
Satria membawa Melisa kembali ke rumah Natasya.
"Ini rumah kita?" Tanya Melisa.
"Tentu saja, ini kan rumah ibumu dan juga ibuku. Jadi ini rumah kita," jawab Satria santai sambil melepas helmnya.
"Kamu tidak mau turun?" Tanya Satria sambil menengok ke belakang.
Melisa yang sedang melamun seketika sadar bahwa ia seharusnya turun sejak tadi. Melisa segera turun dari motor Satria dan berjalan ke arah teras rumah.
Di susul oleh Satria di belakangnya. Kini Melisa sudah sampai di depan pintu masuk yang tertutup.
"Ini kodenya," Satria memasukkan enam angka kode sandi pintu.
"Hafalkan ya!" Satria lalu membuka pintu yang sudah tidak terkunci lagi.
"Apa tidak apa-apa aku tau kode itu?"
"Tentu saja, ini kan juga rumahmu," Satria tersenyum ramah pada Melisa.
Satria yang tadi terlihat sedikit emosi, kini tampak baik-baik saja.
"Satria, bagaimana jika ayahku menyusul ke sini?" Melisa menghentikan langkah kakinya.
"Kamu tak perlu khawatir Mel, ada aku, ibu, dan juga ayah kita," ucap Satria menenangkan Melisa
"Ayah kita? Om Steve maksudnya?"
"Tentu saja siapa lagi?"
"Loh, kok kamu balik lagi ke sini Melisa?" Suara Steve tiba-tiba terdengar. Keduanya menoleh ke sumber suara.
"Om, maaf... Aku..."
"Kamu mau menginap di sini?" Steve memotong ucapan Melisa.
"Bolehkah?"
"Tentu saja, ini kan rumahmu juga," Steve berjalan menghampiri Melisa dan Satria.
"Tapi kamu tadi datang bersama Satria?" Steve melihat keduanya dengan bingung.
"Iya yah, tadi Dion ninggalin Melisa di pinggir jalan. Jadi aku ajak aja dia pulang," jawab Satria.
"Hah?" Steve nampak sangat bingung mendengar jawaban dari Satria.
"Yah, biar Melisa istirahat dulu ya," pinta Satria.
"Oh iya, istirahatlah!"
Satria lalu mengajak Melisa masuk ke kamarnya. Ia tau saat ini Natasya pasti sudah tertidur.
"Apa ibuku sudah tidur?"
"Sepertinya begitu," jawab Satria dengan senyuman hangat.
Sampai di dalam kamar, Satria mempersilahkan Melisa untuk beristirahat di dalam. Sementara dirinya akan keluar dan tidur di ruang tengah.
"Kamu ganti pakai baju aku aja ya. Kamu bisa pilih sendiri di lemari," ucap Satria sebelum pergi meninggalkan Melisa.
Saat Satria hendak meninggalkannya, Melisa menarik ujung baju Satria.
__ADS_1
"Satria..."
"Mmm?"
"Apa kamu membenciku?"
"Tidak, kenapa aku harus membencimu?"
"Lalu kenapa kamu tak ada saat makan malam tadi?"
"Ah, aku tadi ada janji bertemu dengan temanku di sekitar sini."
"Sungguh?"
"Mmm..." Satria mengangguk.
"Lalu aku harus bagaimana menghadapi ayahku?"
"Mel, kamu gadis yang kuat. Aku yakin kita bisa melewati semua ini bersama," Satria memegang kedua bahu Melisa.
"Kamu tak akan meninggalkan aku?"
"Tentu saja tidak. Oh iya, ponselmu biar aku ganti ya," Satria berjalan menuju lemari pakaian dan mengeluarkan sebuah dus berisi ponsel baru.
"Ini," Satria menyerahkan dus itu pada Melisa.
"Tak perlu, aku bisa beli nanti," Melisa hanya melihat dus di tangan Satria.
"Anggap saja ini hadiah dariku," Satria kembali menyodorkan dus itu.
Sambil tersenyum Melisa mengambilnya.
"Besok biar aku antar kamu untuk membeli nomor baru," ucap Satria.
Kini Satria sudah keluar dari dalam kamarnya, meninggalkan Melisa sendiri di sana.
Sementara itu, dikediaman Gunawan. Tampak pria itu sedang menahan emosinya. Silvana datang menghampiri Gunawan yang tengah memijit keningnya, dan terduduk di ruang kerjanya.
"Ada apa?" Tanya Silvana seraya merangkul pundak Gunawan.
Gunawan menoleh ke arah Silvana.
"Melisa pergi ke rumah Natasya," jawab Gunawan.
"Seorang diri?"
