Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Rasa Sakit


__ADS_3

“Kenapa kau berkata seperti itu di dalam?” Tanya Melisa sambil menahan emosinya, ketika mereka sudah berada di luar restoran. Di tempat yang cukup sepi dari keramaian.


“Tentu saja karena aku ingin menjatuhkanmu,” Natasya berkata dengan sinis.


“Jadi sekarang kau benar-benar sudah tak menganggap aku sebagai anakmu?”


“Loh? Kamu masih mau jadi anakku? Bukankah kamu sudah tak menganggap aku ini ibumu?”


Melisa menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, saat ini ia sedang mengatur emosinya.


“Kalau begitu katakan padaku mengapa kau melakukan ini?”


Natasya berjalan mendekati Melisa, hingga jarak di antara keduanya hanya tersisa beberapa centi saja.


“Aku membenci Gunawan, dan satu-satunya hal yang membuat Gunawan terpuruk adalah melihat putri satu-satunya menderita. Dan asal kau tau Melisa, melihat kamu yang sama sekali tak memiliki rasa hormat padaku membuatku kembali teringat saat-saat aku mengandung dan melahirkanmu dulu. Kau dan ayahmu sama-sama sudah membuatku menderita, dan tak ada satupun dari kalian yang peduli pada penderitaanku,” mata Natasya menatap nanar.


Natasya kembali mengingat bagaimana tidak pedulinya Gunawan saat ia sedang hamil Melisa, dan detik-detik saat melahirkan Melisa. Gunawan tak pernah ada.


“Seharusnya kau berterima kasih padaku, karena aku sudah mempertaruhkan nyawaku untuk melahirkanmu ke dunia ini. Kau juga perempuan Melisa, kelak suatu saat kau akan tau merasakan beratnya masa-masa kehamilan dan juga melahirkan. Dan bayangkan, anak yang sudah susah payah kau kandung dan lahirkan. Kini malah menjadi orang yang membencimu. Ingat Melisa, sampai kapan pun kamu tak akan pernah bisa membalas jasa-jasaku itu,” Natasya meninggalkan Melisa yang hanya diam mematung mendengar perkataan ibunya.


Melisa berusaha meredakan emosinya, ia terus menerus mengatur nafasnya. Melisa berusaha mencerna semua kata-kata yang disampaikan oleh Natasya. Memang benar, seberapa pun menyebalkanya Natasya, dia tetap seorang ibu yang sudah berjuang demi kehidupannya di dunia ini. Tapi tetap saja, entah mengapa Melisa merasa tak bisa menerima dan memaafkan ibunya.


Satria yang berada tak jauh dari tempat Melisa berdiri, tentu saja bisa mendengar apa yang tadi dikatakan Natasya. Satria memperhatikan dengan seksama raut wajah Melisa yang jelas masih berusaha mengendalikan emosinya. Saat emosi Melisa sudah mulai stabil, Satria datang menghampiri.


“Bagaimana pun dia juga seorang istri yang ingin diperhatikan oleh suaminya saat tengah mengandung, namun ayahmu tak pernah ada. Ibuku bilang, melahirkan itu bagai mempertaruhkan nyawa. Sakitnya luar biasa, tak ada rasa sakit yang melebihi sakitnya orang melahirkan. Itulah mengapa aku memintamu untuk berbaikan dengan ibumu.”


“Tidak semudah itu Satria,” Melisa menundukkan wajahnya.


“Aku tau, tapi setidaknya jangan kamu membencinya. Jika kamu tak bisa membuatnya bahagia, cukup untuk tidak menyakiti hatinya,” nasihat Satria.

__ADS_1


“Meskipun ibuku sudah bersikap jahat padaku?”


“Sikap jahat yang mana Melisa? Apakah ibumu menyiksamu? Memukulimu? Atau mencoba membunuhmu?”


Melisa menggelengkan kepalanya. “Aku tak tau, aku hanya merasa ibuku sangat jahat.”


“Dia tak pernah melakukan kekerasan padamu kan? Itu artinya dia masih memiliki naluri sebagai ibu, dia masih menyayangimu. Hanya saja ibumu tak tau bagaimana mengungkapkannya. Yang selama ini ia rasakan hanyalah rasa sedih karena tak mendapat perhatian disaat ia membutuhkan seseorang. Jika sekarang ia menyerangmu, itu hanya bagian dari rasa sedihnya agar ayahmu lebih memperhatikannya.”


“Tidak Satria, wanita itu hanya menggunakan aku agar bisa balas dendam pada ayahku,” Melisa mendesah.


“Mel, cobalah mengerti ibumu.”


“Aku tak bisa Satria, aku selalu saja merasa marah saat melihatnya,” emosi Melisa kembali memuncak saat ia mendengar kata-kata Satria yang seolah selalu membela ibunya.


