
“Bagaimana kondisi Satria bu?” Tanya Stella. Semua orang juga penasaran dengan kondisi Satria saat ini.
“Dia sepertinya tak sadarkan diri,” jawab Natasya. Ia lalu beralih pada pria berseragam hitam yang berdiri paling dekat dengannya.
Natasya melihat nama yang tertera di dadanya. ‘STEVE’`
“Cih, bagaimana namanya bisa sama?” Batin Natasya.
“Jadi mau kalian apa datang ke sini?” Natasya akhirnya bertanya pada Steve orang yang berdiri dekat dengannya.
“Kami hanya diperintahkan untuk menagih uang ganti rugi akibat kecelakaan itu,” jawab pria bernama Steve itu.
Natasya menyeringai. “Bagaimana bisa kalian sekejam ini? Ahh... aku lupa, kalian memang sangat kejam. Jadi berapa jumlah yang harus di bayar?” Natasya tak mau lagi mendengar apapun alasannya, karena percuma berdebat tetap mereka akan bersikukuh dengan pendiriannya.
Steve menyerahkan berkas yang berisi dokumen-dokumen yang harus dibayarkan. Natasya menerimanya dan melihat nominal yang sangat besar. “Kalian memang kejam,” desah Natasya.
“Baiklah, aku transfer uangnya sekarang juga. Tapi kalian harus membayar ganti rugi dari orang-orang yang sudah kalian pukuli,” tawar Natasya.
“Tentu nyonya, kami akan mengganti rugi semua orang yang ikut terkena imbas dari kejadian ini. Kecuali Satria.”
“Kenapa?”
“Perintahnya, jika Satria tak bisa membayar sampai batas waktu yang ditentukan. Maka dia harus kami bunuh,” jawab Steve tanpa rasa bersalah sama sekali.
Tentu semua yang mendengar ucapan pria itu sangat terkejut.
“Bagaimana bisa kalian sekejam itu?” Tanya pak RT tak percaya.
“Kami hanya menjalankan perintah,” jawabnya lagi.
Natasya kembali menyeringai. “Jadi karena sekarang semua sudah dibayar, tidak ada alasan lagi kalian masih di sini kan?”
__ADS_1
“Maaf nyonya, selain itu tugas kami juga memastikan bahwa Satria harus mengosongkan rumahnya malam ini juga.”
Natasya tertawa getir. “Jadi seperti ini caramu. Baiklah, lalu apa lagi?”
“Hanya itu nyonya,” Steve dan dua orang di belakangnya menunduk hormat pada Natasya. Mungkin saat ini Natasya bukan lagi istri Gunawan, namun ia masih memiliki saham di Laksmana Grup yang jumlahnya tentu tidak sedikit. Sehingga orang-orang ini masih sangat sungkan pada Natasya karena Natasya masih memiliki pengaruh yang besar pada perusahaan.
“Kalau begitu kalian pulang saja, biar aku sendiri yang memastikan rumah ini akan kosong besok pagi.” Natasya sudah berdiri. Ia berjalan menuju pintu masuk dan membuka pintunya. Meminta ketiga orang itu untuk pergi.
Karena merasa mendapat jaminan dari Natasya, ketiga orang itu akhirnya pergi. Setelah orang-orang berbaju hitam itu pergi, Natasya kembali menutup pintunya.
“Ibu kenal orang-orang itu?” Stella langsung bertanya.
“Tentu saja, aku tau siapa yang memerintahkan mereka,” jawab Natasya dengan senyum getir.
“Dari laksmana grup bu?” Bisik Stella tak ingin orang lain tau.
Natasya hanya mengangguk.
“Tapi bu, saya masih mau di sini menemani Satria,” Stella tak mau beranjak pergi.
“Pulanglah! kamu tak perlu khawatir, Satria bersama saudara-saudaranya. Dia akan baik-baik saja!” kali ini nada bicara Natasya seperti memerintah. Dan itu artinya tak ada tawar menawar, membuat semua muridnya pun pamit undur diri.
Setelah murid-muridnya pergi, Natasya juga meminta pak RT untuk pulang juga.
“Sekali lagi terima kasih atas bantuan ibu pada Satria, jika ibu tidak datang entah apa yang akan terjadi pada Satria dan saudara-saudaranya,” pak RT membungkuk seraya mengucapkan rasa terima kasih yang sangat tulus.
