleh sesaat, lalu kembali fokus menatap laptop.


"Nona, ayahmu tak punya kekasih."


Melisa tertegun. Ia kembali mengingat-ingat saat ayahnya juga pergi meninggalkannya. Bukankah saat itu ayahnya berkata akan tinggal dengan orang yang dicintainya, sama seperti ibunya? Lalu mengapa Fredy kini mengatakan bahwa ayahnya tak memiliki kekasih? Lalu dengan siapa selama ini ia tinggal? Apa mereka sudah putus baru-baru ini?


Selesai pada pekerjaannya, Fredy mematikan laptopnya. Lalu ia berjalan ke arah Melisa. Duduk di sebelahnya, dan membuka kembali laptop milik bosnya itu.


Melisa mengamati gerak gerik Fredy. Sekertaris ayahnya itu terlihat tenang, apakah ia jujur dengan ucapannya barusan?


Setelah mengutak-atik laptop Gunawan, Fredy kembali mematikannya. Kini ia duduk menghadap Melisa. Menatap lekat mata gadis itu.


"Dulu, saat tuan Gunawan menikahi nyonya Natasya. Mereka masing-masing memang mempunyai kekasih. Tuan Gunawan juga diam-diam masih sering bertemu dengan kekasihnya. Nona Silvana," Fredy mulai menceritakan pada Melisa.


"Ia dari kalangan biasa, bukan anak pengusaha seperti nyonya. Karena itu hubungan mereka tak mendapat restu dari Tuan besar. Dan Nyonya besar juga sudah memiliki calon untuk dinikahkan dengan tuan Gunawan. Ibu nona, nyonya Natasya."


"Selang waktu berlalu. Meski hanya sebagai simpanan, nona Silvana tetap setia pada tuan Gunawan karena tuan selalu meyakinkan kekasihnya bahwa pernikahan itu hanya sementara, kelak mereka akan bercerai. Hingga akhirnya, nyonya Natasya mengandung," Fredy menghela nafas panjang.


"Nona pergi meninggalkan tuan ketika ia tau bahwa nyonya Natasya tengah mengandung anak dari tuan. Meski tuan sudah mencoba menjelaskan bahwa itu hanya karena desakan kedua orang tua mereka. Namun wanita mana yang tak marah ketika tau kekasihnya sudah menghamili wanita lain?"


Melisa mendengarkan cerita Fredy dengan sangat tenang.


"Nona Silvana pergi, entah kemana? Hingga kini kami bahkan tak bisa menemukan jejaknya."


"Lalu kekasih yang selama ini ayah bilang?" Melisa bertanya ragu-ragu.


Fredy menghela nafas. "Kalau memang tuan memiliki kekasih, maka pekerjaan inilah kekasihnya." Fredy menatap berkas-berkas yang tersusun rapih di atas meja.

__ADS_1


"Sejak kepergian nona Silvana, tuan menjadi gila kerja. Padahal saat itu nyonya sedang hamil. Tapi tuan tak pernah ada di sampingnya. Tuan bekerja tak kenal lelah hingga nona lahir ke dunia ini."


Melisa masih mendengarkan cerita Fredy dengan seksama. Cerita yang tak pernah ia dengar dari siapapun.


__ADS_2