
Melisa memandang hamparan laut yang luas, bulir-bulir air matanya tak sanggup lagi ia bendung.
Melisa ingat perjalanan hidupnya yang terlihat sempurna di mata orang-orang, namun penuh dengan penderitaan bagi dirinya.
Sekelebat bayang-bayang kehidupannya sejak ia kecil hingga dewasa terus bermunculan. Semua terlintas bagaikan slide film yang diputar dengan cepat.
Bagaimana dirinya yang selalu terasing, tidak memiliki seorang pun dalam hidupnya.
Hingga muncullah sosok Satria yang menyelamatkan dunianya. Dunia Melisa yang dingin dan beku.
Kehadiran Satria dalam hidup Melisa tentu saja mencairkan isi hati Melisa yang beku. Sikap lembut Satria selalu berhasil meluluhkan hati Melisa.
Sejak saat itu keinginannya hanya satu, menjadi kekasih Satria. Meski berbagai rintangan terus menghadang keduanya, namun Melisa tak gentar dan terus menetapkan hatinya untuk Satria.
Sesuai dengan janji Satria untuk terus menunggunya, hingga waktunya tiba. Satria datang kembali dan menepati janjinya, menjadikan Melisa satu-satunya wanita yang akan terus menemani hidup Satria.
Bulir air mata tanpa terasa jatuh mengalir di pipinya, air mata bahagia karena ia berhasil melalui semua ini.
Satria memeluknya dari belakang, ia membisikkan bahwa ia sangat mencintai Melisa.
Satria sendiri merasa bersyukur karena ia dicintai oleh gadis yang tak mudah memberikan hatinya pada pria lain.
Melisa adalah wanita setia yang sudah menjaga cintanya sejak lama, tentu ia akan membalasnya dengan menjadi pria yang setia juga.
"Aku tak bisa menjanjikan kehidupan yang selalu membahagiakan, tapi aku berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk melakukan yang terbaik yang aku bisa agar kamu bahagia," ucap Satria.
Melisa menatap mata Satria. Ia sangat tau Satria juga bukan laki-laki murahan yang akan dengan mudahnya berpaling untuk berbagai wanita.
Melisa merasa bersyukur dirinya bisa jatuh cinta pada pria yang tepat.
"Terima kasih Satria, kamu selalu bisa membuatku merasa jauh lebih baik. Tanpa harus mengubah diriku menjadi orang lain, kamu hanya membuka sisi lain diriku yang ternyata masih bisa menerima dunia luar, agar aku bisa berkenalan dengan dunia yang belum pernah aku tau."
Keduanya saling menatap dan tersenyum. Hari yang semakin senja menambah suasana romantis semakin menjadi.
Satria dan Melisa menatap ke arah lautan lepas, matahari yang perlahan membenamkan dirinya membuat hati perlahan menjadi jauh lebih tenang.
Suara angin dan ombak yang beradu, terdengar bagai harmonisasi orkestra yang menenangkan.
Satria melepas jaketnya dan meletakkannya di bahu Melisa.
"Kenapa di lepas? Kamu juga pasti kedinginan," ucap Melisa seraya menolak jaket pemberian Satria.
"Aku sudah cukup hangat karena memelukmu," Satria kembali membenarkan jaketnya di bahu Melisa.
__ADS_1
"Hari sudah mulai gelap, ayo kita cari tempat menginap," ajak Melisa.
Satria pun setuju, ia menggenggam erat tangan Melisa dan mengajaknya mencari penginapan terdekat.
Namun sebelum pergi, mereka berdua sempat mengambil foto untuk kenang-kenangan. Hari ini tak akan pernah bisa mereka lupakan, suasana romantis dan juga pemandangan yang indah akan selalu mereka ingat dalam benak mereka.
Saat di perjalanan menuju tempat penginapan, Satria melihat restoran yang kelihatannya sangat mewah. Dari luar saja sudah terlihat suasana romantis yang disajikan oleh restoran itu.
"Kita makan malam dulu yuk," pinta Satria sambil menunjuk restoran yang ia lihat.
"Ayo," Melisa tersenyum. Ia benar-benar hanya akan mengikuti Satria kemana pun Satria ingin pergi.
Masuk ke dalam restoran, seorang pelayan sudah menyambutnya dengan hangat. Suara musik klasik yang terdengar menambah kesan romantis di dalamnya.
