Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Meminta Maaf


__ADS_3

Melisa berjalan lunglai keluar dari gedung hotel. Ia terus berjalan perlahan menjauh dari hotel. Pikirannya tak karuan, membayangkan perlakuan ibunya terhadap Satria.


"Pantas saja Satria seperti itu, ia pasti syok sekali," gumam Melisa.


"Kenapa aku harus egois hari itu? Harusnya aku mengalah saja, hah... aku bahkan tak tau harus berbuat apa sekarang? Kak Bobi sudah mulai di karantina, kak Amanda juga sudah berangkat keluar negeri. Tak adakah seseorang yang bisa membantuku memberi saran?" Melisa masih bergumam sendiri.


Kini Melisa benar-benar merasa bingung. Apa yang harus ia lakukan pada Satria. Ia tak tau harus bagaimana menghilangkan trauma yang dialami Satria.


Membayangkan laki-laki polos seperti Satria dirayu oleh tante-tante macam ibunya sudah pasti bisa membuat mental Satria menurun. Melisa sendiri sebenarnya merasa malu pada Satria setelah tau apa yang diperbuat ibunya pada Satria.


"Apa aku pura-pura tak tau saja?" Melisa menutup wajahnya karena malu membayangkan ibunya merayu orang yang dicintainya.


"Sebenarnya apa tujuan wanita itu memperlakukan Satria seperti itu?" Melisa masih sibuk dengan pikirannya.


Tanpa ia sadari, sebuah mobil sedan mewah sudah mengikutinya sejak ia keluar dari hotel.


Tiinn...


Melisa menghentikan langkah kakinya saat mendengar bunyi klakson mobil di belakangnya. Melisa menoleh, melihat dengan seksama siapa pengemudi di dalam mobil mewah itu.


Pengemudi mobil mewah itu menepikan mobilnya, ia lalu keluar menghampiri Melisa. Melisa mengernyitkan dahinya, berusaha mengingat siapa pria tampan yang berdiri dihadapannya kini.


Pria yang tampak tak asing bagi Melisa itu tersenyum ramah pada Melisa.


"Kau mau kemana? Kenapa berjalan kaki?" Tanya pria itu.


"Kau siapa?"


"Kau tak ingat padaku? Ini aku Steve," sapa Steve ramah.


"Steve?" Melisa berusaha mengingat nama itu, nama yang juga tak asing baginya. "Ah, kau kekasih mamah?"


Steve tersenyum mengangguk, "kau ingat?"


"Ya," Melisa menatap tak percaya, ia hanya pernah bertemu dua kali pada pria dihadapannya ini.


"Kau mau kemana? Biar ku antar," Steve menawari Melisa sebuah tumpangan.


"Aku mau ke rumah Satria," jawab Melisa.


"Baiklah ayo naik, biar aku antar." Steve mempersilahkan Melisa naik ke mobilnya.


Sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam. Melisa merasa sangat canggung duduk bersebelahan dengan orang yang selama ini tinggal dengan ibunya.


"Bagaimana bisa kau tahan dengan sikap ibuku dalam jangka waktu yang lama?" Tanya Melisa memecah keheningan.


"Entahlah, aku mungkin tak suka dengan sikap keras kepala dan suka mengaturnya. Tapi aku lebih tak tahan jika harus berjauhan dengannya," jawab Steve.

__ADS_1


Melisa mengangguk, "tapi orang tuaku tak jadi bercerai, apa kau tak apa?"


"Aku baik-baik saja, kami sudah terbiasa putus nyambung," jawab Steve santai. Steve melirik Melisa. "Kau yang sepertinya tidak baik-baik saja."


Melisa mendesah.


"Kau lebih suka mereka bercerai?" Tanya Steve heran.


"Entahlah, aku tak suka ibuku. Tapi aku juga tak bisa melarang ayahku untuk kembali padanya," jawab Melisa.


Steve mengangguk. Perjalanan yang mereka lalui kembali sunyi, keduanya memilih diam dengan pikiran masing-masing.


Sampai di rumah Satria, Melisa langsung turun dari mobil.


"Aku akan menunggumu," ucap Steve yang juga ikut keluar dari mobilnya.


Melisa hanya menoleh sekilas dan mengangguk, lalu kembali berjalan memasuki rumah Satria. Sore itu sepertinya dagangan bu Lastri sudah habis, karena Melisa tak melihat sosok yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri itu berada di teras rumah.


