Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Makan Siang


__ADS_3

Di dalam restoran yang jauh dari tempat wisuda, Natasya duduk di samping Steve. Tangan steve selalu menggenggam tangan Natasya seolah tak mau melepasnya. Semenjak satu tahun yang lalu, Natasya di vonis menderita kanker otak stadium 2. Penyakit ini tak sengaja terdeteksi saat Natasya sedang melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.


Steve yang saat itu kebetulan berada di rumah sakit yang sama tempat Natasya melakukan pemeriksaan kesehatan, tak sengaja mendengar kabar tak mengenakan itu. Itulah sebabnya Steve mengajak Natasya untuk kembali bersama. Entah mengapa Steve tak bisa melupakan wanita yang sudah sejak lama menemani dirinya.


Steve amat sangat menyayangi Natasya, hal itulah yang membuat Natasya bisa menyerah mengejar Satria dan kembali menjalin hubungan dengan Steve. Sejak saat itu juga Natasya jadi orang yang sangat penurut pada Steve, hal yang tak mungkin ia lakukan saat dirinya sehat dulu.


“Satria,kamu baik-baik saja?” Tanya Natasya. Ia merasa sangat khawatir karena Satria terlihat sangat lesu sejak ia mendengar kabar bahwa Melisa sudah bertunangan dengan Dion.


“Aku baik-baik saja bu,” jawab Satria.


“Maaf ya Satria, tadinya aku mau langsung kasih tau kamu. Tapi acara keburu dimulai dan aku tak juga bertemu denganmu, jadi aku tak sempat mengatakan berita ini padamu,” Mia merasa sangat bersalah.


“Tak apa Mia, aku baik-baik saja,” Satria berusaha terlihat baik-baik saja. Meski begitu, Natasya bisa dengan mudah mengetahuinya bahwa Satria hanya pura-pura baik-baik saja.


“Melisa terpaksa menerima lamaran Dion, aku sendiri tak tau kenapa? Tapi yang jelas, Melisa masih sangat menyukaimu Satria,” ucap Mia.


“Aku baik-baik saja Mia,” Satria sekali lagi meyakinkan bahwa dirinya memang baik-baik saja.


“Sudahlah, tak usah kita bahas soal ini lagi. Jadi bagaimana Satria, kamu terima tawaran beasiswa itu?” Natasya mengalihkan pembicaraan.


“Iya bu, apa aku boleh mengambilnya?”


“Tentu saja, ini beasiswa full. Itu artinya kamu akan dapat uang saku juga. Tapi aku akan tetap membiayai kebutuhan sehari-hari kamu selama di sini,” ucap Natasya.


“Tak perlu repot-repot bu, aku rasa uang dari kampus juga sudah cukup untuk biaya hidupku nanti.”


“Sssttt... kamu tak boleh menolak, kamu ini sudah aku anggap seperti anakku sendiri. Jadi kamu harus terima juga uang saku dariku,” Natasya bersikeras.


“Iya Satria, tapi kamu pulang dulu kan ke rumah? Bulan depan pesta pernikahan kita loh!” Ucap Steve.


“Iya aku pulang dulu, tapi gak sekarang-sekarang. Aku masih ada pesta perpisahan sama Badan Eksekutif Mahasiswa, aku pulang menyusul ga apa-apa kan?”


“Yang penting saat hari H, kamu harus sudah ada di rumah!” Pinta Natasya.


“Siap!”


“Kamu sendiri Mia? Mau ikut pulang bareng kita atau sama Satria?” Tanya Natasya pada Mia.

__ADS_1


“Aku bareng nyonya sama tuan saja, aku kan bukan anggora Badan Eksekutif Mahasiswa,” jawab Mia.


“Mia jangan pulang dulu, temenin aku dulu di pesta perpisahan nanti,” ucap Satria sedikit memohon.


“Tapi aku kan bukan...”


“Ga apa-apa, soalnya ini pesta berpasangan. Kamu tau kan aku gak punya pasangan? Jadi kamu mau ya jadi pasangan aku?” Ajak Satria.


Tentu saja hal itu mampu membuat hati Mia berdebar-debar. Tak bisa dipungkiri, Mia memang sudah lama menyimpan rasa pada Satria. Sejak awal Satria sering mengantarnya pulang saat SMA dulu, Mia diam-diam sudah menyimpan rasa.


Namun Mia cukup sadar diri, gadis yang disukai oleh Satria adalah Melisa, bukan dirinya. Dan lagi Melisa juga memiliki perasaan yang sama pada Satria. Mia tak mau menjadi orang ketiga di antara Melisa dan Satria.


Tapi ajakan dari Satria barusan, tentu saja merupakan sesuatu yang langka. Satria sangat populer di kampus, banyak gadis yang sudah pasti ingin menjadi pasangannya. Mia tak mungkin menolaknya, terlebih saat ini Melisa yang Mia tau sebagai gadis yang disukai Satria, sudah menjadi tunangan orang lain.


