
Setelah Satria kembali ke rumah Natasya, ia benar-benar disibukkan dengan urusan pernikahan Natasya. Mengantar Natasya untuk menyebar undangan, fitting baju, bertemu dengan WO untuk memastikan kesiapan acara.
Natasya benar-benar ingin pesta pernikahannya berjalan dengan sempurna. Tak ingin ada satu hal pun yang terlihat cacat di acaranya nanti.
Setelah seharian ke sana kemari, akhirnya mereka berdua sampai di rumah pukul sembilan malam. Natasya segera masuk ke kamarnya untuk berendam air hangat.
"Ibu tidak mau makan malam dulu?" Tanya Satria sebelum Natasya masuk ke dalam kamarnya.
"Nanti saja, aku mau mandi dulu," jawab Natasya.
"Kalau begitu, biar aku masakan sesuatu untukmu," ucap Satria.
"Santai saja, kamu mandi saja dulu. Memang kamu tidak merasa gerah?"
"Aku akan mandi setelah makan nanti," jawab Satria.
"Ya sudah terserah kamu saja," Natasya lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia tidak sabar untuk menceburkan dirinya ke dalam kolam air hangat.
Sementara itu Satria berjalan ke arah dapur. Ia melihat bahan makanan yang tersedia di dalam kulkas.
"Masak apa ya?" Gumam Satria sambil memilih bahan makanan yang tidak banyak tersedia di kulkas.
"Nasi goreng saja yang simpel," Satria akhirnya memutuskan memasak sesuatu yang mudah. Karena memang sebenarnya ia merasa sudah sangat lapar, Satria terpaksa harus makan dulu sebelum tidur.
Tak butuh waktu lama, makanan yang Satria masak sudah jadi. Satria sudah menghidangkan dua porsi nasi goreng di atas meja makan. Ia lalu berjalan menuju kamar Natasya untuk memberi tahunya bahwa makanan sudah jadi.
Tok... tok... tok...
"Bu, ayo makan dulu," panggil Satria.
Namun tak ada jawaban dari dalam kamar, Satria mendengar samar-samar gemericik air keran.
"Mungkin belum selesai mandinya," gumam Satria.
Satria pun kembali ke ruang makan untuk makan terlebih dahulu. Perutnya sudah terasa sangat lapar.
Selesai makan, Satria melihat ke arah pintu kamar Natasya. Namun wanita itu belum juga keluar.
"Lama sekali mandinya," gumam Satria.
Karena Satria sudah selesai makan, ia lalu mencuci piringnya dan kembali ke dalam kamarnya. Tubuhnya terasa sangat lengket, ia juga ingin segera mandi dan tidur.
Setelah selesai mandi, Satria kembali ke ruang makan. Ia ingin memeriksa apa Natasya sudah memakan makanannya atau belum?
Dan ternyata satu piring berisi nasi goreng itu masih utuh di atas meja makan. Satria yang merasa heran segera berjalan menuju kamar Natasya.
__ADS_1
Tok... tok... tok...
"Ibu, kau masih mandi?"
Tak ada jawaban, suara gemericik air masih terdengar dari dalam.
"Ibu..." Satria menaikkan suaranya lebih keras.
"Ibu, kau baik-baik saja?"
Karena terus tak mendapat jawaban, Satria jadi merasa khawatir. Ia membuka pintu kamar Natasya, beruntung tidak di kunci sehingga Satria bisa langsung masuk ke dalam.
"Ibu... Kau di dalam?"
Satria mengetok pintu kamar mandi. Dan lagi-lagi tak ada jawaban. Akhirnya Satria menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan keras.
"Bu... ibu... Kau tertidur?"
Masih tak ada jawaban. Satria mencoba membuka pintu kamar mandi, dan untungnya pintu kamar mandi tak dikunci juga.
"Ibu, aku masuk ya!" Ucap Satria sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi.
Dan betapa terkejutnya Satria saat melihat Natasya telungkup di lantai kamar mandi tanpa busana, sementara itu air di bak mandi terus mengalir karena penuh.
Satria berlari untuk mengambil handuk dan menutupi tubuh Natasya, Satria lalu menggotong Natasya ke luar kamar mandi. Satria membaringkan tubuh Natasya di atas ranjang.
