Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Gaun


__ADS_3

Setelah makan siang, sesuai janji Steve mengajak Satria dan Mia berbelanja baju untuk acara pesta perpisahan. Mereka datang ke sebuah butik yang letaknya tak jauh dari restoran tempat mereka makan.


“Gaun untuk Mia biar aku yang pilih, kamu pilihkan saja jas untuk Satria,” pinta Natasya.


“Baiklah,” Steve menyetujui.


Lalu Steve berjalan menuju deretan pakaian pria yang berjajar rapih di sudut toko. Steve memilih jas berwarna biru muda untuk Satria..


“Kamu belum punya warna ini kan?” Tanya Steve.


“Iya,” jawab Satria.


“Coba kamu pakai dulu,” Steve menyerahkan jas berwarna biru muda dan juga kemeja berwarna putih pada Satria.


“Warna putih?” Satria mengernyitkan dahinya.


“Iya, coba dulu deh. Pasti cocok,” ucap Steve meyakinkan.


Satria akhirnya mengambil satu set jas berikut kemejanya, dan berjalan menuju ruang ganti untuk mencoba pakaian pilihan Steve itu. Tak butuh waktu lama, Satria sudah keluar dengan kemeja berwarna pink dan juga jas berwarna biru muda.


“Nah, cocok kan!” seru Steve.


“Yang bener yah?” Satria melihat dengan seksama pakaian yang dikenakannya.


“Iya, kalau kamu ga percaya tanya ibumu nanti,” ucap Steve dengan percaya diri. Lalu Steve berjalan menuju stand celana, ia memilih satu celana berbahan chinos berwarna putih.


“Nih, nanti pakai celananya yang ini.”


Satria menurut saja, karena ia memang tak tau apapun soal mode dan ia mempercayakan pilihannya pada Steve.


Sedangkan di lantai dua tempat gaun-gaun wanita berjejer dengan sangat anggun, Natasya mencoba memilih satu gaun yang menurutnya sangat menawan.


“Kamu harus pakai sesuatu yang beda dari karakter kamu yang biasanya,” ucap Natasya sambil memilah-milah gaun yang kira-kira cocok untuk Mia.


Akhirnya, Natasya memilihkan satu gaun berwarna putih untuk Mia. Sebuah gaun yang sangat panjang, namun bagian atasnya hanya menutupi bagian dadanya saja. Gaun yang nampak biasa saja namun sangat elegan.

__ADS_1


“Cobalah pakai ini,” Natasya menunjuk gaun yang menurutnya cocok untuk Mia.


“Apa ini tidak terlalu seksi nyonya?” Mia sedikit ragu untuk menerima pilihan Natasya.


“Tidak, ini sangat bagus untukmu. Kamu sekali-sekali harus pakai sesuatu yang seperti ini, kamu kan akan menjadi pasangannya Satria. Jadi kamu harus terlihat anggun dan seksi, jangan mau kalah dengan wanita-wanita yang datang yang pastinya ingin menggoda Satria nanti. Kamu harus menjaga Satria agar dia tidak dirayu oleh wanita manapun!”


Mia hanya mengangguk perlahan. Jika memang harus seperti itu, Mia merasa sangat tak pantas jika harus bersanding dengan Satria dan juga sekaligus sebagai penjaga Satria.


“Nyonya, saya rasa nona Melisa lebih cocok untuk tugas itu dibanding saya,” ucap Mia dengan pesimis.


Natasya menghela nafas. “Kamu kenapa jadi begitu? Kamu harus percaya diri, Satria sendiri loh yang mengajakmu!”


“Tapi nyonya, itu kan karena nona Melisa sedang bersama tunangannya. Saya yakin mereka berdua masih saling mencintai,” ucap Mia dengan sungkan.


“Lalu mau kamu bagaimana?”


“Saya punya rencana nyonya,” Mia mendekatkan diri pada Natasya.


“Rencana? Apa itu?”


Mia lalu membisikkan pada Natasya, sebuah ide yang ada dalam benaknya. Ide itu muncul seketika saat Mia menginjakkan kaki di butik itu. Mia merasa tak pantas mengenakan gaun-gaun mahal itu, lalu ia teringat pada Melisa.


Natasya hanya mengangguk selama Mia menjelaskan idenya. Natasya pun sepertinya setuju dengan ide brilian dari Mia.


