Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Teman Curhat


__ADS_3

Sore itu langit terlihat mendung, hujan rintik-rintik perlahan membasahi bumi. Hingga lama kelamaan hujan turun semakin deras.


Di dalam kelas XII IPA 1, Satria terlihat beberapa kali menoleh ke arah luar. Sebentar lagi jam pelajaran akan habis, tapi hujan malah turun semakin deras. Satria teringat jas hujannya yang baru dijemur tadi pagi karena basah bekas hujan kemarin.


Beberapa hari ini, hujan memang seringkali turun saat jam pulang sekolah. Padahal biasanya pagi hingga siang hari, langit nampak sangat cerah.


"Musim hujan gini, harusnya kamu ga usah bawa motor," ucap Melisa membuyarkan lamunan Satria.


"Iya, mana aku lupa bawa jas hujan," keluh Satria.


"Hujan begini juga kayanya bakal lama deh Sat," Melisa.


Satria mengangguk setuju, melihat langit yang benar-benar gelap. Seperti hari kemarin, hujan baru berhenti saat pukul sembilan malam.


"Kamu pulang bareng aku aja yuk," ajak Melisa.


"Emang kamu bawa mobil?" Tanya Satria.


"Engga, hari ini aku ada janji sama om Steve," jawab Melisa.


"Janji apa?"


"Om Steve mau ajak aku makan malam, kamu ikut aja yuk!" Ajak Melisa.


"Terus motor aku gimana?"


"Ya udah tinggal aja, besok baru dibawa pulang," jawab Melisa.


Satria nampak berpikir sejenak.


"Dari pada kamu nunggu sampe hujan reda, pasti bakal sampe malam Sat," Melisa.


Satria mengangguk, ia seperti menyetujui pendapat Melisa tentang hujan yang akan turun sampai malam. Namun ia juga ragu jika harus pulang ikut dengan Steve dan Melisa.


"Aku ga papa ikut gabung?" Tanya Satria ragu.


"Ga papa," jawab Melisa yakin.

__ADS_1


Beberapa hari terakhir sejak Steve mengantar Melisa, keduanya semakin akrab. Mereka kerap kali berhubungan lewat pesan singkat, mereka juga pernah makan bersama di berbagai kesempatan. Steve memang sangat ramah, ia juga pernah beberapa kali mengantar jemput Melisa ke sekolah.


Steve juga telah memberi banyak nasihat untuk Melisa. Hingga akhir-akhir ini, Melisa tak lagi terlihat marah atau sekedar bereaksi tak suka jika ada bahasan tentang ibunya. Walau bahasan itu seringkali dimulai oleh Steve.


Satria sudah tak pernah membahas tentang Natasya sedikitpun, bahkan sekedar mengungkit permintaan maaf yang sebelumnya selalu diributkan oleh Satria. Kini sudah tak ada lagi dalam bahasan obrolan antara Satria dan Melisa. Mungkin Satria masih merasa sedikit trauma atas kejadian yang pernah menimpanya.


Meski begitu, Satria sepertinya berusaha sangat keras untuk melupakan kejadian di kamar hotel itu. Ia berharap, tak lagi bertemu dengan wanita yang sudah membuatnya kehilangan konsentrasi belajar dan kekurangan waktu tidur karena memikirkan hal yang tidak penting.


Menunggu beberapa saat setelah bel pulang sekolah berbunyi. Dan benar saja, hujan tak kunjung reda. Steve saat itu sudah datang dan menunggu di parkiran sekolah.


"Ayo Sat, ikut aku aja," sekali lagi Melisa mengajak Satria untuk bergabung bersamanya.


"Aku ga papa Mel, aku tunggu hujan berhenti aja. Atau nanti kalau sudah agak kecil biar aku terobos aja hujannya," Satria menolak ajakan Melisa.


"Loh, kenapa?" Melisa mengernyitkan dahinya.


"Ga papa, nanti aku malah ganggu kalian," jawab Satria.


"Ganggu apa?" Melisa tak mengerti akan jawaban Satria.


"Aku juga ga tau Mel, cuma aku ngerasa ga seharusnya aku ada diantara kalian," Satria.


"Engga Mel, cuma aku ga enak aja," Satria.


"Gak enak kenapa?" Melisa terus mencecar Satria dengan banyak pertanyaan.