"Satria..." terdengar suara Natasya yang lirih memanggil nama Satria.
"Ibu... Kau kenapa?" Tanya Satria dengan panik.
"Kepalaku tiba-tiba sakit saat hendak mandi, lalu pandanganku tiba-tiba kabur dan aku terjatuh," jawab Natasya dengan suara yang lemas.
"Ibu, sakitmu sudah semakin parah. Sebaiknya kita ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan," pinta Satria.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Aku sudah berobat kemarin, lihatlah obat-obat itu!" Natasya menunjuk tumpukan obat yang berada di atas meja di samping tempat tidurnya.
"Kalau begitu, ibu makan dulu ya. Setelah itu baru minum obat," pinta Satria.
Natasya mengangguk.
Satria mengambil satu set pakaian di lemari Natasya. Ia membantu Natasya memakai bajunya.
"Kamu memang pria yang hebat Satria, kau bahkan tak tergoda melihat aku tak memakai apapun," ucap Natasya.
Satria tak menggubris ucapan Natasya, ia hanya fokus memakaikan baju untuk Natasya.
__ADS_1
"Aku ambilkan makanmu dulu ya bu," Satria lalu pergi meninggalkan Natasya yang terus menatapnya dengan senyuman bangga.
Satria kembali masuk ke dalam kamar, membawa sepiring nasi goreng yang sudah dingin dan segelas air minum.
"Nasi gorengnya sudah dingin, mau ku hangatkan atau mau ku buatkan bubur?"
"Tak perlu, ini saja," Natasya mengambil piring yang dipegang Satria.
"Selera makanmu masih baik," ucap Satria memperhatikan bagaimana Natasya makan dengan lahapnya.
"Tentu saja, apalagi ini nasi goreng buatan kamu. Enak!"
Tak butuh waktu lama, nasi goreng di piring Natasya sudah habis tak bersisa.
"Kamu pintar masak, beruntung wanita yang menjadi istrimu nanti," puji Natasya.
"Bu, apa kau tak mau melakukan pengobatan lebih lanjut? Rasanya obat-obat itu tak memiliki pengaruh apapun, hanya mengurangi sedikit rasa sakit."
Natasya hanya tersenyum sambil menatap Satria, ia tau Satria sangat mengkhawatirkan dirinya saat ini. Tapi Natasya sendiri menolak untuk pengobatan lebih lanjut, ia memilih untuk menikmati setiap rasa sakit yang kini tengah dideritanya.
"Satria, aku bukan seorang ibu yang baik. Aku menelantarkan anakku, dan bahkan banyak menuntut ini dan itu dari anak yang tak pernah aku perhatikan sebelumnya," ucap Natasya sambil menggenggam tangan Satria.
"Ini adalah hukuman untukku, karena aku tidak menjalankan tugas sebagai seorang ibu dengan baik. Biarkan aku merasakan ini semua. Kamu cukup berada di sampingku seperti biasa sebelum ajal menjemput."
"Tapi bu..."
"Satria, aku sudah merasa lega sekarang. Apa yang ku inginkan sudah aku dapatkan. Sebelum kedua orang tuaku meninggal, Yayasan sepenuhnya sudah menjadi milikku, dan kelak jika aku pergi nanti kamu yang akan menggantikan tugasku."
"Kenapa aku? Bukannya Melisa?"
"Melisa? Dia tetap akan mendapatkan warisan dariku, dengan syarat dia harus menikah denganmu," goda Natasya.
Satria menghela nafas.
"Tapi Melisa sudah tunangan bu," ucap Satria dengan raut wajah sedih.
"Dia akan kembali padamu," Natasya menghibur Satria.
"Aku sudah mengangkat kamu sebagai anak, dokumennya pun jelas. Jadi seluruh harta yang kumiliki akan jatuh ke tanganmu, termasuk saham yang kumiliki di Laksmana Grup," Natasya melanjutkan ucapannya.
"Bu, tidak bisakah kita bicarakan tentang kesembuhanmu saja?"
"Aku tak yakin bisa sembuh Satria."
"Tentu saja bagaimana mungkin bisa sembuh jika ibu tak melakukan pengobatan lebih lanjut," Satria mulai kesal menghadapi Natasya yang tak kunjung mau berobat.
__ADS_1