
Natasya melihat banyak sekali orang yang mengelilingi rumah Satria, namun mereka semua dihadang oleh para pria berpakaian seragam serba hitam. Natasya seperti tau berasal dari mana orang-orang ini, ia lalu menghampiri salah satu pria itu.
“Kalian dari Laksmana Grup?” Tanya Natasya pada salah seorang dari mereka.
Pria itu menoleh dan mengamati Natasya dari atas sampai bawah, ia lalu menepuk pundak temannya memberi kode untuk melihat siapa yang datang? Pria yang satunya terkejut melihat ada Natasya di sana, ia langsung membungkukkan badannya dan menyuruh teman yang tadi memanggilnya juga membungkukkan badan.
“Siapa?” Bisik pria yang tadi dipanggil Natasya.
“Nyonya Natasya,” jawab pria yang satunya dengan suara agak keras. Beberapa pria berseragam hitam yang mendengar nama Natasya disebut sontak langsung menoleh ke arah mereka. Mereka semua langsung membungkukkan badan.
“Ada apa ini?” Tanya Natasya pada mereka. Natasya melihat ada beberapa muridnya di teras rumah Satria mereka meringkuk ketakutan bersama bibi Satria. Semua sepupu Satria juga terlihat sudah babak belur, Natasya segera menghampiri mereka.
“Apa yang kalian lakukan? Siapa yang memimpin ini?!” Bentak Natasya.
“Bu Natasya...” Stella dan gengnya segera berlari menghampiri Natasya. Terlihat jelas sekali saat ini mereka sedang syok karena melihat orang-orang dengan kejamnya memukuli dan menendang orang-orang yang mencoba melawan tanpa ampun. Mia dan Astrid masih setia berdiri di samping bibi yang terus menangis karena saat ini suaminya sedang berada di dalam.
“Apa yang terjadi?” Nataysa masih belum menerima jawaban dari siapapun di sana. Dan nampaknya para pria beringas itu juga tak mau menjawab pertanyaannya.
Stella menarik lengan Natasya meminta Natasya untuk duduk di dekat bibi. Stella dan gengnya menceritakan kronologis kejadian sejak tadi pagi. Tentu saja hal itu membuat Natasya geram, ia segera bangkit dan hendak masuk ke dalam rumah. Namun jalannya terhalang karena salah seorang yang badannya sangat besar berdiri tepat di pintu masuk.
“Minggir!” Perintah Natasya.
Namun laki-laki besar itu tetap bergeming di tempatnya.
__ADS_1
“Kau tak tau siapa aku? Aku tau siapa yang memerintahkanmu, cepat menyingkir dari hadapanku atau ku buat kau dipecat dari tempatmu bekerja!”
Masih diam di tempat. Laki-laki itu hanya menatap Natasya tanpa ekspresi.
Natasya menyeringai. “Kau benar tak mengenal siapa aku? Aku bisa mencari tau semua tentangmu, dan membuat keluargamu menderita seumur hidup. Kau pikir orang yang memerintahkanmu ini akan peduli pada keluargamu?”
Mendengar ancaman dari Natasya pada keluarganya tentu saja membuat pria itu menciut nyalinya. Akhirnya ia menggeser tubuhnya sedikit, memberi ruang hanya seperempatnya dari pintu masuk itu. Dengan tubuh langsingnya, tentu saja itu bukan hal sulit bagi Natasya. Wanita yang sudah berusia empat puluh tahunan itu dengan mudah masuk ke dalam rumah dengan tubuh langsingnya.
Saat di dalam rumah, betapa kagetnya ia melihat paman Satria sudah jatuh tersungkur. Di sampingnya ada seorang pria yang Natasya kenal adalah ketua RT di lingkungan rumah Satria, pria itu terlihat gemetar ketakutan tapi tak ada luka apapun di tubuhnya yang bisa Natasya temukan.
“Satria dimana?”
Paman dan pak RT segera menoleh ke arah Natasya. Dengan tangan gemetar, pak RT menunjuk ke arah kamar Satria. Entah apa yang sudah dilakukan orang-orang ini pada pak RT hingga pria itu nampak sangat ketakutan dan hanya diam tak bisa berbuat apa-apa saat warganya ada yang terkena masalah.
Edward yang melihat kehadiran Natasya tentu saja sangat terkejut. “Nyonya?”
