Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Undangan


__ADS_3

“Maaf Nat, bukan maksudku. Dia memang sedang kurang sehat,” ucap Gunawan.


Natasya tersenyum ramah, ia lalu menyerahkan sebuah amplop undangan pada Gunawan.


“Berhubung kita bertemu di sini, kuberikan ini di sini saja ya,” ucap Natasya saat menyerahkan amplop berisi undangan itu.


“Apa ini?” Tanya Gunawan.


“Datanglah ke pernikahanku dengan Steve nanti,” jawab Natasya.


“Kalian akhirnya menikah, baguslah. Tenang saja, kami akan datang.”


“Lalu kalian kapan akan menyusul?” Tanya Steve sambil merangkul pinggang Natasya.


“Segera,” jawab Gunawan. “Oh iya, aku juga ingin memberi tahu padamu. Anak kita Melisa, kini sudah bertunangan dengan Dion.” Gunawan menoleh ke arah Dion dan memintanya untuk menyapa Natasya.


Dion mendekat, lalu membungkukkan badannya memberi salam pada Natasya.


“Bertunangan?” Tanya Natasya sambil menoleh ke arah Satria.


Deg...


Satria terkejut mendengar berita itu, hatinya bagai tersambar petir. Ia tak menyangka Melisa sudah bertunangan dengan Dion. Selama ini memang Satria tak pernah bertemu atau sekedar berkomunikasi dengan Melisa, itu semua dia lakukan agar ia bisa fokus belajar dan juga memberi ruang untuk Melisa agar Melisa juga bisa fokus belajar seperti dirinya.


Satria menoleh ke arah Mia, dengan penuh tanda tanya Satria menatap Mia. Satria tau, sedekat apa Mia dengan Melisa. Mia yang ditatap mencoba untuk tak menatap balik Satria, ia sendiri baru tau berita itu tadi pagi saat di salon bersama Melisa. Dan belum sempat memberi kabar itu pada Satria karena acara wisuda sudah hampir dimulai saat ia sampai di kampus.


Gunawan tersenyum puas melihat ekspresi terkejut Satria. Ia menepuk-nepuk pundak Dion seolah sangat bangga dengan calon menantunya itu. Sementara itu Melisa jadi merasa canggung, ia tak menyangka ayahnya akan mengenalkan Dion sebagai tunangannya.


“Ayah, kami belum bertunangan,” Melisa segera meralat ucapan Gunawan.


“Tapi kamu kan sudah menerima lamaran Dion,” Gunawan tak mau kalah.


Melisa hanya tertunduk lesu, ia tak mampu melihat ekspresi kecewa Satria.


“Oh begitu, jadi kalian belum bertunangan secara resmi,” Natasya berusaha menutupi rasa canggung Melisa. Ia sendiri tak menyangka Melisa akan menerima lamaran Dion, Natasya sangat tau bahwa Satria sangat menyukai Melisa hingga rela menolak semua gadis cantik yang selama ini mengajaknya berkencan.


“Tenang saja Nat, nanti kalau acara pertunangan sudah kami tentukan tanggalnya. Kamu akan kami undang,” ucap Gunawan.


“MELISA!!!” Terdengar suara seseorang dari kejauhan memanggil nama Melisa. Semua orang di sana celingukan mencari sumber suara itu. Dan ternyata itu adalah Bobi yang datang membawa sebuket bunga untuk Melisa, sementara tangan sebelahnya menggandeng tangan Amanda.


“Kak Bobi, kak Amanda?” Melisa menghampiri keduanya.


“Selamat ya, maaf kami datang terlambat.” Bobi memeluk Melisa, lalu bergantian dengan Amanda yang juga memeluk Melisa.


“Hai om,” sapa Bobi pada Gunawan. “Hai tante,” tak lupa Bobi juga menyapa Natasya yang hanya dibalas senyuman sinis oleh Natasya. Lalu Bobi bergegas menghampiri Satria yang sedang berusaha untuk tersenyum melihat kedatangan Bobi.

__ADS_1


“Satria...” Bobi merangkul Satria dengan erat.


“Kak Bobi,” Satria hanya tersenyum melihat Bobi yang sangat bahagia saat ini.


“Dengar-dengar kalian sudah bertunangan?” Tanya Gunawan pada Bobi dan Amanda.


“Iya om,” jawab Bobi malu-malu.


“Oh ya?” Melisa menatap Amanda tak percaya, namun ia juga senang mendengar berita itu.


“Rencananya tahun depan kita akan menikah, kalian jangan lupa datang ya,” ucap Bobi pada semua orang yang ada di sana. Hingga matanya tertuju pada Widia yang sedari tadi diam saja.