“Tentu saja, sampai kapan pun kamu tak akan pernah bisa. Jika kamu selalu memberi jarak pada ibumu, cobalah untuk benar-benar datang padanya, duduk di sampingnya, dan dengarkan apa isi hatinya. Kelak kau akan tau, luka seperti apa yang dimiliki ibumu?”


Melisa menggelengkan kepalanya. “Maaf Satria, kalau pun aku harus melakukan itu. Mungkin bukan hari ini, mungkin suatu saat nanti aku baru bisa melakukannya.”


“Bagaimanapun ibumu Melisa, setidaknya bersyukurlah. Kamu masih memiliki seorang ibu. Bayangkan jika ibumu sudah tak ada lagi di dunia ini, apa kamu masih bisa membencinya?”


Melisa tertunduk, ia tak berani menatap Satria.


“Satria, aku ingin sekali memelukmu. Tapi aku tak bisa, aku takut kamu akan semakin terluka. Aku merelakan dirimu jika memang ibuku lebih bisa membuatmu bahagia, terima kasih atas semua yang sudah pernah kau berikan padaku. Entah kedepannya apa kita masih bisa bertemu dan kembali bersama. Aku hanya berharap kamu bisa meraih mimpimu, menjadi orang sukses. Maaf jika aku tak bisa menjadi orang yang selalu berada di sisimu saat kau membutuhkan seseorang. Maaf juga karena kau harus kehilangan keluargamu karena mengenal diriku.”


Air mata Melisa tumpah, gadis itu sudah tak sanggup lagi menahan tangisnya. Melihat Melisa yang mulai menangis, Satria semakin mendekatkan dirinya pada Melisa. Satria tau betul semua ini juga tak mudah bagi Melisa. Kedua orang tuanya sudah sangat membuat Melisa kecewa.


Satria meraih tengkuk Melisa dan mencium bibir Melisa, sebelah tangannya memeluk pinggang Melisa dan menariknya agar semakin dekat denganya. Hingga tak ada lagi jarak di antara keduanya. Melisa yang terkejut mendapat ciuman dari Satria perlahan memejamkan matanya, gadis itu meraih ujung kemeja Satria dan dengan kuat mencengkramnya.


Satria melepaskan ciumannya, ia menatap mata gadis yang sangat ia cintai itu.

__ADS_1


“Aku mencintaimu Melisa, seberapa pun beratnya hidupmu. Jangan pernah lupa, bahwa ada aku yang akan selalu mencintaimu.”


Satria kembali mencium bibir Melisa dengan mata terpejam. Mendengar pengakuan cinta dari Satria tentu saja membuat jantung Melisa berdebar sangat hebat. Ia tak tau mengapa Satria mengatakan itu padanya saat ini, Melisa tak peduli. Ia hanya merasa sangat bahagia mengetahui bahwa orang yang ia cintai juga memiliki perasaan yang sama. Dan bahkan Satria juga memberikannya ciuman yang selama ini selalu ia mimpikan.


“Aku juga mencintaimu Satria,” ucap Melisa dalam hatinya. Kini kedua tangan Melisa melingkar di leher Satria. Meski hatinya merasa senang, air mata Melisa terus saja mengalir membasahi pipinya.


Satria sudah melepaskan ciumannya, kini mereka berdua saling menatap. Satria menghapus air mata yang masih mengalir di wajah Melisa.


“Jangan bersedih lagi, sekarang kamu harus fokus pada tujuanmu. Tetaplah berada di samping ayahmu, aku tau kamu akan merasa jauh lebih mudah untuk memaafkan ayahmu dari pada ibumu.”


“Tapi Satria, ayahku sudah menyakitimu,” Melisa kembali menundukkan wajahnya.


Satria mengangkat dagu Melisa dengan tangannya.


“Aku tidak apa-apa. Ibumu sudah membantuku melalui semua ini,” Satria tersenyum ramah. Ia ingin menunjukkan pada Melisa bahwa dirinya baik-baik saja.


“Benarkah?”


Satria menganggukkan kepalanya.


“Aku akan berada di sisi ibumu, aku akan menjaganya.”


“Apa dia masih merayumu?”


Satria tertawa, disela-sela waktu luangnya Natasya memang masih suka menggoda Satria. Namun nampaknya wanita itu sudah mulai sadar, godaannya hanya sebatas kata-kata saja. Satria justru sudah menganggap Natasya seperti ibunya sendiri.


“Kenapa tertawa?”


“Ibumu memang suka menggodaku, tapi justru bagiku itu adalah cara dia menghiburku.”

__ADS_1


Melisa tersenyum mendengar jawaban Satria. Kini keduanya sudah berjalan kembali masuk ke dalam restoran, hati Melisa sudah jauh lebih tenang. Memang hanya Satria satu-satunya orang yang bisa meredamkan amarahnya.


__ADS_2