
Melisa terus memandangi ponselnya. Ia teringat pernah berfoto berdua dengan bu Lastri, lalu Melisa membuka foto itu dan menjadikannya tampilan layar depan di ponselnya.
"Siapa itu?" Tanya Gunawan yang mengintip dari samping.
"Ibunya Satria," jawab Melisa malu-malu.
"Kau dekat dengan ibunya Satria?"
Melisa mengangguk.
"Ya kelihatan sekali kalian sangat dekat, ayah jadi iri," gerutu Gunawan.
Melisa tertawa melihat ayahnya yang terlihat cemberut melihat foto dirinya bersama bu Lastri.
"Ayah mau foto bareng aku?"
Dengan mata berbinar Gunawan menoleh ke arah putrinya. Lalu mengangguk dengan semangat.
"Sini, biar ayah pegang kameranya," Gunawan sudah memegang ponsel Melisa. Ia sudah menaikkan satu tangannya dan bersiap memotret. Melisa dengan cepat mendekat ke arah Gunawan lalu keduanya berpose dan
Cekrek... Cekrek... Cekrek...
Beberapa pose sudah mereka ambil. Gunawan tampak sangat senang, karena ini pertama kalinya ia bisa berfoto bersama putri tunggalnya itu saat sedang berlibur.
"Mel..." Panggil Gunawan pada putrinya yang masih asik melihat-lihat foto hasil jepretan ayahnya.
"Mmm..."
"Apa hubunganmu dengan keluarga Satria baik-baik saja? Kamu masih suka menemui keluarganya?"
Melisa terdiam, ia memang sangat merindukan bu Lastri. Sosok yang selama ini sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. Meski sangat singkat, namun kasih sayang yang diberikan bu Lastri padanya terasa membekas di hati Melisa.
"Kalau kamu rindu, telpon saja," usul Gunawan.
"Tapi aku takut ada Satria," gerutu Melisa.
"Memangnya kenapa? Ayah yakin Satria tak masalah jika kamu masih berhubungan baik dengan ibunya," nasihat Gunawan.
Melisa nampak berpikir, ia tahu selama ini Satria memang tak pernah melarang Melisa sekalipun untuk berhubungan dengan ibunya. Bahkan jika Melisa mau, Melisa bisa saja datang ke rumah Satria. Namun Melisa takut akan bertemu Satria dan membuat suasana menjadi canggung.
"Telepon saja, ayah yakin ibunya Satria juga rindu padamu."
Melisa akhirnya memutuskan untuk melakukan panggilan video melalui nomor Rian. Karena yang Melisa tau, bu Lastri tak memiliki ponsel.
Setelah beberapa kali nada sambung terdengar, akhirnya panggilan video itu tersambung. Di layar nampak wajah Rian yang sedang berada di dalam mobil.
"Kak Melisa," sapa Rian dengan senang.
"Hai Rian, apa kabar?"
__ADS_1
"Aku baik-baik saja kak. Kakak sendiri bagaimana kabarnya?"
"Kakak juga baik, kamu lagi dimana?"
"Aku di dalam mobil kak, mau pulang kampung."
"Oh, mana ibu? Kakak kangen banget."
Rian lalu menyerahkan ponselnya pada bu Lastri.
"Nak Melisa," sapa bu Lastri.
"Ibu... Aku tiba-tiba kangen ibu..." tanpa Melisa sadari, air mata Melisa mengalir begitu saja melihat wajah bu Lastri yang selalu terlihat ramah padanya.
"Ibu juga kangen Mel, kamu kok ga suka main ke rumah? Kata Satria kamu sibuk ya?"
"Hehe, iya bu... maaf, ibu mau kemana?"
"Ibu mau ke kota B dulu, ada sepupunya Satria yang mau nikahan. Ibu di sana kurang lebih satu minggu, kamu lagi dimana Mel? Satria bilang kamu sekarang lagi berlibur ke luar negeri?"
"Iya bu, aku pergi sebelum bagi rapot. Maaf ya bu, aku ga pernah ke rumah ibu lagi," Melisa terlihat menyesal karena tak pernah menengok ibu angkatnya itu.
"Ibu gak papa, nanti kalau kamu sudah pulang berlibur kamu bisa temui ibu di rumah," wajah ramah bu Lastri selalu bisa membuat Melisa merasa tenang.
"Iya bu, ibu mau aku bawain oleh-oleh apa?" Tanya Melisa sambil mengusap air matanya yang tanpa ia sadari terus mengalir karena merindukan sosok bu Lastri.