Satria dan Melisa duduk di tengah-tengah restoran, kebetulan restoran itu sedang tidak ramai pengunjung.
Satria memesan menu terbaik dari restoran itu, tentu saja pelayan dengan senang hati akan menyajikan yang terbaik juga untuk mereka.
"Sayang, aku mau ke toilet dulu ya," ucap Satria.
Melisa mengangguk, ia menunggu Satria sambil menikmati alunan musik yang mendayu-dayu.
Cukup lama Melisa menunggu, bahkan makanan yang mereka pesan pun sudah datang lebih dulu. Tak lama setelah pelayan pergi, Satria muncul dengan membawa sebuket besar bunga mawar merah untuk Melisa.
"Untukmu sayang," Satria menyerahkan buket bunga itu.
Tentu saja Melisa merasa terharu, ia tak menyangka Satria akan memberinya kejutan seperti ini. Melisa menerima buket bunga dan menciumnya.
"Wangi," gumam Melisa.
"Makanannya sudah datang ya? Wah kelihatannya enak, ayo kita makan," ucap Satria.
Melisa pun meletakkan buket bunganya di dalam pangkuan, ia makan sambil memegang buket bunga pemberian Satria.
Satria tertawa geli melihat tingkah Melisa, yang seakan tak ingin melepas buket bunganya.
"Sini, biar aku suapi," Satria menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Melisa.
Melisa membuka mulutnya dan melahap suap demi suap yang disodorkan Satria.
Hingga tak terasa, makanan di piring mereka berdua habis.
Namun ternyata masih ada makanan penutup yang disajikan oleh pelayan. Pelayan itu meminta mereka berdua untuk menunggu sejenak.
__ADS_1
Tak lama terdengar suara alunan biola yang semakin mendekat, Melisa menoleh ke sumber suara. Pemain biola itu mendekat ke arahnya.
Melisa terkagum-kagum dengan aksi si pemain biola, dan tanpa sadar di sampingnya sudah berjejer para pelayan yang membawa banyak sekali bunga. Dan satu orang dari mereka mendekat.
Pelayan itu menyodorkan sebuah kotak kecil ke arah Melisa.
Melisa yang bingung menatap Satria penuh tanda tanya. Namun Satria hanya memintanya mengambil kotak kecil itu.
Melisa pun menurut, ia mengambil kotak kecil yang diberikan pelayan. Dan ketika dibuka, isinya hanyalah secarik kertas yang dilipat-lipat menjadi bagian kecil.
Melisa membukanya, di sana terdapat tulisan tangan Satria.
Terima kasih sudah mau menjadi istriku, maaf jikalau dulu aku tidak melamar mu dengan baik. Ku harap, kedepannya kita akan selalu bersama menjadi pasangan yang setia, sehidup semati.
Melisa terharu membaca tulisan itu, ia bahkan tak memimpikan lamaran yang romantis dari Satria. Baginya, bisa menjadi istri seorang Satria saja itu sudah sangat luar biasa.
Belum hilang rasa haru yang datang, Satria sudah berlutut di hadapan Melisa. Ia juga memegang kotak kecil yang sama dengan yang dipegang si pelayan tadi.
"Jadilah pendamping hidupku, selama sisa usiamu," ucap Satria dengan senyuman hangat.
Tanpa ragu, Melisa mengangguk dan memeluk Satria dengan erat.
Bulir air mata kembali mengalir, Melisa sungguh tak menyangka Satria akan memberi kejutan seperti ini padanya.
"Terima kasih Melisa," ucap Satria sambil memasangkan cincin di jari Melisa. Lalu Satria mengecup tangan Melisa.
"Aku juga berterima kasih padamu Satria," Melisa tersenyum manis.
Keduanya berdiri dan berciuman di depan banyak orang. Semua orang yang melihatnya bersorak riang, ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Melisa dan juga Satria.
.......
.......
.......
...TAMAT...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alhamdulillah, akhirnya tamat ☺️
Terima kasih untuk para pembaca yang dengan setia membaca dari episode awal hingga akhir. Mohon maaf apabila alir cerita tak sesuai ekspektasi, karena ini adalah karya pertama author. Semoga kedepannya, author bisa belajar untuk menjadi penulis dan menuliskan cerita yang lebih baik lagi.
__ADS_1
Jangan lupa baca karya author yang lainnya ya, sampai jumpa di karya selanjutnya. 🥰🥰🥰