
Di dalam perjalanan Steve menuju apartemennya, ia tak bisa melepaskan pikirannya dari Natasya. Mereka telah berhubungan sangat lama, bagaimana bisa Natasya memperlakukannya seperti ini sekarang? Apakah benar sudah tidak ada ruang lagi bagi dirinya? Apa keputusan Natasya untuk memperbaiki rumah tangganya sudah bulat?
Steve menghembuskan nafas dengan kasar. Ia mengacak-acak rambutnya. Dalam hati ia merasa sangat sedih, impiannya untuk bisa menjadi kekasih abadi Natasya sirna sudah. Tapi ia tak bisa berbuat banyak, saingannya adalah Gunawan.
Pengusaha kaya dan sukses dengan latar belakang keluarga yang kuat. Ditambah kakaknya juga seorang kepala polisi, tak mungkin ia akan menang melawan Gunawan.
Dengan cara apapun, Steve pasti kalah telak. Gunawan jauh lebih kaya dari keluarganya, jauh lebih sukses, tampan, dan lagi kini Gunawan sudah berhasil merebut hati Natasya.
Steve hendak memutuskan untuk tak lagi memikirkan Natasya, namun tiba-tiba ponselnya berdering. Steve mengangkatnya.
"Halo Melisa," Steve menyapa lebih dulu.
"Halo om, masih di jalan?" Tanya Melisa.
"Iya Mel, kamu sudah sampai?" Steve balik bertanya.
"Sudah om," jawab Melisa.
"Syukurlah... Oh iya, om ikut senang ya," Steve mengucapkan selamat pada Melisa.
"Selamat apa om?" Melisa bertanya tak mengerti.
"Akhirnya hubungan kamu dan Satria direstui ibumu," jawab Steve.
Melisa terdiam, ia benar-benar tak mengerti maksud ucapan Steve.
"Aku tadi ketemu Satria di rumah ibumu," ucap Steve.
"Rumah mamah? Dimana?" Melisa terdengar bingung.
Steve seperti menyadari sesuatu. Melisa tak tau tentang Satria yang belajar di rumah Natasya.
"Ah, rumah ibunya Satria maksudku," Steve segera meralat ucapannya.
"Oh, om tadi mampir ke sana?" Tanya Melisa.
"Tadi om cuma lewat, kebetulan lagi ada perlu di sekitar sana. Terus om liat Satria, jadinya ya udah deh om sapa," Steve berbohong.
"Terus tadi maksud om selamat itu apa?"
"Mel, udahan dulu ya. Nanti om telepon lagi, ada telepon masuk dari temen om nih," Steve segera mematikan ponselnya. Ia menyeringai.
"Jadi Melisa tidak tau? Belum tau? Atau sengaja tidak diberi tau?" Gumam Steve. Sambil terus menjalankan mobilnya, Steve mencari nomor Satria dari ponselnya. Setelah menemukannya, Steve menghubungi Satria.
__ADS_1
Setelah beberapa kali nada sambung, akhirnya Satria mengangkat sambungan teleponnya.
"Lama sekali?" Gumam Steve.
"Maaf om, aku masih di jalan. Ada apa?" Gumaman Steve ternyata terdengar Satria.
"Apa Melisa tau kau datang ke rumah Natasya?" Steve langsung bertanya ke intinya.
Satria terdiam, ia tengah berpikir kalimat apa yang tepat untuk bisa menyampaikannya pada Steve.
Tak kunjung mendapat jawaban dari Satria, Steve tersenyum sinis. Ia seketika paham akan situasinya.
"Jadi Melisa tidak tau?" Tanya Steve.
"Kenapa memangnya?" Satria terdengar sedikit takut.
"Tidak apa, aku hanya memastikan saja. Jika memang ia tidak tau dan tak boleh tau, maka aku akan berusaha menutup mulutku rapat-rapat," Steve seolah sedang mengejek Satria.
"Bukan tidak boleh tau, hanya saja dia belum tau. Om tau kan hubungan Melisa dan ibunya tidak baik, aku khawatir jika Melisa tidak bisa terima jika ibunya berlaku baik padaku," Satria memberi alasan.
"Alasan macam apa itu? Bukankah Melisa harusnya senang? Jika aku jadi Melisa, tentu saja aku akan senang jika orang yang ku sukai akhirnya bisa mendapat dukungan dari ibuku yang tadinya sangat membenci orang yang ku cintai itu," ucap Steve.
Satria kembali terdiam, memang sejak tadi itu yang ada dalam pikirannya. Namun mengingat watak Melisa yang dingin dan keras kepala bisa saja bukan seperti itu nanti yang akan terjadi.
Satria menghela nafas.
"Ah, tunggu... Apa Gunawan juga tidak tau?" Steve benar-benar jago menebak.