Gunawan diam-diam memperhatikan putrinya yang sedang bercengkrama dengan calon ibu mertuanya. Gunawan sedikit meledek Melisa.
"Cie, telponan sama ibu mertua sedih banget kayanya," cibir Gunawan pada putrinya itu.
ucapan Gunawan tentu saja terdengar oleh bu Lastri.
"Kamu lagi sama ayahmu Mel?"
"Iya bu, ini..." Melisa lalu mengarahkan kamera ponsel ke arah Gunawan.
"Halo bu, selamat siang," sapa Gunawan pada bu Lastri.
"Selamat siang pak, aduh... ibu jadi bingung ini mau ngomong apa?" Bu Lastri terlihat sedikit grogi melihat wajah tampan Gunawan dari layar ponselnya.
"Siapa bu?" Terdengar suara pak Joni.
"Ini yah, ayahnya Melisa," kini bu Lastri juga mengarahkan kamera ponselnya pada pak Joni yang sedang menyetir.
"Oh, Tuan Gunawan. Selamat siang tuan," sapa pak Joni seraya membungkuk.
"Ya selamat siang pak Joni, hati-hati di perjalanan ya pak," sapa Gunawan.
"Iya tuan, terima kasih," pak Joni membungkuk penuh hormat pada atasannya itu.
__ADS_1
Kamera sudah kembali pada Melisa dan bu Lastri.
"Ya sudah kamu selamat bersenang-senang ya," ucap bu Lastri dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya bu, ibu juga hati-hati ya. Selamat sampai tujuan," Melisa merasa ikut sedih melihat mata bu Lastri yang sudah hampir menangis.
"Iya nak," jawab bu Lastri.
Saat hendak mematikan sambungan teleponnya, bu Lastri kembali memanggil Melisa.
"Nak Melisa," Melisa tak jadi mematikan sambungan telepon itu.
"Iya bu?"
"Ibu titip Satria ya," ucap bu Lastri dengan sungguh-sungguh.
Melisa terdiam, ia tak mengerti mengapa bu Lastri mengatakan hal itu.
"Ah, maaf sepertinya itu hanya akan merepotkan kamu," bu Lastri seolah menyadari apa yang dikatakannya tadi adalah salah.
"Tidak apa bu, aku senang jika ibu mempercayakan Satria padaku," Melisa tersenyum pada bu Lastri.
"Jadi setuju nih bu, Melisa sudah dapat restu dari ibu?" Gunawan tiba-tiba ikut nimbrung obrolan mereka berdua.
"Eh, iya pak," bu Lastri terlihat malu-malu. "Saya sih setuju aja kalau sama nak Melisa, tapi jangan sekarang ya nak Melisa. Kasih kesempatan Satria untuk mengejar mimpinya dulu."
"Iya bu, saya juga tidak setuju kalau mereka harus pacaran sekarang. Nanti kalau sudah waktunya saya juga pasti akan beri restu untuk mereka berdua," ucap Gunawan.
"Apa sih ayah nih," Melisa mencubit lengan ayahnya.
"Ih kenapa? Kamu malu ya?" Goda Gunawan pada Melisa.
Bu Lastri yang melihat keakraban Melisa dengan ayahnya merasa sangat senang. Meski Melisa tak bisa mendapat kasih sayang dari seorang ibu, tapi Melisa sudah cukup mendapat kasih sayang dari ayahnya.
Bagi bu Lastri itu sangat penting, karena jika seorang anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya. Ia akan mencari kasih sayang dari laki-laki lain yang mengakibatkan mereka terjerumus ke dalam pergaulan bebas karena kurangnya kasih sayang itu.
"Bu, udahan dulu ya. Nanti kita sambung lagi kalau ga ada ayahku, sebel banget dia godain aku terus," gerutu Melisa.
"Iya, selamat bersenang-senang ya Mel. Jaga diri baik-baik di sana," pesan terakhir dari bu Lastri.
Melisa dan bu Lastri sama-sama tersenyum sebelum mengakhiri panggilan video itu. Setelah panggilan berakhir, Melisa seketika memeluk ayahnya. Melisa menangis di dalam pelukan Gunawan.
"Loh kok nangis?"
"Ga tau kenapa aku sedih banget liat ibu, pengen rasanya segera pulang dan ketemu ibu sekarang juga," ucap Melisa dalam isak tangisnya.
Gunawan menepuk-nepuk punggung Melisa, menenangkan Melisa yang kini sedang bersedih.
"Nanti kalau kita pulang, kita langsung ke rumah Satria ya," ucap Gunawan seraya menghibur putrinya.
__ADS_1