Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Obrolan Lebih Dalam


__ADS_3

Makan malam ayah dan anak itu sudah selesai. Namun Gunawan tampaknya masih betah berlama-lama di dalam restoran.


Melisa melihat seperti ada yang ingin di sampaikan oleh ayahnya, namun pria itu tampak ragu untuk mengatakan pada putrinya.


"Ada apa yah?" Melisa menatap ayahnya.


Gunawan tersenyum pada putrinya. Gunawan berpikir sejenak, ia sedang memilah-milah kata yang tepat untuk memulai pembicaraan dengan putrinya.


"Mel, apa kamu sangat membenci ibumu?" Akhirnya Gunawan memulai dengan memberi pertanyaan tentang perasaan Melisa terhadap ibunya.


Melisa diam tak bergeming. Ia tak mengerti mengapa orang-orang disekitarnya selalu bertanya tentang perasaannya terhadap ibunya?


Gunawan menunggu jawaban Melisa, namun gadis itu hanya menghela nafas panjang.


"Kenapa ayah bertanya begitu? Bukankah ayah sudah tau jawabannya?"


"Mel, ayah tau ibumu memang sudah melukai hatimu sangat dalam. Namun demikian, semua itu juga bukan salah ibumu sepenuhnya." Gunawan mulai untuk berbicara dari hati ke hati dengan putrinya itu.


"Kau juga sudah tau cerita detailnya dari Fredy kan? Ayahmu ini juga punya kesalahan yang besar terhadap ibumu sehingga ibumu memperlakukanmu seperti itu." Gunawan mengambil nafas panjang lalu perlahan menghembuskannya.


"Jujur saja, waktu itu entah mengapa ayah lebih mementingkan mencari Silvana dari pada menemani ibumu yang tengah mengandung dirimu. Dan sejak kau lahir ke dunia ini, sejak ibumu memintaku untuk melupakan Silvana. Dari saat itulah aku sadar, bahwa aku kini sudah menjadi seorang ayah."


"Sudah bukan lagi waktunya aku sibuk dengan urusan yang menyangkut perasaanku. Aku sudah punya seseorang yang harus aku lindungi, yaitu kamu anakku. Dan sejak hari itu, aku mulai kembali serius bekerja dengan tujuan untuk membahagiakan keluargaku. Aku tak ingin anak dan istriku harus merasakan hidup yang susah dan menderita. Aku meminta Fredy untuk tak lagi mencari Silvana, dan mulai fokus untuk mengembangkan perusahaan yang kelak akan aku wariskan padamu."


"Namun, nyatanya semua yang kulakukan untuk membuat keluargaku bahagia tak berjalan sesuai rencana. Ibumu tetap memilih untuk pergi meninggalkan kita. Mungkin caraku kala itu adalah salah." Gunawan menundukkan kepalanya.


Melisa hanya terdiam mendengar curahan hati sang ayah. Ia mencoba memahami setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya itu.


"Mel, menurutmu... Apa itu kebahagiaan?" Gunawan menatap lekat mata putrinya.


Melisa masih diam, namun ia tampak terlihat sedang berpikir.


"Apakah punya uang yang banyak? Atau..." Gunawan menghentikan kalimatnya.


"Bukankah semua orang suka dengan uang yang banyak?" Melisa balik bertanya pada ayahnya.


Gunawan mengangguk.


"Dengan uang yang banyak kita bisa membeli apapun yang kita mau. Itukan yang ayah pikirkan saat itu? Ayah ingin aku dan mamah hidup bahagia dengan banyak uang sehingga kita bisa membeli apapun yang kita mau tanpa memikirkan masalah keuangan." Melisa mencoba menebak pikiran ayahnya.


Gunawan tersenyum getir. "Jadi menurutmu punya uang banyak pun tak menjamin kebahagiaan?"

__ADS_1


Melisa tersenyum tipis.


"Nyatanya aku kehilangan sosok kedua orang tuaku," Melisa menatap ayahnya dengan sedih.


Gunawan mengangguk.


"Maafkan ayahmu ini Mel, seharusnya aku bisa lebih memperhatikan kamu dan ibumu. Jika saja saat itu aku sedikit peduli pada kalian, mungkin semua tak akan menjadi seperti ini."


"Semua sudah terjadi, percuma saja berandai-andai. Belum tentu juga keadaan akan menjadi lebih baik," batin Melisa.


Mendengar kata penyesalan dari ayahnya, Melisa seakan tersadar sesuatu.


"Ayah, apa kau menyesal menceraikan mamah?" Melisa menatap ayahnya curiga.