“Loh, kamu kan?” Bobi berusaha mengingat-ingat gadis yang berdiri dibelakang Gunawan itu.


“Oh iya, kenalin Bob ini Widia. Anak tiri om,” ucap Gunawan.


“Anak tiri? Emang om udah nikah lagi?”


“Belum, sebentar lagi.”


“Oh,” Bobi mengangguk-angguk paham.


Natasya memperhatikan ekspresi Satria yang tampak tak bersemangat. Ia lalu berbisik pada Steve.


“Haruskah kita pergi sekarang?” Bisik Natasya pada Steve.


“Gunawan, maaf aku harus pamit. Kami sudah mengambil pesanan di sebuah restoran yang lumayan jauh dari sini untuk merayakan kelulusan Mia dan Satria. Tadinya aku juga ingin mengajak Melisa, tapi sepertinya kalian juga punya acara sendiri,”ucap Natasya.


“Oh begitu, benar kami memang punya acara sendiri. Kalau begitu silahkan,” balas Gunawan.


Setelah berpamitan, Natasya segera mengajak Mia dan Satria bergegas meninggalkan tempat itu. Sementara Steve sudah lebih dulu pergi ke parkiran untuk menyiapkan mobil.


Sebelum masuk ke dalam mobi, Satria menahan tangan Mia.


“Kamu tau berita itu?”


“Maaf Satria, aku juga baru tau pagi tadi.”


Satria tertunduk lesu, ia terlihat sangat tak bersemangat.


Semantara itu, Gunawan mengajak Melisa untuk makan siang bersama di restoran yang letaknya tak jauh dari sana. Bobi dan Amanda juga ikut bersama Gunawan.


“Ayah, aku mau naik mobil kak Bobi aja ya. Aku kangen banget sama kak Amanda,” pinta Melisa.


“Kalau begitu aku juga akan ikut bersama mereka,” ucap Dion.

__ADS_1


“Baiklah, kamu tau lokasi restorannya kan Mel?” Tanya Gunawan.


“Iya yah, tenang saja,” jawab Melisa.


Mereka naik ke dua mobil yang berbeda. Gunawan, Silvana, dan juga Widia masuk ke mobil yang sama. Di dalam mobil sudah ada Fredy yang menunggunya. Sedangkan Melisa naik mobil yang sama dengan Bobi, Amanda, dan juga Dion.


Melisa menarik Amanda agar duduk bersamanya di kursi belakang. Bobi yang menyetir dan Dion duduk di samping Bobi.


“Kalian bener udah tunangan?” Tanya Bobi.


“iya kak,” jawab Dion malu-malu.


“Kakak tau dari mana?” Tanya Melisa.


“Ayahmu itu yang gembar gembor di grup chat keluarga besar,” jawab Bobi.


“Grup keluarga?”


“Iya Grup chat, kamu gak ikutan masuk ya Mel?”


“Aku gak tau,” Melisa mengangkat kedua bahunya.


“Bob stel musik dong,” pinta Amanda pada Bobi.


“Oke sayang,” jawab Bobi.


Amanda menarik tangan Melisa agar semakin mendekat padanya.


“Kok kamu bisa tunangan sama dia?” Bisik Amanda.


Lagi-lagi Melisa menaikkan kedua bahunya, ia sendiri tak tau kenapa bisa menerima lamaran Dion. Melihat wajah kecewa Satria tadi, hatinya terasa sangat sakit.


“Kamu masih suka gak sama Satria?” Tanya Amanda masih dengan suara bisikan.


Melisa hanya mengangguk, mengiyakan. Amanda menghela nafas perlahan.


“Terus Satria tau kamu udah tunangan?”


Melisa memperlihatkan raut wajah yang sedih bahkan hampir menangis.


“Mel,” Amanda memeluk Melisa dengan lembut. Air mata Melisa tumpah di sana.


Bobi yang melihat adegan itu dari kaca spion semakin mengencangkan suara musiknya, ia juga ikut bernyanyi mengikuti lagu yang kini sedang diputarnya. Sengaja ia lakukan agar Dion tak melihat apa yang sedang terjadi di kursi belakang. Bobi sangat tau, Melisa pasti terpaksa menerima lamaran itu.


Amanda menghapus air mata Melisa. “Nanti kita ngobrol lagi ya,” bisik Amanda.

__ADS_1


Melisa mengangguk. Ternyata mereka sudah sampai di retoran yang dimaksud oleh Gunawan. Dengan ekspresi yang sama dengan Satria, Melisa melangkah masuk ke dalam restoran sambil digandeng oleh Dion.


__ADS_2