
Hari-hari berlalu setelah Satria mengalami hal yang membuatnya sedikit trauma. Bagi beberapa orang mungkin kejadian itu bukanlah apa-apa. Namun tidak bagi laki-laki yang lugu dan polos seperti Satria. Bayangan Natasya terus saja menari-nari di dalam pikiran Satria.
Hampir setiap malam Satria terus saja melihat mimpi yang hampir sama. Membuatnya menjadi enggan tidur dimalam hari. Dan saat di sekolah Satria menjadi merasa lemas karena kurang tidur.
Jam istirahat, Satria memilih untuk membaca buku di perpustakaan. Belakangan ini performa belajarnya menurun, padahal setiap malam ia belajar dengan keras. Namun apa yang sudah dilakukan Natasya seolah membuat mentalnya melemah.
Melisa memandang Satria dari kejauhan, beberapa hari belakangan ini memang Satria sering terlihat mengantuk saat berada di kelas. Satria bahkan pernah meminta ijin ke ruang UKS karena tubuhnya benar-benar tak bertenaga.
"Sebenarnya apa yang sudah dilakukan ibuku padamu?" Melisa melihat Satria dengan penuh kekhawatiran. Tapi laki-laki itu bahkan belakangan ini jarang bicara dengannya.
"Aku harus menemui wanita itu sore nanti," Melisa mengambil ponsel di sakunya. Ia mengetik pesan langsung pada ibunya.
Aku akan menemuimu di hotel pulang sekolah nanti.
Pesan terkirim. Melisa menoleh ke tempat Satria berada, dan ternyata Satria sudah menyandarkan tubuhnya ke tembok di sampingnya. Laki-laki itu terlihat tertidur dengan pulas.
Melisa menghampiri Satria, ia duduk di sampingnya perlahan. Tak ingin membangunkan Satria.
Melisa menopang kepalanya dengan sebelah tangannya. Wajahnya ia hadapkan ke arah Satria. Memandangi Satria yang tertidur pulas. Tanpa sadar tangan Melisa membelai wajah Satria.
Merasakan sentuhan tangan yang menyentuh wajahnya, reflek tangan Satria menepis tangan Melisa. Satria benar-benar terkejut, begitu juga dengan Melisa.
"Maaf," Melisa jadi merasa canggung setelah tangannya ditepis Satria.
Satria tak menjawab, ia malah bangun dari duduknya. Dengan mata yang sangat merah karena masih mengantuk, ia berjalan meninggalkan Melisa.
"Kau kenapa?" Batin Melisa.
Di dalam toilet, Satria membasuh wajahnya. Melihat ke arah cermin, wajahnya sudah tak karuan. Ia berharap Melisa tak mencecarnya dengan banyak pertanyaan karena perlakuannya barusan.
Bel masuk berbunyi. Melisa sudah menunggu Satria di dalam kelas. Namun laki-laki yang ia tunggu tak kunjung muncul di hadapannya.
"Kemana Satria?" Gumam Melisa.
"Satria pergi ke UKS," ucap Mia saat melintas di samping Melisa.
Melisa menoleh ke arah Mia, ia mengikuti Mia hingga gadis itu terduduk.
"Kenapa?" Tanya Melisa.
"Entahlah, sepertinya sakit. Aku hanya melihatnya tadi saat dia memasuki ruang UKS," jawab Mia.
Melisa segera berlari menuju ruang UKS. Ia langsung membuka pintu begitu sampai di depan ruang UKS.
Ada seorang petugas yang menoleh ke arahnya.
"Kau juga sakit?" Tanya petugas itu.
"Tidak, apa Satria di sini?" Melisa balik bertanya.
Petugas itu menunjuk tempat tidur dimana Satria berbaring kini.
__ADS_1
Melisa segera menghampiri Satria.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Melisa dengan suara lembut.
Satria tak menjawab, ia masih memejamkan matanya.
"Kau tidur?" Melisa ingin menyentuh Satria, tapi ia ingat kejadian di perpustakaan tadi. Melisa pun mengurungkan niatnya.
"Sepertinya ia kurang tidur akhir-akhir ini," ucap petugas yang sedang berjaga itu.
"Kenapa?" Melisa
"Entahlah, seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya," petugas kesehatan.
"Dia tak mengatakan apapun padamu?" Melisa.
Petugas itu menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku benar-benar akan menemui ibuku hari ini," batin Melisa.
"Kau kembalilah ke kelas, dia aman berada di sini bersamaku." Petugas kesehatan itu meyakinkan Melisa agar tak perlu mengkhawatirkan Satria yang sepertinya kini sedang tertidur lelap.
Melisa menurut, ia akhirnya kembali ke kelas. Meninggalkan Satria yang terlihat damai dalam tidurnya.
...***...
Pulang sekolah, Melisa bergegas keluar sekolah. Ia sudah memesan taksi untuk mengantarnya ke Grand hotel, tempat dimana Natasya menginap.
