Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Terbongkar Perlahan


__ADS_3

Melisa berjalan menuju perpustakaan dimana Satria berada saat ini. Gadis itu segera mendekati Satria yang sedang sibuk membaca buku.


"Kamu masih suka ketemu ibuku?" Ucap Melisa tiba-tiba.


Satria yang mendengar suara Melisa mendongakkan kepalanya.


"Kamu masih menemui ibuku?" Melisa mengulang pertanyaannya karena Satria tak kunjung menjawab.


"Ada apa?" Bukannya menjawab, Satria malah bertanya balik. Semua orang yang berada di ruangan itu menatap tajam pada mereka berdua.


Melihat situasi yang kurang baik, Satria memutuskan mengajak Melisa keluar perpustakaan. Ia menggandeng tangan Melisa menuju atap sekolah.


"Kamu kenapa Mel?" Tanya Satria.


"Kamu jawab dulu pertanyaanku," pinta Melisa.


"Untuk apa aku menemui ibumu?" Satria kembali bertanya.


"Mana ku tau?" Melisa terlihat kesal.


"Kamu kenapa tiba-tiba bertanya begitu?" Satria berusaha tenang.


Melisa menghela nafas panjang.


"Satria, kamu gak denger soal gosip mengenai kamu di sekolah ini?" Melisa.


"Gosip apa?" Satria terlihat bingung.


"Gosip mengenai dirimu yang memiliki hubungan khusus dengan ibuku," Melisa menatap tajam pada Satria. Ia menunggu bagaimana Satria bereaksi.


Tapi Satria malah terlihat bingung, Satria mengernyitkan dahinya. "Hubungan seperti apa?"


"Ya mana aku tau? Mereka bilang kamu lebih memilih ibuku dari pada aku, kita berdua putus karena ibuku," Melisa terlihat sangat marah.


"Kita putus? Kita juga kan cuma temenan, kenapa harus putus?" Satria tak mengerti. Sebenarnya ia lebih merasa bingung bagaimana gosip ini bisa menyebar, siapa orang yang pernah melihat dirinya bersama Natasya.


"Tapi mereka taunya kita pacaran Satria!!!"


"Mel, apa kamu percaya semua itu?" Satria masih berusaha tenang.


"Tentu saja aku tak percaya," Melisa menghembuskan nafas kasar.


"Lalu kenapa kamu marah?"


"Bagaimana jika kabar itu benar? Yang aku tau kau pernah bertemu ibuku diam-diam kan?" Melisa menatap tajam pada Satria.

__ADS_1


"Maksud kamu?" Satria kaget mendengar perkataan Melisa.


"Kamu pernah menemui ibuku di hotel kan?" Akhirnya Melisa menanyakan pertanyaan yang dipendamnya selama ini.


Satria terdiam, ia memang pernah dua kali menemui Natasya di hotel. Yang pertama saat ia mengajak Melisa menemui Natasya bersamanya namun Melisa menolaknya. Lalu yang kedua saat dia seorang diri datang karena Natasya mengancam akan datang ke sekolah jika ia tak datang.


"Apa mungkin Melisa tau jika aku datang untuk kedua kalinya ke hotel?" Batin Satria.


"Aku mengikutimu waktu itu bersama Dion," Melisa akhirnya mengaku.


Tentu saja Satria terkejut mendengar itu. "Kamu... Ikutin aku sampai ke hotel?"


"Ya, dan kamu gak ada di kamar yang mamahku tempati. Kemana kamu waktu itu?"


Satria menghela nafas, ia terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Melisa.


"Iya, aku ketemu ibumu waktu itu. Karena ibumu sudah merusak ponsel yang aku beli darimu," Satria bicara pelan.


"Ponsel? Jadi ponsel barumu itu pemberian ibuku?" Melisa menatap tak percaya.


Satria mengangguk pasrah. Bagaimanapun suatu saat Melisa pasti akan tau hal ini.


"Ibumu merusak ponselku Mel, dan ibumu menggantinya dengan yang baru," jawab Satria.


Melisa menatap tak percaya pada Satria. "Kau bahkan menolak saat aku memberikan ponsel secara gratis padamu, padahal saat itu aku juga sudah merusak ponselmu. Lalu apa ini? Kau menerimanya dengan cuma-cuma?"


"Apa?"


"Kau mungkin tak percaya, tapi sebenarnya aku pun tak merasa memiliki andil dalam gagalnya perceraian mereka," Satria mencoba menatap mata Melisa.


"Lantas kenapa kau terima ponsel itu?"


