
Gunawan yang masih kesal, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia lalu menyusul Silvana keluar ruangannya.
"Sayang, maaf. Aku tak bermaksud membentakmu tadi," Gunawan terlihat menyesali perbuatannya.
"Tak apa, lagi pula aku ini siapa? Aku bukan orang yang punya status sosial yang baik. Aku miskin, yatim piatu, bahkan sekarang aku adalah seorang yang memiliki anak tanpa menikah. Aku tak layak ada di sampingmu, biarkan aku pergi!"
Silvana berjalan semakin menjauh, namun Gunawan segera menarik Silvana ke dalam pelukannya.
"Jangan pergi lagi! Aku mohon!"
Gunawan semakin mempererat pelukannya.
"Aku tak bisa hidup tanpamu, aku mohon!"
"Kenapa aku harus ada di sampingmu? Aku bahkan bukan apa-apa," Silvana berusaha melepaskan pelukan Gunawan.
"Tidak, kau segalanya bagiku. Aku tak peduli seperti apa dirimu di mata orang lain, bagiku kau adalah hidupku. Ku mohon jangan pergi lagi," Gunawan memohon pada Silvana.
Silvana terdiam sejenak. Gunawan akhirnya melepaskan pelukannya setelah Silvana tak lagi berontak.
"Ku mohon jangan tinggalkan aku lagi, kau sangat berharga bagiku," ucap Gunawan dengan wajah memelas.
"Sungguh? Sebegitu berharganya aku bagimu?"
Gunawan mengangguk meyakinkan.
"Kalau begitu, kau seharusnya paham apa yang Melisa rasakan."
Gunawan mengernyitkan dahinya.
"Maksudmu?"
"Jika memang kau sangat mencintaiku, bahkan setelah menikahi wanita yang dijodohkan padamu selama puluhan tahun dan kau tetap mencariku. Kau seharusnya paham, bagaimana rasanya terpisah dari orang yang kau cintai," Silvana menatap Gunawan tanpa ekspresi.
"Tapi..."
"Tapi apa? Karena status sosial? Aku rasa mantan istrimu memberikan fasilitas luar biasa pada anak itu, bukankah sekarang status sosialnya sudah meningkat?"
Gunawan tertunduk, ia memikirkan kata-kata Silvana.
"Aku tau, kau mungkin awalnya hanya ingin menggertak anak itu dan keluarganya. Dengan membuat mereka celaka dan menderita. Namun nyatanya takdir berkata lain, perbuatanmu itu sudah berhasil merenggut nyawa keluarga bahagia itu. Dan kini yang tersisa dalam pikiranmu hanya ketakutanmu sendiri."
Silvana memegang kedua pipi Gunawan.
"Kau hanya selalu berpikir, dia akan membalaskan dendamnya padamu melalui Melisa. Kau pikir, dia akan sama seperti mantan istrimu itu kan? Apa karena sekarang mereka ada di kubu yang sama? Itu mungkin saja bisa terjadi. Tapi ingat, kau juga sudah menorehkan luka yang teramat dalam di hati anak itu."
__ADS_1
"Jadi, menurutmu aku biarkan saja mereka melukai Melisa?"
Silvana menggeleng perlahan.
"Aku yakin, anak itu juga sangat mencintai Melisa. Ia tak mungkin melukai orang yang ia cintai. Namun masalah kalian harus segera kalian selesaikan," nasihat Silvana.
"Aku tak mengerti maksudmu," Gunawan mencoba membaca apa yang sebenarnya mau dikatakan oleh Silvana.
"Cobalah turunkan sedikit egomu. Bagaimana pun, kamu sudah berbuat salah. Dan kamu harus bertanggung jawab. Minta maaflah pada anak itu, dan kita lihat reaksinya."
Gunawan terdiam, ia memikirkan nasihat dari Silvana.
"Kenapa kau berpikir aku harus melakukan itu?"
"Jika kau benar menganggap aku adalah orang yang berharga, meski status sosialku tak ada artinya. Harusnya itu juga yang dirasakan Melisa. Dan ketika kamu melukai hati Satria, kau juga secara tak langsung telah menyakiti hati Melisa."
"Aku tau, aku sudah menyakiti Melisa. Tapi tetap saja, mereka berdua tak pantas untuk bersama," Gunawan masih tetap pada pendiriannya.
"Kenapa?"