Melisa kini sudah berdiri di depan pintu kamar 1201. Ia hendak mengetuk pintunya namun ternyata Natasya sudah membukakan pintu lebih dulu.
Melisa masuk ke dalam kamar, mengikuti Natasya.
"Ada apa? Tumben sekali kau ingin menemuiku?" Tanya Natasya saat Melisa sudah duduk sofa.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Satria?" Tanya Melisa dengan tatapan penuh kebencian.
"Cih, kau menemuiku hanya karena itu? Kau bahkan tak menerima permintaan maafku," sindir Natasya.
"Hanya? Apa kau tak tau, setelah hari itu sikap Satria berubah, dia bahkan tak tidur setiap malam," Melisa menatap ibunya dengan tajam.
"Hahahaha.... Oh ya? Wah, sepertinya dia benar-benar masih polos. Begitu saja sudah membuatnya tak bisa tidur, dia pasti sangat menderita," ucap Natasya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Melisa geram melihat reaksi ibunya. "Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan padanya?"
"Tidak ada, aku hanya menawarinya sebuah tawaran yang menggiurkan," jawab Natasya santai.
"Tawaran apa itu?"
"Aku akan memberikan apapun yang ia mau jika ia bisa membuatmu kembali padaku," Natasya menyeringai.
"Hanya itu," Melisa tak percaya dengan jawaban Natasya. Hanya karena ucapan itu bisa mempengaruhi sikap Satria?
__ADS_1
"Ya, hanya itu. Kalau kau tak percaya tanya saja pada Satria," ucap Natasya.
Melisa menatap Natasya curiga, sepertinya ada hal lain yang tidak dikatakan oleh Natasya. Sesuatu hal yang bisa mengganggu pikiran Satria hingga membuatnya tak bisa tidur.
"Bagaimana? Kau mau kembali mematuhi perintahku?" Natasya.
Melisa terdiam, ia masih menatap Natasya dengan penuh kecurigaan.
"Kenapa kau menatapku begitu? Kau tak percaya padaku? Aku sungguh akan memberikan apapun yang ia mau jika dia bisa membuatmu kembali menjadi gadis penurut seperti dulu," Natasya.
"Apapun?" Melisa sanksi dengan kata itu.
"Ya, apapun. Termasuk jika ia meminta tubuhku pun akan aku berikan," jawab Natasya santai.
Melisa melotot mendengar jawaban Natasya. Tangannya mengepal keras menahan amarahnya.
"Jadi sebenarnya apa yang sudah kau lakukan pada Satria?" Tanya Melisa, masih dengan pertanyaan yang sama.
"Melisa sayang, mamah sungguh tak melakukan apapun. Mamah hanya memberikan sentuhan lembut di tubuh Satria, agar ia bisa semangat menjalankan misinya," lagi-lagi Natasya menjawab dengan Santai.
"Apa?" Melisa tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, "sentuhan macam apa?"
"Sentuhan lembut Melisa, kau tau kan? Kau pasti juga pernah melakukannya pada Satria."
Melisa mengernyitkan dahinya, mencoba berpikir dengan baik maksud perkataan Natasya.
"Tak mungkin kau melakukan hal menjijikan itu pada Satria?"
Natasya mengangguk percaya diri.
"Pantas saja Satria..." Melisa tak sanggup melanjutkan perkataannya. Ia menggelengkan kepala, menatap tak percaya pada Natasya.
"Apa dia tak bisa tidur hanya karena sentuhan singkat itu?Cih... Bagiku itu bahkan bukan apa-apa?"
Melisa benar-benar geram. Ia tak tau harus berkata apa, perasaan sesal menjalar di tubuhnya. Benar, saat itu ia harusnya mencegah Satria untuk masuk ke ruangan ini. Atau dia harusnya mengalah dan mau menuruti ajakan Satria menemui ibunya.
Tentu saja Natasya tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi Melisa saat ini.
Ditengah situasi panas yang kini dirasakan Melisa, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk. Keduanya menoleh ke arah pintu, Natasya berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu.
"Ayah?" Melisa menatap tak percaya.
"Kamu di sini Mel? Kalian sudah baikan? Baguslah..." Gunawan terlihat senang melihat Melisa ada di kamar Natasya.
"Tentu saja, karena kita adalah keluarga yang harmonis. Kita tak boleh bertengkar satu sama lain," dengan tidak malunya Natasya bergelayut manja di lengan Gunawan.
"Kalian tak jadi bercerai?" Melisa mengernyitkan dahinya melihat pemandangan itu.
Kedua orang tuanya mengangguk. Membuat Melisa semakin geram. Ia sudah tak tahan lagi berada di ruangan ini. Melisa bergegas bangkit dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
"Kamu mau kemana Mel?" Tanya Gunawan saat Melisa berlalu pergi.
__ADS_1
"Sudah biarkan saja, dia mungkin butuh waktu untuk benar-benar memaafkan aku," ucap Natasya.
"Menjijikan," ucap Melisa sebelum pintu lift tertutup.