Natasya menghampiri Edward terlebih dahulu, dengan sigap ia menendang area sensitif dari pria itu dengan sangat keras. Tentu saja dalam sekejap hal itu berhasil membuat Edward tumbang. Edward juga ikut meringkuk seperti Satria di atas lantai. Dengan menggunakan high heels nya Natasya menekan wajah Edward sampai berdarah karena ujungnya yang lancip.
“Apa yang kau lakukan pada Satria?” Dengan kejamnya Natasya terus menekan wajah itu tanpa kenal ampun.
“Aaaa...” Edward menjerit kesakitan. Belum hilang sakitnya akibat tendangan Natasya kini ia harus merasakan sakit karena wajahnya yang ditusuk dengan ujung sendal Natasya.
Natasya melepaskan pijakannya, ia lalu membungkuk menarik kerah baju Edward. “Kalau sampai Satria mati, aku tak akan segan-segan membunuhmu!” Ancam Natasya. Setelah itu ia melepaskan cengkramannya, lalu beralih mengambil pisau yang tadi terjatuh dari tangan Edward.
__ADS_1
Tanpa rasa takut, Natasya menyayat-nyayat tangan Edward, memberikan luka yang sama seperti yang Edward berikan pada Satria, membuat pria itu menjerit kesakitan. “Katakan, siapa lagi orang yang sudah membuat Satriaku seperti itu?”
“Ampun nyonya, ssshhh... tidak ada lagi, ssshhh... Hanya saya orang yang menghajar Satria,” jawab Edward sambil meringis kesakitan.
Natasya menggenggam pisau dengan sangat erat. Lalu dengan kejamnya menancapkan pisau tersebut di lengan Edward. Setelah itu Natasya kembali menendang Edward hingga membuat Edward semakin tak bisa berkutik.
Setelah selesai dengan Edward, Natasya segera menghampiri Satria. Ia memeriksa kondisi Satria yang sepertinya saat ini sedang pingsan. Dengan sigap ia segera menelpon Reni dan memintanya segera mengirim ambulan dan beberapa petugas medis ke rumah Satria.
Natasya segera keluar dan menyuruh pria yang menghalangi pintu masuk itu untuk segera masuk ke dalam.
“Hei, masuk sini! Cepat urus bos mu ini!” Perintah Natasya. Pria itu segera masuk ke dalam, dan betapa terkejutnya ia menemukan bosnya sudah terkapar bersimbah darah. Pria itu lalu memapah bosnya untuk keluar dari kamar Satria dan membawanya keluar rumah.
Natasya mengikuti di belakangnya. Betapa terkejutnya orang-orang melihat Edward yang tadi terlihat sangat garang kini sudah terkulai dengan bersimbah darah. Pak RT yang kini berdiri di belakang Natasya menepuk bahu Natasya.
Natasya menoleh, dan pak RT segera membungkuk seraya mengucapka terima kasih. Para sepupu dan juga teman-teman Satria menghampiri Natasya. Mereka terlihat sangat bersyukur karena Natasya kehadiran Natasya, sepertinya masalah akan bisa segera diselesaikan.
Melihat bosnya sudah kalah, sebagian anak buah Edward ikut masuk ke dalam mobil dan segera pergi meninggalkan rumah Satria. Masih sisa tiga orang lagi yang masih tinggal di sana. Dengan angkuhnya Natasya menyuruh mereka masuk. Tak lupa Natasya juga menyuruh para tetangga yang berkerumun di sekitar rumah Satria agar segera bubar.
“Kalian semua pulanglah, sudah tidak ada lagi yang bisa ditonton.” Natasya segera masuk diikuti pria-pria berseragam hitam yang tersisa. Tentu saja semua saudara dan teman Satria juga ikut masuk ke dalam rumah.
Natasya meminta bibi untuk menutup pintunya, dan setelah itu bibi segera pergi ke kamar Satria. Melihat bagaimana kondisi dari keponakannya itu.
“Ya ampun Satria...” Bibi menangis tersedu-sedu. Paman juga rupanya mengikuti bibi masuk ke dalam kamar satria. Sambil menahan sakit di badannya, paman juga ingin tau bagaimana kondisi Satria saat ini.
__ADS_1
Kini di ruang tamu ada Natasya, tiga orang pria berseragam hitam, pak RT, sepupu-sepupu Satria, dan juga teman sekolah Satria yang sejak pagi masih setia menemani Satria.