Sebenarnya Satria kurang nyaman jika harus ikut bersama Steve. Bukan karena ia cemburu, tapi lebih karena canggung. Steve adalah kekasih Natasya, meski memang sudah putus. Namun Satria merasa aneh jika Steve kini malah mendekati Melisa.


"Kamu gak suka sama om Steve?" Tanya Melisa curiga.


"Gimana ya Mel, aku bukannya ga suka. Aku cuma ngerasa aneh aja," Satria.


"Aneh gimana?" Melisa.


"Aneh, karena dia sekarang deket banget sama kamu. Padahal dia kan udah putus dari ibu kamu," Satria.


"Aku ga ngerasa ada yang aneh kok, om Steve baik. Aku bahkan sering curhat masalah orang tuaku ke dia," Melisa.

__ADS_1


"Kamu curhat soal orang tua kamu ke dia? Kenapa?" Satria.


"Ya selain karena dia udah tau masalah keluargaku, dia juga asik kok. Sering kasih aku motivasi, saran-saran. Aku bahkan sekarang udah ga terlalu benci sama ibuku," jelas Melisa.


Satria terdiam. Memang tidak ada alasan yang pasti mengapa Satria bisa tidak menyukai kedekatan Melisa dengan Steve. Namun bagi Satria hal ini tetap terasa aneh. Hanya saja, ia tak bisa menjelaskannya kepada Melisa.


"Udahlah Sat, ngaku aja. Kamu emang lagi cemburu kan?" Ledek Melisa.


"Ya semoga aja, ini cuma karena aku sedang cemburu. Bukan sebuah firasat buruk," batin Satria.


Melihat Satria yang diam saja, Melisa merasa tebakannya benar.


"Ya kan kamu cemburu," Melisa kembali meledek Satria.


"Ya anggap saja begitu," jawab Satria singkat.


"Makanya ikut sama kita, biar kamu ga perlu terlalu curiga. Aku bener-bener anggap om Steve cuma sebagai teman curhat, ga lebih," Melisa.


"Aku tau Mel," batin Satria.


"Ikut ya, mau ya?" Bujuk Melisa.


Akhirnya Satria setuju untuk ikut bersama Melisa. Ini ia lakukan agar ia bisa menjawab rasa penasarannya terhadap mantan kekasih Natasya yang akhir-akhir ini malah semakin dekat dengan Melisa.


"Aku harus tau, apa pria itu punya motif tersembunyi hingga ia mendekati Melisa setelah putus dengan nyonya Natasya?" Batin Satria.


Mereka sudah masuk ke dalam mobil mewah Steve.


"Maaf ya om lama, tadi aku bujuk Satria dulu supaya mau ikut sama kita," Melisa menjelaskan pada Steve kenapa ia terlambat keluar kelas.


"Iya, tak apa. Satria, kamu kenapa gak langsung setuju saat diajak Melisa? Kenapa harus sampai dibujuk supaya mau ikut?" Steve melirik kedua remaja itu dari kaca spion dalam mobil.


"Maaf om, aku merasa ga enak karena aku belum terlalu kenal sama om. Aku ga enak kalau sampai harus merepotkan orang yang belum aku kenal," jawab Satria memberi alasan.


"Santai saja Satria," Steve menenangkan Satria yang memang terlihat begitu canggung. "Sekarang kita makan dulu ya, baru nanti kita pulang."


Melisa dan Satria mengangguk kompak. "Iya om," jawab keduanya. Meski hanya Melisa yang terlihat semangat sedangkan Satria hanya menjawab sekedarnya saja.

__ADS_1


Tiba di sebuah restoran seafood. Melisa menggandeng tangan Satria masuk ke dalam restoran. Steve tersenyum melihat tingkah Melisa yang seakan tak mau lepas dari Satria. Bahkan saat menaiki mobil tadi, Melisa memilih untuk duduk di belakang bersama Satria. Sementara Steve sendirian duduk kursi kemudi.


Melisa memang banyak bercerita tentang Satria pada Steve. Gadis itu memang terlihat sangat bersemangat jika bercerita tentang Satria, orang yang disukai Melisa. Melisa juga tak bisa menyembunyikan amarahnya saat bercerita tentang ibunya yang menggoda Satria. Meski sedikit terkejut dengan cerita Melisa, namun Steve tetap mendengarkan dengan baik dan memberikan saran yang bijak untuk Melisa.


__ADS_2