
Hari-hari berlalu sejak malam itu, malam saat Satria datang menemui Melisa di rumahnya. Malam saat Satria memberi nasihat yang hanya menimbulkan keraguan di hati Satria.
Satria tak mengerti, kenapa sulit bagi Melisa memaafkan ibunya? Bukankah sejahat apapun ibu kita, kita tak akan pernah bisa membalas jasa-jasanya saat mengandung dan melahirkan kita ke dunia ini? Lantas mengapa Melisa bersikeras merasa dirinya yang paling tersakiti, bukankah ibunya pasti jauh lebih merasakan sakit saat melahirkannya?
Laki-laki ini memang tak paham, rasa benci hingga sulit memberi maaf. Sepanjang hidupnya ia selalu mendapat cukup kasih sayang. Walau hidupnya hanya serba berkecukupan, namun dukungan dan kasih sayang dari kedua orang tuanya tak pernah lepas sepanjang perjalanan hidupnya.
Satria mencoba memahami, seandainya ia berada di posisi Melisa. Dibuang oleh ibunya yang memilih tinggal dengan kekasihnya? Dan saat ia dewasa ibunya datang hanya dengan memanfaatkannya sebagai anak.
Bukankah memang tugas anak berbakti pada orang tua? Di bagian ini yang Satria tak mengerti. Ia bahkan membayangkan ibunya adalah bu Natasya dengan karakter yang seperti itu.
Pasti menyebalkan, tapi sebagai anak ia bisa apa? Ia sudah pasti harus tetap berbakti pada ibunya. Sebagai balas jasa karena telah menjaganya selama dalam kandungan dan juga perjuangan yang tak mudah saat melahirkan.
Hal ini membuat Satria menjaga jarak dengan Melisa, laki-laki ini masih belum bisa memaklumi perlakuan Melisa terhadap ibunya.
"Aku tau kamu sakit hati, tapi tidakkah ini terlalu kejam? Ibumu ingin berbaikan denganmu," ucap Satria di suatu siang.
Namun bukannya mendengarkan, Melisa malah melengos pergi begitu saja. Gadis itu sepertinya sudah muak dengan nasihat Satria yang terus saja memintanya untuk memaafkan ibunya.
"Cukup Sat, aku ga mau denger kamu ngomong ini lagi. Kalau memang kamu takut kehilangan beasiswamu, katakan saja padanya aku sudah memaafkan," lagi-lagi Melisa beranggapan semua ini Satria lakukan demi beasiswanya.
Padahal, jikapun ia tak bisa mendapatkan beasiswa lagi. Satria tak merasa keberatan. Ia hanya khawatir Melisa sepanjang hidupnya hanya akan menyimpan dendam pada ibunya.
Siang itu, Melisa tampak duduk sorang diri di sudut kantin. Seorang laki-laki yang melihatnya duduk sendirian, menghampirinya.
"Hai Mel," sapa laki-laki itu.
Melisa hanya meliriknya sekilas, lalu kembali pada lamunannya.
"Mana Satria? Bukannya kalian sekelas?" Tanya Dion.
Melisa mendesah, ia hendak bangkit namun tangannya ditahan oleh Dion.
"Duduklah dulu, kita sudah lama tidak ngobrol bareng," Dion.
"Apa pernah kita ngobrol?" Melisa menatap tajam mata Dion.
Dion menggelengkan kepala, "setidaknya ini jadi obrolan pertama kita." Dion masih menyukai gadis itu, meski sering mendapat perlakuan dingin darinya. Dion pantang menyerah.
Melisa yang melihat Satria juga ada di area kantin, segera mengalihkan pandangannya pada Dion. Tentu saja itu membuat Dion senang.
"Kau bukannya teman Satria?" Tanya Melisa.
__ADS_1
"Ya," jawab Dion singkat.
"Lalu kenapa bertanya padaku?" Melisa masih dengan tatapan yang dingin.
"Hehe, itu kan cuma basa basi. Aslinya aku cuma mau ajak kamu ngobrol aja," Dion seolah sudah kebal dengan sikap dingin Melisa.
"Sekarang kamu ga pernah bawa mobil lagi?" Dion kembali berbasa-basi.
"Mmm..." Melisa menjawab singkat.
"Kenapa?" Dion.
"Males," Melisa.
Dion mengangguk, ia berusaha membuat sebuah percakapan dengan gadis itu. Namun Melisa hanya menjawab setiap pertanyaan Dion dengan satu kata.
Dion tak perduli dengan hal itu, bisa duduk dan bicara bersama Melisa saja sudah membuat hatinya senang. Dan lagi selama mereka bersama, Melisa terus saja menatap dirinya. Meski dengan tatapan dingin, itu sudah membuat Dion merasa ada kemajuan.