Rencananya Mia akan menukar dirinya dengan Melisa, bagaimana pun Melisa adalah orang yang Satria harapkan untuk datang ke pesta itu bersamanya. Mia ingin memberikan kejutan pada Satria saat nanti Satria datang menjemputnya, dan gadis yang ia temui adalah Melisa, bukan Mia.


“Kamu benar tidak apa-apa? Aku tau kamu juga sebenarnya menyukai Satria kan?” Tanya Natasya.


“Aku tak apanya nyonya, lagi pula Melisa adalah sahabatku. Entah nantinya ia akan jadi menikah dengan Dion atau tidak? Yang pasti aku harap, Melisa dana Satria masih memiliki kesempatan untuk bersama meski hanya sebentar saja,” ucap Mia dengan sungguh-sungguh.


Natasya tersenyum menatap Mia, ia merasa sangat terharu dengan kebesaran hati Mia yang masih saja memikirkan perasaan Melisa. Ia sendiri sebagai ibu kandungnya saja bahkan tak pernah memikirkan hal sekecil itu.


“Syukurlah Melisa memiliki sahabat sepertimu,” Natasya memeluk Mia dengan penuh haru.


“Anda dan putri anda sangat baik padaku nyonya, bahkan apa yang aku lakukan saat ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan kebaikan kalian berdua.”

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu sekarang saatnya kita memilih gaun yang bagus untuk Melisa,” Natasya melepaskan pelukannya.


Natasya dengan penuh semangat memilih gaun yang nantinya akan cocok dipakai Melisa. Ini adalah pertama kalinya Natasya membelikan pakaian untuk putri semata wayangnya.


“Nyonya, apa nona sudah tau tentang peyakit anda?” Tanya Mia tiba-tiba saat Natasya tengah asik memilih gaun.


“Tidak, dia tidak perlu tau,” jawab Natasya.


“Kenapa?”


“Entahlah, aku merasa tidak percaya diri. Mungkin saja dia akan sangat senang mendengar aku memiliki kanker di kepalaku,” jawab Natasya dengan sedih.


“Lalu kenapa juga anda menolak segala macam pengobatan?”


Natasya tak menjawab, ia hanya tersenyum getir sambbil terus memilih gaun yang cocok untuk Melisa.


“Sepertinya gaun ini akan cocok untuk Melisa,” Natasya menunjuk satu gaun berwarna biru muda.


“Gaun yang cantik nyonya, nona pasti akan cocok dengan gaun itu,” Mia setuju dengan pilihan Natasya.


“Kamu sendiri pilihlah satu gaun, meski kau tidak datang ke pesta tapi aku ingin membelikan satu untukmu,” pinta Natasya.


Tentu saja dengan senang hati Mia ikut memilih baju untuk dirinya sendiri.


Tak hanya gaun, Natasya juga membelikan Melisa dan Mia sepatu dan juga tas untuk keduanya.


***


Akhirnya, malam yang ditunggu-tunggu pun tiba. Satria sudah rapih dengan setelan jas yang dipilihkan Steve untuknya. Ia tersenyum menatap ke arah cermin, memandang betapa tampan dirinya.


Namun seketika senyumannya hilang, mengingat ia tak bisa membawa Melisa ke pesta perpisahan bersama teman-teman di kampusnya. Padahal sudah lama Satria mendambakan akan memperkenalkan Melisa sebagai kekasihnya kepada teman-temannya. Hal itu sengaja ia lakukan agar setelah lulus nanti tak ada teman wanitanya yang masih menghubunginya untuk sekedar mengajaknya bertemu untuk hal yang tidak jelas.


Dengan langkah kaki yang berat, Satria akhirnya berjalan keluar kamar asramanya menuju asrama wanita tempat Mia tinggal. Asrama keduanya memang berjarak tidak terlalu jauh.


Satria sudah sampai di depan pintu asrama putri, lalu ia mengetuk pintunya. Namun tak ada seorangpun yang membukakan pintu, cukup lama Satria menunggu tapi pintu tak kunjung dibukakan.

__ADS_1


Satria akhirnya merogoh sakunya dan mengambil ponselnya untuk menelepon Mia, namun belum sempat ia melakukan panggilan, pintu asrama sudah terbuka.


Dan betapa terkejutnya Satria, karena yang membukakan pintu asrama adalah Melisa. Melisa yang mengenakan gaun senada dengan jas yang kini dipakainya, gaun yang sangat cantik, elegan dan juga seksi itu kini membalut tubuh Melisa dengan anggunnya.


__ADS_2