Gunawan terdiam, lagi-lagi ia berpikir Satria hanyalah orang miskin yang tak pantas bersanding dengan putrinya. Namun, kenyataannya Satria kini sudah diasuh oleh Natasya yang jelas status sosialnya sangat tinggi. Ia tak bisa lagi menjadikan status sosial itu sebagai alasan untuk menentang hubungan mereka.
Dan kini yang tersisa hanyalah dendam. Alasan ia menolak Satria saat ini adalah karena kekhawatirannya sendiri. Ia takut Satria akan membalaskan dendamnya, dan menyakiti Melisa.
"Haruskan aku meminta maaf dan mengakui perbuatanku?"
Silvana mengangguk.
"Aku mungkin akan dipenjara," ucap Gunawan dengan nada yang lemah.
"Tak masalah, aku akan menunggumu," ucap Silvana.
"Tapi aku tak mau berpisah lagi denganmu," Gunawan menatap sedih pada Silvana.
"Aku akan pergi jika kamu tak mau bertanggung jawab atas perbuatanmu. Aku tak suka dengan orang yang menyakiti hati orang lain!"
Ucapan Silvana tentu saja membuat Gunawan ketakutan. Ia meraih tangan Silvana dan berlutut memohon.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku! Baiklah, akan aku lakukan apapun yang kau minta," Gunawan benar-benar merasa takut akan kehilangan sosok yang ia cintai untuk kedua kalinya.
Silvana menatap Gunawan dengan serius.
"Untuk saat ini, biarkan mereka menghabiskan waktu bersama. Mereka pasti saling merindukan satu sama lain," ucap Silvana dengan lembut.
"Lalu?"
__ADS_1
"Setelah situasi mulai membaik, coba temui anak itu dan minta maaflah."
"Jika dia menuntut aku ke polisi?"
"Kau harus terima, tapi jika memang anak itu sangat mencintai Melisa, ia pasti tak akan melakukan itu."
"Kau yakin?"
Silvana mengangguk.
"Jadi saat ini, aku biarkan saja mereka bersama?"
Silvana kembali mengangguk.
Gunawan terdiam, ia tak yakin apa ini adalah jalan yang benar yang harus mereka lalui. Tapi ia tak mau lagi berpisah dengan Silvana.
"Aku mengantuk, ayo kita tidur," ajak Silvana.
Gunawan tersenyum, ia berdiri di hadapan Silvana lalu membopong tubuh Silvana yang sudah sedikit berisi itu dan membawanya ke kamar mereka.
Sementara itu, di rumah kediaman keluarga Dion. Dion yang saat ini sedang menyiram dirinya di bawah kucuran air di kamar mandi, teringat dengan kata-kata Melisa yang menyakiti hatinya.
"Haruskah kau mengatakan itu?"
Dion saat ini sedang mencoba untuk meredam emosinya. Rasanya saat ini, ia ingin berlari dan menghajar Satria karena telah meniduri tunangannya.
"Bisa-bisanya kau melakukan itu Satria!"
Bugh...
Dion meninju dinding kamar mandi yang kokoh itu. Hatinya tak terima, saat tau orang yang dicintainya tidur dengan pria lain. Meski ia tau, Melisa sangat mencintai Satria dan gadis itu pasti rela memberikan apapun termasuk tubuhnya pada Satria.
"Aaaarrrgghhh..." Dion berteriak sangat kencang, ia meluapkan emosinya di bawah kucuran air.
Setelah puas meluapkan emosinya, Dion berjalan keluar kamar mandi. Masih mengenakan pakaian yang sudah basah karena guyuran air, Dion terbaring lemah di lantai. Ia merasa sangat lelah setelah puas memukuli tembok dan berteriak di dalam kamar mandi.
"Haruskah aku mengakhiri hubungan ini?"
Dion perlahan memejamkan matanya, rasanya ia sangat mengantuk dan ingin segera tidur. Namun seketika bayangan Melisa yang tengah memadu kasih bersama Satria muncul di benaknya.
Dion kembali membuka matanya. Hatinya kembali kesal melihat adegan panas yang ia ciptakan sendiri dalam pikirannya.
"Kenapa kau tega sekali padaku Mel? Aku tak masalah jika memang kau masih mencintai Satria meski sudah bertunangan denganku. Tapi kenapa harus sampai sejauh ini?"
Dion menangis sambil meringkuk di atas lantai di kamarnya. Ia memegang dadanya yang terasa sesak.
__ADS_1