"Maaf om, untuk itu aku tidak tau. Tapi tidak mungkin nyonya tak memberi tau tuan," Satria berusaha membuat tebakan Steve salah.
"Oh, begitu. Baiklah... Hati-hati di jalan," Steve mematikan sambungan teleponnya. Ia tertawa terbahak-bahak. Namun setelahnya wajah Steve kembali serius.
"Jadi kenapa kau mendekati Satria?" Steve memandang foto dirinya bersama Natasya yang terpampang di dalam mobilnya.
Sementara itu, Satria benar-benar terlihat panik. Ia memang berniat untuk mengatakan semua ini pada Melisa, namun ia tak tau harus mulai mengatakannya dari mana? Satria berharap Steve benar-benar tak akan memberi tau Melisa. Satria tak ingin Melisa tau hal ini dari mulut orang lain.
Satria melanjutkan perjalanannya, namun tak berselang lama ia baru mengendarai motornya. Melisa menelpon.
Satria terdiam, perasaannya mulai tak enak. Inilah mengapa kita harus selalu jujur. Karena jika kita berbohong, rasanya kita jadi seperti seorang buronan yang dikejar-kejar polisi.
Satria bingung akan mengatakan apa pada Melisa, akhirnya ia memutuskan untuk mengabaikan panggilan masuk itu.
Sampai di rumah, ia melihat ibunya sedang merapihkan bekas dagangan yang sudah habis terjual. Satria segera membantu ibunya, membawa wadah-wadah kotor ke dapur untuk di cuci.
__ADS_1
"Udah, kamu istirahat sana," pinta bu Lastri saat melihat Satria membantunya.
"Aku ga capek kok bu, lagian kasian kerjaan ibu sekarang tambah banyak. Aku terlalu sibuk belajar jadi ga bisa bantu ibu di rumah," Satria terlihat murung. Biasanya memang pekerjaan rumah seperti mencuci dan beberes rumah itu Satria yang kerjakan.
Namun semenjak ia menerima tawaran Natasya untuk kuliah di luar negeri, Satria jadi tak punya waktu untuk membantu ibunya di rumah. Waktunya habis ia gunakan untuk belajar dan belajar.
"Ibu ga papa Satria, ibu masih kuat kok. Kamu fokus belajar aja supaya bisa kuliah di luar negeri gratis," bu Lastri menenangkan Satria.
"Iya bu, aku pasti fokus belajar. Cuma kalau aku lagi gak belajar, biarkan aku membantu ibu ya," Satria tersenyum pada ibunya.
Bu Lastri membalas senyuman itu. Sebenarnya dalam hati bu Lastri sedikit sedih karena akan di tinggal Satria ke luar negeri nanti. Selama kuliah di sana pasti Satria tak akan pulang-pulang ke rumah. Mengingat ongkos pesawat yang sudah pasti mahal.
Setelah membantu ibunya membereskan dagangan. Satria segera membersihkan dirinya dan kembali ke kamar.
"Kak, kata ibu mau makan gak?" Tiba-tiba kepala Rian muncul dari balik pintu kamar Satria.
"Enggak dek, kakak udah makan tadi," jawab Satria tersenyum pada adiknya.
"Oke," saat Rian hendak menutup pintu Satria kembali memanggilnya.
"Dek."
"Iya kak?" Kepala Rian kembali muncul dari balik pintu.
"Ayah kemana? Kok gak keliatan?" Tanya Satria.
"Oh, ayah lagi ke rumah paman. Anaknya paman kan mau nikah tiga bulan lagi. Jadi ayah sekarang lagi ikutan diskusi keluarga buat ngomongin acara pernikahan itu," jawab Rian.
Satria mengangguk. "Berarti nanti kita bakal pulang kampung dong?"
"Iya kak, aku kangen ketemu sama teman-temanku. Aku juga kangen sama kakek nenek," ucap Rian.
"Iya, kakak juga kangen sama semuanya," Satria menimpali.
"Tapi emang kakak bisa ikut? Kakak kan masih harus belajar buat persiapan masuk universitas," Tanya Rian.
"Gak tau nih dek, gimana nanti aja," jawab Satria.
"Semoga kakak juga bisa ikut ya. Ya udah aku mau ke kamarku dulu ya kak," belum sempat Satria menjawab Rian sudah menutup pintu kamar Satria.
Satria merebahkan dirinya di atas kasur, ia teringat kampung halamannya di kota B. Sedikit ada rasa sesal saat ke kota B liburan kemarin ia tidak mampir ke rumah kakek neneknya.
Satria sudah mulai terlelap, ia tidak sadar ponsel yang ia taruh di dalam tas terus berbunyi.
__ADS_1