"Eh, ada kak Melisa," sapa Rian yang saat itu sedang bermain ponsel di ruang tamu.


"Mana kakakmu? Sudah pulang?" Tanya Melisa.


"Sudah, ada di kamarnya. Kakak ke sini sama siapa?" Rian.


"Sama om Steve," Melisa.


"Ibu mana?" Melisa.


"Lagi bantu-bantu di rumah bu RT kak," Rian.


"Oh, ya udah aku mau temuin Satria dulu ya," Melisa.


"Iya kak, itu om nya disuruh masuk aja," Rian.


"Ga usah, biar aja di situ," Melisa lalu pergi meninggalkan Rian yang sudah kembali fokus pada ponselnya.


Pintu kamar Satria terbuka lebar, Melisa melihat Satria tengah berbaring di atas ranjang.


Melisa menghampiri Satria lalu duduk di tepi ranjang.


"Sat," Melisa membelai rambut Satria.


Satria perlahan membuka mata, "Mel?"


"Maafin aku Sat," ucap Melisa dengan wajah memelas.


"Kenapa?" Satria bangun dan duduk di samping Melisa.

__ADS_1


"Harusnya hari itu aku ikut kamu masuk ke kamar itu. Mungkin kalau aku ikut masuk, peristiwa itu tak akan terjadi," Melisa terlihat menyesal.


Satria tersenyum menatap Melisa. "Aku yang minta maaf Mel, akhir-akhir ini aku benar-benar merasa tidak fokus."


"Aku tau, itu semua karena ibuku. Aku minta maaf," Melisa menundukkan wajahnya.


"Aku memang syok Mel, tapi aku baik-baik saja," Satria menenangkan Melisa.


"Kamu yakin baik-baik aja? Tadi siang di perpustakaan..." Melisa ragu jika harus mengungkit peristiwa tadi siang.


"Ah, itu. Maafkan aku Mel, aku tidak sengaja." Satria merasa bersalah. Saat itu ia merasa sangat mengantuk, dan ketika merasa dirinya ada yang menyentuh secara reflek tangannya menepis sentuhan itu. Tubuhnya seolah mengingat kejadian di hotel beberapa waktu yang lalu.


"Apa kau benar baik-baik saja?" Melisa melihat Satria sudah jauh lebih baik memang. Sepertinya tidur siang di ruang UKS tadi sudah berhasil membayar kekurangan tidurnya beberapa hari ini.


Satria mengangguk. "Aku mungkin masih sedikit trauma, tapi aku sudah jauh lebih baik. Tadi siang aku tidur dengan sangat pulas."


"Syukurlah," Melisa merasa sedikit lega. "Berarti aku tak bisa sembarangan menyentuhmu ya?"


"Haha, tak harus sampai begitu juga," Satria mengacak-acak rambut Melisa.


Keduanya tertawa bersama.


Sebenarnya Satria sempat menceritakan traumanya pada petugas medis tadi di sekolah. Dan petugas medis itu menyarankan agar Satria menganggap orang yang merayunya saat itu adalah orang yang Satria sukai.


Dan cara itu memang sedikit berhasil membuatnya lebih baik. Sebelumnya ia merasa sangat takut karena bayangan Natasya yang umurnya hampir sama dengan ibunya merayu dirinya yang masih polos. Kini Satria menganggap Melisa lah yang kemarin merayunya, karena memang Melisa juga pernah beberapa kali merayunya meski perlakuannya tak sampai seperti ibunya. Sehingga kini Satria tak perlu merasa takut dan risih, justru ia akan merasa senang.


"Syukurlah jika memang kau baik-baik saja, maafkan aku sekali lagi. Lain kali aku tak akan membiarkanmu bertemu dengan wanita itu seorang diri," Melisa.


Satria tersenyum.


"Baiklah, aku tak bisa berlama-lama. Ada yang menunggu di depan," Melisa.


"Siapa?" Tanya Satria.


"Steve," Jawab Melisa.


"Siapa itu?"


"Kekasih ibuku, tapi kini bukan lagi."


Satria mengangguk. "Pulanglah, aku sudah tak apa."


Melisa tersenyum hangat, "aku pulang ya, kau tak perlu mengantarku. Tidurlah!"


Satria kembali mengangguk.


Melisa lalu meninggalkan Satria di kamarnya. Hatinya terasa sedikit lega melihat kondisi Satria sekarang.

__ADS_1


"Syukurlah, dia sudah baik-baik saja," batin Melisa.


__ADS_2