"Dia datang bersama Dion, tapi entah mengapa keduanya kini tak bisa dihubungi?"
"Bukankah kau terlalu keras pada Melisa? Bagaimanapun Natasya juga ibunya."
"Kau tak kenal seperti apa Natasya, aku hanya khawatir Natasya mencelakai Melisa,"
Gunawan tertunduk menatap meja kerjanya.
"Tapi Melisa kan pergi bersama Dion, seharusnya kamu tak perlu khawatir," Silvana mengusap-usap bahu Gunawan.
"Tapi..."
"Katakan padaku, sebenarnya apa yang kau khawatirkan?"
"Di sana ada Satria, Satria sudah pulang. Dan..."
__ADS_1
"Dan?"
"Aku hanya takut Satria membalaskan dendamnya pada Melisa," ungkap Gunawan.
"Dendam?"
"Ceritanya panjang, kamu istirahatlah. Ini sudah larut malam," ucap Gunawan dengan lembut.
"Aku belum mengantuk, bagaimana kalau kau ceritakan apa yang terjadi hingga anak itu memiliki dendam padamu?"
"Kau yakin ingin mendengarnya?" Gunawan tampak ragu.
"Tentu saja!"
"Aku takut kau akan membenciku jika aku menceritakan semuanya," Gunawan menarik Silvana ke pangkuannya.
"Biar aku yang menilai, apakah aku akan membencimu atau tidak."
Gunawan berpikir sejenak, ia lalu mulai menceritakan bagaimana ia menipu Melisa dan Satria dengan kebaikannya selama ini. Gunawan sengaja menjadikan Natasya sebagai sosok yang menentang hubungan kedua remaja itu. Karena baginya, Natasya sangat cocok menjalankan peran sebagai orang tua yang jahat.
Padahal, Natasya sendiri tidak peduli pada Melisa. Ia selama ini meminta Melisa untuk patuh padanya hanya untuk menjaga citra dirinya dan agar ia tidak mendapat amarah dari Gunawan.
Sedetail mungkin Gunawan menceritakan tentang semua yang ia rencanakan pada keluarga Satria. Dan Silvana pun mendengarkannya dengan seksama.
Cukup lama Gunawan menceritakan semua tentang dirinya, Melisa, dan Satria.
"Aku mengerti kenapa anak itu membencimu, jika aku jadi dia, kamu pasti sudah aku bunuh!"
Gunawan menyeringai.
"Apa kau tak ingin meminta maaf pada anak itu?"
"Untuk apa? Aku tak merasa melakukan kesalahan. Jika dia dan keluarganya tak mendekati Melisa, aku tak akan melakukan hal itu."
"Tapi tetap saja, meski awalnya kau hanya berniat mencelakai. Tapi nyawa mereka terenggut karena ulahmu," Silvana mencoba menasihati Gunawan.
"Jadi sekarang keputusannya kau membenciku?"
Silvana menghela nafas.
"Kenapa kau tidak izinkan saja Melisa bersama dengan orang yang ia cintai. Jika kau memaksa Melisa menikahi Dion, maka pernikahannya akan sama seperti pernikahan kau dan Natasya."
"Aku tau itu, tapi..."
"Ku dengar Satria adalah orang yang cerdas. Ia bahkan mendapatkan beasiswa untuk program pasca sarjana di universitas ternama itu. Pasti saat ini, ia sedang berjuang keras untuk menyamakan statusnya dengan Melisa."
"Tetap saja..."
"Bagaimana denganku? Aku juga tak beda jauh dengan Satria. Status sosialku yang merupakan anak yatim piatu, pasti lebih rendah dari Satria," ucap Silvana dengan sedih.
"Tidak! Kau berbeda dengan Satria, kau adalah orang yang harus ku lindungi. Sementara Satria, meski dia orang tak punya. Tapi dia memiliki keluarga yang selalu mendukungnya. Dan hal itu membuat Melisa iri," ucap Gunawan penuh emosi.
"Dan kau ingin membuat Satria tak lagi memiliki orang yang mendukungnya? Agar laki-laki itu bisa merasakan apa yang Melisa rasakan?"
Gunawan terdiam.
"Satu hal yang tak pernah aku bayangkan, Natasya dengan suka rela membantunya. Dan itu membuat rencanaku menghancurkan Satria seketika gagal!"
"Sudahlah, berhentilah bersikap egois."
"Egois? Aku melakukan semua ini demi Melisa!" Bentak Gunawan.
__ADS_1
Silvana terdiam, ia yang sejak tadi duduk di pangkuan Gunawan segera bangkit.
"Kalau begitu, maaf! Aku tak pernah bisa mengerti isi hatimu," Silvana pergi meninggalkan Gunawan di ruang kerjanya.