"Kami bahkan belum resmi bercerai. Ayah baru mengajukan gugatan cerai, masih menunggu panggilan untuk sidang," Gunawan tersenyum menatap putrinya.


Melisa mengangguk. "Apa ayah tak ingin bercerai?"


"Entahlah, ayah sendiri tak tau apa arti ayahmu ini bagi ibumu?" Gunawan terlihat sedih.


"Apa aku salah memintamu menceraikan mamah?" Pertanyaan ini hanya Melisa lontarkan dalam hati saja, ia tak berani mengatakan langsung kepada ayahnya.


"Apa kamu juga membenci ayahmu ini?"


"Kesal? Kenapa?" Gunawan penasaran.


"Karena ayah selalu mementingkan pekerjaan. Dulu bahkan sebelum aku tau bahwa kekasih ayah meninggalkan ayah, aku merasa cemburu dengan kekasih ayah itu."


Gunawan mengernyitkan dahinya.


"Karena ayah lebih memilih hidup bersama kekasih ayah itu dari pada aku," jawab Melisa.


"Namun kini, setelah aku tau semuanya. Aku mulai mengerti, meskipun tidak sepenuhnya paham," lanjut Melisa.


"Lalu apa yang harus ayah lakukan untuk menebus kesalahan ayah padamu?" Gunawan benar-benar ingin memperbaiki hubungannya dengan anak semata wayangnya.


Meski sebenarnya hubungan mereka baik-baik saja. Namun Gunawan tetap merasa semua ini adalah salahnya.


"Kesalahan?" Melisa malah bingung dengan pertanyaan ayahnya.


"Mmm... ayah merasa semua ini adalah salah ayah, biarkan ayah menebusnya supaya hati ayah lebih tenang."

__ADS_1


Melisa tersenyum, "apa ya? Aku bahkan tak merasa ayah bersalah. Bagiku, setiap liburan sekolah ayah menyempatkan waktu untuk pergi berlibur bersamaku saja sudah lebih dari cukup."


"Benarkah?" Gunawan tak percaya.


Melisa mengangguk.


"Syukurlah, lalu apa tak ada hal lain yang kau ingin untuk ayah lakukan?"


"Pulanglah ke rumah setiap hari," jawab Melisa dengan senyuman manisnya.


"Baiklah," memang beberapa waktu terakhir ini Gunawan lebih sering menghabiskan waktu senggangnya di rumah.


"Apa kau tak ingin ibumu juga pulang ke rumah?" Gunawan bertanya dengan hati-hati.


"Kenapa? Ayah ingin membawanya pulang?" Melisa malah balik bertanya.


"Bolehkah?"


Melisa mengernyitkan dahinya. "Apa ayah akan mencabut gugatan cerainya?"


"Entahlah," lagi-lagi Gunawan ragu. Gunawan memperhatikan ekspresi Melisa. Menanti reaksi Melisa selanjutnya.


Melisa tampak tak suka, "ayah, bukankah wanita itu sudah punya kekasih? Mereka bahkan menjalin hubungan sejak sebelum kalian menikah, apa ayah baik-baik saja?"


Gunawan tak tau harus menjawab apa? Dia lebih memilih diam. Lalu keduanya terdiam, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Saat keduanya terdiam, tiba-tiba seseorang datang dan duduk di antara keduanya.


"Kalian sedang apa?" Natasya menyapa keduanya dengan senyum ceria.


Melisa yang melihat kehadiran ibunya seketika menunjukkan aura dinginnya, dengan jelas ia menampakkan ketidaksukaannya pada sang ibu.


Sedangkan Gunawan terlihat bahagia akan kehadiran Natasya.


"Sedang apa kau di sini?" Gunawan menjawab pertanyaan Natasya dengan pertanyaan lagi.


"Tentu saja aku mau makan, apa kalian sudah makan?" Natasya.


Melisa memalingkan wajahnya, ia sama sekali tak tertarik dengan kehadiran ibunya. Hanya Gunawan yang menanggapi setiap pertanyaan yang keluar dari mulut Natasya.


Saat memalingkan wajahnya, Melisa melihat Amanda di kejauhan. Melisa seperti mendapat angin segar melihat sosok gadis yang sudah menjadi sahabatnya itu.

__ADS_1


"Ayah, aku pamit dulu ya. Aku mau menemui temanku di sana," Melisa menunjuk ke arah di mana Amanda berada.


Gunawan mengangguk, Melisa lalu melengos pergi tanpa memperdulikan ibunya.


__ADS_2