"Sudahlah Mel, aku lelah. Kau tau kan akhir-akhir ini aku terlalu banyak belajar sampai kepalaku mau pecah rasanya. Yang pasti aku dan ibumu tak memiliki hubungan seperti yang di gosipkan orang-orang," Satria berharap Melisa tak menggubris gosip yang kini beredar di sekolah.


"Aku tau kau lelah Satria, maka dari itu aku tak mau mengganggumu. Aku menghindar karna aku tak mau kamu jadi tidak fokus belajar," ucap Melisa. Nada suaranya mulai melembut.


"Terima kasih Mel," hanya itu yang bisa Satria katakan.


Dion yang memperhatikan dari jauh, kini memanggil keduanya karena bel masuk sudah berbunyi.


"Kau masih punya hutang penjelasan padaku Satria," ucap Melisa meninggalkan Satria.


Satria menyusul Melisa dan Dion.


"Jadi kamu masih belum ada waktu buatku?" Tanya Melisa saat mereka berjalan menuju kelas dan mereka sudah berpisah dari Dion.

__ADS_1


"Nanti aku coba luangkan waktu untukmu Mel," jawab Satria.


Saat di kelas, ponsel Melisa berdering. Ada pesan masuk dari Steve, ia mengatakan akan pergi ke luar kota besok dan akan pergi dalam jangka waktu yang cukup lama. Maka dari itu ia mengajak Melisa untuk ikut makan malam dengannya.


Melisa membalas, ia akan pergi bersama Dion seperti biasa. Namun Steve memohon dengan sangat, kali ini saja agar Melisa tak mengajak siapapun. Karena ada sesuatu yang ingin ia katakan pada Melisa.


Meski awalnya Melisa ragu, tapi akhirnya Melisa mau menuruti karena Steve memohon dengan sangat.


Melisa sengaja tak memberi tahu Satria mengenai pesan dari Steve itu, lagi pula Satria terlihat tak peduli saat ponsel Melisa berbunyi.


Sepulang sekolah, Melisa di jemput oleh Steve. Melisa sengaja pulang lebih dulu sebelum Dion keluar dari kelasnya agar laki-laki itu tak mengajaknya pulang bersama. Ia sedikit malas jika harus berdebat dengan Dion karena ia pasti akan meminta untuk ikut bersamanya.


"Kita makan malam di mana om?" Tanya Melisa.


"Ini masih sore Mel, kita jalan-jalan dulu yuk," ajak Steve.


"Jalan-jalan kemana om?"


"Om mau beliin kamu baju, mau ya?" Steve melajukan mobilnya menuju sebuah butik di pusat kota.


Melisa sebenarnya merasa tak enak karena Steve sering kali membelikannya hadiah jika mereka bertemu. Namun Steve akan marah jika Melisa tak menerimanya. Dengan terpaksa akhirnya Melisa mau menerima berbagai hadiah dari Steve.


Setelah membelikan Melisa berapa stell pakaian. Mereka menikmati makan malam bersama di sebuah restoran yang tak jauh dari butik tempat mereka berbelanja.


"Om mau bilang apa ke aku?" Tanya Melisa saat ia sudah selesai menyantap makan malamnya.


"Mmm... apa ya? Om lupa," Steve tersenyum pada Melisa.


"Yah, kok lupa?" Melisa merengut.


"Oh iya, om mau ambil sesuatu di rumah temen om. Kamu ikut anter om dulu ya sebelum om anterin pulang," pinta Steve.


"Jauh ga om rumah temennya?" Tanya Melisa.


"Enggak kok," jawab Steve.


"Jadi, om ga jadi ngomong sesuatu ke aku?" Melisa bertanya lagi.


"Om lupa sayang, nanti ya kalau om inget om kasih tau," jawab Steve dengan lembut pada Melisa.


Setelah membayar tagihan makan malam mereka, Steve dan Melisa masuk ke dalam mobil milik Steve. Mereka sudah dalam perjalanan menuju suatu tempat.


Saat hampir sampai, Melisa melihat sekeliling. Ia merasa tak asing dengan daerah itu.


Dan saat Steve memarkirkan mobilnya di halaman. Melisa tersadar, rumah ini adalah rumah yang didatangi Satria waktu itu. Waktu ia membuntuti Satria bersama Dion.

__ADS_1


"Ayo turun udah sampai," ucap Steve sambil tersenyum ramah. Ia melihat ekspresi wajah Melisa yang terlihat kaget. Steve menyeringai, ia yakin Melisa tau sesuatu akan rumah ini.


__ADS_2