Di kejauhan, Satria yang melihat Melisa bersama dengan Dion hanya bisa menghela nafas. Satria tau Dion sejak lama menyukai Melisa. Saat ini, hubungannya dengan Melisa memang merenggang. Tapi bukan berarti ia tak peduli dengan gadis itu.
Setiap hari ia masih mengantar Melisa pulang, meski seringkali mereka berdua hanya diam sepanjang perjalanan pulang. Keduanya menjadi sangat canggung. Meski demikian, Satria tetap tak bisa membiarkan Melisa pulang seorang diri.
Sore itu, saat mereka sampai di rumah Melisa. Mereka tak melihat ada motor Bobi.
"Kayanya kak Bobi lagi keluar," ucap Satria.
"Iya, dia sibuk sebentar lagi masuk ke akademi. Banyak hal yang harus ia siapkan," Melisa.
Satria mengangguk. "Kau tak apa sendirian di rumah?"
"Sebelumnya juga aku selalu sendiri," Melisa.
"Tapi kamu sudah pernah merasakan tinggal bersama orang lain, kamu pasti akan merasa kesepian," Satria.
"Kenapa memangnya? Kau mau menemani?" Melisa.
"Jika kamu tak keberatan," Satria.
Tersenyum tipis, Melisa mengangguk. Setelah memarkirkan motornya Satria berjalan mengikuti Melisa ke dalam rumah.
Mereka berdua memilih duduk di ruang tengah. Melisa menyalakan televisi.
__ADS_1
"Akhir-akhir ini kau tak lagi membicarakan tentang permohonan maaf ibuku, apa kau sudah mengatakan padanya aku memaafkannya?" Melisa membuka obrolan.
Satria menggeleng, "tidak, ibumu bahkan belum menghubungiku lagi."
"Lalu apa yang akan kau katakan padanya jika ia menghubungimu nanti?" Melisa.
"Entahlah, ingin ku jawab kau sudah memaafkan tapi aku takut saat kalian bertemu nanti dan sikapmu masih sama, pasti aku akan dikatakan bohong oleh ibumu. Namun aku juga tak sampai hati mengatakan kamu belum memaafkannya," Satria menatap dalam mata Melisa.
"Maaf Sat, mungkin aku butuh waktu," Melisa menundukkan wajahnya.
"Mmm... aku tau," Satria tak mau memperpanjang masalah ini. Sudah cukup baginya merasakan kecanggungan hubungan mereka karena masalah ini.
"Sat, jika ibuku menghubungimu lagi. Katakan padanya untuk menemui aku langsung, jika memang ia tulus ingin berbaikan denganku," Melisa membalas tatapan Satria dengan mata yang sayu.
Melisa juga sebenarnya lelah, karena masalah ini hubungannya dengan Satria sedikit merenggang.
"Mel, aku tau kamu sulit memaafkan ibumu. Tapi cobalah berpikir semua ini untuk kebaikan dirimu. Dengan menyimpan dendam, hidupmu akan merasa tidak tenang. Relakan Mel, maafkan." Nasihat terakhir Satria karena setelahnya mereka berdua hanya diam.
Melisa tampak memikirkan kata-kata Satria barusan. Memang benar, menyimpan dendam pada seseorang hanya membuat hidup tak tenang. Merawat kebencian hanya akan menyiksa diri kita sendiri.
Pada akhirnya, semua memang hanya untuk kebaikan dirinya.
Saat mereka terdiam, seseorang menghampiri mereka. Gunawan menyapa keduanya.
"Kok pada diam?" Tanya Gunawan seraya duduk di samping Melisa.
"Tuan," Satria memberi salam dengan menundukkan kepalanya.
"Sehat kau Satria?" Gunawan.
"Iya tuan, tuan sendiri bagaimana kabarnya?" Satria.
"Baik," Gunawan tersenyum ramah pada Satria. Perbincangan ringan pun terjadi diantara mereka, mulai dari bertanya kabar hingga sampailah pada pembicaraan tentang pertemuan Satria dan Natasya.
"Jadi dia ingin berbaikan dengan Melisa, bukankah itu bagus?" Gunawan melirik Melisa.
Melisa hanya diam. Tak memberikan ekspresi apapun.
"Kau tak mau memaafkan ibumu?" Gunawan bertanya kembali karena Melisa tak kunjung memberi tanggapan.
"Entahlah," Melisa menjawab singkat.
__ADS_1
Gunawan mengusap lembut rambut putrinya itu.
"Kau curang Satria, kenapa kau mengatakan ini pada ayahku?" Batin Satria.