Pak RT sangat tau, Natasya berperan sangat penting selama proses pemulangan jenazah hingga pemakaman keluarga Satria. Dari situlah pak RT mengenal Natasya yang merupakan ketua yayasan Puspa Tunggal. Semua gosip yang beredar seputar Natasya yang dengan sukarela membantu Satria, dengan mudah diredam oleh pak RT.
Pak RT mengatakan pada mereka, wajar saja Satria mendapat perhatian khusus dari ketua yayasannya karena Satria adalah murid yang berprestasi. Semua tetangga akhirnya bungkam setelah mendengar penjelasan dari pak RT.
“Sama-sama pak, saya juga terima kasih bapak sudah menghubungi saya tadi.” Natasya ikut membungkuk meski hanya kepalanya saja. Pasalnya memang Natasya bisa datang ke rumah Satria saat itu karena pak RT sempat mengabarinya sebelum ia masuk ke rumah Satria menemui para pria beringas itu.
__ADS_1
“Saya pikir, lebih baik menghubungi ibu dari pada menghubungi polisi. Karena ibu terlihat lebih punya kuasa dibanding polisi,” ucap pak RT.
Natasya hanya tersenyum mendengarnya. Pak RT pun kembali pamit undur diri, kini hanya tersisa Natasya dan sepupu-sepupu Satria yang berada di ruang tamu.
“Kalian pulanglah ke kota B, jangan lupa bawa semua barang-barang di rumah ini. Hanya sisakan barang-barang milik Satria saja, dia masih harus menyelesaikan sekolahnya di sini!” Ucap Natasya pada mereka. Semuanya menangguk tanpa berkata apapun. Tak lama ambulan datang, Natasya segera membuka pintunya. Di belakang mobil ambulan, Reni juga ikut datang dengan mobilnya.
Para petugas medis masuk ke dalam rumah, membawa Satria dan pamannya yang mendapat luka paling parah ke rumah sakit. Sementara itu, para sepupu yang hanya mendapat luka ringan hanya mendapat pengobatan di rumah saja. Bibi juga ikut bersama ambulan ke rumah sakit menemani Satria dan paman.
“Ren, kamu transferkan uang ke rekening ini dengan jumlah nominal yang tertera di sana. Setelah itu, pesankan jasa pindah rumah malam ini juga. Bawa semua barang-barang di rumah ini kecuali barang-barang Satria! Barang-barang Satria bawa ke rumahku!” Perintah Natasya pada Reni.
Reni mengangguk, lalu bergegas menghubungi sebuah nomor dan meninggalkan Natasya di sana.
Natasya menghempaskan tubuhnya di ruang tamu, ia memegang tengkuk lehernya sambil menggoyang-goyangkan kepalanya ke kanan dan kiri. Ia merasa sangat lelah hari ini, belum selesai pekerjaannya meninjau lokasi untuk universitas baru tiba-tiba mendapat kabar tentang orang-orang yang hendak mencelakai Satria.
Natasya akhirnya bangun, dan beranjak keluar dari rumah itu menuju mobilnya. Natasya segera menyusul Satria ke rumah sakit. Di rumah sakit, setelah mendapat penanganan pertama Satria akhirnya di bawa ke ruang perawatan. Sebuah ruangan di kelas VIP. Sedangkan paman dan bibi kembali pulang ke rumah dinas untuk membantu membereskan barang-barang karena mereka akan kembali ke kota B malam ini juga dengan membawa barang-barang dari rumah dinas itu.
Di ruang perawatan VIP, Natasya duduk di tepi ranjang. Memandang wajah Satria yang masih bengkak karena bekas hantaman.
“Maafkan aku Satria, karena aku kamu jadi menerima semua ini.”
Natasya membelai wajah Satria perlahan. Tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.
“Tapi kamu tak usah khawatir, aku akan bertanggung jawab. Akan ku pastikan orang munafik itu tak lagi bisa menyentuhmu,” Natasya mengusap air matanya yang terus mengalir. Hatinya terasa sangat sakit sekali melihat Satria yang babak belur.
Flashback End.
Kembali ke masa kini.
Satria masih serius belajar, lalu tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Ia segera meninggalkan aktivitasnya dan melihat ke arah monitor yang memperlihatkan orang yang menekan bel barusan.
“Melisa?”
__ADS_1