“Benar aku tak apa ikut denganmu?” Mia memastikan sekali lagi.


“Iya tak apa,” jawab Satria meyakinkan.


“Ikutlah dengan Satria, Mia. Kamu bisa pulang bersama dengan Satria nanti. Oh iya, kamu punya gaun untuk acara pesta itu tidak?” Tanya Natasya.


“Hehe, tidak nyonya. Saya kan tidak pernah berpesta,” jawab Mia malu-malu. Memang, selama kuliah berlangsung Mia sama sekali tak pernah ikut acara pesta apapun. Dirinya hanya fokus belajar dan belajar.


“Lusa yah,” jawab Satria. Kini ia sudah mulai harus membiasakan diri memanggil Steve dengan sebutan ayah.


“Ya sudah, kalau gitu sehabis makan kita langsung beli gaun untuk Mia. Sekalian beli jas juga ya untuk kamu Satria,” ucap Steve.


Satria dan Mia tersenyum bahagia. Mereka melanjutkan acara makan siang mereka sambil sedikit bersenda gurau, mereka sama sekali tak mau mengungkit apapun tentang Melisa demi menjaga perasaan Satria.


Sementara itu, di restoran yang berbeda. Gunawan sibuk menyuapi Silvana makan, sedangkan Dion juga sibuk melayani Melisa yang sebenarnya bisa melakukannya sendiri. Amanda berkali-kali menyenggol lengan Bobi, karena Bobi sejak tadi terus mengamati Widia tanpa berkedip.


“Sebentar, aku rasa aku pernah melihatnya. Tapi dimana aku lupa,” bisik Bobi pada Amanda.


“Apa dia salah satu wanita yang pernah kamu kencani?” Amanda bertanya dengan mata yang melotot namun dengan suara yang berbisik.


“Sayang, kamu tau kan aku tidak pernah punya pacar sebelumnya.”


“Terus siapa kalau bukan pacar?” Amanda mulai merasa cemburu karena Bobi masih terus saja menatap Widia.

__ADS_1


“Ahhh... aku ingat,” Bobi menutup mulutnya. Kini akhirnya ia ingat siapa gadis yang duduk di samping Silvana.


“Siapa?” Bisik Amanda.


Bobi berbisik di telinga Amanda. Widia adalah gadis yang pernah menjebak Henry, mantan kekasih Amanda. Bobi pernah sempat melihatnya sekilas, tapi hebatnya ia masih ingat meski bukan Bobi yang menyuruh Widia secara langsung.


Amanda mendengar penjelasan dari Bobi hanya bisa terdiam, ia jadi teringat kembali dengan peristiwa saat itu. Saat Henry dengan teganya memutuskan hubungan mereka, padahal Henry sudah mengambil keperawanan Amanda.


Bobi menyadari hal itu, ia segera menggenggam tangan Amanda.


“Tak usah diingat lagi, sekarang kamu hanya perlu fokus padaku. Oke!”


Amanda mengangguk, ia tersenyum pada Bobi.


“Seneng deh bisa liat kalian berdua akhirnya sama-sama,” ucap Melisa melihat kemesraan Bobi dan Amanda.


Bobi dan Amanda hanya membalas dengan senyuman canggung. Mereka seharusnya mengatakan hal sebaliknya, bahwa mereka juga senang melihat Melisa kini sudah bertunangan dengan Dion. Namun entah kenapa lidah mereka terasa kelu, kata-kata seperti itu seperti tak rela keluar dari mulut mereka.


“Maaf Mel, tapi aku tak bisa mengkhianati Satria,” batin Bobi dan Amanda.


Dari sorot mata keduanya, Melisa sangat paham. Sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin Melisa ceritakan, namun apa daya situasi tak memungkinkan mereka untuk bercerita saat ini.


“Kamu ikut pulang malam ini kan Mel?” Tanya Gunawan tiba-tiba.


“Lusa paling yah, aku mau urus beberapa hal dulu di sini,” jawab Melisa.


“Mau aku temani?” Dion menawarkan diri.


“Ah tak perlu, lagi pula kamu masih harus mengurus perusahaan,” Melisa menolak tawaran Dion.


“Tenang om, biar Melisa sama kita aja. Lagi pula kita juga ada niat mau liburan dulu beberapa hari di sini, ya gak sayang?” Bobi ikut nimbrung. Amanda hanya mengangguk sambil tersenyum canggung pada Gunawan.


“Ya sudah kalau begitu, om titip Melisa ya Bobi!” Perintah Gunawan pada keponakannya itu.


“Iya om, siap!”


“Jadi aku pulang aja nih?” Tanya Dion.

__ADS_1


“Iya kamu pulang aja, gak usah khawatir, Melisa aman kok sama kita,” jawab Bobi. Dari nada bicaranya lebih terkesan mengusir dari pada menenangkan.


__ADS_2